Nakiki dan Bakiki berpose di muka rumah Nakiki di Desa Tamaila Utara, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (16/2/2019)
Nakiki dan Bakiki berpose di muka rumah Nakiki di Desa Tamaila Utara, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (16/2/2019) Franco Dengo / .
MASYARAKAT TRADISIONAL

Polahi Sulawesi, melawan dengan mengasingkan diri

Orang Polahi kena stereotip berupa-rupa. Salah satunya dianggap pemakan manusia. Namun, akar keberadaan mereka sesungguhnya perlawanan.

Setelah satu jam menembus hutan serta medan terjal dengan menumpang ojek, saya memutuskan turun di sebuah daerah balangga.

Dalam bahasa Gorontalo, balangga berarti kolam atau kubangan. Dan dalam kondisi haus berat--menyusul persediaan minum yang sudah habis sejak tadi--air di hadapan saya itu sungguh menguji hati.

Saya naik ojek dari Kantor Pemerintahan Desa Tamaila Utara, Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo. Kalau menghitung waktu tempuh langsung dari Kota Gorontalo, kira-kira butuh tiga jam perjalanan ke balangga disebut.

Daerah itu bertengger di lereng Boliyohuto, gunung berketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Letaknya sekitar 60-70 kilometer sebelah barat laut Kota Gorontalo.

Sekarang masih pukul 12.30 WITA. Awan tampak siap menjatuhkan hujan. Tanah saya pijak juga agaknya sedia menampung air. Sesekali, suara burung dan hewan lain menembus dinding pepohonan.

Ke arah perladangan, yang sebagian besar berisi jagung, saya melangkah. Di dekat ladang itu ada beberapa rumah. Saya menuju ke salah satunya, lalu melempar salam.

Alih-alih mendapat sahutan dari manusia, saya mendapat balasan dari langit: awan akhirnya menyampaikan hujan. Dengan bulir-bulir yang mungkin sebesar gabah.

Saya berteduh di beranda rumah panggung berbahan papan itu. Merebahkan badan. Meratapi dahaga. Tak sampai setengah jam, hujan melemah. Samar pula terdengar bunyi knalpot motor. Derunya mendekati saya.

"Mau ke mana? Cari siapa?," kata pria pengendaranya, yang mengenakan topi dan boot karet Kubota. Saya menjawab butuh minum. Itu pinta pertama ke manusia pertama yang saya temui di sana, Sabtu (16/2/2019). "Mari ke gubuk saya dulu," dia bilang, "di situ ada air minum".

Kami kemudian berjalan sekitar 50 meter ke arah perkebunan jagung, menjauhi rumah yang saya singgahi.

Nama laki-laki itu Pali Jati. Biasa disapa Pak Jati. Usianya 49. Dia warga Jalan Beringin, Desa Tamaila, Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo. Sudah berpuluh tahun membuka lahan dan berkebun di area ini. Menurut ceritanya, rumah di daerah itu hanya delapan.

Kepadanya saya bertanya tentang Orang Polahi. Dia bilang ada di antara mereka yang berumah di dekat situ. Kemudian dia bertutur mula pertemuannya dengan para para Polahi pada sekitar tahun 2000-an. Periode ketika wilayah tersebut masih rimba.

Sebuah perjumpaan tak disengaja. Waktu dia tengah mencari rotan. Kala itu Orang Polahi masih sangat tertutup. Enggan berinteraksi.

"Saat itu mereka sudah pakai baju seperti kita. Diberi oleh warga sekitar. Mereka (Polahi) yang lebih dulu membuka lahan di sini. Mungkin karena lama mengasingkan diri di hutan," ujarnya.

Itu zaman, katanya, ketika Orang Polahi masih sering ditipu penduduk sekitar. Hasil panen mereka dihargai sangat rendah.

Pali Jati pun memutuskan untuk mulai mengajari mereka cara menjual hasil kebun, mengenal uang, dan hidup bermasyarakat.

"Setiap kali saya balik dari kampung, tidak lupa saya membawakan oleh-oleh untuk mereka. Kerupuk adalah makanan favorit mereka," ujarnya.

Tak lama kemudian, seorang laki-laki datang. Menginterupsi cerita Pali Jati. Dia bertopi abu-abu. Pakai kaus berkerah dan celana pendek. Seutas tali melilit pinggangnya, menyangga parang bergagang kepala ular.

"Nah kebetulan. Ini ada orang dari kota yang mencari kalian," ujar Pali Jati dengan bahasa Gorontalo kepada tamunya.

Di belakang pria itu seorang perempuan. Bertelanjang kaki. Kepalanya bertutup celemek.

Si laki-laki bernama Tuli. Perempuan yang bersamanya, Tilonungo. Mereka Polahi tertua dari kelompok Polahi yang sudah membaur dengan masyarakat. Keduanya suami-istri. Biasa disapa Bakiki dan Nakiki.

Mata mereka bergerak cepat. Ke sana kemari. Tak keruan. Seperti tak ingin berkontak mata langsung dengan saya.

Pali Jati menjelaskan kepada mereka perihal kedatangan saya. Mereka melantunkan bahasa Gorontalo tulen. Kental pada intonasi dan penekanan suara. Mendengar mereka bercerita, sama seperti mendengar seorang rapper bernyanyi hip-hop. Cepat dan tegas.

Beberapa pertanyaan saya tak digubris Bakiki dan Nakiki. Tetapi, pelan-pelan, kebekuan mulai mencair.

Sidu, putra Nakiki, dan keluarganya di ladang yang mereka biasa kerjakan di Desa Tamaila Utara, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (16/2/2019).
Sidu, putra Nakiki, dan keluarganya di ladang yang mereka biasa kerjakan di Desa Tamaila Utara, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (16/2/2019). | Franco Dengo

Nakiki lalu berbagi kisah. Salah satunya tentang kecelakaan yang menimpanya. Yakni waktu kepalanya terbentur kayu saat sedang berkebun. Alhasil, timbul benjol besar. Bahkan sampai menjalar ke mata.

Dia akhirnya diseret ke Puskesmas Boliyohuto. Dirawat selama beberapa hari.

"Saya malas berlama-lama di Puskes. Karena di sana siang terus, tidak pernah malam," kata Bakiki menimpali cerita Nakiki. Dia kesal karena lampu di Puskesmas tak pernah padam.

Bakiki dan Nakiki tidak tinggal serumah. Begitu pun anaknya. Itu kebiasaan waktu di hutan. Bagi mereka, berkeluarga tidak harus seatap. Orang dewasa harus memikirkan diri masing-masing.

Nakiki mengajak kami ke rumahnya. Bangunan berbentuk panggung. Tanpa jendela. Berukuran 6x6 meter. Parang dan peralatan berkebun digantung di dindingnya.

Pada bagian belakang rumah, tiga buah batu menjadi fondasi untuk memasak. Bahan bakarnya dari kayu.

Di rumah itu Nakiki bercerita lebih banyak.

Kakek buyut mereka keturunan Raja Panipi. Berkuasa di wilayah Batuda'a, yang saat ini sudah menjadi sebuah Kecamatan di Kabupaten Gorontalo. Pada sekitar abad ke-17, moyang mereka itu memilih lari dan mengasingkan diri ke dalam hutan. Itu aksi menolak peraturan dan penindasan yang diberlakukan VOC.

Mereka berhimpun bersama pelarian lain. Membentuk komunitas. Bergerilya dari hutan ke hutan. Sebelum menetap di area ini, seingat Nakiki, mereka masih berada di wilayah hutan Hunggaluwa.

Seiring kematian yang datang susul-menyusul, komunitas itu mencari tempat baru. Sebab, menurut kepercayaan mereka, ketika sudah ada yang mati di satu tempat yang mereka singgahi, mereka harus segera pindah ke tempat lain. Karena tempat itu akan beroleh kutukan, yang akan membawa kesialan.

"Setiap singgah, kami membuka lahan dan bercocok tanam. Sagu adalah makanan utama kami. Lauknya, tergantung hasil buruan. Bisa saja babi hutan, dan hewan apa saja. Kalau bertemu sungai, kami juga sering menangkap ikan. Perempuan dan laki-laki sama saja, sama-sama bekerja," kata Nakiki.

Pasangan itu tak mengetahui usia masing-masing. Mereka cuma mengenal bertahan hidup semampu diri. Sewaktu masih di hutan, kelompoknya hanya memanfaatkan tanaman sejenis daun woka sebagai pelindung kelamin. Rumah-rumah berdiri di atas tiang kayu dan beratap daun kering.

Mereka kawin-mawin dengan darah daging sendiri. Ayah bisa kawin dengan anak. Kakak bisa kawin dengan adik. Yang penting suka sama suka.

"Di hutan, tidak ada siapa-siapa selain kita sekeluarga. Terus kita kawin dengan siapa?" kata Nakiki.

Dua-duanya juga tak menganut agama apa pun. Kisah yang berkembang di tengah khalayak, Orang Polahi menguasai ilmu gaib. Sanggup menghilangkan diri. Mereka juga dipandang kanibal. Suka memakan daging manusia.

"Sebenarnya itu bukan ilmu gaib. Dikatakan bisa menghilang itu, karena kami sudah hafal persis jalan-jalan yang ada di hutan. Jadi memang cepat. Kami tidak memakan manusia. Hal ini tidak benar. Sesungguhnya kami takut bila bertemu dengan manusia selain kelompok kami. Apalagi memakannya," ujarnya.

Nakiki lantas bercerita tentang kisah awal pertemuan Polahi dengan penduduk setempat. Mulanya, dia bilang, daerah ini cuma hutan. Banyak orang datang ke sini untuk mencari rotan.

"Saat bertemu mereka, kami lari. Takut. Begitu juga dengan mereka. Saat melihat kami, mereka juga lari. Sampai beberapa kali kami dilempari dengan batu, agar tidak mengganggu mereka. Padahal, kami memang sudah di sini sebelum mereka datang," ujar Nakiki.

Karena sering berjumpa, orang-orang mulai menyadari Polahi tidak berbahaya. Mereka mulai bersahabat. Warga yang tidak tega melihat para Polahi yang telanjang, memberikan baju-baju bekas. Pun sebaliknya. Nakiki beserta kelompoknya yang berjumlah sekitar 20-an sering membagi hasil bumi kepada penduduk.

Saat malam tiba, Bakiki dan Nakiki mengarahkan saya ke rumah anaknya. Terpisah sekitar 30 meter.

Nama anak itu, Sidu. Dia menikahi seorang gadis kampung (non-Polahi) bernama Etu Saleh (22) pada 2016. Pernikahan itu memberikan mereka seorang anak perempuan, Ekon (3).

Sidu menyuguhkan saya bohito atau saguer, sejenis tuak dari pohon aren. Minuman sehari-hari mereka. Tameng melawan temperatur udara. Di waktu malam bisa mencapai 5 derajat Celsius. Jaket tebal saya pakai tak mempan melawannya. Namun, bagi para Polahi, itu normal saja.

Lewat ceritanya, saya jadi tahu ayah kandung Sidu ternyata bukan seorang Polahi. Bakiki berstatus ayah tiri.

Namun, bukan berarti hinaan terhadap Sidu mengendur. Sebagai keturunan Polahi, dia mengaku sering di-bully teman-teman sebaya semasa dia tinggal di kampung ayahnya. Karena tak tahan, Sidu memilih balik ke gunung--ke pengasingan--tempat dia diterima.

"Di sini kami hidup bahagia. Tidak ada yang mengganggu," katanya.

Sidu satu dari tiga bersaudara anak Bakiki dan Nakiki. Satu saudaranya telah meninggal. Seorang lainnya sudah menikah dengan warga non-Polahi.

Di hutan sebelah, dia area pertambangan emas, tepatnya di bagian barat Boliyohuto, terdapat belasan Polahi asli. Sempat pula tersiar kabar bahwa Polahi di sana sudah "diislamkan".

Awalnya, Nakiki dan Bakiki sekelompok dengan mereka. Namun, pergesekan dan persinggungan prinsip membuat keduanya memisahkan diri.

Pasalnya, kelompok di hutan sebelah itu sering dijadikan budak oleh para penambang. Istilahnya "kijang". Mereka diupah dengan uang untuk memikul barang-barang dari kaki gunung ke lokasi pertambangan.

Bakiki mengerjakan ladang di Desa Tamaila Utara, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (16/2/2019).
Bakiki mengerjakan ladang di Desa Tamaila Utara, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (16/2/2019). | Franco Dengo

Mengasing dan Terasing

Pada 2016, seorang antropolog, Marahalim Siagian, melakukan studi mengenai Polahi yang berdiam di hutan dataran tinggi Gorontalo. Bekerja sama dengan Burung Indonesia, Universitas Negeri Gorontalo, dan BKSDA Provinsi Gorontalo.

Saat saya hubungi via ponsel, Kamis (21/2/2019), Marahalim sedang tidak bisa diganggu, dan mengirimkan makalah hasil penelitian sebagai pengganti wawancara.

Dalam paper itu, dia menulis Orang Polahi mengidentifikasi diri sebagai lo lahi mai to kambungu, ode o ayua. Secara harfiah berarti orang kampung yang lari ke hutan.

Total populasinya di Gorontalo sekitar 500 orang: 200 berada di Kecamatan Paguyaman, dan 300 di Kecamatan Suwawa.

Sebutan Polahi dipakai dan diterima oleh Orang Polahi maupun non-Polahi (masyarakat Gorontalo). Makna kata itu dalam konteks percakapan sehari-hari di Gorontalo berkonotasi dengan sifat-sifat negatif: orang yang taktahu aturan, orang yang takmau diatur, orang liar, orang kurang sopan santun, dan orang tidak mengenal agama.

Padahal, menurut Marahalim, Polahi meyakini tiga 'tuhan'. Penggunaan huruf 't' kecil itu bersandar pada analisis tentang sosok pulohuta, lati, dan lausala dalam kosmologi Polahi. Ketiganya memiliki ruang dan kekuasaan masing-masing.

Pulohuta sepasang suami istri. Digambarkan memiliki kuasa atas tanah. Bila Polahi hendak membuka hutan, mereka meminta izin dahulu kepada pulohuta. Jika tidak, pelaku bakal celaka. Karenanya, dalam ritual membuka hutan, Polahi berdoa (dalam hati) sebagai cara meminta permisi.

Selain urusan agraria, pulohuta konon berkuasa atas hewan di hutan. Jika Polahi mendapat buruan, bagian tertentu dari tubuh hewan itu (kuping, mulut, dan lidah) diiris lalu ditaruh di tunggul kayu sebagai penghormatan.

Lati dilukiskan menghuni pohon-pohon besar serta air terjun. Ukuran tubuhnya kecil-kecil seperti boneka, dan jumlahnya banyak.

Bila Polahi ingin menebang pohon besar atau mengambil madu lebah hutan yang terdapat di atasnya, mereka membakar kemenyan dan merapalkan mantra. Tujuannya meminta lati pindah.

Jika cara tersebut tak ditempuh, pohon atau madu itu--berdasarkan pengalaman mereka--takbisa ditebang atau diambil. Kecuali, pohon dibakar. Konon, lati takut pada api.

Lausala serupa tokoh manusia super dalam komik. Ia tokoh antagonis. Haus darah. Bisa laki-laki, bisa perempuan tua. Matanya merah. Punya pedang menyala. Bisa cepat berpindah dari satu bukit ke bukit lain.

Di luar itu, Polahi masih dianggap bukan anggota Suku Gorontalo. Padahal, mereka jelas keturunan asli Gorontalo. Mereka sering dijadikan simbol manusia ketinggalan zaman, udik, tidak berpendidikan, dan primitif.

Namun, jika menilik akarnya, sesungguhnya Polahi manusia-manusia kritis yang menentang dan melawan kesewenangan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR