Beberapa perempuan Kajang membawa karung beras di Desa Tanatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Beberapa perempuan Kajang membawa karung beras di Desa Tanatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Adwit B. Purnomo / Beritagar.id
LAPORAN KHAS

Prahara Kajang: Stigma siluman dan sengketa lahan

Suku Kajang bersetia dengan tradisi leluhur, meski modernitas sulit dihindari. Mereka kerap kena stigma tukang sihir hingga terbelit konflik lahan berkepanjangan.

"Hati-hati kalau ke Kajang. Jangan buat mereka tersinggung," kata Nurdin Amir (37) kepada saya di sebuah warung kopi, di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (16/11/2018).

Lelaki yang pernah bermukim di Kabupaten Bulukumba itu banyak dengar cerita kesaktian Suku Kajang, yang berdiam di Kecamatan Kajang, Bulukumba--sekitar 165 kilometer dari Makassar.

Desas-desus--kadang jadi stigma--perihal sihir, mantra, atau doti-doti Orang Kajang memang kesohor di Sulawesi Selatan. Konon polan yang kena doti-doti bisa sakit hingga meninggal tak wajar.

"Tapi, kalau niatnya baik-baik mereka terbuka," ujar Amir.

Kisah senada saya dengar lagi dari Andhika Mappasomba, kala kami mengopi di kafe depan Masjid Tua Katangka, Gowa, Kamis (22/11/2018).

"Banyak orang datang berobat. Tidak sedikit yang datang karena masalah asmara," katanya, perihal kemujaraban mantra Suku Kajang.

Pandangan Andhika laik didengar. Tokoh budaya Bulukumba itu telah berbilang tahun mendalami adat Kajang. Eksplorasinya berbuah buku, Sejarah Eksistensi Ada' Lima Karaeng Tallua di Kajang (2012).

Akan tetapi, beberapa tahun belakangan, kemesraan Andhika dengan Orang Kajang retak. Kontroversi film televisi (FTV), Liontin Tanah Terlarang, jadi pemicu pecah.

Orang Kajang merasa terpojok dengan tayangan itu. Masalahnya, Liontin Tanah Terlarang menggambarkan tanah adat Kajang sebagai sarang parakang--makhluk mitologis semacam siluman.

FTV yang tayang di Trans TV (Februari 2015) itu dianggap melanggengkan stigma kedekatan Suku Kajang dengan dunia gaib.

Andhika turut mengkritik tayangan yang disebutnya "memutarbalikkan fakta budaya dan membangun pencitraan buruk". Pria berusia 39 itu juga berusaha menetralkan konflik lewat proyek film tandingan.

Demi proyek itu, ia sempat menggelar lokakarya di pintu masuk kawasan adat Kajang, pada medio 2015. Namun malam penuh amarah lebih dulu terjadi. Sekelompok orang membubarkan lokakarya.

"Biarkan orang Kajang mengurus adatnya sendiri," ujar Andhika menirukan seruan orang-orang itu.

Andhika melanjutkan pernyataan, suaranya melemah, terdengar lirih, "Saya juga tersinggung. Dan sejak itu Orang Kajang lebih tertutup."

Perkara Liontin Tanah Terlarang dibawa dalam sidang adat. Saat persidangan, Andhika membela Wahidin, guru Sekolah Menengah Atas Kajang yang dituding sebagai biang kerok pembuatan film.

Wahidin dipandang salah lantaran melagakkan Pabbitte Passapu --tarian sakral khusus kematian dalam adat Suku Kajang-- bersama anak didiknya dari Sanggar Seni Budaya Turiolo Kajang.

Sidang adat menjatuhkan hukuman samballe oroq (dipancung leher) kepada Wahidin, tapi belakangan diganti jadi popo babbala (denda sebesar Rp12 juta, hanya dibayar setengah).

Wahidin pun membantah tudingan biang kerok. "Film itu diurus Dinas Pariwisata Bulukumba," ujarnya, lewat kontak telepon, Sabtu (24/11/2018).

Awalnya, seperti kebanyakan orang Bulukumba, Wahidin berpikir Liontin Tanah Terlarang berfaedah untuk promosi wisata. Ia mengaku tak punya niat mendiskreditkan Suku Kajang.

Apa boleh bikin, film telah rilis, stigma kian deras menerpa Suku Kajang.

Meski begitu, perkara ini hanya kerikil kecil bila dibandingkan dengan masalah besar di tanah adat Kajang.

***

Pria suku Kajang membuat atap rumah di Desa Tanatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Pria suku Kajang membuat atap rumah di Desa Tanatoa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. | Adwit B Pramono /Beritagar.id

Passiga (50) menyuguhkan uhu-uhu--kue dari gula merah berbentuk serupa benang--saat kami mengobrol dalam sebuah tenda yang menempati satu lahan kosong di Desa Tamatto, Kecamatan Ujungloe, Bulukumba, Sabtu (24/11).

Puluhan pondok beratap tenda dan rumbia berjejer di area lapang yang dikelilingi lahan karet itu. Hampir dua bulan, Passiga dan warga Kajang lain mendudukinya.

Mereka memprotes PT London Sumatra (Lonsum), perusahaan perkebunan karet, yang dianggap merampas tanah adat.

"Kami di sini sejak 24 September, saat peringatan hari tani, dan akan bertahan hingga tuntutan terpenuhi," ujar Pasiga.

Medio 2003, Orang Kajang pernah bikin aksi serupa. Selama 10 hari mereka memblokade aktivitas PT Lonsum. Polisi dikerahkan tapi justru memicu kericuhan. Dua orang meninggal karena tertembak.

Aksi serupa kembali digelar pada 2013. Meski sempat memanas, tapi tak sampai menelan korban jiwa.

Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Bulukumba menjadi pendamping dalam perjuangan warga sejak 2010. Rudy Tahas, Ketua AGRA Bulukumba, menyebut Orang Kajang meminta pengakuan atas 2.553 hektare tanah ulayat.

Terselip pula kritik perihal kerusakan sumber mata air akibat aktivitas PT Lonsum.

Sejauh ini, pemerintah hanya mengakui 313,99 hektare sebagai hutan adat. PT Lonsum juga enggan lepas lahan, kecuali 8 hektare yang dianggap sumber air.

Menanggapi kasus ini, Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto, meminta warga menyiapkan dokumen bukti kepemilikan lahan.

"Kami tentu berdiri bersama masyarakat adat," kata Tomy, Senin (26/11/2018). "Tapi konflik yang terjadi sekarang berbeda lagi, kami harus fasilitasi kembali."

Mediasi sempat berlangsung pada 8 Agustus 2018.

Satu butir kesepakatannya mengamanatkan pengukuran ulang Hak Guna Usaha (HGU) PT Lonsum demi memastikan tiada tanah ulayat termakan.

Ada pula kesepakatan pembentukan Tim Kecil dari Kemendagri. Tim inilah yang akan mengawal proses pengukuran, sekaligus tumpuan harapan warga Kajang beroleh keadilan.

Kiri: Passiga (50) duduk di balai-balai yang masuk area lahan sengketa antara Suku Kajang dengan PT Lonsum. Kanan: Puang Topo (92) di salah satu rumah kerabatnya di luar kawasan adat.
Kiri: Passiga (50) duduk di balai-balai yang masuk area lahan sengketa antara Suku Kajang dengan PT Lonsum. Kanan: Puang Topo (92) di salah satu rumah kerabatnya di luar kawasan adat. | Ancha Hardiansya /Beritagar.id

Sengketa Orang Kajang dengan PT Lonsum sudah berlangsung puluhan tahun. Perusahaan itu juga bukan badan usaha sembarangan. Mereka punya puluhan kebun sawit, karet, kakao, dan kopi di berbagai wilayah Indonesia.

PT Lonsum merupakan reinkarnasi NV Celebes Landbouw Maatschappij--beroperasi sejak awal 1900-an.

Konflik PT Lonsum dengan warga Kajang bermula antara tahun 1963-1965, seiring ribut politik bersenjata Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar.

Pergolakan DI/TII, secara tidak langsung, jadi dalih pembukaan lahan PT Lonsum lewat bekingan tentara.

Di bawah moncong senapan, Orang Kajang cenderung tak melawan. Lagi pula, mereka masih trauma dengan DI/TII dan gagasan negara Islam yang mengancam keluhuran adat.

Merujuk dokumen Misi Pencarian Fakta Internasional, bentukan AGRA dan Koalisi Petani Asia (APC), PT Lonsum merebut sekitar 5.780 hektare selama puluhan tahun beriring dugaan pelanggaran hak asasi.

Pembukaan lahan PT Lonsum berimbas pula pada munculnya dua identitas Kajang.

Pertama, Orang Kajang Dalam yang masih menjalankan kepercayaan leluhur, Sallang--percaya pada Turie Akrakna (Tuhan). Mereka menolak modernitas serta hanya kenal dua warna: hitam dan putih.

Kedua, Orang Kajang Luar yang lebih terbuka dan mulai memeluk agama samawi. Cakupan wilayahnya lebih luas hingga lintas kecamatan di Bulukumba.

Dari total 48.188 jiwa di Kecamatan Kajang, merujuk data Badan Pusat Statistik 2016, hanya 3.940 jiwa yang bermukim dalam kawasan adat.

Antropolog Universitas Brawijaya, Hamka, dalam disertasinya Sosiologi Antropologi Arsitektur Kampung Adat Ammatoa, menyebut Suku Kajang hidup berlandaskan pasang (aturan dan nilai-nilai tradisi).

Mereka memegang teguh filosofi hidup: "Ammentengko nu kamase-mase, accidongko nu kamase-mase, a„dakkako nu kamase-mase, a„meako nu kamase-mase."; Atau "Berdiri engkau sederhana, duduk engkau sederhana, melangkah engkau sederhana, dan berbicara engkau sederhana."

Kesederhanaan itulah yang bersemuka gerak zaman dan industrialisasi--termasuk sengketa lahan.

***

"Lahan itu harus dikembalikan."

Puto Palasa, pemimpin masyarakat Kajang (Ammatoa).

Malam, 24 November 2018, Puto Palasa menyambut saya di rumah adat, Dusun Benteng, Desa Tanatowa, Kecamatan Kajang. Ia berstatus Ammatoa, pemimpin Suku Kajang.

Nyala pelita dari ramuan kemiri samar-samar memancarkan raut kebijaksanaan seorang tetua. Pada usia genap 80, Ammatoa bicara dalam tempo perlahan. Plus tak kehilangan fokus obrolan.

Ia bicara tentang pentingnya perjuangan merebut ulang tanah ulayat. PT Lonsum, katanya, tak bawa banyak manfaat. Sebaliknya, Suku Kajang malah tersisih dan pengikut ajaran Sallang mengecil.

"Banyak orang kami pergi ke Malaysia, Ambon, Papua jadi buruh. Di sini tak ada lahan untuk dikerja," tuturnya, sembari menenggak tuak aren.

Menariknya, meski sukunya kesohor dengan doti-doti, Ammatoa tak ingin menggunakan sihir atau sejenisnya untuk mengatasi sengketa lahan.

"Mungkin guna-guna kita pertimbangkan, tapi tidak serampangan, ada aturannya" kata Ammatoa. Lagi pula, sebagian orang yang bekerja di Lonsum merupakan kerabatnya. Ia tak ingin melukai saudara sendiri.

Padahal Ammatoa punya pamor sakti. Sebelum kami mengobrol, ia membacakan mantra dan memberi air sakti kepada tiga lelaki yang datang dengan keluhan berbeda: tak rukun dengan istri, keluar masuk rumah sakit tanpa sembuh, dan belum bertemu jodoh.

Ammatoa telah memilih jalan diplomasi dan kasih mandat negosiasi kepada Puang Topo.

Kebetulan Puang Topo turut dalam percakapan kami. Amatoa pun kembali mengulang titahnya: Tak boleh mundur sampai lahan kembali, sekalipun harus mengangkat parang.

"Tapi jangan memulai, bertahan saja, kalau diganggu jangan mundur," pesannya.

"Iye," Topo menjawab penuh takzim, sambil mengangguk.

Pria berusia 92 itu merupakan juru bicara Ammatoa. Ia jadi pemandu perjalanan saya ke teritori adat Kajang. Kami berjalan sejauh satu kilometer lewat pintu selatan, tanpa alas kaki, dan berpakaian serba hitam.

Selama perjalanan, Topo sering berbagi kisah. Di antara ceritanya, ia kerap menyatakan kebanggaan sebagai Orang Kajang. Meskipun dirinya pernah punya pengalaman tak menyenangkan lantaran "berpenampilan aneh".

Pada satu momen di Jakarta, sekitar setahun silam, Topo dijauhi penjaga warung karena pakaiannya. Bahkan, ia harus berganti tiga warung, tetap tak beroleh pelayanan.

"Saya mau beli rokok, tapi mereka bicara pun tak mau," katanya. "Kami begini, karena keyakinan kami pada leluhur, karena mengedepankan prinsip kamase-masea (keprihatinan)."

Ihwal sengketa lahan, Topo berkata, "Kalau harus menunggu keputusan pemerintah selama bertahun-tahun, kami akan tetap melakukan pendudukan selama itu."

BACA JUGA