Kondisi salah satu sisi bangunan karantina haji di Pulau Rubiah, Sabang, Aceh, Senin (24/6/2019) siang.
Kondisi salah satu sisi bangunan karantina haji di Pulau Rubiah, Sabang, Aceh, Senin (24/6/2019) siang. Alfath Asmunda / Beritagar.id
WISATA SEJARAH

Pusat karantina haji yang terlupakan

Pulau Rubiah di Aceh bukan hanya memiliki tempat wisata yang cantik. Juga tersimpan catatan penting soal sejarah haji di Indonesia.

Sayup-sayup suara azan asar menembus celah rerimbunan pohon di tengah hutan itu. Idawati tampak masih mengatur nafas. Di ketiaknya, sebotol air mineral dikepit. Ia baru melewati jalan setapak menanjak sekira 150 meter dari bibir dermaga Pulau Rubiah.

“Oh jadi ini tempatnya,” ucap perempuan itu membuang penasaran. Ia kemudian mendekat ke sebuah monumen bercetak tinta emas. Mematung sejenak. Matanya lekat membaca tulisan yang terpahat di sana.

“Dulu orang yang pergi ke haji betul-betul ikhlas ya,” kata perempuan yang akrab di sapa Ida tersebut. Ia baru saja takjub mengetahui bahwa tulisan yang dibacanya itu adalah sekilas tentang tempat karantina haji di zaman Belanda.

“Bayangkan ya, pergi hajinya naik kapal berbulan-bulan, pulangnya harus di karantina lagi,” tuturnya berdecit kagum dengan kisah perjalanan haji di masa lampau, Senin (24/6/2019) siang kepada Beritagar.id.

Lepas membaca, pandangannya dibuang ke sebuah bangunan bercat putih yang berada persis tak jauh di belakang monumen. Ia menatap nanar. “Sayang sekali ya, banyak orang nggak tahu dengan tempat ini,” keluhnya.

Ida mungkin benar. Dari sekian juta masyarakat Aceh, saya masuk dalam salah satu yang tidak mengetahui bahwa Pulau Rubiah, Sabang, menyimpan sejarah besar tentang perjalanan orang Indonesia menapaki tanah suci Makkah.

Selama ini yang saya ketahui tentang Rubiah adalah lautnya sebening kaca. Ikan-ikan cantik. Singkatnya, Rubiah yang saya kenal hanya bersemuka dengan dunia wisata bahari. Namun, pekan terakhir Juni 2019, saya mendapati cerita lain.

Cerita besar yang ditutup rimbun hutan selama ratusan tahun. Sejak Johannes Benedictus van Heutsz (1851-1924), Gubernur Militer Hindia Belanda, menjajah Aceh dan membangun kekuatan politik serta ekonomi di sana.

Bermula dari dermaga Iboih, saya dan puluhan orang lainnya menaiki perahu motor menyeberang lautan menuju Rubiah. Hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai.

Tiba di Rubiah, puluhan wisatawan tampak meriung di bibir pantai. Mereka tengah snorkeling. Menatap bawah laut Rubiah yang bening.

Pondokan tempat bersantai dan mencicip makanan mengular di sepanjang pantai. Sebuah dermaga kecil, menyambut kapal motor bersandar di Rubiah.

Kondisi jalan menuju karantina haji di Pulau Rubiah, Sabang, Aceh, Senin (24/6/2019) siang.
Kondisi jalan menuju karantina haji di Pulau Rubiah, Sabang, Aceh, Senin (24/6/2019) siang. | Alfath Asmunda /Beritagar.id

Sejak jadi ikon wisata bahari paling terkenal di Aceh, dan banyak disambangi pelancong lokal dan mancanegara, Rubiah terus berbenah. Kini jalan setapak dibikin mulus di sana.

Rombongan kami berjalan kaki melewati jalan setapak menuju bangunan karantina haji yang di bangun tahun 1920 itu. Turut mengekor Idawati dan seorang perempuan muda –saya menduga itu anaknya.

Mereka datang ke Sabang ingin berwisata. Karena menaruh penasaran dengan tujuan rombongan kami, dia minta ikut serta.

Cuma butuh waktu 10 menit dengan kontur jalan menanjak untuk sampai ke bangunan karantina haji tersebut. Lumayan mudah ditemui. Sebab, terpasang plang penunjuk arah.

Setiba di sana, saya memperhatikan ke sekeliling bangunan. Bentuknya tak asing di ingatan. Nyaris seperti bangunan tua peninggalan Belanda yang acap dijadikan lokasi syuting reality show ‘uji nyali’ di televisi.

Saya membelah ilalang setinggi pinggang orang dewasa menuju ke bangunan bercat putih itu. Di belakang saya, turut berjalan Fatanah, warga Sabang yang hari itu sedang memandu keluarga besarnya dari Meureudu, Pidie Jaya.

“Abang saya penasaran pingin lihat bangunan ini,” katanya.

Bekas tempat karantina para pelaksana haji itu tampak kosong melompong. Atapnya sudah tidak asli. Kelir putih yang melumuri dinding mengelupas, engsel jendela banyak lepas. Beberapa pintu bangunan tak tahu kini di mana rimbanya.

Lantai bangunan juga tak kalah menyedihkan. Banyak yang pecah. Bagian plafon seluruhnya menganga rusak.

Berselang beberapa meter dari bangunan pertama, terdapat bangunan lainnya. Sekilas, mirip aula. Menyatu dengan beranda seukuran 4x5 meter. Bagian depan dindingnya terukir lafaz arab Nabi Muhammad dan Allah. Kondisinya sama mengenaskan

Di bagian belakang karantina haji itu, ada dua kamar mandi. Letaknya di ujung kanan dan kiri bangunan. Semak belukar menjalar di sekitarnya. Medekat ke sana bau pesing menyengat hidung.

“Cuma pernah ada dibersihin ya sama orang-orang di sini,” kata Fatanah. Sepanjang ingatan Fatanah, bangunan tersebut hanya sering dirawat oleh mereka yang mencari rezeki di sana. “Sesekali aja sih, karena jarang orang ke mari.”

***

Berangkat dari keprihatinan, Albina Ar Rahman tak mau kelindan sejarah yang pernah tertoreh di kota Sabang hilang begitu saja. Pada 2008 dia mulai mengumpulkan serpihan cerita sejarah dari tetua yang ada di Pulau Weh.

“Saya kumpulkan mereka untuk mendapatkan informasi, satu per satu saya datangi,” kenangnya. Seraya menambahkan, “kini sebagian orang-orang tua penyimpan memori sejarah itu telah berpulang.”

Albina tak sendiri. Dia mengajak orang sepemahaman untuk melestarikan dan menggali sejarah di kota yang pada masa kolonial punya pelabuhan internasional terbesar di kala itu.

Banyak potensi selain wisata bahari di Sabang yang terbengkalai. Salah satunya wisata sejarah. Selama ini, orang-orang hanya melihat Sabang cuma sebatas pulau yang cocok melepas penat.

“Itu yang buat saya prihatin. Takut hilang (sejarah) besar itu,” bebernya.

Melalui komunitas Sabang Heritage Society (SHS), kerja-kerja menggali cerita tentang kejayaan Sabang yang tertimbun lama itu digali kembali olehnya dan kawan-kawan. Termasuk soal karantina haji di Pulau Rubiah.

Ia mengatakan, karantina haji itu dibangun atas motif ekonomi pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Setelah Kutaraja (wilayah kerajaan Aceh Darussalam--kini Banda Aceh) dikuasai, Belanda semakin leluasa membangun di daerah jajahan. Salah satu yang dilirik adalah Sabang.

Masa itu, dibangun pelabuhan internasional yang jadi tempat singgah kapal dari Eropa menuju Asia, begitupun sebaliknya. Pengusaha lokal yang dekat dengan pemerintah kolonial pun bermunculan.

Geliat kemajuan Sabang sampai ke hidung van Heutsz, Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Kutaraja. Ia mencium peluang bisnis lain dari sana.

Orang-orang Aceh dan Sumatra umumnya terkenal sangat fanatik dalam beragama. Mereka rela mati-matian banting tulang untuk bisa pergi ke tanah suci.

Pengusaha pribumi yang berafiliasi dengan pemerintah kolonial kemudian memanfaatkan itu dengan membangun jasa usaha pemberangkatan haji menggunakan kapal di Sabang.

Sementara van Heutz mendirikan bisnis karantika haji di pulau Rubiah sebagai tempat penampungan sementara jamaah yang baru pulang. Dipilihnya Rubiah karena kapal-kapal besar leluasa melempar jangkar di sana. Teluknya dalam.

“Waktu pulang harus mampir di sini, jamaah perlu dikarantina selama 40 hari. Jadi siapa yang lolos, mereka tidak sakit, berarti sudah selesai. Maka dibolehkan pulang,” terang Albina.

Kondisi salah satu sisi bangunan karantina haji di Pulau Rubiah, Sabang, Aceh, Senin (24/6/2019) siang.
Kondisi salah satu sisi bangunan karantina haji di Pulau Rubiah, Sabang, Aceh, Senin (24/6/2019) siang. | Alfath Asmunda /Beritagar.id

Pemerintah Hindia Belanda saat itu tak ingin ambil risiko. Orang yang berpergian antarbenua pasti punya kemungkinan membawa serta penyakit. "Jadi ini tempat netralisirnya. Saat itu kan bukan seperti sekarang, ada vaksin."

Namun, nasib malang harus ditelan pahit jemaah yang tak lolos karantina. Siapa pun terindikasi penyakit saat pulang haji, maka takdir berkalang tanah menjemputnya di Pulau Rubiah.

"Makanya di ujung pulau, sebelah barat itu, banyak kuburan. Itu makam orang yang tak lolos karantina," sebut Albina.

Sementara tempat keberangkatan jemaah haji pada masa itu, pemerintah kolonial membangunnya di wilayah kota Sabang. “Orang-orang yang ingin berangkat di tempatkan di sana. Diangkut kapal dari Teluk Sabang,” katanya.

Kini jejak tempat keberangkatan itu hanya tinggal nama. Tak ada lagi bekas bangunannya. “Sekarang sudah jadi pemukiman padat di Kota Sabang. Ada Kampung Haji namanya. Sampai sekarang masih ada,” lanjut Albina.

Selain motif ekonomi, kepentingan van Heutsz membangun karantina haji ini tak lepas dari politik etis Hindia Belanda. Mereka ingin menarik simpati rakyat Aceh kala itu.

Siapapun yang berangkat ke tanah suci menggunakan jasa pemerintah kolonial, maka saat pulang cepat-cepat dilebel gelar haji. “Itu awalnya sejarah gelar haji disemat orang Indonesia sebenarnya," terang Albina.

Karantina haji di Pulau Rubiah berarsitektur ardeco, yang populer di awal abad ke-19 itu, kemudian mati saat Jepang menduduki Nusantara tahun 1942.

Tentara Jepang memanfaatkan bangunan menjadi barak militer. Belanda yang terusir, lantas kembali datang membonceng sekutu dua tahun kemudian. Perang pecah di pulau seluas 2.600 hektare itu.

"Bangunan [karantina haji] ini dibom. Karena tentara Jepang sembunyinya kan di dalam sana. Maka banyak yang hancur dibom Belanda sendiri," papar Albina seraya menunjuk ke sebuah bangunan di depan karantina yang tampak tinggal pondasi. “Jadi bukan hancur karena faktor usia saja ya.”

Albina menjelaskan, sejarah perjalanan haji orang-orang Indonesia pernah bersemayam hanya di dua kepulauan. Untuk jamaah dari Pulau Jawa persinggahannya di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu yang kini masuk administratif Provinsi DKI Jakarta.

Dulu di sana jamaah dikarantina oleh pemerintah Hindia Belanda setelah pulang berhaji. Sementara Sumatra, Rubiah-lah yang jadi pilihannya.

Di Pulau itu Belanda membangun karantina haji seluas 10 hektare. Fasilitas di sana pada masanya tergolong megah. Menurut Albina, terdapat enam gedung untuk penginapan. Rumah sakit. bangunan komunikasi. Gedung listrik dan fasilitas air bersih.

Dia bilang, puluhan tahun pasca-Perang Dunia II berakhir, baru sekali bangunan karantina haji itu dipugar. Tepatnya di dekade 90an oleh dinas pariwisata provinsi. “Kalau yang lain, Pemkot ya cuma buat jalan setapak dan prasasti itu saja,” katanya.

***

Pulau Rubiah di Sabang, Aceh, menjadi salah satu destinasi wisata dicari di Kota Serambi Makkah.
Pulau Rubiah di Sabang, Aceh, menjadi salah satu destinasi wisata dicari di Kota Serambi Makkah. | Alfath Asmunda /Beritagar.id

Assalammualaikum... permisi, saya Sri dari Jakarta,” ujar perempuan itu. Wajahnya menggurat gugup, nyaris condong ke takut ketika kakinya melangkah ke bangunan tua tersebut. Namun ia coba tepis jauh-jauh.

Pasalnya, tak mungkin lagi ia bersurut. Untuk sampai ke tempat itu dirinya harus menantang gelombang tinggi ulah angin musim barat yang tengah melanda Aceh sejak pertengahan bulan Juni.

Dari Ulee Lheue Banda Aceh, kapal cepat yang ditumpanginya membelah ombak menuju Pelabuhan Balohan, Sabang. Pun setelah itu, ia musti menyeberang lagi ke Pulau Rubiah, demi mengobati penasaran pada bangunan tua bersejarah yang terpacak di sana.

Bersama rombongan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Sri Ilham Lubis tiba di bekas karantina haji. Langkah kaki mereka bersicepat dengan waktu magrib yang sebentar lagi tiba.

“Ada nggak semacam literatur yang menyampaikan berapa bangunan dulu di sini?” Sri melempar tanya, matanya masih menyorot ke seisi bangunan.

“Banyak. Peta lengkapnya terakhir pernah saya lihat di gedung arsip nasional,” jawab Albina, yang hari itu jadi pemandu dadakan bagi Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama Indonesia tersebut.

Sri bilang bangunan itu membuatnya takjub. Jauh-jauh dari Jakarta, ini kali pertama ia menyambangi Sabang dan bisa sampai ke pulau yang dulunya punya sejarah tentang perhajian orang Indonesia.

Tapi melihat langsung kondisi bangunan bersejarah tersebut hatinya bagai teriris. “Memprihatin kan ya,” ujarnya lirih. “Bahkan ketika saya jalan tadi lantainya sudah ngeletek.”

Ia pun menaruh harap, mumpung seluruh bangunan belum habis dimakan waktu, karantina haji ini harus segera dipugar. Kelak, Sri punya mimpi, bangunan ini bisa menjadi museum.

Soal siapa yang punya tanggung jawab memugar, Sri tak ingin lempar-lempar tugas. “Bersama kita harus memikirkan situs ini segera dipugar. Kanwil Kemenag, Pemda, Pemkot Sabang, bisa berkontribusi.”

Mimpi Sri Ilham Lubis tampaknya bermuara sama dengan milik Idawati, Fatanah, dan tentu saja Albina Ar Rahman. Karantina haji masa Hindia Belanda itu tak boleh hanya tinggal kenangan. Rapuh terkikis zaman dan jahil tangan manusia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR