Keterangan Gambar : Jayadi Asnawi (50), pemilik usaha rokok bugis merek Doanja (Doakan Jaya) sekaligus Ketua Himpunan Pengusaha Tembakau Rokok Soppeng (HIPTERS), saat dijumpai pabriknya di Kelurahan Cabenge, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Minggu (24/12/2017). © Beritagar.id / Hariandhi Hafid

Ico Bugis pernah berjaya dan jadi pilihan utama bertahun-tahun silam. Tak sekadar mengepulkan asap, ico juga telah jadi alat diplomasi.

Sebuah pelang kayu coba bertahan dengan tiang penyangga termakan rayap di beberapa titik. Atap seng yang berfungsi menjaga papan nama itu dari panas dan hujan juga tampak keropos kehitaman.

Pelang itu punya cat hitam-putih yang mengelupas di beberapa titik, meski teks pemeriannya masih terbaca: "PR. Doanja". Di bagian bawah, teks lebih kecil memberi sejumlah informasi, termasuk Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC).

Pelang usang itu berdiri di pekarangan rumah kayu berwarna hijau yang berjarak beberapa puluh meter dari simpang tiga Jalan Poros Cabenge, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

"PR itu artinya Pabrik Rokok," kata Jayadi Asnawi, sang empunya rumah. Pria berusia 50 itu merupakan penerus usaha rokok bugis (ico bugis), Doanja (Doakan Jaya)--semula milik ayahnya, (Alm) Haji Indar.

Kami bertemu Jayadi pada Sabtu malam (23/12/2017). Saat itu, ia terburu-buru karena harus menghadiri sebuah hajatan. Baru besoknya (24/12/2017), ia sedia waktu mengobrol dan mengantar kami menengok pabrik rokok di belakang rumahnya.

Pabrik termaksud berupa dua bangunan kayu dengan warna cokelat kehitaman.

Satu bangunan berfungsi sebagai gudang dan tempat pengolahan tembakau timpo (tabung bambu). Bangunan lainnya merupakan lokasi untuk membungkus tembakau jadi rokok batangan. Di antara kedua bangunan ada lokasi pembakaran tembakau.

"Dulu, pabrik ini tidak pernah sepi. Tiap hari puluhan orang bekerja. Sekarang, sisa empat orang dan baru kerja ketika ada pesanan," ujar Jayadi, yang sekarang memegang tanggung jawab sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Tembakau Rokok Soppeng (HIPTERS).

Saat ini, ada 10 perusahaan rokok bersertifikat di Soppeng. Perusahaan-perusahaan itu umumnya sekadar produksi ico timpo (tembakau dalam tabung bambu).

Adapun Doanja merupakan satu merek ico kemasan yang masih bertahan hingga kini.

Dalam bahasa bugis, ico berarti tembakau. Proses pengolahan yang khas bikin ico berbeda dengan rokok kemasan bikinan pabrik besar.

Ico tak pakai campuran cengkeh sebagaimana lazimnya rokok kretek. Ico juga punya kadar nikotin dan tar yang tak seringan sigaret putih.

Racikan saus hasil fermentasi gula merah jadi pembeda ico dengan rokok pabrikan lain.

Dalam proses pembuatannya, rajangan tembakau kering dicampur dengan saus gula merah. Selanjutnya, rajangan tembakau bercampur saus gula merah dimasukkan dalam timpo (tabung bambu), yang lalu dibakar dengan oven khusus.

Setelah pembakaran, tembakau siap saji, tinggal gulung dengan kertas rokok. Bakar.

***

Dalam bahasa bugis ico berarti tembakau. Ico ugi secara harafiah berarti tembakau bugis.
Dalam bahasa bugis ico berarti tembakau. Ico ugi secara harafiah berarti tembakau bugis.
© Hariandhi Hafid /Beritagar.id

Kondisi Doanja setali tiga uang dengan Adidie, perusahaan rokok yang dibesarkan (Alm) Haji Saide.

Kami bertemu anak Haji Saide, Imran Saide (45), yang mendiami rumah keluarga besarnya di dekat Pasar Cabange, Soppeng, Minggu (23/12/2017).

Rumah berpekarangan jembar itu merupakan saksi keperintisan bisnis ico di Cabenge, Soppeng.

Dulu, kata Imran, kediaman itu merupakan pabrik pengolahan tembakau. Konon, kakek dan nenek Imran merupakan perintis usaha tembakau di Cabenge.

Usaha itu diteruskan Haji Saide sejak era 1960-an, di bawah merek Adidie. Pada era 1970 sampai awal 1990, Adidie mencapai sukses dan bikin Haji Saide kaya raya. Pada masa itu, Adidie beken sebagai rokok "beraroma keras" nan diminati di Indonesia timur.

Berbeda dengan Doanja, Adidie tak memproduksi tembakau batangan. Mereka hanya bikin ico timpo.

Imran mengajak kami mengunjungi pabrik Adidie di Libukang, Kelurahan Appanang, Liliriaja, Soppeng--sekitar 13 kilometer dari rumahnya.

Di lokasi itu ada dua bangunan modern dan satu rumah panggung khas bugis. Jaring laba-laba bisa dengan mudah ditemui di nyaris tiap sudut ruangan dalam area pabrik itu, seolah memberi pertanda tentang bisnis yang meredup.

Rumah panggung yang berdiri di area itu merupakan bekas kediaman Haji Saide. Saat bisnisnya jaya, Haji Saide pilih menetap dan mengurusi usahanya dari Makassar. Hal itulah yang bikin rumah pribadinya ganti fungsi jadi lokasi produksi Adidie.

Di kolong rumah panggung itu terlihat berkarung-karung ico timpo. "Kami produksi kalau ada pesanan. Itu akan dikirim ke Kendari," kata Imran, sambil menunjuk tabung-tabung bambu berisi tembakau dalam karung putih itu.

Imran juga menjelaskan fungsi ruangan di bangunan berbeda. Sebuah ruangan di bangunan paling belakang berfungsi sebagai tempat membuat timpo (tabung). "Bambunya khusus dari Toraja, karena punya ketebalan dan daya tahan," katanya.

Saat kami berpindah bangunan, Imran menunjukkan gudang penyimpanan tembakau. Dulu, kata Imran, gudang itu penuh terisi tembakau. Sekarang, hanya ada setumpuk tembakau kering di sudut ruangan.

Persis di depan gudang ada tempat pembakaran tembakau. Pembakaran ico--lepas dimasukkan dalam timpo--butuh bara api yang stabil. Cara pembakaran turut menentukan kualitas ico yang dihasilkan. Praktik itu butuh ketelatenan khusus.

"Di sinilah, 24 jam orang siap-siaga, nyaris tidak pernah sepi," ujar Imran.

Di depan pembakaran ada pula ruangan untuk mencetak tembakau menjadi irisan kecil. Dalam bahasa bugis, irisan kecil itu disebut letta. Biasanya, satu timpo berisi sekitar 40-an letta. Irisan kecil itulah yang bisa dibeli di pedagang eceran.

Di dinding tempat mencetak tembakau itu masih terlihat tulisan kapur dari para pekerja. Catatan itu memuat informasi jumlah produksi masing-masing pekerja. Beberapa tulisan juga masih pakai huruf Lontara--aksara tradisonal Bugis-Makassar.

***

Tabung bambu yang menjadi wadah tembakau (ico timpo): sebelum dibakar(kiri), dan siap dipasarkan (kanan).
Tabung bambu yang menjadi wadah tembakau (ico timpo): sebelum dibakar(kiri), dan siap dipasarkan (kanan).
© Hariandhi Hafid /Beritagar.id

Sakka (55) mengambil kotak plastik kecil di dalam rumahnya. Tak berapa lama, pria itu sudah duduk di teras rumahnya dan membuka kotak plastik berisi tembakau.

Sakka lalu mengambil tiga lembar kertas putih, dan menyusunnya dalam pola tumpang tindih nan memanjang. Sejurus kemudian, ia mulai mengisi kertasnya dengan tembakau. Sekali gulung, tembakau terbungkus, sebatang ico siap bakar.

Dulu, ujar Sakka, ico merupakan rokok utamanya. Sekarang, ia hanya menikmati ico bila sedang di rumah atau kebun. "Kalau ke acara, saya bawa 'rokok Jawa' (rokok pabrikan). Gengsi bawa ico," katanya.

Sakka tinggal di samping pabrik Adidie. Bersama empat temannya, Sakka setia bekerja di pabrik tembakau itu, betapapun bisnis ico meredup.

Kala Adidie jaya, Sakka bisa meraup penghasilan jutaan saban bulan. Kini, ia hanya bekerja sebulan sekali bila ada pesanan. Demi menambal kantong, Sakka pun kembali berkebun.

Cerita Sakka terinterupsi kedatangan kenalannya, Sukardi (57), yang bertamu untuk sekadar bercerita dan mengisap ico. Mereka berdua larut mengobrol dalam Bahasa Bugis.

Bagaimanapun, mengisap ico pernah jadi kebiasaan--bahkan mewarnai tradisi--orang Bugis. Bahkan, bila ada pernikahan, ico jadi satu barang dalam seserahan. Pun, ketika hajatan berlangsung, ico menjadi suguhan untuk tetamu.

Kini, situasi bergeser. Tradisi menjamu tamu saat hajatan masih bertahan, tetapi ico tak lagi jadi suguhan. Rokok tradisional itu tergeser sigaret putih (impor) dan kretek (Jawa).

Jangankan mewarnai tradisi, mencari ico pun sulit. Kami mesti menuju Kabupaten Bone--berjarak sekitar 60 kilometer dari Cabenge, Soppeng--guna mencari penjual ico eceran, Senin (25/12/2017).

Di Pasar Sentral Palakka, Bone, masih ada empat penjual ico. Mereka menjajakan ico yang dikirim dari Jallaleng, Uloulo, Amali, Tabbae, hingga Taccipi--semuanya masuk daerah Bone.

Kami bertemu Haji Palile (70) yang menjual ico di Pasar Sentral Palakka.

Ia mengaku menjual ico sejak era 1970-an karena diajak kawannya. "Saya tidak tahu sampai kapan jual ico, mungkin sampai mati," ujar Haji Palile, sambil menyelipkan senyum.

Harga seiris (satu letta) ico yang dijualnya bermacam-macam, mulai dari Rp2.500 hingga Rp10.000.

Pedagang lain di Pasar Palakka, Ambo Enre (40), mengaku terlibat dalam distribusi ico hingga ke wilayah Kendari, Sulawesi Tenggara.

Meski mengatur jalur distribusi lintas provinsi, Ambo Enre juga mengeluh soal penikmat ico yang kian terbatas.

"Beberapa anak muda membeli ico, tapi bukan untuk diisap, melainkan dijadikan pengusir hama yang menjangkiti sarang burung walet," kata dia.

***

Haji Palile (70) melinting tembakau  di kios tembakau miliknya di Pasar Sentral Palakka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Senin (25/12/2017).
Haji Palile (70) melinting tembakau di kios tembakau miliknya di Pasar Sentral Palakka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Senin (25/12/2017).
© Hariandhi Hafid /Beritagar.id

Budayawan Bone, Andi Baso Bone Petta Serang, mengaku tak tahu persis sejak kapan tembakau masuk ke tanah Bugis. Ia hanya bilang bahwa tembakau merupakan pengganti kebiasaan orang-orang Bugis mengemut daun sirih.

"Saat Portugis datang, mereka menawarkan tembakau, jadilah tembakau populer setelah pertama kali diisap raja," kata tokoh yang juga punya garis keturunan bangsawan Bone itu.

Menurut Andi Baso, ico juga menjadi alat diplomasi dalam kebudayaan Bugis.

Pada masa silam, orang-orang akan membawa cappo-cappo (kaleng berisi ico) setiap bepergian. Mereka pun menawarkan ico kepada lawan bicara. Konon, kian bagus kualitas ico makin kesohor pemiliknya.

Orang Bone juga punya tiga filosofi dasar dalam menjalani hidup. Mereka mengenal tiga cappa (ujung): cappa lila (ujung lidah), cappa katawang (ujung kemaluan), dan cappa kawali (ujung badik).

Diplomasi masuk dalam kategori cappa lilla, yang menekankan pada aspek diskusi atau "bicara baik-baik". Dalam aspek itulah ico digunakan sebagai alat diplomasi.

"Dengan ico, sering kali perkara berat bisa mudah diselesaikan," ujar Andi Baso Bone, sambil mengisap kretek di tangannya.

Sila baca laporan lainnya, "Rokok pucuk Palembang mengepul hingga negeri jiran".
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.