Kiri: M. Pradana
Kiri: M. Pradana "Dana" Indraputra, Koordinator Kita Satu, relawan Jokowi-Ma'ruf. Kanan: Sasha Tutuko, Ketua Gerakan Minelial Indonesia (GMI), relawan Prabowo-Sandi Dok. Pribadi / Istimewa
POLITIK MILENIAL

Relawan milenial: Berebut suara tanpa Cebong-Kampret

Relawan muda ikut mewarnai Pilpres 2019. Mereka ingin meninggalkan kampanye destruktif. Termasuk sebutan Cebong dan Kampret yang konon ketinggalan zaman.

Erick Thohir, 48 tahun, menyalami muda mudi yang meriung di sekitarnya. Dia tampak karib dengan para milenial. Bertukar sapa dan mengobrol pendek.

Sesekali Erick meladeni permintaan mejeng depan kamera. Berpose khas: jempol atau telunjuk teracung membentuk "satu", simbol dukungan untuk calon presiden dan wakil presiden, Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Malam itu, 24 Januari 2019, Erick menunaikan kerja politik. Dia bertemu para pesohor media sosial dalam kapasitasnya sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf.

Pertemuan berlangsung di Lantai 28 Gedung The Convergence Indonesia, Kawasan Rasuna Epicentrum, Jakarta Selatan.

Forum itu bertajuk Ngobrol Bareng Erick Thohir. Inisiatornya adalah Kita Satu, kelompok relawan milenial pendukung Jokowi-Ma’ruf.

Sejak Desember 2018, Kita Satu telah memfasilitasi empat acara tatap muka antara Erick dengan generasi milenial. Sudah tiga kota disinggahi: Jakarta, Solo, dan Makassar.

"Kita pengen ajak Bang Erick keliling Indonesia, menyapa milenial," ujar M. Pradana "Dana" Indraputra (26 tahun), Koordinator Kita Satu.

Pada 24 Januari 2019, Kita Satu sengaja mengatur pertemuan Erick dengan para pesohor media sosial. Ada 73 influencer yang hadir.

Dari pemain sinetron Jesica Milla, sampai personel band indie-rock Polka Wars. Komposisi usianya juga beragam. Dari pemilih pemula macam penabuh drum JP Melanix (19), hingga penyanyi yang sudah eksis sejak era 1990-an, Nafa Urbach (36).

"Para influencer ini total punya 8,5 juta followers di media sosial," ujar Dana. "Seperti kata Bang Erick, kami pengen mereka ikut menyebar optimisme tentang Indonesia. Dan optimisme itu kami lihat ada bersama Pak Jokowi."

Kita Satu merupakan ujung tombak TKN Jokowi-Ma’ruf dalam menggarap segmen pemilih milenial.

Sehari-hari, kelompok ini digerakkan oleh 200-an pegiat. Tak termasuk relawan yang ikut pada pelbagai kegiatan.

Mereka rutin kopi darat dengan milenial. Dari sekadar ngopi atau nongkrong, Kita Satu membantu lahirnya kanal relawan anyar, macam Aircrew for 01, Alumni Universitas Indonesia Milenial untuk Jokowi-Amin, dan Alumni SMA Jakarta Bersatu.

Pada level elite, selain Erick Thohir, Kita Satu juga pernah duduk bareng dengan sejumlah tokoh, seperti Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, dan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.

Arief Rosyid Hasan, 32 tahun, banyak berperan dalam komunikasi di level elite. Mantan Ketua PB Himpunan Mahasiswa Islam (2013-2015) itu tercatat sebagai dewan pembina Kita Satu.

Sumber Beritagar.id menyebut Arief dekat dengan Wakil Presiden, Jusuf "JK" Kalla. Pada Pilpres 2019, JK duduk sebagai dewan pengarah TKN Jokowi-Ma’ruf.

Keduanya punya latar serupa: mantan aktivis HMI, alumni Universitas Hasanuddin, dan berasal dari Sulawesi Selatan.

Arief mengaku meminta pertimbangan JK sebelum ambil sikap pada Pilpres 2019 dan membidani Kita Satu.

"Pak JK, sebagai orang tua, menyampaikan pandangan politiknya kepada kami yang muda," ujar Arief, Selasa (29/1/2019). "Sejak 2014, kami juga dukung Pak Jokowi dan Pak JK. Kali ini hanya berganti wapres, visi dan misinya berlanjut."

Arief intens pula berkomunikasi dengan Bahlil Lahadalia.

Nama terakhir merupakan mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (2015-2018), yang kini pegang posisi Direktur Penggalangan Pemilih Muda TKN Jokowi-Ma’ruf.

Arief dan Bahlil memang punya relasi "kanda-dinda".

"Bang Bahlil itu senior--mantan Bendahara PB HMI. Kami sering tukar pikiran. Di DKI sama-sama dukung Anies Baswedan. Kali ini, dia dan Bang Erick support kami untuk all-out bersama Pak Jokowi," ucap Arief.

Selain aktivis, kata Arief, kekuatan Kita Satu terletak pada komposisi relawan dari pelbagai latar belakang.

"Kita Satu punya kekuatan jaringan dan gagasan a la aktivis. Semangat kerja a la pengusaha dan pekerja muda. Plus sentuhan kreatif dari pekerja seni," ujarnya.

***

Prabowo Subianto berpose bersama relawan Gerakan Milenial Indonesia (GMI) dalam acara "Senja Bersama Prabowo" di kediamannya, Jalan Kertanegara No 4, Jakarta Selatan, pada 23 Oktober 2018.
Prabowo Subianto berpose bersama relawan Gerakan Milenial Indonesia (GMI) dalam acara "Senja Bersama Prabowo" di kediamannya, Jalan Kertanegara No 4, Jakarta Selatan, pada 23 Oktober 2018. | Gerakan Milenial Indonesia

Lima dara mengelilingi Prabowo Subianto. Mereka minta purnawirawan jenderal itu pasang senyum.

Sejurus kemudian, mereka berseru “saranghae” (baca: aku cinta kamu), istilah yang populer beriring demam budaya pop Korea.

Peristiwa itu terekam dalam Insta Story milik Nurhaziza M Yasing (@nurhaziza9), pesohor Instagram yang punya 28 ribu pengikut.

Momennya terjadi pada 23 Oktober 2018, kala Prabowo kedatangan sekitar 100 muda mudi di kediamannya, Jalan Kertanegara No 4, Jakarta Selatan.

Tetamu Ketua Umum Partai Gerindra itu berstatus selebritas media sosial. Selain Nurhaziza, beberapa pesohor yang ikut hadir yakni Sarah Gibson, Dian Pelangi, Syakir Daulay, dan Natta Reza.

Acara Senja Bersama Prabowo itu digagas oleh Gerakan Milenial Indonesia (GMI), organisasi relawan milenial penyokong capres-cawapres, Prabowo dan Sandiaga Uno.

Sasha Tutuko menyebut acara itu berguna buat mengusir kesan kaku yang telanjur lekat dengan Prabowo.

"Waktu itu bapak (Prabowo) tidak hanya pidato. Beliau menyanyi. Bahkan bercanda dengan memeragakan gaya jalan Gatot Kaca. Pokoknya lemes dan cair banget," kenang Sasha, Selasa (29/1/2019).

Sasha, 28 tahun, merupakan Ketua GMI. Dia pendukung Prabowo sejak Pemilu 2009, beriring keterlibatannya di Tunas Indonesia Raya (Tidar). Hingga kini, dia tercatat sebagai ketua bidang pendidikan dalam sayap kepemudaan Gerindra itu.

Konon, setelah pasangan Prabowo-Sandi resmi maju pada Pilpres 2019, Sasha dipanggil Ario Djojohadikusumo, Ketua Umum Tidar sekaligus keponakan Prabowo.

"Mas Ario minta saya bikin relawan milenial. Kami sepakat bikin kelompok relawan muda yang menjangkau banyak orang, tidak dibatasi partai politik," ujar Sasha.

Peran famili Prabowo tak berhenti pada Ario. Dua kemenakannya, Budisatrio Djuwandono dan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, masuk jajaran dewan penasihat GMI.

Beberapa relawan bahkan menjuluki Budi dan Saras sebagai "papa-mama-nya GMI".

Nama Sandi juga masuk daftar dewan penasihat GMI. Komposisi itu kian lengkap dengan kehadiran Djoko Santoso, Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Sejak Oktober 2018, GMI jadi corong milenial Prabowo-Sandi lewat kampanye dan rekrutmen daring.

Mereka mengklaim punya lebih dari 10 ribu anggota (per 21 Januari 2019). Plus kepengurusan yang telah terbentuk di 28 provinsi dan 46 kabupaten/kota.

"Tugas kami mempertemukan Bapak (Prabowo) dan Bang Sandi, serta orang-orang hebat di belakangnya, dengan anak muda," ujar Rizky Emirdhani Utama (24 tahun), Juru Bicara GMI.

Kelompok ini memang getol bikin pertemuan para tokoh dengan calon pemilih muda.

Acara bertajuk Senja Bersama juga pernah digelar untuk Sandi.

Pun para tokoh dari partai pengusung Prabowo-Sandi dapat ruang serupa. Misal, lewat acara Kopi Darat Akbar Bersama AHY, Malam Minggu Bersama Zulkifli Hasan, dan Talk Selow Bersama Djoko Santoso.

***

"Di media sosial, kedua kubu terlihat enggak akur. Kami mau kasih contoh bahwa keduanya bisa duduk bareng. Dimulai dari yang muda."

M. Pradana Indraputra, Koordinator Kita Satu

Kamis malam, 17 Januari 2019, anak-anak muda pendukung Jokowi-Ma’ruf dan Prbowo-Sandi serius lihat debat jagoan mereka lewat proyeksi cahaya di Nusa Kopi, bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Suasana bisa tiba-tiba riuh bila Sang Jagoan melempar pernyataan menohok.

Ada kalanya, kedua kubu saling bercanda. Misal, pada momen jeda, perwakilan relawan Prabowo Sandi Digital Team (Pride) melempar pernyataan, "Kita berbeda, tapi tetap satu."

Lontaran itu bersambut guyonan kubu Jokowi-Ma’ruf dengan mengacungkan satu jari sambil tertawa. Pembicara yang menyadari kekeliruan, buru-buru bikin ralat, "Kita satu, tapi presiden tetap nomor dua."

Dana, Koordinator Kita Satu, mengatakan pihaknya sengaja mendesain acara itu guna menurunkan tensi politik antar-pendukung.

"Selama ini, di media sosial, kedua kubu terlihat enggak akur. Kami mau kasih contoh bahwa keduanya bisa duduk bareng. Dimulai dari yang muda," ujar Dana.

Alih-alih kampanye destruktif, ucap Dana, milenial lebih suka gerakan kreatif. Itu selaras dengan karakter mereka yang skeptis, serta mengedepankan data ketimbang jargon.

Hal senada disampaikan Emir, Juru Bicara GMI. Dia juga menyoroti perihal penggunaan label Cebong dan Kampret dari kedua kubu.

"Cebong dan Kampret itu masa lalu. Adanya di Twitter dan Facebook. Itu generasi lebih tua," kata Emir. "Coba lihat Instagram atau Snapchat, Cebong-Kampret berkurang atau malah enggak ada."

Tak sekadar meredakan tensi politik. Kampanye relawan milenial ini akan diuji jelang hari pencoblosan. Tantangannya: mengonversi jangkauan kampanye jadi suara.

Memperbanyak aksi turun ke lapangan demi bertemu warga jadi metode yang mereka tempuh.

Di Surabaya dan Riau, misal, relawan GMI giat bertandang ke pasar-pasar tradisional. Mereka mengklaim telah mendengar suara warga dan memperkenalkan Prabowo-Sandi.

Di sisi lain, Kita Satu tengah menyiapkan kampanye Ketok Pintu. Konon sudah ada relawan di 20 kota yang siap berpartisipasi.

"Ini bakal jadi momen bagi anak-anak muda mengabarkan semangat positif dari Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf ke rumah-rumah warga. Tunggu tanggal mainnya," kata Dana.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR