Mebuug-buugan yang diadakan oleh Desa Adat Kedonganan
Mebuug-buugan yang diadakan oleh Desa Adat Kedonganan Anton Muhajir / untuk Beritagar.id

Ritual Mebuug-buugan menemukan konteksnya

Ritual ini menjadi sarana edukasi mengenal lingkungan sekitar. Merasakan manfaat bakau bagi desa, tubuh, dan jiwa melalui ritual yang dikemas rekreasi.

Ratusan warga mandi lumpur bakau. Bertelanjang dada dan berkamen kancut. Ritual ini terlihat sangat menyenangkan, mereka saling lempar lumpur, mengoleskan ke badan temannya, dan tertawa riang.

Anak-anak, remaja, dan orang tua berbondong jalan kaki dari pusat Desa Kedonganan menuju hutan bakau pesisir Teluk Benoa. Rombongan ini memecah pikuk jalan raya Bypass Ngurah Rai, Bali, untuk menyeberang ke lokasi. Di tiap jalan desa yang dilalui, warga menyambut dengan tawa dan pemompa semangat. Ada juga yang bergabung menuju hutan bakau. Mereka Mebuug-buugan.

Sejumlah lansia yang ikut Mebuug-buugan ini menjadi semacam komandan bagi anak-anak dan remaja. Mereka memimpin keramaian dengan bernyanyi dan akapela tradisional Bali atau megenjekkan, dan lainnya. Mereka beromantika dengan masa lalu.

Misalnya Wayan Surem. Pria berusia hampir 80 tahun ini tanpa dikomando menari dan menyanyi lagu-lagu pengiring ritual ini, yang tak diketahui anak muda saat ini. "Mentul menceng, mentul menceng. Glendang glendong, glendang glendong..."

Lirik berbahasa Bali menggunakan bahasa simbolik ini bisa ditafsir seperti bentuk bagian tubuh, yakni lingga (laki-laki) dan yoni (perempuan). Lingga yoni adalah simbol kesuburan di Bali.

Panitia ritual Mebuug-buugan ini sudah menyiapkan lokasi mandi buug (tanah lumpur). Mereka membersihkannya dari sampah plastik seperti botol dan kresek yang banyak menyangkut di akar bakau. Lokasi yang disiapkan juga menggunakan jalur aliran sungai sehingga tak merusak tutupan bakau.

Rute ritual ini berawal di gedung LPD (Lembaga Perkreditan Desa) Desa Adat Kedonganan, kemudian Mebuug-buugan dilaksanakan di pantai timur yang berbatasan langsung dengan Teluk Benoa. Ritual kemudian berakhir di pantai barat, 1 kilometer ke tempat pembersihan.

Peta lokasi wilayah Kelurahan Kedonganan, Kuta, Kabupaten Badung, Bali
Peta lokasi wilayah Kelurahan Kedonganan, Kuta, Kabupaten Badung, Bali | Google Maps /Tangkapan layar

Sampai lokasi, mereka bersembahyang memohon izin dan keselamatan di pura sekitar pesisir bakau. Setelah aba-aba, mereka menyerbu lokasi mandi dan perang lumpur. Anak-anak diberikan kesempatan di depan. Tanpa rasa jijik, mereka mengoles lumpur di seluruh wajah, rambut, dan sekujur tubuh. Bahkan mereka mengumpulkan lumpur, ditaruh di atas kepala dan genggaman tangan sebanyaknya. Lalu dioleskan ke warga dan teman-temannya yang tak ikut.

Ritual ini otomatis menjadi sarana edukasi mengenal lingkungan sekitar. Merasakan manfaat bakau bagi desa, tubuh, dan jiwa melalui ritual yang seperti rekreasi ini. Tanpa ritual ini bisa jadi warga tak pernah melihat bakau yang menjadi kekayaan biodiversitas lingkungan desa. Bakau bahkan kini disebut blue carbon karena kekuatannya mengurangi emisi.

"Lumpur bakau ini berkualitas baik. Warnanya kemerahan tak hitam legam, sudah pernah dicek lab kok," yakin Made Sukada, Penyarikan Desa Kedonganan. Ia ikut Mebuug-buugan bersama pimpinan desa lainnya. Badannya penuh lumpur kental, sampai mengering saat tiba kembali ke pusat desa.

Menurutnya, ritual yang biasa dilakukan sehari setelah Nyepi ini bermakna korelasi yang mendalam untuk penyucian semesta dan isinya (bhuana agung dan alit). Ritual untuk semesta atau Tawur Agung sudah dilakukan melalui persembahan sesajen dan kurban (caru).

"Setelah brata penyepian, kami mulat sarira (refleksi) dengan pikiran jernih dan tenang untuk bisa menyambut ritual ini," jelasnya tentang cara menyucikan diri. Buug atau lumpur secara verbal maknanya bisa kekotoran dan perbuatan yang kotor. "Perlu penyucian diri penyempurnaan anugerah lewat baruna bersihkan badan kasar," kata Sukada.

Sebanyak enam banjar terlibat dalam ritual ini, yakni Pasek, Kerthayasa, Anyar Gede, Pengenderan, Ketapang, dan Kubu Alit di Desa Kedonganan.

Aksi peserta ritual Mebuug-buugan di Desa Kedonganan
Aksi peserta ritual Mebuug-buugan di Desa Kedonganan | Anton Muhajir /untuk Beritagar.id

Ritual ini dihidupkan lagi setelah sempat terhenti pada era 1960-an. Sejumlah alasan yang disebutkan pemimpin desa misalnya meletusnya Gunung Agung pada 1963 di Karangasem, dan peristiwa Gestok 1965. Peristiwa 65 memberi dampak sangat luas di Bali, warga dilarang berkumpul dalam jumlah banyak. Ritual baru dimulai lagi pada 2015.

Catatan desa menyebut tradisi ini sudah berakar dan menjadi permainan yang dinanti tiap tahunnya. Almarhum I Wayan Glibeg disebut inisiator yang memberi istilah Mebuug-buugan. Nyepi zaman dahulu di desa-desa di Bali tidak berlangsung serempak seperti kini, setelah menjadi hari libur nasional. Tiap desa memiliki ritual dan waktu Nyepi berbeda sesuai situasi setempat.

Demikian juga di Kedonganan, yang secara administratif merupakan sebuah kelurahan di kecamatan Kuta, Badung, Bali. Saat Nyepi warga masih bisa melakukan aktivitas luar rumah namun tak diperkenankan memikul barang di kepala. Muncullah keramaian permainan Mebuug-buugan ini.

Secara etimologi, kata dasarnya adalah buug yang bermakna tanah atau lumpur yang artinya wujud yang kemudian dimaknai Bhur atau bumi. Dalam konteks makrokosmos, ritual ini ucapan syukur atas kesuburan yang dilimpahkan pada bumi sebagai tempat makhluk hidup.

Salah satu tokoh muda desa yang mendorong penghidupan kembali ritual ini pasca 65 adalah I Wayan Sudarsana, seorang master seni tari lulusan ISI Surakarta, Solo.

"Saya mengajukan proposal untuk studi. Kendala saya banyak istilah ritual yang susah diterjemahkan ke bahasa universal," kata pria muda yang dimentori maestro tari Sardono ini di kampusnya. Dia lalu menghimpun komunitas seni desa sekitar.

"Kedonganan tak punya identitas ritual seperti desa lain. Ada yang tersimpan, kapan dimunculkan? Banyak didukung tapi sempat pesimistis," lanjutnya.

Tua dan muda tak ketinggalan meramaikan ritual Mebuug-buugan
Tua dan muda tak ketinggalan meramaikan ritual Mebuug-buugan | Anton Muhajir /untuk Beritagar.id

Asumsinya anak muda saat ini nyaman dengan gadget dan modernisasi tak mau terjun bermandi lumpur. Apalagi saat dilaksanakan lagi pada tahun lalu, H-1 ritual belum banyak antusiasme. Namun saat hari H, ratusan anak muda tiba-tiba datang ke pusat desa untuk ikut ritual ini.

Sudarsana dan rekannya merencanakan empat kegiatan untuk meramaikan ritual ini. Pertama mendorong pengakuan dari Dinas Kebudayaan Bali, melibatkan pawai pelajar, dan festival pantai. Namun hanya mandi lumpur saja yang akhirnya dilaksanakan tanpa keramaian lainnya.

Sebagai edukasi, panitia menyiapkan selebaran makna dan filosofi ritual ini dan disebar ke seluruh warga yang terlibat. Mereka diminta membaca sejarah singkatnya, agar tak salah kaprah memaknai.

Bendesa adat Kedonganan, I Ketut Puja, meminta warga turut melindungi hutan bakau yang berada di sebelah timur desa ini. "Kami bersyukur punya dua sisi laut. Di barat banyak ikan, dan di timur hutan bakau. Dulu sampahnya tak ada plastik," katanya.

Tak heran dalam ritual ini, remaja memberi konteks kekinian tantangan desa, yakni dibawanya spanduk-spanduk bertuliskan warga Kedonganan menolak reklamasi.

Persiapan sebelum menjalankan ritual Mebuug-buugan
Persiapan sebelum menjalankan ritual Mebuug-buugan | Luh De Suriyani /untuk Beritagar.id

Lebih dari 1.000 hektare hutan bakau di pesisir Teluk Benoa adalah aset besar, dan jadi incaran investor karena indah dan meneduhkan. Desa Kedonganan melingkupi beberapa bagian hutan bakau di area teluk. Selain itu ada Tuban, Kelan, Suwung, Tanjung Benoa, dan lainnya.

Proyek reklamasi Teluk Benoa seluas 700 hektare dari PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) mendapat penolakan dari warga Desa Adat Kedonganan. Desa adat ini merupakan salah satu kawasan terdampak langsung proyek tersebut. Mereka menganggap proyek reklamasi berkedok revitalisasi Teluk Benoa akan merusak lingkungan desa sekitar.

Proyek tersebut dinilai akan merugikan desa, khususnya di areal pesucian Teluk Benoa. Teluk Benoa merupakan kawasan suci, yang tidak boleh direklamasi. Para nelayan juga menolak, karena reklamasi Teluk Benoa terjadi di wilayah jelajah mereka, sehingga akan mengurangi hasil tangkapan.

Revo, salah seorang anak muda Desa Kedonganan terlihat mengomando aksi ini menyemangati rekannya untuk terus meneriakkan tolak reklamasi. Rombongan dengan spanduk dan poster ini dengan percaya diri memasukkan konteks masa kini, dalam ritual-ritual warisan masa lalu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR