Petugas medis sedang merawat  anjing di Shelter JAAN, Kalisari, Jakarta Timur, Oktober 2016.
Petugas medis sedang merawat anjing di Shelter JAAN, Kalisari, Jakarta Timur, Oktober 2016. Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Rumah aman penuh kasih sayang

Tak cuma mengampanyekan setop konsumsi daging anjing. Sejumlah aktivis pecinta binatang juga menyelamatkan hewan peliharaan yang ditelantarkan juragannya.

Namanya Ela. Ia anjing betina berbulu hitam kecokelatan. Sejak setahunan lalu resmi menghuni rumah singgah khusus hewan milik Animal Friends Jogja (AFJ) di Bantul.

Di rumah barunya, Ela tak perlu takut mendapat kekerasan seperti tahun-tahun sebelumnya. "Saat pertama kali ditemukan, bola mata kirinya keluar dari tengkoraknya," kata relawan AFJ Nur Isnaini (30), Selasa (19/12/2017) siang.

Cerita penyelamatan Ela bermula dari laporan seorang warga di Jalan Munggur Yogya. Ia mengabarkan ada seekor anjing masuk pekarangannya. Anjing itu agresif.

Binatang itu berusaha menyerang tiap orang yang mendekatinya. Lantaran sang empunya rumah tak kuasa menghalau, beberapa relawan AFJ diminta datang mengevakuasi. "Ternyata anjing itu trauma," kata Anun, panggilan Nur Isnaini, yang saat itu ikut mengevakuasi.

Anjing itu diduga baru mengalami kekerasan. Kepalanya diduga dihantam benda tumpul. Keras, sekeras-kerasnya sampai bola matanya melesat keluar dari sarangnya.

Anun memperkirakan pukulan dilakukan seseorang untuk membunuh anjing itu. Entah untuk apa. Pengalaman traumatik itu menyebabkan hewan itu bersikap agresif.

Ia berusaha melindungi diri dengan menyerang tiap orang mendekatinya. Karenanya, saat dievakuasi anjing itu dibius. Setelah lemas tak berdaya, relawan membawanya dengan mudah ke klinik hewan untuk diobati.

Rumah Singgah Hewan AFJ berdiri sejak 2010 silam. Saat itu AFJ mendapat banyak kiriman hewan peliharaan terlantar akibat erupsi Merapi.

Jumlah hewan terlantar bertambah, sementara tempat penampungan tak ada. Hingga kemudian seorang pendirinya meminjamkan lahan miliknya untuk rumah singgah hewan.

AFJ adalah lembaga non-pemerintahan yang bergiat di bidang kesejahteraan hewan. Organisasi ini berjejaring dengan lembaga lain yang memiliki perhatian di bidang yang sama. Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Change For Animals Foundation (CFAF), dan Humane Society International (HIS).

AFJ bekerjasama dengan beberapa dokter hewan untuk merawat anjing-anjing di rumah singgahnya. Mereka biasa datang ketika ada anjing sakit dan butuh pertolongan. Tapi dalam kondisi tertentu para relawan datang ke klinik mereka.

Menurut Anun, berbeda dengan tempat penampungan, rumah singgah adalah tempat sementara hewan-hewan itu menanti pengadopsi. "Jadi bukan tempat di mana orang bisa membuang anjingnya ke sini," katanya.

Ada sejumlah prosedur yang harus dilalui calon pengadopsi anjing. Mereka diminta mengisi formulir biodata hingga karakter anjing yang ingin diadopsi. Jika dirasa oke, relawan datang ke rumah calon pengadopsi.

Mereka melakukan observasi apakah karakter anjing yang diinginkan sesuai dengan kondisi rumah. "Kalau ingin adopsi anjing lincah tapi rumahnya banyak perabot pecah belah tentu tak tepat," katanya.

Saat ini, ada 26 ekor anjing penghuni rumah singgah AFJ. Sebagian mereka diselamatkan dari jalanan dalam kondisi memprihatinkan. Dari kudisan, lumpuh, hingga terluka setelah tertabrak kendaraan.

Albus misalnya. Anjing jantan berbulu putih panjang ini menghuni rumah singgah sejak 2013. Saat ditemukan pertama kali dari jalanan, sekujur tubuhnya kotor dan dekil. Bulunya rontok, sekujur tubuh berhias penyakit kulit.

Parahnya, anjing ini juga terserang distemper, sejenis virus penyerang syaraf. Akibatnya dua kaki depannya lumpuh. Ia tak mampu berjalan. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ia mengandalkan dua kaki belakang dan dagu alias ngesot.

Untuk meringankan penyakitnya, relawan AFJ menerapi Albus. Kaki depannya yang lumpuh dipijit agar syarafnya kembali berfungsi. Upaya itu membuahkan hasil. Kaki kirinya kembali normal.

Tapi sayang kaki kananya justru kaku tak bisa digerakkan hingga beberapa tahun kemudian diamputasi. "Setelah diamputasi ia justru bisa berlari meski dengan tiga kaki," kata Anun.

Kisah serupa menimpa Rossi. Anjing kampung itu tiba ke rumah singgah dua tahun lalu dengan kaki kanan terluka. Kakinya patah setelah tertabrak kendaraan dan harus diamputasi.

Dibanding kawanan anjing lain, Rossi lebih banyak tinggal di rumah Bandizt, direktur sekaligus pendiri AFJ. Di rumah lelaki yang juga musisi Shaggydog itu, Rossi tinggal bersama dua ekor anjing lain, Sesi dan Lady.

Dua ekor anjing itu juga memiliki kisah serupa. Lady misalnya, anjing itu tinggal bersama Bandizt sejak sembilan tahun lalu. Ketika tiba, anjing itu masih berupa anakan. Lady berasal dari tempat pengembangbiakan anjing di Dongkelan Yogya.

Yang membuat miris, pemilik bisnis pengembangbiakan ini merantai anjing-anjingnya. "Termasuk anak anjing juga dirantai," kata Bandizt, berkisah asal-usul Lady.

Ela, Albus, Rossi, dan Lady adalah beberapa dari sedikit anjing yang beruntung. Masih banyak anjing lain yang membutuhkan pertolongan di luar sana.

Bandizt tak mau membuka berapa kocek yang harus dikeluarkan tiap bulan untuk merawat binatang-binatang itu. Biaya operasional, kata dia, selama ini mengandalkan dari donatur, penjualan kaos, dan dana pribadi. "Yang jelas megap-megap," katanya tertawa.

***

Anjing yang dievakuasi dari jalanan sedang beraktivitas di Shelter JAAN, Kalisari, Jakarta Timur, Oktober 2016.
Anjing yang dievakuasi dari jalanan sedang beraktivitas di Shelter JAAN, Kalisari, Jakarta Timur, Oktober 2016. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Sekitar 2011, Davina Veronica (39) dan kawan-kawannya sesama pencinta binatang menerima banyak keluhan dan laporan dari sejumlah orang. Kepada mantan model yang menyukai binatang ini, mereka melaporkan adanya penganiayaan terhadap binatang peliharaan, terutama kucing dan anjing.

Bruno misalnya. Setiap hari anjing mix breed itu disiksa majikannya. Tubuhnya dipukuli, diempaskan, juga dicekik. Tak tahan mendengar anjing itu melolong beberapa kali, tetangga pelaku melaporkan kejadian itu ke Garda Satwa Indonesia (GSI), lembaga yang didirikan mantan model ini bersama Cyril Raoul Hakim, M. Guntur Romli, Nong Darol Mahmada, dan Jonatan Wegiq.

Ingin menyelamatkan anjing itu, tim GSI bergerak cepat menjemput Bruno. Bruno akhirnya ditampung di "rumah baru" yang didirikan GSI.

"Memelihara anjing bukan sebatas mencukupi makan dan minumnya. Mereka juga butuh kasih sayang," katanya saat ditemui Beritagar.id di Jakarta, Senin (18/12/2017).

Devina bercerita GSI awalnya berupa komunitas. Karena tidak punya shelter (tempat penampungan), beberapa anjing dan kucing yang diselamatkan dititipkan ke rumah teman-temannya. Di situ, hewan-hewan tesebut dirawat. Jika kondisinya baik dan sehat, mereka mencarikan pengadopsi untuk hewan-hewan itu.

Tiga tahun berjalan, akhirnya Devina dan kawan-kawan memutuskan membentuk yayasan GSI. Anggota tetapnya ada 12 orang. Fokusnya sama: penyelamatan, pemberian vakinasi dan sterilisasi, serta mencari pengadopsi.

Kegiatan lainnya berupa kampanye, sosialisasi, dan edukasi untuk menyetop melakukan kekerasan terhadap binatang.

Persoalan lain muncul ketika GSI memiliki tempat penampungan. Saat itu mereka punya tempat penampungan anjing di Ciledug, Tangerang. Di lahan kosong tersebut ada beberapa anjing yang ditampung.

Tak disangka, beberapa warga yang dekat dengan penampungan menimpuki anjing-anjing itu dengan balok dan konblok. Akibatnya dua anjing mati.

Keberingasan warga karena menganggap GSI mengembangbiakkan anjing, membuat lingkungan gaduh dengan suara lolongan, dan menebarkan aroma kotoran tak sedap.

Mendapat perlawanan sedemikian rupa, GSI memindahkan lokasi penampungan anjingnya ke Depok. Karena lahannya masih kosong, mereka membutuhkan bangunan untuk menampung hewan-hewan itu.

Karena dana cupet, mereka mencoba mencari donatur lewat situs web Kita Bisa pada April 2017. Hasilnya lumayan, sebanyak Rp290 juta terkumpul.

Dana itu kemudian dimanfaatkan untuk membuat shelter yang kini dilengkapi tempat istirahat untuk para hewan, ruang menyusui, halaman bermain, tanaman hijau, dan pagar. Di rumah barunya ini, hewan-hewan itu bisa bebas bergerak, tidak terintimidasi.

Untuk merawat 30 anjing dan kucing (yang penampungannya ada di Bekasi), Devina mengaku menghabiskan Rp60 juta per bulan. Dana itu diperoleh dari kolekan dan sumbangan dari donatur.

Devina berharap, ke depan para pemangku kepentingan lebih mau peduli dengan kesejahteraan hewan peliharaan. Sebab hingga saat ini, menurut dia, pemerintah belum benar-benar memperhatikan urusan kesejahteraan hewan peliharaan.

"Semoga pemerintah dan aparat hukum bisa lebih menunjukkan kepedulian terhadap nasib satwa yang kerap dianiaya, diperdagangkan, bahkan dikonsumsi dagingnya," ujarnya.

Berita terkait:

Akhir nasib anjing di atas piring
Menanti ajal di tangan penjagal
Jalur gelap perdagangan binatang kesayangan

BACA JUGA