Muslimin Suparman, atau bisa dipanggil Pakde Mus, yakin kemampuannya memindahkan hujan takkan terwujud tanpa izin dari Tuhan.

"Waktu lagi di perjalanan hujan deras banget," Andreas Yemmy Martiano, awak Beritagar.id, bercerita. "Tapi, sampai (di) sana, (hujan itu) berhenti gitu aja".

Andreas menuturkan kisah itu ketika bersama seorang kolega, Muhammad Imaduddin Siregar, menyambangi Muslimin Suparman, 68 tahun. Mereka telah mengatur waktu untuk merekam aktivitas Pakde Mus, demikian nama disebut terakhir biasa dipanggil, di Gandaria City, sebuah mal di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada akhir Februari.

Muslimin seorang pawang hujan. Peran itu sudah ia mainkan secara penuh sejak 2005. "Sebenarnya mungkin pawang tidak hujan atau pawang pencerahan cuaca," ujar Pakde Mus.

Bagi kebanyakan penduduk Indonesia, profesi itu bukan tak lumrah. Sebagian besar penduduk negeri ini memeluk agama Islam. Namun, itu tidak menghentikan khalayak untuk meyakini sejenis kecakapan yang dikuasai Muslimin.

Mengacu survei lembaga riset Pew mengenai Agama dan Kehidupan Publik pada 2012, 69 persen responden Muslim dari Indonesia mempercayai profesi dukun dan 38 persen lainnya memakai jasa tabib berlatar agama.

"Gue juga awalnya enggak percaya," ujar Gary Jatikusumo, sejawat Andreas dan Imaduddin. Tapi, setelah mengaku menyaksikan hasil laku Muslimin di pesta pernikahannya pada 2016, ia mengubah pandangan.

Gary bukan satu-satunya yang beralih dari sikap skeptis. "Biasanya memang wedding organizer sudah menyediakan paket pawang hujan," apalagi kalau acara digelar di luar ruangan saat musim hujan tiba, katanya.

Panitia acara konser musik dan hajatan politik pun menampik tabu untuk menyewa sosok seperti Pakde Mus.

"Saya pernah diminta untuk mengurusi cuaca" dalam salah satu kampanye pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada Maret 2012 oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), ujar Muslimin. "Alhamdulillah enggak ada halangan".

Istana Negara pun pernah masuk dalam daftar klien. "Tapi harus lewat Koramil," katanya menyinggung akronim satuan teritorial Angkatan Darat.

Pria beranak empat tersebut merupakan Ketua Mitra Jaya Koramil 03 di Kelurahan Warakas, Tanjung Priok. Saat saya, Gary, Andreas, dan Imaduddin menemuinya di Senayan City pada hari yang sama ia menaklukkan hujan di Gandaria City, Muslimin mengenakan topi bertulisan institusi dimaksud.

Pakde Mus mengatakan bahwa ia tidak sungkan memakai topi itu ketika bertugas sebagai pawang. Baginya, "pakaian aneh-aneh" justru dapat mengganggu pekerjaannya. "Nanti kalau orang pada lihat malah enggak bisa konsentrasi," katanya.

Jika ada yang dapat disebut sebagai seragam kehormatan, maka ia hanya selembar sorjan berpelengkap blangkon langgam Yogyakarta--bagian belakang menampakkan tonjolan (mondolan). "Saya pakai kalau menjalankan ritual di rumah," ujarnya seraya memamerkan gigi-gigi yang masih lengkap dan rapi.

Muslimin tidak memiliki darah kota asal gaya mondolan itu. Ia dilahirkan oleh seorang ibu berdarah Kediri dan ayah pensiunan Kopral TNI Angkatan Laut di Surabaya, Jawa Timur, pada 1 Mei 1949.

Orang tua hingga leluhurnya mendalami aliran kejawen: tradisi yang masih dilestarikan Muslimin dalam memelihara keahliannya.

"Sebagai orang Jawa, saya rutin puasa Senin-Kamis," katanya. "Tapi, pada hari tertentu--saya pakai kalender (dengan penanggalan) Jawa--saya berdoa dari jam 1 malam" hingga dekat waktu subuh.

Tidak hanya itu, sekali dalam setahun Muslimin mengaku sanggup berpuasa selama 40 hari berturut-turut. "Ada satu dari 40 hari itu yang saya enggak cuma puasa. Saya juga pantang ngomong sama tidur. Itu hal-hal yang harus saya jalani untuk menjaga ilmu saya," ujarnya.

Muslimin ketika memenuhi panggilan klien di dekat Gandaria City, Jakarta Selatan.
Muslimin ketika memenuhi panggilan klien di dekat Gandaria City, Jakarta Selatan.
© Andreas Yemmy Martiano /Beritagar.id

"Tapi, saya sendiri enggak sengaja jadi pawang hujan," katanya.

Pada 1972 dari Surabaya, ia bertolak ke Bogor. Di Kota Hujan, ia cuma betah tiga bulan. Tujuan berikutnya, Jakarta. Sepasang kakinya diarahkan ke Tanjung Priok, Jakarta Utara.

"Saya ke daerah Pasar Mambo," ujarnya.

Setahun di 'Ibu Kota', Muslimin merasakan kehidupan yang begitu keras. "Saya dulu biasa jadi makelar untuk barang-barang yang (diambil) dari pelabuhan (Tanjung Priok)," kata Pakde Mus. Salah satu pihak yang menyuplai barang-barang itu adalah kelompok 'bajing loncat'. "Saya merasa butuh pagar (diri)," ujarnya.

Kemudian, pada 1973, ia memutuskan kembali ke kampung halamannya dan menemui seorang "paranormal asli Mojokerto yang kabarnya berasal dari keturunan Majapahit".

Muslimin lalu berguru kepada sang paranormal selama tiga bulan. Sepanjang masa itu, ia mengaku digembleng tiga ilmu. Satu di antara ilmu itu disebut pengasihan (biasa dimanfaatkan untuk meningkatkan daya pikat).

"Sering saya dimintai tolong orang (untuk mengguna-guna hati perempuan), tapi saya enggak mau," katanya.

Merasa telah mendapatkan pelindung diri yang cukup, Muslimin balik ke Tanjung Priok. Namun, ia merasa keputusan tersebut menciptakan kabut di jalan hidupnya saat itu.

"Saya jadi gelandangan di pelabuhan tahun 1973 sampai 1975," ujarnya.

Meski didesak ketidakpastian, ia maju "menjadi pengantar koran". Ikhtiar itu membawanya masuk ke kawasan Ancol. "Saya lalu bertanya dengan orang-orang kantor (pengelola Ancol) mengenai kemungkinan lowongan kerja", kata Muslimin.

Satu hari, ia ditawari untuk bekerja sebagai penjaga rumah konsultan pelatih lumba-lumba asal Amerika Serikat. Bosnya itu pula yang merekomendasikan pihak Ancol untuk memberinya pekerjaan tetap. "Saya dianggap sebagai pekerja yang baik," ujar Muslimin.

Pria yang mata kirinya sudah mulai terkena katarak itu diambil divisi perawatan binatang.

"Ilmu yang saya pelajari saya terapkan ke binatang-binatang itu," katanya sembari menjelaskan bahwa hewan-hewan yang ia urus cepat lulut.

Pada 2004, Muslimin pensiun. Jabatan terakhirnya adalah kepala bagian gerbang kawasan wisata Ancol.

Tak diduga, bekas kantornya itu menjadi salah satu klien awal Muslimin sebagai pawang hujan. "Sebetulnya saya tidak tahu kalau ilmu yang saya pelajari itu larinya bisa buat pawang hujan," katanya.

Pelanggan pertamanya adalah Hotel Raddin (kini Discovery), Jakarta Utara, yang dimiliki oleh PT Jakarta Setiabudi Internasional. "Yang menawarkan itu mantan anak buah saya waktu di Dufan (Dunia Fantasi) yang jadi manajer (di Hotel Raddin). Dia dulu tukang badut," ujar Muslimin.

Upahnya IDR200 ribu.

"Sekarang satu paket (biasanya enam jam), IDR1,5 juta sampai IDR2 juta," katanya. Sepanjang bicara, Muslimin jarang sekali melepaskan jari-jarinya dari batang rokok. Dalam hematnya, asap rokok dapat pula berfungsi sebagai medium untuk mengantarkan niatnya ke angkasa.

Dengan senjata-senjata pusaka yang berfungsi sebagai media dalam menjalankan tugas sebagai pawang hujan.
Dengan senjata-senjata pusaka yang berfungsi sebagai media dalam menjalankan tugas sebagai pawang hujan.
© Andreas Yemmy Martiano /Beritagar.id

"Tiap pawang hujan punya media masing-masing. Kalau datang ke lokasi, saya sering pakai rokok selain bakar dupa," ujarnya. "Kalau harus pakai keris kan mencolok banget".

Pakde Mus memiliki delapan keris dengan ukuran berbeda, dan masing-masing punya nama.

"Yang sering saya bawa Anjasmoro dan Pandan Sari. Karena ukurannya kecil, jadi gampang dimasukkan tas," ujarnya. Di dalam tas itu ada pula radio panggil, dupa berjenama Golden Frog beraroma lavender, dan niscaya, beberapa bungkus rokok.

"Setiap daerah punya penunggu yang suka aroma" tertentu. "Kayak manusia aja. Aroma itu kayak makanan kesukaan," kata sosok yang dalam setahun sanggup meluluskan 50-60 kali permintaan mencerahkan cuaca.

Meminta izin ke "penunggu" itu dikenai hukuman wajib jika ia menginginkan tugasnya berjalan baik. "Tapi, yang pasti kita juga harus menyerahkan semua ke Yang Maha Kuasa".

Biasanya, penyuka aroma lavender adalah para "penunggu" yang dikategorikan sebagai 'kelas menengah'.

Tim Beritagar.id menyaksikan sendiri dupa beraneka skala dan aroma di 'ruang kerja' Muslimin. Kamar itu berukuran 2,5 x 2 meter di lantai dua sebuah bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 75 meter persegi.

Di salah satu pojoknya ada tumpukan buku yang di antara judul-judulnya adalah "Singgasana Allah" karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Mujarabat (Imam Ghazali), serta kumpulan doa dan wirid.

"Saya awalnya ngontrak di sini tahun 1986. Terus, sekitar tahun 1988, pemiliknya butuh uang, dan saya beli dengan mencicil," ujar Muslimin menerangkan proses kepemilikan rumahnya.

Muslimin mengaku lebih nyaman mengerjakan urusan klien dari rumah. "Bisa lebih konsentrasi," ujarnya.

Konsentrasi memiliki porsi penting dalam membaca gejala cuaca. Pasalnya, bukan ia seorang yang bertugas mengalihkan hujan dari suatu daerah.

"Angin di Jakarta ini umumnya bergerak dari barat ke timur. Kalau sudah ada pawang lain bekerja, biasanya angin bergerak dari selatan ke utara," ujarnya. "Tapi, orang awam enggak bisa merasakannya".

Ia pun menyetel atap rumah--sebagian dari asbes, sebagian dari pelat baja ringan--sebagai ruang kendali. Butuh koordinasi bagus untuk menaiki tangga kayu ke lokasi dimaksud. "Saya kadang dibantu sama cucu," kata Muslimin.

Sang cucu dimaksud bercita-cita menjadi anggota TNI, tapi sekaligus ingin meneruskan keahlian kakeknya. "Dia sudah naksir sama keris yang paling besar," ujarnya.

Muslimin mengatakan bahwa keempat anaknya " tidak ada yang berbakat untuk menjadi pawang hujan" karena "pendidikannya sudah tinggi".

Meski begitu, ia tak mematok bakat sebagai anasir pokok dalam penguasaan ilmu tersebut. "Semua orang sebenarnya bisa belajar ilmu (pawang hujan), tergantung niatingsunnya apa," ujarnya memakai kata berbahasa Jawa untuk niat.

Kekuatan niat itu, menurut Pakde Mus, yang membuat tingkat keberhasilannya selama ini begitu tinggi. "Tahun kemarin (2016), dari 90 panggilan, dua yang gagal," ujarnya.

Kami merasa upaya Pakde Mus menangkis hujan di pelataran Senayan City sore itu bakal menjadi salah satu yang menemui kebuntuan. Awan sudah tampak kepayahan menanggung beban, dan udara kian lengas. Tetes-tetes air mulai jatuh.

Tapi, ketenangan tak raib dari wajah Muslimin. Asap rokok ia embuskan ke arah awan. Tangannya terus bergerak seakan mencoret-coret langit.

Angin seolah tak kuasa menahan alur itu. Ia menjadi seperti lokomotif yang menyeret gerbong-gerbong mega.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.