Layla (30), sedang bersiap mandi dan mencuci pakaian dari air sumur kecil yang terletak di tepian Sungai Bulota, Dusun Polahua, Kelurahan Bulota, Kecamatan Limboto, Senin (2/9/2019). Kemarau panjang yang melanda Gorontalo, mengakibatkan sungai kering.
Layla (30), sedang bersiap mandi dan mencuci pakaian dari air sumur kecil yang terletak di tepian Sungai Bulota, Dusun Polahua, Kelurahan Bulota, Kecamatan Limboto, Senin (2/9/2019). Kemarau panjang yang melanda Gorontalo, mengakibatkan sungai kering. Franco Dengo / Beritagar.id
KEKERINGAN

Sekarat akibat kemarau panjang

Kehidupan warga beberapa desa di Gorontalo semakin sulit dengan datangnya kemarau panjang dan surutnya sungai.

Wanita itu sedang berjongkok di tepian sungai. Seperti menyembah sebuah lubang kecil. Matahari tepat di atas kepala. Udara terasa panas. Terdengar sayup gemericik air di kejauhan.

Di belakang wanita itu tampak ember plastik besar berisi pakaian. Ada juga perlengkapan mandi, termasuk gayung plastik berwarna biru langit. Serupa dengan warna daster yang dipakainya. Sesekali. Ia mengangkat daun-daun kering yang jatuh ke lubang kecil di hadapannya, satu-satunya sumber air baginya.

“Kira-kira sejak dua bulan lalu. Mau bagaimana lagi, hanya ini sumber air bersih kami,” ujar Layla, yang ditemui Beritagar.id Senin (2/9/2019), di dusun Polahua, Kelurahan Bulota, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Sumber air bersih itu adalah Sungai Bulota, salah satu sungai besar di Kabupaten Gorontalo yang airnya semakin surut. Oleh karena itulah warga dusun menggali bagian yang kering untuk mencari mata air.

Sumur-sumur itulah yang menjadi satu-satunya sumber air bersih mereka. Kondisi ini dirasakan sejak bulan Juli lalu. Menurut Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), selain kemarau panjang, kekeringan ini diperparah oleh fenomena El Nino (lemah) yang melanda Gorontalo.

Perempuan berusia 30 tahun itu menceritakan, ia dan puluhan tetangganya setiap hari mengantre di lubang berukuran sekitar 40x40 cm tersebut. Bagi mereka, sumur ini bak mata air di tengah gurun. Semua aktivitas penunjang kebutuhan rumah tangga bertopang pada lubang ini, seperti mandi, cuci pakaian, dan cuci piring.

"Untuk air minum juga," ucap Layla sembari menundukkan kepala, seperti malu mengutarakannya. "Dulu air sungai ini sangat deras. Airnya juga jernih. Baru beberapa tahun belakangan jadi begini. Jadi seperti sekarang ini."

Dusun Polahua berada di ujung perkampungan. Berbatasan dengan area pegunungan dan hutan lindung. Air dari hulu Sungai Bulota, singgah dulu di wilayah ini, sebelum mengalir ke kelurahan lain.

Tidak jauh dari kamar mandi umum itu. Air sungai tertumpuk menjadi kubangan. Air mengalir diadang oleh beton besar bendungan Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Air yang volumenya tidak seberapa itu. Sedang berusaha dialirkan kepada pelanggan PDAM di perkotaan.

“Waktu saya remaja. Mau itu musim hujan, atau kemarau sekalipun, sungai tidak sampai mengering seperti ini. Kita tidak perlu mengantre hanya untuk mendapatkan air bersih,” kata Layla, ibu dua orang anak itu. “Sebentar lagi orang-orang dari bawah (bagian selatan kampung) akan datang ke sini. Makanya saya harus cepat-cepat.”

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gorontalo merilis: dari 19 Kecamatan yang ada di Kabupaten Gorontalo, 17 Kecamatan terdampak kekeringan yang menyebabkan kesulitan air bersih dan gagal panen. Serta kebakaran yang meningkat drastis, 50 kasus, di periode musim kemarau ini.

Sungai yang menunggu mati

Bangkai ikan tawar banyak ditemui di tepian Sungai di Kelurahan Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Rabu (4/9/2019). Selain karena kekeringan, kontaminasi limbah rumah tangga mempersulit kehidupan hewan di sungai.
Bangkai ikan tawar banyak ditemui di tepian Sungai di Kelurahan Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Rabu (4/9/2019). Selain karena kekeringan, kontaminasi limbah rumah tangga mempersulit kehidupan hewan di sungai. | Franco Dengo /Beritagar.id

Kekeringan yang terjadi sekarang sebenarnya tidak lebih parah dari tahun 2015. Saat itu, fenomena El Nino yang lebih kuat menerjang Gorontalo. Tapi, yang paling mempengaruhi dampak dari kekeringan kini adalah kondisi sungai di Gorontalo yang makin kritis.

Data dari Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BAPEDAS-HL) Bone Bolango, dari 520 daerah aliran sungai (DAS) yang ada di Provinsi Gorontalo, hanya 27 DAS yang masih masih dipertahankan (kondisi baik). Sementara, 493 atau 94 persen DAS lainnya, sedang dipulihkan; dengan kata lain, kondisinya kritis.

Kepala Bapedas Bone Bolango, M Tahir menjelaskan, dari kajian-kajian yang telah pihaknya lakukan, ada beberapa faktor yang menyebabkan sungai-sungai ini kritis. Yang paling utama adalah rusaknya lahan-lahan di bagian hulu sungai. Juga masifnya pengalihan lahan oleh para petani.

“Sekitar 339 ribu hektar lahan di Gorontalo, dalam kondisi kritis. Lebih banyak di luar kawasan hutan, misalnya para peladang yang berpindah-pindah,” kata M Tahir, sat diwawancarai Beritagar.id, Rabu (4/9/2019).

Ciri-ciri sungai yang kritis, kata M Tahir, ketika musim kemarau seperti saat ini, kondisinya kering. Kemudian saat musim penghujan, airnya keruh. Ditambahkannya, masyarakat, khususnya para petani harus lebih memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air.

“Perlu disosialisasikan kepada masyarakat, bahwa menanam jagung di kemiringan 30 persen ke atas, sangat berpotensi terjadi erosi, yang kemudian berakibat pada kerusakan sungai,” ungkap M Tahir.

Selain kesulitan air bersih, para petani juga mengalami gagal panen dan merugi. PDAM kelabakan mengakomodasi kebutuhan para konsumen.

Sebagian kalangan menilai, PDAM adalah salah satu instansi yang mengakibatkan kurangnya debit air, juga merusak sungai. Seperti yang coba diutarakan warga maupun petani, di media-media lokal belakangan ini. Mereka menganggap PDAM sudah terlalu jauh mengeksploitasi ekosistem sungai.

Kepala Bagian Teknik PDAM Kabupaten Gorontalo, Ahmad Bahri, menjelaskan bahwa dampak kekeringan ini juga membuat masalah pada pendistribusian air minum untuk masyarakat. Karena debit air baku di sejumlah IPA, menurun drastis.

“Seperti di IPA di Kelurahan Bulota. By design, seharusnya menyerap 30 liter air per detik. Namun, karena kekeringan, tinggal 4 liter per detik. Hampir semua IPA kita mengalami hal ini,” kata Ahmad.

IPA PDAM menyebar di seluruh sungai besar di Kabupaten Gorontalo, tanpa terkecuali. Dikatakan Ahmad, dari total 19.425 pelanggan PDAM Kabupaten Gorontalo ada12.326 yang masih aktif. Dan, dari jumlah pelanggan aktif itu, sekitar 60 persen mengalami masalah pendistribusian, karena persoalan kekeringan tadi.

Tahun ini, PDAM Kabupaten Gorontalo kembali melaksanakan program hibah air 2019. Pada program ini, PDAM memberikan sambungan jaringan air kepada 2.000 masyarakat, secara gratis. Dengan anggaran Rp10 miliar dari Pemkab Gorontalo.

Artinya, kebutuhan air bersih meningkat karena ada 2.000 calon pelanggan baru, sementara volume air sungai tengah sekarat.

Kecenderungan masyarakat menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah, juga turut andil dalam memperpendek usia sungai. Belum lagi, limbah rumah tangga yang turut mencemari sungai.

Rabu (4/9/2019), menjelang sore. Saat menyusuri sungai di Kelurahan Kayubulan, Limboto, Gorontalo, Beritagar.id melihat banyak papan pengumuman larangan membuang sampah berdiri di bantaran. Tapi nyatanya masih banyak sampah mengambang. Menumpuk, malah.

Pada waktu yang sama. Beritagar.id bertemu seorang pria yang sedang memancing. Sekilas, memang tak ada yang aneh dengan aktivitas yang dilakukan pria tersebut. Ketidakwajaran baru nampak, saat mendekat ke lokasi si pria melempar joran.

Di tepi sungai, berserakan bangkai-bangkai ikan tawar yang mengering. Sementara air di sungai itu berwarna hitam pekat, seperti lautan tinta. Ikan-ikan sesekali melompat-lompat dari dalam sungai. Seperti meronta ingin keluar. Tidak tahan dalam air yang kandungannya lebih banyak limbah rumah tangga.

“Sekarang di danau sudah sulit mencari ikan. Kecuali kalau punya tambak. Saya gak punya tambak, jadi saya mancing di sini saja,” kata Nurdin (40), pemancing tersebut.

Bau bangkai ikan mati karena kekeringan, bercampur bau amis air sungai yang didominasi limbah, tidak menyurutkan semangat Nurdin untuk berusaha membawakan istri dan ketiga anaknya lauk. Beberapa kali, jorannya berhasil mengait ikan-ikan tawar yang terlihat berubah warna jadi hitam polos.

“Iya. Untuk kita makan. Memang kenapa?” sahutnya.

Muara yang sakit

Seorang nelayan bersiap menjala ikan di Danau Limboto, Gorontalo, Rabu (29/8/2019). Kondisi kekeringan yang melanda Gorontalo, membuat air menjauh 200 meter dari bibir danau. Sehingga banyak nelayan yang memilih memarkir perahu-perahu mereka.
Seorang nelayan bersiap menjala ikan di Danau Limboto, Gorontalo, Rabu (29/8/2019). Kondisi kekeringan yang melanda Gorontalo, membuat air menjauh 200 meter dari bibir danau. Sehingga banyak nelayan yang memilih memarkir perahu-perahu mereka. | Franco Dengo /Beritagar.id

Kerusakan sungai tentu berimbas ke muaranya. Danau Limboto merupakan cekungan rendah atau laguna, yang menjadi muara dari lima sungai besar--Bone Bolango, Alo, Bionga, Daenaa, dan Molalahu--dan 23 anak sungai. Secara geografis, danau ini membentang di dua wilayah: Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo.

Dari 15 kawasan danau kritis nasional yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Danau Limboto merupakan satu di antaranya. Bahkan, danau yang menjadi sejarah dua kerajaan besar di Gorontalo itu, diramal akan punah pada tahun 2025.

Ramalan itu tak berlebihan. Dari hasil penelitian Badan Penelitian Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bapppeda) Provinsi Gorontalo yang dirilis Agustus lalu, rata-rata luas Danau Limboto berkurang 65.890 hektar per tahun. Beberapa faktor jadi penyebabnya, termasuk meningkatnya laju erosi sungai.

Kekeringan yang terjadi saat ini juga melanda Danau Limboto. Air menjauh sampai lebih dari 200 meter dari bibir danau. Para nelayan terpaksa memarkir perahu mereka.

Rabu (4/9/2019) sore, Nurah Dopo (50), sibuk memandangi kendaraan yang lalu lalang. Menunggu pembeli. Di hadapannya, dua ikat ikan mujair asyik dicumbu lalat. Lapak-lapak nelayan lain tutup. Meja-meja yang biasanya dipenuhi ikan berbagai jenis, kosong.

“Sekarang susah. Untuk menjalankan perahu ke tengah danau saja, harus terseok-seok. Namanya juga kekeringan. Ini saja hanya ikan yang saya ambil dari tambak saya,” kata Nurah, menunjuk sepasang ikat ikan kepada Beritagar.id, yang dijualnya dengan harga 30-50 ribu rupiah.

Nurah merasakan betul dampak dari merosot dan makin dangkalnya Danau Limboto. Dirinya sudah mejadi nelayan sejak masih berumur 15 tahun. Tercatat, pada 1950an, kedalaman danau rata-rata masih berkisar 27 meter. Namun saat ini diperkirakan tinggal 7-10 meter.

Ikan-ikan air tawar yang dulunya menjadi primadona, sekarang menjadi langka. Spesies endemik seperti ikan betok, gabus, manggabai,dan lainnya, makin sulit ditemukan.

“Di sini dulu masih termasuk area danau,” kata Nurah merujuk lokasi penjualan ikan para nelayan, yang sekarang jaraknya sekitar 1 kilometer dari bibir danau. “Memang semakin parah danau ini. Meski begitu, saya tidak percaya danau akan punah. Kita harus bagaimana kalau sampai hal itu terjadi?”

Baru-baru ini, bulan Agustus lalu, mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) berhasil menemukan 26 jenis ikan Diadromous di Danau Limboto.

Diadromous adalah ikan yang menghabiskan sebagian hidup mereka di air tawar dan sebagian lain di lautan. Jenis ikan diadromous dibagi menjadi dua. Katadromous, yaitu spesies ikan yang menghabiskan hidupnya untuk tumbuh dewasa di air tawar dan berpindah atau mencari air laut untuk bertelur. Sedangkan Anadromous kebalikannya.

“Hingga saat ini telah teridetifikasi 26 jenis Diadromous di Danau Limboto. 15 jenis diantaranya masih sering tertangkap oleh nelayan, tujuh jenis sudah jarang tertangkap, dan empat jenis lainnya sudah punah atau tidak pernah tertangkap lagi,” kata Femi Sahami, dosen pembimbing para mahasiswa, seperti dilansir dari Hargo.co.id (23/8).

Selain populasi ikan air air tawar. Danau Limboto juga merupakan bagian dari habitat utama burung migran di Gorontalo. Dari data yang dimiliki perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (Biota), sesuai pengamatan mereka dalam kurun waktu 2014-2018, ada sekitar 94 spesies burung migran yang pernah singgah maupun menetap di danau itu.

Jika melihat secara spesifik, Gorontalo berada di jalur East Asia Australia Fly Way atau lintasan terbang Asia Timur-Australia. Hal ini membuat burung migran banyak singgah ke Gorontalo.

Kemarau panjang adalah hal yang biasa di Gorontalo. Masyarakat memaknai itu dengan guyonan: "Gorontalo hanya memiliki dua musim; musim panas dan musim panas sekali".

Tapi, kondisi sungai yang makin kritis, menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup di masa depan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR