Seorang barista menyiapkan kopi gratis produksi petani Jawa Barat di acara West Java Coffee Festival 2017 di Bandung, 3-5 November 2017.
Seorang barista menyiapkan kopi gratis produksi petani Jawa Barat di acara West Java Coffee Festival 2017 di Bandung, 3-5 November 2017. Anwar Siswadi / Beritagar.id

Semerbak kopi Tatar Sunda

Jawa Barat kadung terkenal dengan perkebunan teh. Belakangan, terutama lima tahun terakhir, kopi perlahan jadi primadona baru di Tatar Sunda.

Seorang tamu memesan Kopi Aceh, tetapi pesanan itu tak tersedia di buku menu kedai Sunda Coffee.

Fariz Rahmat (29), peracik kopi (barista) yang melayani, tak hilang akal. "Mungkin mau coba Kopi Klasik Priangan?" kata pemilik sekaligus pengelola Sunda Coffee itu, menawarkan sajian alternatif.

Kopi Klasik Priangan--dari daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung--merupakan seduhan andalan di Sunda Coffee. Meski mendengar tawaran asing di telinganya, si pengunjung kedai justru penasaran menjajal jenis kopi termaksud.

Setahun mengelola kedai kopi di lereng Gunung Sunda, Sukabumi, Jawa Barat itu, Fariz mula-mula menyajikan aneka kopi nusantara. Namun, beberapa bulan terakhir, lulusan salah satu akademi pariwisata di Bandung itu mulai fokus memperkenalkan kopi lokal Jawa Barat.

Fariz merupakan salah satu peserta West Java Coffee Festival di Plaza Trans Studio Mall, Bandung (3-5 November 2011). Perhelatan yang sudah masuk tahun ketiga itu merupakan buah kerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat, terkhusus Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Perkebunan.

Tahun ini, pemerintah daerah berinisiatif mempertemukan petani sebagai produsen dengan pemilik kedai kopi di seantero Jawa Barat. Harapannya, pertemuan itu bisa jadi ajang transaksi berkelanjutan.

Total ada 24 produsen dan 24 kedai kopi yang terlibat dalam festival ini. Tiap kedai punya kewajiban meracik kopi dari para produsen. Acara kian meriah dengan pembagian kopi gratis sebanyak 15 ribu gelas. Model itu sukses bikin acara hangat bak secangkir kopi.

Pengunjung bisa merasai pelbagai jenis kopi dari berbagai penjuru Jawa Barat, macam Garut, Pangalengan, Ciwidey, Gunung Puntang, Gunung Malabar, dan Ciamis.

Produsen kopi juga giat menjelaskan hasil produksinya kepada pengunjung. Aksi barista di meja saji turut mencuri perhatian. Pengunjung betah memerhatikan detail teknik peracikan kopi, seperti french press dan coffee drip. Tak jarang pula terjadi diskusi antara pengunjung dengan barista.

Mayoritas varian kopi yang disajikan dalam acara itu adalah Arabika. Ada pula beberapa varian Robusta.

Ketua Produsen Kopi Margamulya (Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung), Muhammad Aleh (46), menyebut varian Arabika memang lebih banyak ditanam di Jawa Barat karena harganya lebih bagus.

"Robusta sekitar Rp2.500 per kilogram. Sedangkan Arabika bisa Rp9.000-9.500, waktu panen raya," kata Aleh, yang ditemui di sela festival, Jumat (3/11/17).

Frino, seorang penggemar kopi yang ditemui di lokasi acara, menyebut "kekayaan rasa" Arabika sebagai alasannya menggemari varian tersebut.

"Kalau Robusta cenderung flat (datar). Arabika ada manisnya walau tanpa gula, kadang ada rasa buah juga," katanya.

***

Puluhan produsen kopi dan pemilik kedai kopi dipertemukan dalam ajang West Java Coffee Festival 2017 di Trans Studio Mall Bandung, 3-5 November 2017.
Puluhan produsen kopi dan pemilik kedai kopi dipertemukan dalam ajang West Java Coffee Festival 2017 di Trans Studio Mall Bandung, 3-5 November 2017. | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Selama ini, Jawa Barat kadung terkenal dengan perkebunan teh berpanorama ciamik. Lebih-lebih, orang Sunda memang gemar minum teh--terutama yang disajikan tanpa gula alias tawar. Alhasil, kopi jadi komoditas kelas dua di bawah bayang-bayang teh.

Menurut Pelaksana Teknis Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, Hening Widiatmoko, kopi dari Tatar Sunda sebenarnya sudah lama mendapat pasar. Namun kopi Jawa Barat sekadar diolah pelanggan dari wilayah lain--macam Sumatra--untuk dicampur dengan jenis kopi lain.

Baru lima tahun terakhir, kopi perlahan jadi primadona anyar di Jawa Barat. Komoditas ini mulai diproduksi dan diolah petani atau kelompok usaha lokal.

"Semoga habit masyarakat Jawa Barat tidak hanya (minum) teh, tapi juga kopi," kata Hening, yang ditemui di lokasi festival, Jumat (3/11/17).

Produsen lokal juga kian percaya diri bersaing dengan varian yang telah akrab di lidah dan telinga para penikmat kopi Nusantara, macam Gayo (Aceh), Mandailing (Sumatera Utara), dan Toraja (Sulawesi Selatan).

Label kopi dari Tatar Sunda pun mulai merambah pasar, seperti Kopi Gunung Tilu, Kopi Wanoja, Kopi MPIG Burangrang, Kopi Arjuna, Kopi Murbeng Puntang, Kopi Manglayang, Kopi Malabar, Kopi Garut, dan Kopi Ki Oyo (jenis Robusta dari Ciamis).

Kopi Arabika produksi petani Priangan digolongkan dengan nama Arabika Java Preanger. Wilayah tanamnya tersebar di sebelas gunung, yaitu Cikuray, Papandayan, Malabar, Caringin, Tilu, Patuha, Halu, Beser, Burangrang, Tangkuban Perahu, dan Manglayang.

Muhammad Aleh berkata, bibit kopi Arabika yang ditanam di Jawa Barat merupakan varietas unggul, Sigarar Utang--dari Sumatera Utara, arti namanya adalah pembayar hutang.

Budidaya kopi di Jawa Barat, kata Aleh, mulai dirintis ulang pada era 2000-an awal. Varian kopi Tatar Sunda mulai dapat momentum pada 2005, beriring menjamurnya kedai-kedai kopi.

"Mulai 2013 permintaan membeludak. Kedai-kedai kopi Nusantara banyak yang ambil, sebagian diekspor," kata Aleh, yang juga berstatus Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Jawa Barat.

Kopi Jawa Barat juga mulai diekspor ke beberapa negara seperti Maroko, Belgia, Korea, Inggris, Hongkong, Cina, dan Jerman.

Satu momen positif bagi kopi Jawa Barat terjadi pada tahun lalu, dalam ajang Speciality Coffee Association of America Expo di Atlanta, Amerika Serikat (14-17 April 2016). Kala itu, enam jenis kopi Jawa Barat masuk dalam kategori bercita rasa spesial hasil uji standar Caswells Coffee.

Enam jenis kopi itu adalah Kopi Gunung Puntang, Kopi Mekarwangi, Kopi Malabar Honey, Kopi Java Cibeber, Kopi West Java Pasundan Honey, dan Kopi Andungsari. Bahkan, dua jenis kopi dapat harga lelang tinggi, yaitu Kopi Gunung Puntang dan Kopi Mekarwangi.

Kopi Gunung Puntang dari Pangalengan, Kabupaten Bandung, ditanam di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) oleh kelompok tani Murbeng Puntang pimpinan Ayi Sutedja.

Kopi yang diolah dengan metode honey process itu dapat skor 86,25 dan laku dilelang seharga 50 dolar per kilogram. Catatan rasanya menunjukkan kopi itu punya rasa buah seperti blueberry, leci, vanila, dan bunga-bungaan--melati.

Adapun Kopi Mekarwangi dari Sindangkerta, Ciwidey, Kabupaten Bandung, dapat skor 84,75. Kopi itu berada di bawah bendera CV Frinsa Agrolestari yang dipimpin Wildan Mustofa. Kopi Mekarwangi laku dilelang senilai 30,80 dolar per kilogram, dengan catatan rasa mengandung aprikot, vanila, dan karamel.

"Aneka rasa itu kemungkinan dari karakter tanahnya. Kalau kopi rasa bau tanah, itu akibat salah proses," ujar Aleh.

Aroma kopi Bumi Priangan juga tercium hingga Istana. Tujuh kopi Jawa Barat diseduh dalam peringatan Hari Kopi Internasional yang bertajuk Minum Kopi Bareng Presiden di Istana Bogor, Jawa Barat (1/10/17).

Dalam acara itu, Aleh sempat masuk istana untuk menyeduh kopi produksi kelompoknya--Kopi Margamulya, Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Konon, Aleh dan anggota tim penyaji lain mesti menjalani karantina sebelum menyajikan kopi untuk Presiden Jokowi. Kopinya pun diperiksa ketat koki Istana Bogor, para ahli, dan tim dokter.

"Cara penyajiannya, satu gelas kopi harus disertai selembar brosur dan kartu nama," kata Aleh. Momen itu, kata Aleh, merupakan ajang promosi dan pengenalan bagi kopi Jawa Barat.

***

Ketua Produsen Kopi Margamulya Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung, Muhammad Aleh (46), memamerkan kopinya kepada Beritagar.id di acara West Java Coffee Festival 2017 di Bandung, 3-5 November 2017.
Ketua Produsen Kopi Margamulya Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung, Muhammad Aleh (46), memamerkan kopinya kepada Beritagar.id di acara West Java Coffee Festival 2017 di Bandung, 3-5 November 2017. | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Verininging Oogst Indies Company (VOC) pertama kali membawa bibit kopi ke Hindia Belanda pada 1696. Penanaman perdananya gagal akibat banjir. Upaya selanjutnya berhasil pada 1699 di daerah Pondok Kopi, Batavia.

Merujuk catatan Dinas Perkebunan Jawa Barat, setelah berhasil membuka perkebunan kopi, VOC mengembangkannya di beberapa tempat--termasuk Jawa Barat--dengan sistem tanam paksa. Hasil kopi itu mulai diekspor ke Eropa pada 1711.

Pamor kopi Tatar Sunda jatuh setelah serangan wabah karat daun yang disebabkan cendawan hemileia vastatrix, pada 1878.

Wabah itu membuat pohon kopi yang ditanam di dataran rendah mati. Pohon yang bisa bertahan hidup, umumnya punya lokasi tanam di ketinggian lebih dari 1.000 meter mdpl.

Sejak itu, di Jawa Barat, sejarah kopi berganti kebun teh.

Belakangan, beriring melonjaknya permintaan, jumlah lahan kopi meningkat pesat di Jawa Barat.

Mengacu data Dinas Perkebunan Jawa Barat, hingga 2016 tercatat ada 12 daerah penanaman kopi Arabika, yaitu Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Bogor, Cianjur, Garut, Tasikmalaya (kota dan kabupaten), Kuningan, Majalengka, Subang, Sukabumi, dan Sumedang.

Total luasnya 19.443 hektare, yang menghasilkan kopi sebanyak 10.436 ton. Area terluas ada di Kabupaten Bandung, dengan luas 10.574 hektare dan hasil mencapai 7.036 ton.

Sementara varian Robusta ada di 16 daerah, dengan luas 14.446 hektare dan hasil 7.248 ton.

Saat ini, sejumlah pengelola kedai kopi di Bandung kerap bertransaksi dengan para petani di sekitar daerah Ciwidey atau Pangalengan. Pun, beberapa gerai daring ikut memudahkan penyebaran kopi Tatar Sunda ke luar Jawa Barat.

Namun, untuk ekspor skala besar, para petani kopi mesti meredam hasrat karena keterbatasan modal. "Kopi bisa mudah dikumpulkan, tapi petani ingin segera dibayar. Tanpa modal besar--untuk perputaran uangnya--ekspor kopi masih susah," kata Aleh.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR