Massa penolak kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bersiap menghadang massa pro LGBT yang akan melakukan aksi demontrasi di Tugu Pal Putih, DI Yogyakarta, Selasa (23/2/2016).
Massa penolak kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bersiap menghadang massa pro LGBT yang akan melakukan aksi demontrasi di Tugu Pal Putih, DI Yogyakarta, Selasa (23/2/2016). Andreas Fitri Atmoko / Antara Foto

Senja di Pesantren Waria

Pesantren Al-Fatah Yogyakarta tak hanya menjadi tempat belajar agama para waria. Pesantren pernah menelurkan berbagai kegiatan.

Di pesantren ini, santri bebas menentukan untuk menggunakan rukuh (mukena) atau sarung saat beribadah. Terletak di perkampungan kuno Yogyakarta di kawasan cagar budaya Kotagede, pengunjung harus menyusuri gang serupa labirin dengan tembok tua yang sudah meluruh guna mencapai tempat mengaji yang bernama pesantren Al-Fatah ini.

Pesantren Al-Fatah merupakan pesantren yang menampung santri waria (wanita-pria) di Yogyakarta. Ramai pemberitaan ihwal LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual,Transgender) sangat dirasakan penghuni pesantren Al-Fatah. Pesantren Al-Fatah menjadi saksi menguatnya tindakan intoleransi terhadap kaum yang liyan dan terpinggirkan di Indonesia pada awal tahun 2016 ini.

Di suatu senja, Jumat (19/2/2016), pendopo yang menjadi tempat beribadah dan kajian rutin empat puluh dua santri waria ini menjadi saksi ketika massa Front Jihad Indonesia (FJI) datang dan menyegel aktivitas di rumah klasik Jawa itu.

Suasana mencekam. "Ada lebih dari 20 orang datang. Ndak pakai seragam. Pas Jumatan aparat polisi sudah banyak di sini," ujar Aris, mantan ketua RT yang mengizinkan kegiatan pesantren di lingkungannya.

Penghuni waria di sekitar Al-Fatah telah dievakuasi terlebih dahulu sebelum massa FJI tiba. Shinta Ratri, pemimpin Pondok Pesantren sekaligus pemilik rumah berlindung ke Polsek. Sementara penghuni dan santri lain belingsatan ke kantor LBH dan tempat lain yang dianggap aman.

Penyegelan oleh massa FJI membuat pesantren hening. Shinta tak pernah menampakkan diri di luar pesantren. "Sampai sekarang rasanya masih ada kekhawatiran, jangan-jangan kita didatangi kembali," tutur Nuria Ayu (47), waria yang membantu menjalankan operasional pesantren sehari-hari.

Tak lama berselang, Selasa (23/2/2016), terjadi demonstrasi massa anti LGBT yang mengatasnamakan Angkatan Muda Forum Ukhuwah Islamiyah (AM FUI) di Tugu Yogya. Di saat yang sama kelompok Aksi Solidaritas Perjuangan Demokrasi (SPD) yang berkumpul menyuarakan anti diskriminasi.

Kedua massa hanya berjarak 550 meter, namun polisi berusaha menghalau massa pendukung LGBT yang telah bersiap melakukan marching, dengan alasan tidak memiliki izin.

Melalui rilisnya, Solidaritas Perjuangan Demokrasi menyatakan aksi ini merupakan tandingan pada kelompok yang mengajak orang bertindak diskriminatif, rasis, fasis melalui lomba, pemasangan atribut propaganda berisi ujaran kebencian terhadap LGBT, aksi-aksi penolakan, dan ancaman sweeping.

Kepungan aksi dan poster anti LGBT kian menyudutkan pesantren Al-Fatah. Sehari selepas aksi (24/2/2016), aktivitas Pondok Pesantren Al-Fatah resmi dihentikan sementara setelah dilakukan pertemuan antara lima orang perwakilan pondok pesantren, belasan anggota FJI, Camat Banguntapan, Kepala Pedukuhan Celenan, dan Kapolsek, di Kelurahan Jagalan.

Pengendara sepeda motor melintas di depan poster penolakan terhadap lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di perempatan Gondomanan, Yogyakarta, Rabu, 24 Februari 2016.
Pengendara sepeda motor melintas di depan poster penolakan terhadap lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di perempatan Gondomanan, Yogyakarta, Rabu, 24 Februari 2016. | Pius Erlangga /Tempo

Marak pemberitaan LGBT dengan pro dan kontranya telah menjalar pula di Yogyakarta. Kota ini dipenuhi dipenuhi spanduk-spanduk bernada diskriminasi seperti "Homo dan Lesbian Itu Penyakit, Bukan Hak Asasi" atau "LGBT: Ganggunan Jiwa, Segera Berobat dan Berobat".

Dosen Sosiologi UGM Tia Pamungkas menyatakan respons terhadap kelompok waria tidak proporsional. Secara sosiologis, kenyataannya yang dihadapi saat ini adalah lemahnya perlindungan terhadap mereka sebagai salah satu subyek hukum.

Ditanya mengenai tudingan kelompok LGBT melakukan propaganda, Tia mengatakan, "Mereka tidak berfikir terlalu jauh sampai memengaruhi secara ideologis dan politis. Apa yang mereka butuhkan adalah perlindungan sebagai Warga Negara agar tidak dilecehkan, dianiaya.

Kalaupun ada istilah coming out, itu hanya untuk kalangan mereka sendiri, bukan untuk penyebaran. Mereka nggak mikir sampai legalisasi pernikahan sesama jenis, mereka sadar diri tinggal di Indonesia."

Tia menyatakan kekhawatiran terhadap banyaknya pejabat publik yang kurang peka terhadap dampak pernyataannya sehingga membuat kelompok intoleran menjadi merasa seperti memiliki mandat untuk melakukan penghakiman.

Tia termasuk dalam masa Solidaritas Perjuangan Demokrasi yang menyuarakan anti diskriminasi. Baginya, aksi yang diinisiasi oleh anak-anak muda ini bertujuan untuk menunjukkan kepada kelompok intoleran bahwa ada masyarakat Yogya yang tidak sepakat dengan mereka, bukan untuk menantang, melainkan okupasi wacana dengan memanfaatkan momen.

"Yang lebih penting ke depannya adalah tindakan meneruskan pewacanaan, dan bagaimana advokasi terhadap kelompok-kelompok rentan," katanya.

Massa penolak kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bersiap menghadang massa pro LGBT yang akan melakukan aksi demontrasi di Tugu Pal Putih, DI Yogyakarta, Selasa (23/2/2016).
Massa penolak kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bersiap menghadang massa pro LGBT yang akan melakukan aksi demontrasi di Tugu Pal Putih, DI Yogyakarta, Selasa (23/2/2016). | Andreas Fitri Atmoko /Antara Foto

Nuria Ayu (47), yang sehari-harinya merasa nyaman menggunakan daster, merasa tidak pernah mendapatkan perlakuan diskriminatif sebelum tendensi anti LGBT menguat akhir-akhir ini. Ia diterima sepenuhnya di tengah keluarga yang berumah di bilangan Purawisata dan kerap pulang. "Mereka paham betul aku ini kayak gimana, menjadi waria bukan pilihan buat aku, tapi sudah takdir."

Sehari-hari ia berjualan angkringan tak jauh dari lokasi pesantren, kadang juga menerima pesanan katering dari banyak mahasiswa. Sebelum pesantren Al-Fatah resmi beraktivitas di rumah Shinta, ia sudah terlebih dahulu bermukim sebagai tetangganya.

Pesantren Al-Fatah mulai beroperasi di rumah pribadi Shinta Ratri di Jalan Celengan, Jagalan, Kotagede pada 2014. Shinta meneruskan pesantren yang awalnya berada di Notoyudan setelah Maryani, pendiri pesantren wafat.

Bagi Nuria, keberadaan pesantren Al-Fatah menjadi penting karena ia bisa salat berjamaah di baris perempuan. Di Al-Fatah, Nuria tak pernah menghadapi lontaran sinis dari jemaah lainnya atau penghakiman yang biasanya mereka dapatkan saat beribadah di masjid umum.

"Di sini kita belajar gimana tata cara shalat dan ngaji yang benar--yang ringan-ringan saja seperti membaca surat pendek dengan baik. Komunikasi dengan Tuhan buatku penting, dan bagaimanapun juga setiap manusia punya hak untuk beribadah" ujarnya dengan nada gemulai.

Pada 2013, pesantren di bawah pimpinan mendiang Maryani pernah pula mendapat ancaman, meski tak sampai tutup seperti sekarang. Hal itu terlontar dari Lashita Situmorang, seniman yang pernah bekerja bersama waria di Yogya.

"Kayaknya mereka sering mendapat ancaman setiap mereka mendapat publikasi. Misalkan saat Almarhumah Bu Mar dapat sorotan tentang keberangkatannya naik haji, atau mendekati LGBT Day," kata Lashita.

Di sisi lain, kehadiran pesantren waria di dunia ini telah mendapat apresiasi dari dunia internasional. Time pernah menurunkan laporan tentang pesantren Al-Fatah. Selain itu, foto Fulvio Bugani tentang keragaman hidup waria di pondok pesantren Al-Fatah ini memenangkan tempat ketiga di World Press Photo's, contemporary Issues.

Pesantren Al-Fatah tak hanya menjadi tempat belajar agama. Pesantren pernah menelurkan berbagai kegiatan. Seniman lokal pernah membuat karya bersama komunitas transgender Yogyakarta, di antaranya Lashita Situmorang dan kawan-kawan melalui Makcik Project.

Makcik Project mengajak waria untuk terlibat dalam kegiatan seni. Lashita mengatakan publik Jogja sesungguhnya sangat terbuka dengan keberadaan para waria dengan tampilnya komunitas ini di karnaval Jogja Fashion Week.

"Almahumah Bu Maryani dan Bu Shinta juga terlibat di dalam Makcik Project. Siapa yang tertarik dan mau terlibat, monggo. Tidak ada pemaksaan juga. Bu Shinta secara pribadi suka dengan kegiatan-kegiatan kesenian" kata Lashita.

Makcik project juga membuka jalan bagi salah satu teman waria, yaitu Tamara Pertamina, untuk melihat perspektif baru bahwa dia bisa memperjuangkan pilihan hidupnya dengan terjun langsung ke masyarakat. Tamara, dalam Makcik Project, berkesempatan residensi --menetap untuk keperluan proyek-- di Melbourne, Australia.

"Jika secara personal mereka bisa menunjukkan dia bisa membaur dengan masyarakat, bisa bekerja dengan baik, maka fokus terhadap komunitas ini akan beralih dari yang awalnya dianggap nggak bisa tercapai" ujar Lashita.

Anggota Jaringan Ham dan Keberagaman (Jamgaman) mengikuti upacara bendera memperingati 67 tahun Kemerdekaan di Dalem Notoprajan, Yogyakarta, Jumat, 17 Agustus 2012.
Anggota Jaringan Ham dan Keberagaman (Jamgaman) mengikuti upacara bendera memperingati 67 tahun Kemerdekaan di Dalem Notoprajan, Yogyakarta, Jumat, 17 Agustus 2012. | Suryo Wibowo /Tempo

"Ngopo ra oleh, haaa...mung dinggo kegiatan karo bocah-bocah tho, dados kulo mboten ngelarang (kenapa tidak boleh, toh hanya jadi tempat kumpul-kumpul acara temannya, jadi untuk apa dilarang)."

Itulah pengakuan Mulyo Darsono, kakek yang tinggal dekat pesantren itu, sekaligus paman Shinta.

Seluruh keluarga yang tinggal di sekitar pendopo Pesantren Al-Fatah masih berhubungan darah dan mereka menjaga satu sama lain. "Kuwi ki sedulurku. Nek aku ra masalah nek koyo ngono kuwi (dia itu masih sanak famili. Bagiku tidak masalah kalau yang seperti itu."

Shinta menunjuk LBH Yogyakarta selaku Kuasa Hukumnya untuk memberikan pernyataan kepada wartawan. Berikut petikan wawancara bersama Aditia Arief Firmanto yang ditemui di kantornya:

Kenapa Bu Shinta Ratri menolak bicara dengan wartawan?
Pasca rapat koordinasi tanggal 24 Februari, pihak LBH selaku kuasa hukum melihat bahwa prosesnya banyak diwarnai hujatan, dan Mama Shinta mengalami kekerasan psikis.

Kita cukup paham terkait kondisi psikologis klien kami yang masih terguncang. Teman-teman wartawan, media, kalau bisa memahami untuk tidak mewawancara terlebih dahulu.

Mami Shinta telah mengamanatkan kami selaku kuasa hukumnya jika ada apa-apa terkait soal rapat koordinasi, hasilnya gimana, silahkan menghubungi saya. Makanya kalau mengejar Bu Shinta itu memang nggak akan dapat statement. Kami yang diamanatkan.

Waktu rapat, LBH tidak diizinkan untuk terlibat dalam prosesnya?
Betul. Tiga jam sebelum rapat koordinasi, saya ke Pondok Pesantren. Di situ saya juga menawarkan, "Ibu, gimana? Bersedia didampingi?" Dia bilang, untuk menghargai pihak Kelurahan yang mengundang, maka nggak usah ada pendamping dari LBH atau LSM.

Kami juga sudah memberikan pemahaman, "Nanti di forum keadaannya pasti akan menekan Ibu." Mama Shinta bilang, "Kalau didampingi Mas Adit yang udah dikenal, takutnya nggak kondusif." Ya sudah, kami menghargai keputusannya.

Bagaimana rapat itu berjalan?
Bagi kami sebagai kuasa hukumnya, terjadi penghakiman yang sangat-sangat sepihak dari pihak FJI, aparat desa, maupun Kapolsek yang sudah membuat kesimpulan awal. Tudingan warga ada miras, ada karaokean segala macem langsung berujung pada penghentian aktivitas Pesantren. Tapi itu kan harus dibuktikan dulu. Konteksnya bagaimana?

Harusnya dipilah. Jika memang dikatakan ada Miras, monggo dibuktikan ada nggak miras di situ. Kegiatan yang meresahkan warga itu yang mana? Bagi kami, ketika kegiatannya sudah dibekukan itu sudah menjadi keputusan bersama internal keluarganya Mama Shinta. Bukan dari rekomendasi FJI atau yang lain. Kami menghormati keputusan itu.

Kegiatan yang meresahkan warga itu yang mana?

FJI ini elemennya sama seperti AM FUI?
Bisa dibilang kelompok sejenisnya lah. Satu Ormas Islam yang memang menyatakan diri sebagai penegak Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Rekomendasi itu kan kita bukan sebagai rujukan atau konstitusi yang harus kita patuhi. Namanya rekomendasi berarti tinggal bagaimana cara menyikapinya aja--dari pihak keamanan, warga.

Rekomendasi atau surat permintaan penyegelan?
Ya, surat permintaan penutupan ponpes, yang kemudian meminta penghuninya ditiadakan--maksudnya nggak boleh di situ lagi, ini kan hal-hal yang perlu diluruskan.

Semenjak didirikan tahun 2008, pernah mereka menghadapi ancaman penyegelan?
Mulai awal kegiatan di Notoyudan hingga pindah ke sini, nggak pernah sama sekali. Ini kan karena isu LGBT memang sedang digiring. Penyerangannya menjadi subyektif, bukan terkait reliji atau ibadahnya, gitu loh.

Aktivitas Al-Fatah dihentikan selamanya?
Tuntutan dari pihak FJI seperti itu, hingga akhirnya mereka dipersilakan keluar oleh pihak aparat. Nah, kemudian warga rembugan kembali bersama aparat desa dan kepolisian. Hasilnya akan dibekukan sementara waktu sampai situasi kondusif lagi. Tapi balik lagi, kami menghargai keputusan internal keluarga Mama Shintanya sendiri.

Bentuk perlindungan yang diberikan LBH seperti apa?
Kami meminta aparat kepolisian, khususnya Polsek Banguntapan, Bantul, untuk menjamin perlindungan dan keamanan terhadap Mama Shinta. Hasil rekomendasi forum koordinasi menyatakan, Mama Shinta masih berhak untuk menempati rumah itu karena memang miliknya, tempat tinggalnya. Hanya kegiatannya saja yang tidak boleh lagi. Untuk ke depannya kami belum bicarakan lagi dengan Mama Shintanya. Masih menunggu kondisi psikologisnya stabil kembali.

Betul Bu Shinta tidak diakomodir dalam rapat tersebut?
Kami selaku Kuasa Hukum menyatakan kalau forum itu timpang, dan terjadi penghakiman sepihak dari yang hadir di sana karena Mama Shinta tidak diberikan ruang untuk mengklarifikasi apa yang ditudingkan. Dia hanya bicara sebagai pembuka, memberikan penjelasan PonPes, dan setelahnya langsung di-floor-kan ke audiens oleh pihak Kecamatan.

Sudah ada tudingan segala macam bentuknya sampai kekerasan psikis, dia sempat mengacungkan tangan dan mohon diberikan waktu untuk klarifikasi, tapi tidak diberikan kesempatan dari pihak aparat desa. Bahkan langsung menyimpulkan. Kalau begitu ini namanya bukan forum koordinasi atau musyawarah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR