Bumbu untuk masakan RW di Manado, Sulawesi Utara, 23 November 2017.
Bumbu untuk masakan RW di Manado, Sulawesi Utara, 23 November 2017. Tonny Rarung / Beritagar.id

Seputar mitos daging anjing

Menurut penggemar kuliner ini, masakan RW harus diolah pedas. Setelah makan, biasanya mereka menegak minuman beralkohol.

Dua orang yang duduk di kursi panjang itu tampak asyik dengan ngemil. Sambil ngobrol, keduanya tampak lahap mengunyah makanan yang tersaji di piring. Bau menyengat minum langsung menusuk hidung begitu masuk ke dalam warung. Di bawah meja dan kursi tampak botol-botol bekas tempat minuman tuak.

"Ini daging waung (sebutan orang daerah Blora untuk anjing) yang dibumbu rica-rica pedas," ujar Dika (31), sopir bus asal Blora sambil mengunyah irisan daging itu kepada Beritagar.id, awal Desember lalu.

Tak penanda apapun yang menandakan rumah warung berukuran 3x4 meter itu menjual masakan anjing. Namun, warung milik Suntari itu sudah terkenal seantero Blora. Tempat ini sudah beroperasi lebih dari lima tahun. Pelanggannya kebanyakan warga sekitarnya. Masakan rica-rica dibanderol seharga Rp10 per porsi.

Dalam sehari, Suntari mengaku biasa menghabiskan 1-2 ekor anjing yang dibeli seharga Rp23.000 ribu perkilogramnya.

Warung waung Suntari bukan satu-satunya yang membuka usaha ini. Ada juga warung waung No Rimbi yang terletak di Kecamatan Cepu, Blora. Sama seperti warung Suntari, di warung No Rimbi juga tak ada penanda apapun.

Berbeda dengan warung Suntari yang hanya menyediakan bumbu rica-rica, di warung No Rimbi masakan waung lebih banyak. Ada daging goreng, empal, tongseng, dan sate. Semuanya berbahan daging waung. Harganya dibanderol mulai dari Rp 8000 ke atas.

Warung siap buka mulai pukul 11.00 hingga sore hari. Dalam sehari warung No Rimbi minimal menyediakan satu ekor anjing.

Yoto, pelanggan warung No Rimbi, mengatakan dirinya paling suka daging goreng dan tongseng waung. Nikmat kata dia.

Penjualan masakan daging B1 (biang) -begitu orang Medan menyebut--secara sembunyi-sembunyi juga terlihat di Bantul, Yogyakarta. Warung Sukijo, misalnya. Penjagal dan pemilik warung berusia 71 tahun ini menggelar dagangannya di rumahnya. Tak ada plang atau tanda lainnya jika Sukijo berjualan masakan daging anjing.

Namun para penyuka masakan daging rintek wuuk (RW) (bahasa Manado yang artinya bulu halus), sudah tahu betul tiap hari Sukijo selalu menyediakan masakan itu. Pelanggan berasal dari daerah sekitar dan Yogya. Biasanya mereka langsung masuk dan menyantap masakan itu di dapur Sukijo. Menu yang ditawarkan sengsu alias tongseng asu.

Sukijo mengaku berjualan sengsu sejak 1979. Dua ekor anjing setidaknya ia potong untuk memenuhi permintaan pembeli tiap hari. Buka pukul 11 siang, dagangannya sering tandas sebelum pukul 17.00.

Di Kanutan, Sukijo bukan satu-satunya pedagang. Ada dua pedagang lainnya. Satu warung, dikenal sengsu Pak Temu, terbilang legendaris. Berdiri sejak 1962, warung ini tersohor ke luar Bantul. Pelanggannya dari kota Yogya hingga Sleman.

Satu warung lain, berada sekitar 100 meter dari rumah Sukijo. "Kalau yang itu baru beberapa bulan lalu buka," kata Sukijo.

Di penjuru Yogyakarta, sengsu mudah ditemui di banyak tempat. Ada banyak restoran hingga warung rumahan atau pinggir jalan yang menjajakannya.

Namun semua yang berjualan itu sangat jarang yang terang-terangan memampang tulisan masakan yang dijajakannya. Pelanggan tahunya dari mulut ke mulut.

Kondisi ini berbeda dengan yang ada di Salatiga, Jawa Tengah, Medan, Manado, dan Minahasa. Tengoklah di sepanjang Jalan Djamin Ginting atau kawasan yang terkenal dengan sebutan Padang Bulan, Medan. Di tepi-tepi jalan, warung B1 dan B2 bertebaran. Mulai yang menu anjing dipanggang hingga di sop.

Pun di Salatiga. Erik Darmawan (32), penjual masakan daging rica-rica guguk Salatiga mengaku saat ini masyarakat mulai terbuka terhadap masakan daging anjing. Ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang selalu menyembunyikan menu dagangannya. "Untuk menghindari salah kamar," katanya.

Erik mengaku usaha yang ditekuni punya keuntungan ekonomis yang menggiurkan. Dengan membeli seekor anjing seharga Rp250 ribu hingga Rp300 ribu, ia bisa mendapat keuntungan dua kali lipat. "Dengan harga seporsi Rp20 ribu saya bisa menjual satu ekor anjing menjadi 50 hingga 60 porsi," ujarnya.

Intinya, menurut Frangky Pinontoan, pengolah masakan RW yang ditemui di kios makanannya di Pasar Langowan, Minahasa, semua olahan daging RW itu harus diolah pedas. "Dan lebih pas lagi jika masakan itu dinikmati bersama cap tikus, (minuman alkohol tradisional khas Minahasa)," ujar Lendy Sembel (32) yang saat itu sedang menikmati olahan Frangky.

***

Seokor ayam mematok daging anjing yang baru selesai disembelih di Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora,  Jawa tengah, Minggu (3/12/2017).
Seokor ayam mematok daging anjing yang baru selesai disembelih di Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Jawa tengah, Minggu (3/12/2017). | Sujatmiko /Beritagar.id

Sejumlah mitos berkembang di kalangan penyuka masakan RW ini. Katanya, daging anjing itu punya khasiat medis. Bisa memulihkan stamina yang loyo, menambah trombosit, membangkitkan gairah seksual, dan sejumlah khasiat lainnya.

Simak pengakuan Damai Mendrofa, warga Nias, Sumatera Utara. "Untuk anak-anak, daging anjing menyembuhkan demam. Untuk orang dewasa, menambah daya tahan tubuhnya."

Pun Aritonang (57), penjagal anjing yang tinggal di Kota Medan. Di keluarganya, makan daging anjing sudah menjadi tradisi turun-menurun. Mereka percaya makanan ini punya khasiat buat tubuh manusia.

Menurut Aritonang, daging anjing itu panas. "Cucuku sering aku kasi sop kepala anjing biar enggak kena demam berdarah. Abis makan itu trombositnya langsung naik," ujarnya.

Benarkah daging anjing itu berkhasiat? "Semua itu tidak terbukti secara medis," kata Doni Herdaru Tona dari Animal Defenders Indonesia, seperti dikutip VOA.

Doni mungkin benar. Ini terbukti dari pengakuan Aritonang. Gara-gara kerap menyantap daging B1 sewaktu muda, kini dirinya mengalami stroke ringan. "Langsung sakit kepala, gak tahan aku. Gara-gara terlalu banyak makan daging anjinglah makanya stroke aku," kata Aritonang.

Demikian juga Wira Perangin-angin (43). Warga Medan ini mengaku sejak kecil menyukai masakan B1. Kebiasaan itu sudah berlangsung turun menurun di keluarganya. "Dulu minimal sepekan sekali kami makan daging anjing ini," ujar eksportir karet ini.

Menu yang disukainya adalah daging anjing panggang. Sekali makan, Wira bisa menghabiskan dua porsi. "Satu porsi daging, satu porsi bagian dalamnya. Habislah kalau Rp50 ribu," ujarnya.

Tapi kebiasaan itu sekarang mulai berkurang. "Sekarang kalau kebanyakan kepalaku pusing, pundak terasa berat," ujarnya terbahak.

Berita terkait:

Akhir nasib anjing di atas piring
Rumah aman penuh kasih sayang
Menanti ajal di tangan penjagal
Jalur gelap perdagangan binatang kesayangan

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR