Sumanto saat ditemui di Panti Rehabilitasi Mental dan Narkoba An-Nur H. Mustajab, Bungkanel, Purbalingga, Minggu (11/2/2018).
Sumanto saat ditemui di Panti Rehabilitasi Mental dan Narkoba An-Nur H. Mustajab, Bungkanel, Purbalingga, Minggu (11/2/2018). Beritagar.id / Pundra Rengga Andhita
LAPORAN KHAS

Setelah Sumanto tak makan manusia lagi

Dua belas tahun berlalu. Berulang kali Sumanto coba dikembalikan oleh pihak panti ke keluarganya, namun selalu berujung penolakan. Ia pun balik lagi dan tinggal di panti hingga entah kapan.

"Sumanto itu baru terima tamu. Minggu saja ya bertemunya," ujar pria bernama Supono Mustajab kepada Beritagar.id di Panti Rehabilitasi Mental dan Narkoba An-Nur H. Mustajab, di Bungkanel, Purbalingga, Jumat (12/1/2018).

Tawaran Supono itu kami iyakan. Kami akhirnya kembali ke panti--tempat Sumanto direhabilitasi--itu pada Ahad (11/2/2018). "Sampai jumpa nanti," kata Supono, seorang kiai yang merawat Sumanto sekian lama.

Beruntung, pertemuan pertama dengan Sumanto tak jadi. Kami pun pulang dan punya waktu menunda rasa cemas. Jauh hari sebelum ketemu, banyak pikiran bersemayam di kepala. Terbayang beberapa adegan dalam Green Inferno, sebuah film tentang suku kanibal di Peru.

Memang, kesan seram Sumanto belum lenyap. Pertanyaan, "Sumanto esih mangan mbah-mbah ora?", masih terdengar santer di Purbalingga. "Mereka masih anggap Sumanto sama seperti dulu. Padahal Sumanto sudah berubah, makin humanis," kata Supono.

Pria berusia 65 ini merupakan pemuka agama dan tokoh spiritual di Purbalingga. Ia itu pemilik panti tempat Sumanto direhabilitasi. Butuh setengah jam dari pusat kota Purbalingga untuk menuju panti itu. Di sana Sumanto tak sendirian, ada pasien sakit jiwa lain dari berbagai daerah. Tapi ia menempati ruang tidur yang terpisah.

Para pengurus panti awalnya kewalahan menangani Sumanto, karena cenderung susah diatur. Namun, mental Sumanto berangsur membaik, meski masih suka lupa bayar ketika makan di warung. Yang penting, ia sudah tak melakukan tindakan kriminal.

Dua belas tahun berlalu. Berulang kali Sumanto coba dikembalikan kepada keluarganya oleh panti. Namun, selalu berujung penolakan. Ia terpaksa dikembalikan ke panti itu hingga entah kapan. "Saya menerimanya, kasihan," tutur Supono.

Kini, Sumanto mendadak diperbincangkan kembali. Bukan karena kasus baru. Tetapi Sumanto dapat kehormatan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Purbalingga sebagai satu di antara sampel kegiatan pencocokan dan penelitian (coklit) serentak. Coklit ini menyangkut data pemilih Pilkada 27 Juni 2018 mendatang.

Berikut kisah pertemuan dan hasil perbincangan kami dengan Sumanto serta Supono:

Kiai Supono dan Sumanto saat ditemui di Panti Rehabilitasi Mental dan Narkoba An-Nur H. Mustajab, Bungkanel, Purbalingga, Minggu (11/2/2018).
Kiai Supono dan Sumanto saat ditemui di Panti Rehabilitasi Mental dan Narkoba An-Nur H. Mustajab, Bungkanel, Purbalingga, Minggu (11/2/2018). | Pundra Rengga Andhita /Beritagar.id

Azimat batu mungil

Hari yang dijanjikan tiba. Kami dipertemukan dengan Sumanto di Rumah Makan Siregol, Bobotsari, yang kebetulan juga milik Supono. Tempat itu sengaja dipilih agar Sumanto tak bosan di panti, sekalian jalan-jalan.

Hari itu ia tiba menggunakan motor, dengan membonceng. Ia memakai jaket kulit dan topi pramuka. Langkahnya cepat menuju kami, lalu menyodorkan tangan, kemudian tersenyum dan tak berkata apa-apa.

Tak butuh waktu lama untuk membuat Sumanto cerita panjang lebar, meski kadang kurang sesuai. Misalnya, ia malah mendadak bicara tentang kerajaan yang disebutnya kerajaan klasik. Anehnya, ia justru fasih menceritakan topik itu.

Baru belasan menit wawancara, Sumanto gelisah. Menurut pendampingnya, ia lapar dan ingin pulang. Rupanya ia tidak mau makan di rumah makan itu, meski lapar. Kami pun memutuskan melanjutkan perbincangan di panti. Supono membawa pulang satu bungkus nasi untuknya.

Di panti, Sumanto membuka bungkusan nasi itu. Lauknya ayam goreng sambal dan lalap. Ia tampak lahap, makannya cepat. Ayam dihabiskan tanpa sisa, bukan hanya daging tapi juga tulangnya. Bunyi gemeretak gigi yang meremukkan tulang membuat kami ngilu mendengarnya.

Usai makan, Sumanto mengisap rokok kretek. Ada yang menarik. Di kantong celananya, Sumanto selalu bawa batu kecil terbungkus plastik dengan lilitan benang. Sumanto enggan menceritakan lebih jauh tentang batu itu.

Menurut temannya, batu itu selalu dikeluarkan Sumanto jika ada orang baru. Ibarat jam pendulum berayun yang digunakan pesulap untuk hipnotis orang. Sumanto kerap mengitari orang baru itu dengan batu sambil berkata "daging segar".

Entah benar atau tidak. Tetapi pendampingnya memang langsung melarang Sumanto ketika hendak mengeluarkan batu itu.

Supono mengakui masih ada sisi Sumanto yang belum lupa pada masa lalunya. Namun, itu bukan halangan baginya yang sudah berkomitmen mengobati Sumanto sampai sembuh.

Ada dua metode yang ia gunakan, yaitu medis dan non medis. Jika Sumanto sedang agresif, maka jalan medis yang ditempuh. Sedangkan non medis lebih menekankan pengobatan berbasis spiritual seperti mengaji dan salat.

Masyarakat belum banyak yang tahu masa kecil Sumanto. Mereka cuma mengenalnya sebagai kanibal. Padahal ada kisah miris yang menyebabkan Sumanto terpaksa makan daging orang. "Sumanto makan mayat karena kelaparan, bukan ilmu hitam," kata Supono.

Cerita dahulu, Sumanto doyan makan mayat disebabkan keinginannya menguasai ilmu hitam. Atas bimbingan seorang guru, dirinya diharuskan makan tujuh mayat. Jika hal itu berhasil, maka ia akan menguasai ilmu kebal, bahkan bisa hidupkan orang mati.

Ketertarikan Sumanto pada ilmu hitam dimulai saat dirinya merantau ke Lampung tahun 1988. Sumanto mengaku sudah makan tiga jasad di sana. Namun, cerita itu tak berlanjut dan terkonfirmasi karena Sumanto keburu ditangkap polisi.

Sumanto saat ditemui di Panti Rehabilitasi Mental dan Narkoba An-Nur H. Mustajab, Bungkanel, Purbalingga, Minggu (11/2/2018)
Sumanto saat ditemui di Panti Rehabilitasi Mental dan Narkoba An-Nur H. Mustajab, Bungkanel, Purbalingga, Minggu (11/2/2018) | Pundra Rengga Andhita /Beritagar.id

Menu favorit

Empat puluh enam tahun silam, Sumanto lahir di Purbalingga, tepatnya 3 Maret 1972 dari pasangan suami istri, Nuryadikarta dan Samen. Sumanto merupakan sulung dari lima bersaudara. Mereka masuk kategori keluarga miskin. "Saya meneteskan air mata saat lihat rumahnya. Tidak layak huni, campur dengan kambing," kata Supono.

Rumahnya memang jauh dari kata layak. Hanya beralas tanah dengan dinding yang terbuat dari gedek. Rumah itu ditempati tujuh orang tanpa jamban dan petak kamar memadai.

Keluarganya kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Jangankan daging sapi, bisa makan ayam atau ikan saja sudah jadi menu luar biasa. Daging hewan jenis apapun tergolong makanan mewah. Mereka makan seadanya namun lebih sering tidak makan. Untungnya, para tetangga kadang ikut membantu, semampunya.

Jika dibanding saudaranya, Sumanto memang beda. Yang lain agak penurut. Sementara, ia bertabiat semaunya sendiri dan susah diatur--sejak kecil. Meski begitu, ketika emosinya masih stabil, Sumanto sempat mengenyam bangku sekolah, dari sekolah dasar hingga menengah pertama.

Soal gangguan jiwa, orang menganggapnya sebagai akibat Sumanto mempelajari ilmu hitam. Padahal bukan karena itu. Supono mengatakan, gangguan jiwa itu karena faktor keturunan. Gejala itu sudah muncul dari kecil. Hanya saja bukan gangguan jiwa berat.

Selain dikenal gangguan jiwa, Sumanto punya catatan buruk di masyarakat, yakni mencuri. Akibat perbuatan itu sering dilakukan, masyarakat jadi kesal dengan keberadaannya, apalagi kondisi jiwanya makin tidak stabil, karena lebih sering tertawa jika dinasihati. "Akhirnya, keluarga dan masyarakat sepakat mengasingkan Sumanto di pinggir kali," kata Supono.

Sumanto yang terasing, lapar dan tak bisa balik ke rumah akhirnya mulai cari makan sendiri. Ia makan apa saja yang ditemui. Seiring waktu, apa yang dimakan Sumanto makin horor. Ia berani makan jenazah. Dari situlah Sumanto mendapatkan predikatnya sebagai kanibal. "Kalau ada kabar orang meninggal, Sumanto cari tahu di mana letak kuburannya. Nah, pas malamnya dia bongkar," tutur Supono.

Ketika masih jadi kanibal, Sumanto terbiasa mengolah hasil daging tangkapannya dengan cara direbus atau digoreng. Tak jarang juga Sumanto mencampur olahan dagingnya dengan beragam sayur sesuai selera.

Berbekal pengetahuan bumbu dapur yang didapat dari tukang sayur di pasar, Sumanto meracik daging manusia seperti sop daging sapi. Dari satu mayat utuh, dia hanya ambil bagian tangan, pinggang dan kaki untuk diolah.

Jadi, usai bongkar kuburan, Sumanto lebih dulu memotong bagian yang ia inginkan. Sisanya, seperti kepala, tulang dan organ dalam dimasukkan lagi ke bekas urukan kuburan itu.

Bagian yang paling tidak disukainya adalah organ dalam, khususnya jantung dan hati. Menurut Sumanto, jeroan itu rasanya amis. Dalam satu hari, ia bisa menghabiskan dua sampai tiga mayat. Korban kecelakaan, tersambar petir dan tersengat listrik sudah pernah ia lahap.

Pertualangan Sumanto akhirnya harus setop, ketika ia ketahuan mencuri dan makan mayat Rinah (81), yang belum genap 24 jam dikuburkan. Atas perbuatannya Sumanto dituntut enam tahun penjara. Namun, itu semua sudah jadi masa lalu. Ia enggan menceritakannya lebih jauh lagi.

Mengaji dan pergi haji

Latar kehidupan Sumanto membuat Supono iba. Baginya Sumanto cuma korban kemiskinan yang layak dapat kesempatan untuk hidup normal. Persoalannya, terletak pada bagaimana orang yang membimbingnya itu untuk punya kesabaran ekstra. Misalnya mengajari Sumanto apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Supono melihat ada ruang kosong di hidup Sumanto yang bisa ia masuki, yaitu kehangatan keluarga. Ruang itulah yang ia jajaki. Ia tidak anggap Sumanto sebagai pasien, tapi sudah seperti anak sendiri. Dengan rutin, Supono mendekatkan anak angkatnya itu kepada agama.

Hal pertama yang ia lakukan adalah mengenalkan salat, azan, puasa dan mengaji. Awal masuk panti, Sumanto tak bisa melakukan semuanya. "Dulu saya ajarkan azan, sering salah. Kalimatnya bolak balik," katanya. Tapi saat ini Sumanto bisa menuntaskan azan tanpa keliru.

Begitu pula salat. Supono mengajarkan gerakan dan bacaannya sampai lancar. Ketika Sumanto sudah bisa, ia mengajaknya salat jemaah. Acap kali, imam salatnya Supono, makmumnya Sumanto dan teman-temannya yang juga memiliki gangguan jiwa.

Situasi salat biasanya cukup gaduh. Ketika bacaan amin mereka selalu saling sahut. Ada yang sengaja memanjangkan, teriak juga tertawa. Sumanto kerap memarahi teman-temannya itu agar diam. "Lucunya, mereka malah jadi ribut sendiri, tuding-tudingan. Saling suruh diam tapi salat tetap jalan," tutur Supono.

Sumanto juga sudah bisa mengaji. Bukan hanya sebatas baca tetapi hafal beberapa surat. Salah satunya surat At-Takasur. Ia bisa mengucapkannya dengan baik. Selain itu Sumanto juga senang selawatan.

Upaya Supono ternyata buahkan hasil. Makin hari Sumanto menunjukkan perubahan. Dirinya tak lagi kosong. Ia sudah mau menerima Supono sebagai ayah. Alhasil, Sumanto lebih mudah dibimbing. "Aku anak lanang (laki-laki)-nya Pak Haji Pono," kata Sumanto.

Titik balik Sumanto berawal ketika ikut pengajian di sebuah yayasan yatim piatu di Kebumen. Di atas panggung, Sumanto, yang duduk di sebelah Supono, meneteskan air mata. Musababnya, Sumanto melihat Supono mengembalikan amplop dari panitia. Supono meminta uang di amplop dibagi ke anak yatim piatu.

Kejadian di depan mata itu menyentuh hati Sumanto. Melihat ayahnya ikhlas memenuhi undangan tanpa pamrih, meski jarak tempuh jauh namun bayarannya justru diberikan untuk yang lebih membutuhkan.

Pernah, suatu hari Sumanto juga diberi uang satu juta oleh orang di sebuah pengajian. Sepanjang perjalanan pulang, Sumanto membagikan uang itu kepada orang-orang yang tidak dikenalnya. "Kepada supir angkot, pengemis, orang lewat. Eh sampai di panti uang habis," kata Supono. Singkatnya, tambah Supono, banyak hal baik yang kini tertanam dalam diri Sumanto.

Di akhir perbincangan, Sumanto mengutarakan satu keinginan kepada kami: naik haji. Ia ingin tunaikan ibadah itu bersama ayahnya. Mendengar keinginan itu, mata Supono langsung berkaca-kaca, terenyuh.

Tetapi, Sumanto juga menyampaikan sesuatu ke Supono tentang kami. "Pak Haji, itu yang lagi moto (ambil foto) kayaknya dagingnya enak, manis," kata Sumanto, agak berbisik.

BACA JUGA