Foto udara erupsi Gunung Gamalama pada 16 september 2012.
Foto udara erupsi Gunung Gamalama pada 16 september 2012. Mast Irham / Epa
GUNUNG BERAPI

Siaga jika Gunung Gamalama mengamuk

Gunung Gamalama termasuk gunung api yang paling aktif di Indonesia sehinga sangat rawan dan berbahaya. Secara geologi, tanah di Pulau Ternate pun semuanya berpotensi dan terancam letusan samping.

Rasa khawatir berkecamuk. Gunung berapi aktif Gamalama berdiri begitu dekat dengan hotelnya tempat menginap. Ia membatin, bagaimana kalau Gunung Gamalama tiba-tiba mengamuk?

Rasa was-was Qodriansyah Agam Sofyan semakin menjadi karena di kamar hotel, tidak ada secuil informasi kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Makassar itu pun tidak menemukan informasi kesiapsiagaan menghadapi bencana sejak mendarat di bandar udara Sultan Babullah, Ternate, Kepulauan Maluku pada Senin, 24 Desember 2018.

"Saat malam, saya tidak bisa tidur. Saya tidak nyaman karena was-was dengan kondisi gunung api Gamalama," kata Agam. "Saya berpikir kalau bencana terjadi, mau lari ke mana."

Ternate merupakan kota di Maluku Utara, bagian Timur Indonesia. Luasan kota berbentuk bulat kerucut itu hanya 5.795 kilometer persegi dan didominasi oleh laut. Luas daratan 162 kilometer persegi dan laut 5.633 kilometer.

Kota Ternate memiliki 7 Kecamatan dan 77 Kelurahan. Sensus penduduk 2015 menyebutkan, populasinya 212.997 orang dengan kepadatan rata-rata 1.315 orang per kilometer. Orang dapat bermobil mengelilingi pulau itu sekitar 2 jam.

Di tengah Pulau Ternate inilah Gunung Gamalama berdiri kokoh. Berkali-kali gunung yang menjadi ikon di Pulau ternate ini memuntahkan abu. Terakhir, Gunung Gamalama mengeluarkan abu pada Oktober 2018.

Kepala Pos Pemantau Gunung Api Gamalama, Darno Lamane, menyatakan, Ternate merupakan daerah di atas gunung api. Ini dapat dilihat berdasarkan ketinggian Gunung Gamalama 1.715 meter dari permukaan laut dan 3.600 meter dari dasar laut.

"Ini artinya kawasan pusat kota dan permukiman di Pulau Ternate ini masih berada di tengah-tengah gunung api Gamalama," ujar Darno, saat diskusi dengan tema kesiapsiagaan menghadapi bencana 2019 di Kantor Camat Ternate Utara, Rabu (30/1/2019).

Darno mengatakan bencana gempa bumi di Pulau Ternate pasti terjadi dalam skala kecil hingga besar yang merusak. Darno mencemaskan kemungkinan terjadi letusan samping Gunung Gamalama seperti yang pernah terjadi pada 1775.

Letusan pada 1775 telah menenggelamkan kampung di Pulau Ternate yang saat ini bernama Danau Tolire Besar dan Tolire Kecil, di Kecamatan Ternate Barat. Sebelum letusan, di kawah Gunung Gamalama itu sedang terjadi gempa tektonik yang cukup besar.

"Ini yang memicu salah satu kampung amblas," ujar Darno. "Sejarah itu bisa saja terjadi lagi."

Ancaman bahaya gempa dan letusan Gunung Gamalama tersebar di seluruh Kecamatan di Pulau Ternate. Gempa atau letusan dalam skala besar kemungkinan akan menimbulkan kerusakan dan ribuan korban jiwa di pulau tersebut.

Kawasan pusat kota dan permukiman di Pulau Ternate ini masih berada di tengah-tengah gunung api Gamalama.

Darno Lamane

Darno menceritakan, pertama kali terjadi letusan Gunung Gamalama tercatat pada 1538. Sampai sekarang (30 Januari 2019) sudah terjadi sekitar 76 kali letusan. Dengan riwayat letusan itu, Gunung Gamalama bisa saja kembali mengamuk dengan skala besar.

Letusan gunung api merupakan penerobosan magma dari dalam perut gunung. Apabila kawah yang dilalui keras, magma akan mencari titik lemah sehingga terjadi letusan samping. Fenomena letusan samping, kata Darno, bukan tak mungkin terjadi di Gunung Gamalama.

Pemerintah kota Ternate dan warga masyarakat setempat, kata Darno, harus mengetahui keberadaannya saat ini berada di tengah-tengah gunung api.

"Sehingga kita harus siap siaga setiap saat. Jangan menganggap letusannya akan terjadi di atas puncak Gunung Gamalama, padahal kita tidak tahu kalau di tempat yang kita tinggal ini berada di tengah-tengah gunung api Gamalama," kata Darno.

Berdasarkan sejarah letusannya, gempa tektonik sangat mempengaruhi aktivitas Gamalama. Gunung ini sangat rentan dengan aktivitas tektonik di sekitarnya.

Ketika gempa bumi terjadi, sebagian energi yang dilepaskan dari patahan lempeng batuan turut berpindah ke bebatuan lain di dekatnya sehingga menambah bobot tekanan dalam bentuk dorongan, tarikan atau putaran.

"Analoginya seperti kita masak bubur, kalau apinya dikecilkan pasti buburnya masak dengan pelan-pelan. Tapi seketika apinya diperbesar maka penutupnya juga bisa lepas dan keluar dari belanga. Itu karena ada pengaruh yang besar dari luar," ucap Darno.

Darno Lamane mengharapkan, kepada seluruh warga masyarakat maupun pemerintah kota dan instansi terkait harus siap dan selalu mewaspadai ancaman letusan Gamalama.

"Saya minta soal kesiapsiagaan bencana ini tidak harus ke Utara saja, tetapi ke seluruh wilayah kota Ternate. Karena di Utara ini yang BPBD fokus adalah ancaman langsung, seperti awan panas dan lahar dingin," kata Darno.

Kepala Stasiun Geofisika Ternate Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Maluku, Kustoro menambahkan, sumber gempa di Ternate berasal dari laut Maluku. Dia menyatakan, potensi dan ancaman letusan Gunung Gamalama perlu diwaspadai.

"Sebab kalau ada gempa-gempa kecil atau gempa yang cukup besar terjadi maka bisa memicu gempa-gempa kecil di dapur Gunung Gamalama," kata Kustoro.

BMKG Maluku, kata Kuntoro, bersama dengan Ahli Geologi Maluku Utara akan melakukan riset mengenai periodisasi pengulangan gempa di Maluku Utara. Misalnya, berkaca dari peristiwa gempa yang memicu tsunami di Palu yang diprediksi periode pengulangannya 30 tahun.

Gunung Gamalama mengeluarkan abu pada 5 Desember 2011
Gunung Gamalama mengeluarkan abu pada 5 Desember 2011 | Nardi /Epa

Kesadaran hadapi bencana

Gunung Gamalama termasuk gunung api yang paling aktif di Indonesia sehingga sangat rawan dan berbahaya. Secara geologi, tanah di Pulau Ternate pun semuanya berpotensi dan terancam letusan samping.

Meski berada di wilayah yang relatif rawan, Ketua Ikatan Ahli Geologi (IAGI) Maluku Utara, Dedy Arif, menilai sebagian besar masyarakat belum sadar akan datangnya ancaman bencana.

Focus Group Discussion (FGD) dengan tema belajar dari bencana 2018 dan kesiapsiagaan menghadapi bencana 2019 diharapkan menjadi peringatan bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah di Kota Ternate.

"BPBD Ternate tidak bisa lagi dengan proyek asal jadi, seperti bikin selokan dan jembatan. Ternate butuh teknologi apa untuk mengamankan daerahnya. Karena kalau kita bicara aman maka kita harus bicara kesiapan teknologi," kata Kepala Laboratorium Geologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) Ternate ini.

Ia berharap kesadaran menghadapi bencana Gamalama harus juga sampai pada kelompok rentan. Misalnya, murid-murid di Sekolah Dasar (SD) harus tahu berbuat apa ketika Gunung Gamalama meletus. Guru pun tentu harus memahami kesiapsiagaan ini.

Dedy menyarankan, pemerintah kota Ternate perlu melakukan simulasi siaga bencana massal. Sebelum simulasi, pemerintah harus mengkaji pelaksanaan teknisnya.

Ia menambahkan simulasi harus dilakukan secara massal, misalnya di sekolah setiap tiga bulan sekali. "Setiap tiga bulan dibikin, enam tahun dia sekolah di SD itu pasti matang soal mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana," ujar Dedy.

Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, kata Dedy, memerlukan kerja sama semua stakeholder, termasuk masyarakat yang berdomilisi di daerah rawan bencana. Pemerintah maupun stakeholder terkait sudah harus memetakan wilayah yang potensi rawan, rawan, dan paling rawan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR