Plang jalur evakuasi terpasang di kawasan wisata Bukit Bintang, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selasa (6/11).
Plang jalur evakuasi terpasang di kawasan wisata Bukit Bintang, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selasa (6/11). Aditya Herlambang Putra / Beritagar.id
MITIGASI BENCANA

Siap siaga Sesar Lembang

Pemerintah belum merampungkan Rencana Kontinjensi atas kegempaan Sesar Lembang. Padahal ancaman lindu sedang mengintai Bandung Raya.

"Gempa Sesar Lembang bisa mengerikan. Skala tiga saja berbahaya karena sesarnya di darat," kata Akhmad Djohara, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung.

Senin siang, 5 November 2018, Djohara memimpin rapat pemetaan potensi bencana di Kabupaten Bandung.

Majelis itu mendengar pemaparan tim konsultan yang telah mengidentifikasi potensi bencana di Kabupaten Bandung.

Pelbagai ancaman terungkap dalam pertemuan selama empat jam. Mulai dari banjir dari luapan Sungai Citarum, angin puting beliung, tanah longsor, hingga kekeringan.

Tanpa menyepelekan ancaman lain, Djohara menaruh perhatian khusus pada potensi kegempaan Sesar Lembang.

Baginya, lindu Sesar Lembang adalah keniscayaan. "Tinggal menunggu waktu. Kapan pastinya? wallahualam," ujarnya.

Lembaga yang dipimpinnya juga mulai menghitung kemungkinan likuefaksi sebagai petaka susulan. "Seperti daerah Kiarapayung, Ujungberung, itu harus diwaspadai," kata Djohara.

Bukan cuma Kabupaten Bandung yang mesti waspada. Patahan kerak bumi dengan panjang sekitar 29 kilometer itu mengintai kawasan Bandung Raya--meliputi Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Kota Cimahi.

Kabupaten Bandung Barat mungkin jadi wilayah paling rawan. Teritori pemekaran Kabupaten Bandung pada 2007 itu merupakan jalur utama Sesar Lembang.

Sepanjang jalur itu, terutama dari Padalarang hingga Lembang, bertebaran kampung, permukiman, dan lokasi wisata (baca: Momok lindu Sesar Lembang)

Kota Bandung tak lepas jua dari ancaman, terutama karena kondisi tanah endapan yang rentan likuefaksi dan amplifikasi atau penguatan gempa.

***

Seorang petani menggarap lahannya di kawasan pertanian Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selasa (6/11).
Seorang petani menggarap lahannya di kawasan pertanian Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selasa (6/11). | Aditya Herlambang Putra /Beritagar.id

Tengah Oktober 2018, kami bertemu Adrin Tohari. Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Geotek LIPI) Bandung itu membuka ulang hasil risetnya (2015-2017).

Adrin mengibaratkan Bandung Raya sebagai baskom raksasa (cekungan) bekas lokasi danau purba.

Situasi itu membuat Bandung punya tanah lempung lunak dengan ketebalan sekitar 15 meter--dari permukaan hingga kedalaman.

"Endapan lempung lunak membuat amplifikasi. Guncangan akan terasa kuat," katanya.

Riset Adrin menggunakan metode pemboran teknik hingga 90 meter dan uji penetrasi konus--menghitung perlawanan tanah. Hasilnya mengungkap potensi likuefaksi di beberapa tempat.

"Tapi likuefaksinya berupa penurunan tanah. Bukan seperti di Palu," katanya.

Beberapa titik potensi likuefaksi--berupa penurunan tanah--antara lain: Batununggal (5,5, cm), Sukapura, Kiaracondong (13,39 cm), Cipamokolan (7,4 cm), dan Cipadung Kulon (6,03 cm), dan Rancanumpang, Gedebage (5,25 cm).

Di wilayah Kabupaten Bandung juga ada kemungkinan likuefaksi, misal di Majasetra (10,19 cm), Cibodas (6,56 cm), Ciluluk (1,87 cm), dan sebagian wilayah Desa Bojong Emas.

Pemetaan seismoteknik di wilayah cekungan Bandung oleh Badan Geologi memberi gambaran lebih detail. Pemetaan menyimpulkan Kota Bandung tersusun oleh batuan sedimen tersier dengan umur geologi berkisar 60-2 juta tahun silam.

Batuan yang bersifat padu dan keras itu kemudian diselimuti sedimen vulkanik di bagian utara Bandung.

Sedangkan sedimen danau purba berumur kuarter (zaman geologi paling muda, setelah tersier) di bagian selatan Bandung. "Sifat tanahnya lunak dan terurai," kata R. Muchamad Wahyudiono, peneliti Pusat Survei Geologi.

Riset lain dilakukan Lina Handayani dan kawan-kawan (Geotek LIPI Bandung, 2008).

Mereka buat permodelan gempa Sesar Lembang dengan skala magnitudo 6,0. Kesimpulannya menunjukkan zona paling rawan berada di sekitar pusat gempa, lalu dataran rendah di selatan, dan sisi barat Bandung.

Percepatan gerakan tanah yang tinggi mencapai 0,2 g terjadi di sebelah timur Kota Bandung seperti daerah sekitar Cicadas, Ujungberung, dan Kiaracondong.

Percepatan gerakan tanah yang tinggi terjadi lantaran formasi geologi di tiga area itu berupa endapan danau kuarter. Situasi itu bisa memicu amplifikasi meskipun jauh dari pusat gempa.

Adapun percepatan gerakan tanah yang tergolong sedang seperti di daerah Padalarang dan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

Di atas kertas, percepatan gerakan tanah yang lebih kecil ada di pegunungan cekungan Bandung, lantaran endapan gunung api telah membentuk batuan beku nan kokoh yang mampu meredam guncangan.

Namun, karena areanya dekat sumber gempa, percepatan gerakan tanah berpotensi meninggi.

Perlu pula diingat, selain Patahan Lembang, ada empat sesar lain di cekungan Bandung. Menurut R. Muchamad Wahyudiono, peneliti Pusat Survei Geologi, keempat sesar itu sudah terekam sejak 1970-an.

Keempat sesar itu adalah Sesar Cicalengka di tengah, Sesar Jati di barat, Sesar Gunung Geulis di selatan, dan Sesar Ujungberung-Cileunyi di timur.

Kekuatan gempa empat sesar itu maksimal menyentuh besaran magnitudo 4,0. Riwayat gempanya pernah mengguncang Tanjungsari Kabupaten Sumedang (1972, 2010), Gunung Halu dan Jati (2005), Pangalengan (2016), Ujungberung (2011), Cicalengka (2000, 2005).

Catatan lain, Jawa Barat juga punya potensi lindu dari zona subduksi megathrust di Laut Kidul.

***

Kawasan wisata Bukit Bintang, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selasa (6/11).
Kawasan wisata Bukit Bintang, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selasa (6/11). | Aditya Herlambang Putra /Beritagar.id

Potensi gempa Sesar Lembang bergaung sejak beberapa tahun lalu. Namun, baru tahun ini, pemerintah menyiapkan rencana kedaruratan (Rencana Kontinjensi). Gempa Lombok dan Palu ikut memicu penyusunan dokumen itu.

"BPBD Jabar sedang mengumpulkan bahan, karena Rencana Kontinjensi ini sangat kompleks," kata Dicky Saromi, Kepala BPBD Jawa Barat, Kamis (15/11/2018).

Rencana Kontinjensi akan menampilkan skenario bencana dan menghimpun data-data penting. Dokumen itu akan menuntun pemerintah dalam penanganan situasi darurat.

Jabar menargetkan Rencana Kontinjensi rampung pada 2019. Konon penyusunan juga baru bisa dilakukan lantaran terkendala anggaran.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jabar, Eko Damayanto, menyebut anggarannya masih disusun dalam APBD 2019. "Untuk kajian saja, minimal, Rp300-700 juta. Kita prioritaskan Sesar Lembang pada 2019," kata Eko.

Ia memastikan pula pembuatan Rencana Kontinjensi bakal melibatkan daerah tingkat II di Cekungan Bandung. "Termasuk Bandung Barat, yang dilintasi Sesar Lembang," ujarnya.

Sebenarnya, Rencana Kontinjensi bisa pula disusun pada level daerah tingkat II.

Saat ini BPBD Kabupaten Bandung Barat hanya punya Rencana Kontinjensi gunung api. Ihwal Sesar Lembang, mereka memilih nebeng Rencana Kontinjensi milik provinsi.

"Biar enggak dobel, ancaman Sesar Lembang bukan hanya Bandung Barat," kata Agus Rudianto, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (3/11/2018).

Sembari menunggu Rencana Kontinjensi dibuat, BPBD Bandung Barat berupaya melakukan sosialisasi potensi dan bahaya Sesar Lembang. Mereka juga mengusahakan pembentukan Desa Tangguh Bencana.

Fokusnya ada di 23 desa yang berdekatan dengan Sesar Lembang. Desa-desa itu masuk wilayah lima kecamatan yakni Lembang, Cisarua, Ngamprah, Parongpong, dan Padalarang.

Adapun Kabupaten Bandung sedang merencanakan Rencana Kontinjensi pada tahun ini.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung, Akhmad Djohara, mengeluhkan adanya pemangkasan anggaran sebesar Rp4 miliar dari Rp12 miliar tahun ini--guna menopang belanja tunjangan kinerja.

Ia bilang pemangkasan ikut memperlambat perampungan Rencana Kontinjensi. "Jadi kajian dan pemetaan masalah risiko bencana tahun depan tidak akan berlanjut lagi," katanya.

Langkah agak berbeda ditempuh Kota Bandung.

Kota Kembang tak memiliki BPBD. Sebagai ganti, tugas dan fungsinya melekat dalam Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Bandung. Dinas tersebut hampir rampung menyusun Rencana Kontinjensi gempa--termasuk Sesar Lembang.

Kabar di muka datang dari Sihar Pandapotan Sitinjak, Kepala Bidang Penanggulangan Bencana di instansi termaksud.

"Antar-dinas dokumennya sudah jadi, tinggal public hearing. Kita mau mendengar masukan, termasuk dari ahli, sebelum disahkan," katanya, Kamis (8/11/2018).

Menurut Sihar, pembuatan Rencana Kontinjensi itu berlangsung selama setahun. Data riset memadukan dari ITB, PVMBG, dan BMKG. Dokumen akademiknya dikerjakan tim konsultan.

Hampir semua wilayah Kota Bandung masuk dalam area terdampak dalam peta rawan bencana. Meski demikian, Sihar enggan mengungkap soal skenario besaran gempa dan dampaknya.

"Jangan sampai terlalu banyak komen jadi tidak kondusif malah menimbulkan kekhawatiran," katanya.

Selain Rencana Kontinjensi, Kota Bandung juga punya Peraturan Wali Kota tentang pembentukan satuan pelaksana penanggulangan bencana.

Satuan itu diketuai wali kota. Komposisi wakilnya diisi oleh: wakil wali kota, kepala polres, dan komandan distrik militer. Adapun posisi ketua harian menjadi tanggung jawab sekretaris daerah.

Bilapun Rencana Kontinjensi di berbagai level selesai, masih tersisa kewajiban lain. Pasalnya, dokumen itu harus diperbarui secara berkala menyesuaikan pertambahan penduduk, pertumbuhan wilayah, hingga pembangunan infrastruktur.

Pun, hal terpenting, dokumen itu mesti dihidupkan lewat sosialisasi dan simulasi.

Hal itu diingatkan oleh Dadan Ramdan, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar.

"Sosialisasi masif dan pelatihan oleh pemda ke masyarakat soal ancaman gempa juga belum terlihat," ucap Dadan, Kamis (8/11/2018). Padahal ancaman Sesar Lembang ada di depan mata.

Dadan juga mengingatkan agar Rencana Kontinjensi bertaut dengan penertiban atau larangan izin membangun rumah, vila, hotel, atau tempat wisata di zona patahan.

BACA JUGA