Lari
Lari Shutterstock / Raisman

Siapa bilang lari itu olahraga murah

Jika dilakukan dengan bergaya, lari memang bukanlah olahraga murah. Namun, siapapun bisa memulainya tanpa perlu memikirkan gaya.

Berlari alias joging adalah olahraga paling mudah dan dapat dilakukan oleh semua orang untuk menjaga kebugaran badan. Selain mudah, secara sekilas joging juga murah karena tidak membutuhkan peralatan khusus.

Tidak seperti bersepeda yang membutuhkan peralatan yang relatif lebih mahal, joging tetap bisa dilakukan meski tanpa mengenakan sepatu. Orang sah-sah saja berlari tanpa sepatu, bahkan tanpa baju pun orang masih bisa berlari.

Namun ketika joging dianggap sebagai bagian dari gaya hidup, semua itu berubah. Berlari kini bukan sekadar olahraga untuk mencari keringat.

"Kita lebih mementingkan gaya dalam berlari. Jalan adalah sebuah catwalk sebagai tempat aktualisasi diri supaya orang lain tertarik dengan kegiatan lari," ujar Youmi, aktivis lari dari Indo Runners dalam acara Sarah Sechan di televisi .NET.

Gaya adalah seni untuk tampil menarik yang memang membutuhkan barang-barang berharga tidak murah. Joging kini telah bersalin rupa dari sebuah olahraga untuk membakar kalori dengan biaya yang murah, menjadi model runway bagi orang-orang yang ingin tampil bergaya.

Dulu orang yang sedang berlari akan dinilai dari kecepatan dan ketahanannya. Kini orang menggunakan lari sebagai ajang pamer perlengkapan joging dari ujung kepala hingga ujung kaki yang harganya tidak murah.

Di toko-toko daring dengan mudah kita menemukan sepatu-sepatu khusus joging yang diciptakan demi kenyamanan pemakainya. Kaus kakinya pun disediakan khusus. Konon kaus kaki ini berpori sehingga bisa dengan mudah menguapkan keringat.

Perlengkapan kaus dan celana pun dibuat khusus. Selain menyerap keringat dengan mudah, bahan kaus dan celana lari juga memiliki teknologi tenun yang canggih. Lihatlah para perempuan dan lelaki yang joging selama car free day di jalanan Jakarta. Tidak sedikit perempuan yang menggunakan bawahan semacam legging yang superketat membungkus kaki.

Tak lupa mereka juga menggunakan topi khusus bagi pelari. Sementara itu selama mereka joging, musik pengiring yang dialirkan lewat ponsel cerdas terus bersuara di telinga. Bahkan tempo musik bisa berubah selaras dengan kecepatan langkah kaki penggunanya.

Setelah berlari, kemudian mereka berbagi data jarak dan kecepatan yang telah mereka raih ke media sosial seperti Path, Instagram, Facebook, atau Twitter. Tak lupa swafoto juga diunggah sekadar untuk menampilkan kegembiraan mereka usai jogging, sebuah olahraga termurah yang berubah menjadi mahal karena gaya.

Lari memang mahal jika ingin dilakukan dengan bergaya.
Lari memang mahal jika ingin dilakukan dengan bergaya. | Ivanko80 /Shutterstock

Ada biaya untuk berlari dengan gaya

Berlari terasa kurang lengkap jika Anda tidak menggunakan sepatu khusus untuk lari. Dari sepatu buatan lokal hingga sepatu mutakhir buatan luar negeri, semua bisa didapatkan di toko-toko.

Sepatu buatan lokal misalnya adalah Specs Tambora yang terbuat dari material kulit sintetis yang bepori dan jala yang berlubang sebagai saluran udara. Sole-nya yang ringan terasa nyaman saat digunakan. Harga di situs resminya sekitar Rp330.000.

Sementara itu bagi yang ingin lebih bergaya, ada banyak sekali pilihan sepatu yang ditawarkan. Mulai dari Mizuno Tornado 9, Puma Ignite Ultimate, New Balance Vazee Pace Protect Pack, Nike Free 5.0, Head Under Armour Speed Form Apollo, Adidas Supernova Sequence Boost 8, Adidas Boost ESM, dan lain-lain. Masing-masing sepatu dari jenama ternama ini mengunggulkan teknologi terbaik mereka.

Ada sepatu yang mengunggulkan bobotnya yang ringan sehingga nyaman untuk berlari. Ada pula merek yang membanggakan bahan pembuat sol yang konon bisa membuat pemakainya memantul ketika kakinya mendarat di lintasan lari sehingga memberikan energi besar untuk terus berlari.

Selain itu ada juga sepatu yang bisa melindungi pemakainya dari cuaca dingin. Ada harga, ada rupa dan ada gaya. Sepatu-sepatu khusus lari dari merek ternama tentu harganya mahal, di atas Rp1 juta rupiah.

Padahal, seperti pernah diulas di Beritagar.id, sepatu berharga mahal belum tentu berkualitas. Sepatu lari mahal tak selalu bagus. Malah seringkali lebih buruk kualitasnya dari yang murah.

Demikian hasil survei yang digelar situs RunRepeat selama satu tahun. Ada 134.867 orang dengan 391 jenis sepatu lari dari 24 merk yang jadi sampel survei ini.

"Jika uang merupakan isu tersendiri bagi Anda, ketahuilah sepatu lari yang mahal tidak menguntungkan bagi Anda," ujar penemu situs Jens Jakob Andersen kepada Washington Post. Andersen menyarankan Anda memilih sepatu dengan harga sedang.

Survei RunRepeat menunjukkan 10 sepatu lari termahal, rata-rata dibanderol USD181 per pasang (sekitar Rp2,4 juta) dinilai 8,1 persen lebih rendah dari 10 sepatu lari yang lebih murah, dengan harga rata-rata USD61 (sekitar Rp795 ribu).

Dr Michael Triangto, SpKO dari RS Mitra Kemayoran, menyarankan agar saat memilih sepatu lari, seharusnya setiap orang mencocokkan sepatu dengan varian kakinya masing-masing.

"Sekarang ini banyak orang yang beli sepatu karena banyak dipakai atlet cabang olahraga tertentu. Tapi bisa saja semua atlet pakai sepatu tersebut karena dibayar sponsor tapi kemudian banyak yang cedera," ujar Michael kepada DetikHealth.

Dia menambahkan, jika sepatu yang dijajal terasa enak dan nyaman maka itu sebaiknya yang dipilih. Sebaliknya, jika terasa sakit saat dipakai, sebaiknya dihentikan pemakaiannya.

Selain sepatu yang keren, kaos para pelari zaman sekarang pun penuh gaya. Pakaian lari dengan teknologi drifit atau kaus yang dengan mudah menyerap keringat, celana, dan sportsbra. Merek yang berkualitas baik tidak akan longgar atau mengerut setelah tiga kali pemakaian.

Selain itu ada pula pelari yang merasa membutuhkan pakaian compression yang terdiri dari berbagai macam, mulai dari kaos kaki, sleeve untuk betis, celana pendek sebatas paha, celana panjang sampai mata kaki, bahkan full body suit yang menyerupai pakaian selam.

Pakaian lari ini menawarkan konsep medis yang sudah terbukti sejak lama: pakaian yang ketat dapat membantu peredaran darah dan limfatik (getah bening).

Pakaian compression yang ketat ternyata membantu darah dan oksigen untuk mengalir lebih banyak ke area otot yang terbungkus oleh compression dan mengakomodasi pembuangan hasil kinerja otot.

Sepatu lari mahal tak selalu bagus. Malah seringkali lebih buruk kualitasnya dari yang murah.

Bantuan terhadap proses kinerja otot ini meningkatkan kapasitas otot untuk memproduksi energi dan mendukung pelari untuk berlari secara lebih efisien. Riset yang dilakukan di University of Newcastle menemukan bahwa pakaian compression untuk tubuh bagian bawah meningkatkan aliran darah dan menurunkan detak jantung saat sesi lari jarak jauh intensitas tinggi - mendukung teori bahwa kaos kaki compression membantu performa.

Harga celana legging Under Armour khusus untuk lari berkisar antara USD29,24 (Rp380 ribu) sampai USD64,99 (sekitar Rp847 ribu) per helai. Sementara itu pakaian khusus lari dari Nike yang dijual di situs Blibli.com merentang antara Rp170 ribu hingga Rp720 ribu per helai.

Asesoris lain yang banyak digunakan para pelari zaman sekarang adalah gawai sandangan (wearable). Alat canggih ini biasanya digunakan untuk dapat mengetahui berapa jumlah kalori yang terbakar ketika mereka sedang berlari dan berapa jarak yang sudah ditempuh. Ada pula pelari yang memanfaatkan ponsel cerdas untuk memantau kinerja kebugarannya sekaligus bisa membagikan data kebugaran ke akun media sosial.

Meski penggunaan sandangan semakin mengetren, ternyata alat ini tidak efektif untuk menurunkan berat badan penggunanya. Studi dua tahun yang hasilnya sudah diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) melibatkan nyaris 500 sukarelawan di University of Pittsburgh yang kelebihan berat badan yang diminta menjalani diet dan berlatih kebugaran lebih banyak.

Ternyata penurunan berat badan orang-orang yang masuk dalam kelompok pengguna sandangan lebih rendah daripada kelompok orang yang tidak menggunakan sandangan.

Peneliti mengatakan kepada BBC bahwa itu bukan berarti bahwa orang sebaiknya tidak menggunakan sandangan yang berteknologi canggih sama sekali, namun sebaiknya orang tidak menggunakan gawai ini dengan tujuan untuk menurunkan berat badan.

"Dalam konteks ini, sandangan tidak boleh jadi andalan sebagai alat untuk mengontrol berat badan di samping konseling perilaku yang efektif untuk diet dan aktivitas fisik," kata John M. Jakicic, PhD yang melakukan penelitian tersebut, dikutip dari ScienceDaily.

Harga wearable di toko daring Bhinneka.com merentang antara ratusan ribu rupiah hingga sekitar Rp10 juta untuk yang paling mahal, yaitu SUUNTO Elementum Aqua Black Rubber. Alat canggih ini mampu mengukur ketinggian dan menampilkan tren cuaca, termasuk menampilkan kompas tiga dimensi bagi orang yang suka berlari di alam liar.

Setelah sepatu, celana, kaus dan gawai sandangan, pelari zaman sekarang juga masih membutuhkan armband, jaket, botol minum, topi, kacamata, jam, bando, tas pinggang, tongsis (tongkat narsis). Masing-masing mempunyai rupa dan harga yang berbeda-beda.

Usai melengkapi peralatan untuk berlari dan latihan dengan teratur, saatnya untuk mengikuti lomba lari. Beberapa tahun lalu biaya pendaftaran lomba lari berkisar di bawah seratus ribu rupiah. Kini lomba lari yang mengundang atau berusaha menarik kedatangan pelari-pelari internasional bahkan meminta para peserta membayar dengan mata uang asing dan dengan jumlah yang tidak sedikit.

Biaya pendaftaran Jakarta Marathon tahun ini bervariasi, tergantung jarak. Full marathon menarik biaya Rp900 ribu, half marathon (Rp750 ribu), 10K (Rp600 ribu), 5K (Rp250 ribu) dan 1K (Rp150 ribu).

Sementara itu lomba lari NYC Marathon yang membutuhkan tim staf penuh waktu, bujet tahunan dalam kisaran miliaran dolar, dan sponsor korporasi besar mematok biaya pendaftaran antara USD216 sampai USD347 (sekitar Rp2,8 juta) sampai Rp4,5 juta). Itu untuk lomba dua tahun lampau.

Lari memang mahal jika ingin dilakukan dengan bergaya. Namun bukan berarti tertutup kemungkinan bagi para pemula untuk bisa menikmati berbagai manfaat lari bagi kesehatan tanpa perlu merogoh kantong terlalu dalam.

Saran bagi yang ingin memulai lari

Siapapun tahu bahwa sebenarnya olahraga berlari bisa dilakukan nyaris tanpa biaya. Semua orang bisa berlari tanpa perlu mengenakan sepatu yang keren dan tanpa kaus yang bagus yang harganya selangit.

Dibandingkan jenis olahraga lainnya, lari memang yang paling mudah dan praktis. Namun bukan berarti latihan fisik ini bisa sembarangan dilakukan.

Hanya perlu persiapan fisik yang prima untuk memulai olahraga lari. Dokter spesialis kesehatan olahraga Hario Tilarso mengatakan, lari memang mudah dilakukan oleh siapapun. Namun, lari sebaiknya dilakukan sesuai kemampuan.

Pemanasan, peregangan dan pendinginan merupakan siklus atau aturan dasar olahraga manapun, termasuk lari. Melewatkan salah satunya bisa meningkatkan seseorang mengalami cedera ketika berolahraga.

"Intinya jangan lupakan aturan dasar. Sebelum lari pemanasan dulu, setelah itu peregangan. Setelah lari juga lakukan pendinginan. Ini penting supaya otot tidak cedera," ujar dr Grace Tumbelaka, SpKO dari RS Jakarta.

"Boleh joging (lari pelan) semampunya atau diselingi dengan jalan kaki. Jangan lari terlalu cepat. Sesuai kemampuan saja dulu," terang Hario kepada KOMPAS.com.

DuniaLari.com menyebutkan beberapa pemula akan terlalu bersemangat dan mencoba untuk langsung berlari, merasa kesulitan, dan kemudian menyerah. Orang yang belum terbiasa menjalani hidup aktif akan lebih baik bila memulai latihan dengan berjalan untuk membangun staminanya sebelum mengajaknya mulai berlari.

Teman berlari menjadi pengingat jika sewaktu-waktu Anda enggan berlari karena malas.

Mulailah dengan berjalan selama 30 menit setiap harinya. Setelah terbiasa dan berjalan selama 30 menit mulai terasa mudah, mulailah untuk berlari pelan.

Saat berlari tak perlu sampai terengah-engah atau kehabisan napas. Jangan sampai dehidrasi atau kehabisan cairan tubuh. Baik pelari pemulau maupun pelari yang sudah berpengalaman wajib minumlah sebelum, saat lari, maupun sesudah lari untuk mengganti cairan dalam tubuh.

Situs Futuready menyarankan agar sejam sebelum lari minum air putih sebanyak 470 ml hingga 700 ml. Berhentilah minum agar tidak perlu mencari toilet ketika berlari. Tetapi bila takut dehidrasi ketika berlari, minumlah cukup 120 - 230 ml saja.

Gunakan rasa haus untuk mengetahui apakah Anda butuh cairan. Umumnya para pelari minum setiap 20 menit sekali. Bila lama lari Anda 90 menit atau lebih, konsumsi sports drink. Jangan lupa, minum air putih atau sports drink kembali setelah selesai lari.

Saat sedang berlari, berhentilah jika kepala terasa pusing. Biasanya, jika baru pertama kali lari badan akan terasa pegal atau sakit otot yang berlebihan.

"Biasanya akan hilang 3-4 hari karena sudah beradaptasi," lanjut Hario.

Lakukan cukup 15-20 menit dalam sehari. Cobalah 3 kali seminggu terlebih dahulu. Pekan berikutnya, kecepatan berlari dan lamanya lari boleh ditambah. Tambahlah jarak 10 persen dari jarak sebelumnya. Untuk pemula pun bisa mengikuti lari sejauh 5 kilometer. Jika sudah terbiasa lari, koreksi teknik lari apakah sudah benar.

Saran Reza Puspo, founder Indo Runners, bagi para pemula lari patut juga diperhatikan. Reza juga menyarankan agar para pemula mencari teman saat mulai berlatih lari. Mengapa? Sulit untuk "mempertahankan" niat berlari tanpa ada teman. Teman yang juga memiliki niat sama bisa menjadi pengingat jika sewaktu-waktu Anda enggan berlari karena malas.

"Saya selalu sarankan juga dalam 7 hari sisihkan 2-3 hari, paling tidak masing-masing 30 menit, untuk berlari. Jangan merasa lari itu seperti lomba, lomba lari itu hanya untuk atlet," papar Reza kepada DetikHealth.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR