Seorang pendukung  PSS Sleman yang tergabung dalam Brigata Curva Sud (BCS) berpose dengan menutup wajahnya di Stadion Maguwoharjo, Sleman, (01/10/2017). © Reza Fitriyanto / Beritagar.id

Sihir dari tribune selatan

Mereka mengharamkan politik masuk tribune.

Dukungannya pada PSS Sleman tak bisa dianggap main-main. Tak peduli timnya menang atau kalah. Mereka tetap meneriakkan chants, menabuh genderang dan mengibarkan bendera untuk menyemangati. Itulah Brigata Curva Sud (BCS), suporter penguasa tribune selatan Stadion Maguwoharjo Sleman.

Seperti Rabu (20/9/2017) petang itu, saat skuad berjuluk Super Elang Jawa ini menjamu Cilegon United FC. Tendangan kick off di lapangan langsung disambut koor "Sampai Kau Bisa" dari penghuni tribune selatan. Lagu itu semacam himne wajib yang dinyanyikan di awal pertandingan sembari membentangkan syal.

Berikutnya drum ditabuh bertaluh-taluh mengiringi irama chants yang lebih cepat. Mereka menyanyi sekaligus melompat ke kanan dan ke kiri, bersama-sama. Dari kejauhan terlihat tribune seolah bergoyang. Stadion bergemuruh.

Tak sia-sia. Di menit pertama, tendangan Muhammad Bagus Nirwanto dari luar kotak pinalti melesak tepat sasaran, menjebol gawang kiper Cilegon, Rafit Ikhwanudin.

"Siapa yang tak grogi kalau disoraki orang satu tribune seperti itu," kata Ahmad Mustaqim, seorang jurnalis sebuah media online, mengomentari gol cepat dari PSS Sleman itu.

Pertandingan berakhir gemilang. PSS Sleman unggul dengan skor 2-1 lawan Cilegon United FC.

Brigata Curva Sud adalah satu dari dua kelompok suporter PSS Sleman. Berbeda dengan Slemania, kelompok suporter lain PSS Sleman, BCS menganut ideologi Ultras.

Terbentuk pada 2012, mereka terinspirasi gerakan suporter Ultras Italia. Nama Curva Sud, yang bermakna "tribune selatan", berasal dari bahasa Italia.

Mulanya, suporter BCS adalah Slemania. Mereka duduk di tribune utara dalam tiap pertandingan bola di Stadion Maguwoharjo. Dalam perkembangannya, sebagian suporter menyeberang ke tribune selatan. Di tribune baru inilah nama mereka berjaya dengan aksi kreatif mendukung tim kesayangan.

Sejak wasit meniup peluit panjang tanda dimulai, BCS tak henti menyanyi, meneriakkan yel-yel, menabuh drum dan mengibarkan bendera berukuran besar. Tak ada yang duduk hingga laga berakhir.

Laiknya suporter Ultras pada umumnya, BCS tak punya struktur kepengurusan. No leader just together. Kreativitas mereka di tribune membuat decak kagum.

Pada pembukaan piala presiden 4 Februari 2017, aksi koreografi BCS menampilkan elang Jawa berhasil memukau Presiden Joko Widodo. Di bulan yang sama, Copa 90, situs pecinta bola dunia, menempatkan BCS di urutan pertama dalam "Top 5 Incridible Asian Ultras."

Meski tak ada kepengurusan resmi, BCS punya koordinator wilayah. Mereka melayani penjualan tiket, menyampaikan informasi jadwal pertandingan dan mengoordinasikan keberangkatan suporter ketika pertandingan luar kota.

BCS membagi wilayah (sezione) menjadi empat; timur, barat, selatan dan utara. Basisnya komunitas-komunitas kecil yang menggabungkan diri. Saat ini, tercatat ada 366 komunitas yang mendukung BCS.

Mereka sangat loyal mendukung tim kesayangan. Di mana pun PSS Sleman bertanding, tak peduli kandang maupun tandang, mereka tetap mengikuti. "Biar panas atau hujan tetap berangkat," kata Suwaryana (38), warga Turi, Sleman bercerita tentang anak sulungnya, Anggit Akbar Amanah.

Anggit, remaja berusia 14 tahun siswa kelas 2 SMP, seorang suporter PSS Sleman. Awaydays PSS Sleman terakhir yang diikutinya adalah ketika bertanding melawan Pesibat di Stadion M.Sarengat Batang, Jawa Tengah, Minggu (14/5/2017).

Di partai kandang, ia tak pernah absen datang ke Stadion Maguwoharjo. Di sana, remaja difabel itu selalu memilih berdiri di tribune selatan sebagai lokasi favoritnya. "Saya suka chants mereka, kreativitasnya juga bagus," kata Anggit.

Satu hal lain yang tak pernah ia lewatkan. Ia selalu membeli tiket pertandingan. "No ticket no game," katanya.

BCS, selain menerapkan prinsip no leader just together, juga no ticket no game bagi anggotanya. Prinsip lainnya, mereka mengharamkan politik masuk tribune meski tak melarang anggotanya memberikan hak suara pada Pemilu. "Batas kami pagar tribune," kata Agatha, suporter BCS lain, Jumat (8/9/2017).

Sama dengan Anggit, perempuan 18 tahun itu juga tak pernah absen mengikuti laga tandang. Tapi keduanya kini, juga ribuan anggota BCS lain, harus bersabar.

Akhir Juli 2017 lalu, Komisi Disiplin PSSI menjatuhkan sanksi bagi PSS Sleman berupa larangan ditemani suporter dalam laga away. Sanksi itu buntut dari kerusuhan suporter paska laga tandang melawan Persibas di Banyumas, 13 Juli 2017.

Kecewa? Tentu saja, kata Agatha. Tapi, ia memilih mematuhi sanksi itu. Memaksa datang ke pertandingan tandang dengan mengenakan atribut BCS justru akan merugikan PSS Sleman.

Menurut dia, BCS bukan holigan yang suka bikin onar. Bagi Ultras, aksi dukungan jangan sampai berbuah kerugian tim kesayangan. "Itu kejadian yang dibuat oleh segelintir orang," katanya.

Pendukung PSS Sleman berteriak dari tribun 'Curva' Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, (02/10/2017).
Pendukung PSS Sleman berteriak dari tribun 'Curva' Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, (02/10/2017).
© Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Chants di balik suporter

Malam kian larut tapi suasana St. Bier bertambah panas. Pendukung BCS terus berdatangan menyesaki bar di Condongcatur, Sleman itu. Bagi pendukung setia tribune selatan itu, launching album kompilasi "Untuk PSS #3" yang digagas Elja Radio, Jumat 8 September 2017, sekaligus pesta.

10 band pengisi album hampir rampung menampilkan musik mereka ketika tiba giliran S.J.V.N.R naik ke atas panggung. Sekujur penonton langsung bersorak menyambutnya.

Euforia pecah saat duo vokalisnya, Agatha dan Jationo, membawakan lagu-lagu mereka. Penonton merangsek ke bawah panggung. Mereka berjingkrak, moshing dan ikut menyanyikan lagu. Chants PSS Sleman pun bergaung hingga ke luar bar. "Chants itu adalah doa," kata Agatha.

Chants dalam bahasa Inggris bermakna nyanyian. Tapi bagi para suporter bola kata itu lebih dimaknai doa untuk kemenangan timnya. Chants PSS Sleman yang digaungkan BCS di tiap pertandingan hampir seluruhnya lahir dari kelompok ini, S.J.V.N.R.

"Bisa lebih dari satu, lebih dari 10 atau bahkan lebih dari 20," katanya menyebut jumlah chants PSS Sleman yang dilahirkan S.J.V.N.R.

Menurut Agatha, S.J.V.N.R sebenarnya tak bisa disebut sebagai band. Karena dalam tiap pementasan, pemain musiknya selalu berganti. Ia sendiri mengaku baru beberapa bulan bergabung karena diminta menyanyikan lagu berbahasa Inggris.

Meski pemusik berganti dan vokalis bertambah, S.J.V.N.R tak pernah berganti vokalis utama, yakni Jationo. Di kalangan para suporter PSS Sleman, baik Slemania dan BCS, ia dikenal dengan nama Jatek.

Ketika BCS belum lahir, ia dikenal sebagai suporter Slemania. "Sampai sekarang ia juga Slemania," kata seorang suporter BCS yang tak mau disebut namanya.

Meski seorang Slemania, Jatek diterima di kalangan BCS. Alasannya, kata sumber itu, Jatek orang yang fleksibel. Beberapa chant memang ia ciptakan. Tapi beberapa dibuat bersama-sama suporter lain dan Jatek yang mempopulerkannya. Salah satunya, lagu "Kulihat, Kudukung, Kubanggakan."

© Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Dari toko turun ke radio

BCS membangun kemandirian ekonomi Curva Sud Shop. Bermula dari rumah kontrakan, kini distronya menempati ruko dua lantai di Jalan Delima Raya Condongcatur, Sleman. Distro itu menjual atribut dan aksesoris BCS.

Dari kaos, syal, topi, badge, tas hingga sepatu. Tiap tahun, mereka tak pernah lupa membagi keuntungan pada klub.

Pada awal berdirinya, sekitar 2011, CSS hanya mampu menyumbangkan seragam klub. Bentuknya, kaos yang dipakai pemain dalam perjalanan menuju kota tempat pertandingan.

Popularitas BCS dan prestasi PSS Sleman ikut mendorong perkembangan bisnis CSS. Tahun lalu, CSS menyumbangkan Rp50 juta keuntungannya pada PSS Sleman. Tahun ini, mereka menyumbangkan alat fitnes bagi para pemain.

Tahun ini, CSS bekerjasama dengan Elja Radio membidani kelahiran album kompilasi "Untuk PSS #3". Dalam peluncurannya, di St. Bier pada Jumat (8/9/2017), album berisi rekaman 10 band itu dijual sepaket dengan buku sejarah PSS Sleman dan syal dengan harga Rp180 ribu.

"Dari hasil penjualan tetap ada sharing ke klub," kata pimpinan produksi Elja Radio Syahrul Ramadhan, Jumat (22/9/2017).

Elja Radio berdiri pada 2013. Elja singkatan Elang Jawa, julukan bagi PSS Sleman. Mulanya, meski mengaku sebagai radio komunitas, radio ini hanya memutar lagu-lagu band lain yang populer. Tak ada lagu-lagu berbau dukungan pada tim favorit mereka. "Radio suporter kok muter lagu bebas," katanya.

Gagasan pun muncul. Elja Radio membuka audisi menciptakan lagu bertema dukungan pada PSS Sleman. Band yang lolos audisi mendapatkan kesempatan rekaman.

Elja Radio memproduksi 250 keping albumnya dan memasarkannya. Maka lahirlah "Untuk PSS #1". Album itu digagas produksinya tiap musim pertandingan.

Modal awal untuk membiayai rekaman dan produksi album berasal dari penjualan kaos merchandise Elja Radio.

Sukses dengan "Untuk PSS #1", Elja Radio kembali memproduksi album kedua. Sayang album kedua ini tak menemukan gairah. Tiga minggu setelah diluncurkan, organisasi sepak bola dunia FIFA menjatuhkan sanksi (banned) pada Indonesia. Lagu dalam "Untuk PSS #2" menguap tak sepopuler lagu sebelumnya.

Elja Radio menempati studio di ruko yang sama dengan CSS. Selain memutar lagu-lagu bertema dukungan pada PSS Sleman, Elja juga menjadi ajang komunikasi dan penyebaran informasi BCS. Siarannya sejak sore hingga malam. Tapi tak jarang hingga subuh tak berhenti.

Selain radio, Syahrul juga mengelola Elja TV. Siaran televisi streaming itu berdiri pada 2014.

Elja TV menawarkan live streaming pertandingan PSS Sleman. Harga berlangganannya seharga tiket di stadion. Calon penontonnya harus mendaftar terlebih dahulu. Biasanya, pendaftar yang sedang di luar kotalah yang diterima.

Selain itu, Elja TV juga punya kanal di Youtube dengan jumlah pelanggan mencapai 21 ribu orang.

Banyak pendaftar datang dari luar kota. Mereka biasanya orang Sleman yang berdomisili di luar kota. Entah karena urusan kerja atau sekolah. Saat ini, anggota BCS bahkan merambah hingga ke luar daerah.

Singgih Aji Susilo, salah satunya. Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta asal Demak, Jawa Tengah itu kini keranjingan nonton pertandingan PSS Sleman. "Antusiasme suporternya yang tinggi membuat saya terbawa," katanya.

Bersama dua temannya, sesama mahasiswa UNY, ia membentuk band Mooi Indie. Seorang di antaranya, Ilham Iqomatudien, berasal dari Srumbung, Magelang. Lagu mereka tercatat dalam album kompilasi "Untuk PSS #3".

Bayu Aji Nugraha, vokalis Sangwilis, band pengisi album "Untuk PSS #3" yang lain, mengatakan para suporter BCS memang berkembang melintas batas wilayah.

Tak hanya Sleman, tapi juga kota-kota di sekitarnya. Cerita itulah yang mengilhami lahirnya band mereka menuliskan lagu berjudul "Bangga dan Bersama". "Ini kebersamaan dalam mendukung tim PSS," katanya.

Anang Zakaria
Kontributor Beritagar.id Yogyakarta.

BACA JUGA