Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Tangerang, Banten.
Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Tangerang, Banten. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
BUI WARISAN KOMPENI

Sihir di sel pianis Hongaria

Pianis masyhur Lili Kraus pernah ditahan dalam lapas ini. Lebih dari 70 tahun kemudian, muncul pemusik lain: grup band Trallis.

Tanah Tinggi, Tangerang, 1928.

Kondisi penjara-penjara di Batavia (nama Jakarta dahulu) awal abad ke-20 sudah kadung pol. Nyaris tak memungkinkan lagi melakukan segregasi berdasarkan umur dan jenis kelamin. Tumplak semuanya dalam satu hunian.

Pemerintah Belanda yang kala itu menjajah Indonesia akhirnya membangun penjara baru yang khusus untuk remaja. Sifatnya sebagai tempat pembinaan dan pendidikan alih-alih hukuman.

Daya tampung satu blok sel tidak boleh lebih 50 orang. Menyediakan lebih banyak ruang terbuka, bangunannya tidak berdempet-dempetan, dan desainnya mirip rumah. Inspirasinya dari Borstal System milik Kerajaan Inggris yang diperkenalkan sejak 1902.

Gubernur Hindia Belanda Andries Cornelis Dirk de Graeff memerintahkan Departemen Pekerjaan Umum dan Sipil (Departement van Burgerlijke Openbare Werken) mendirikan jeugdgevangenis atawa penjara anak remaja.

Ada tiga penjara khusus remaja yang kemudian didirikan. Semuanya di kawasan Tangerang yang dahulu masih termasuk wilayah Batavia. Salah satunya sekarang kita kenal dengan nama Lapas Anak Wanita Kelas II B yang pembangunannya rampung 1928.

Periode awal sejak didirikan, pengelolaan lapas diberikan kepada The Land Opvoedings Gesticht alias Yayasan LOG. Lalu sejak 1934 diserahkan kepada Yayasan Pro Juventute.

Saat Jepang gantian menjajah Indonesia pada 1942, tempat ini digunakan sebagai rumah tahanan perang untuk anak-anak dan wanita Belanda yang akan dikembalikan ke negara asalnya.

Pada masa ini pula tertinggal sebuah kisah penahanan seorang pianis masyhur bernama Lili Kraus (3 April 1903 – 6 November 1986).

Ceritanya Kraus hendak mengadakan tur di kawasan Asia Pasifik. Hindia Belanda termasuk negara tujuan resital.

Nahasnya, Jepang yang gantian menjajah Indonesia dari tangan Belanda langsung menginternir semua warga negara asing, termasuk Kraus.

 Warga binaan sedang berjalan di lembaga pemasyarakatan Tangerang.
Warga binaan sedang berjalan di lembaga pemasyarakatan Tangerang. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
Bangunan tua yang tetap dipertahankan di Lembaga Pemasyarakatan Tangerang.
Bangunan tua yang tetap dipertahankan di Lembaga Pemasyarakatan Tangerang. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
Museum di Lembaga Pemasyarakatan Tangerang.
Museum di Lembaga Pemasyarakatan Tangerang. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Dalam buku Lili Kraus: Hungarian Pianist, Texas Teacher and Personality Extraordinaire (Texas Christian University Press, 2000), pianis kelahiran Hungaria ini ditangkap mulai 29 Juni 1943.

Sempat dua kali menghuni penjara berbeda di Batavia, Pemerintah Jepang pada Desember 1943 akhirnya membawa Kraus ke Tanah Tinggi, Tangerang, tempat Lapas Anak Wanita Kelas II B sekarang berada.

Mengetahui akan kedatangan seorang pianis andal, perwira Jepang yang menjabat kepala lapas kala itu langsung mengirimkan seorang penjaga untuk menjemput Kraus.

Sebuah piano upright juga sudah diletakkan di area utama bagian kantor penjara yang memanjang dari sisi utara ke selatan. Kraus pun dipersilakan bermain.

Komandan kamp menghentikannya setelah bermain sekitar setengah jam. Ketika bermain, jendela-jendela sengaja dibuka agar memungkinkan seluruh tawanan mengalami momen luar biasa tersebut.

Demi terhipnotis jemari Kraus yang rancak menjelajahi tuts piano, para tawanan lain akan berlomba menyelesaikan pekerjaan mereka lebih cepat saban Kraus bermain.

"Semua yang cukup sehat datang dan berjongkok saling berdekatan di lantai ubin yang rusak. Kami semua mendengar dia bermain dalam keheningan total. Ketika akhirnya dia selesai, kami bangkit dan berjalan diam-diam. Banyak di antara kami yang menangis dengan sedihnya," kisah seorang tawanan.

Oktober 1945, seturut kekalahan Jepang atas sekutu, Kraus akhirnya bebas. Palang Merah Inggris langsung menerbangkannya ke Australia.

Kraus mengenang hari pembebasan tersebut dalam bukunya. "Akhirnya orang Jepang membaca deklarasi bahwa perang telah berakhir. Mereka menyarankan tetap tinggal di kamp karena di luar sangat berbahaya, tapi kami tidak peduli. Semuanya pergi berhamburan."

Data warga binaan lapas kelas II B anak wanita Tangerang, Banten
Data warga binaan lapas kelas II B anak wanita Tangerang, Banten | Beritagar.id /Kemenkumham

Tanah Tinggi, Tangerang, 2019

Bersama fotografer Wisnu Agung Prasetyo, saya mengunjungi lapas berbentuk persegi ini selama dua hari (25-26 Februari).

Model bangunannya asimilasi antara gaya Eropa dengan lokal. Atapnya berbentuk pelana atau limasan. Seperti bangunan tradisional Jawa.

Kekhawatiran awal bahwa kondisinya akan serupa dengan apa yang selama ini saya lihat dalam berbagai tayangan, semisal serial Prison Break, dokumenter bersambung Inside the Worlds Toughest Prisons, atau film The Raid 2: Berandal lenyap seketika.

Lingkungan penjara yang serba pengap, kotor, sesak, kaku, dan terkadang diwarnai kekerasan tak kami jumpai selama berkunjung di tempat ini.

Pemandangan asri, bersih, dan rapi justru lebih mencolok mata. Sesama warga binaan dengan petugas juga guyub. Mereka menyambut ramah kedatangan kami dan tak pelit berbagi cerita.

Bangunan-bangunan lama peninggalan Belanda juga masih terawat. Semisal Paviliun Kenanga yang terletak di sisi utara atau Paviliun Mawar yang berada di seberangnya.

Laiknya rumah, tidak ada pintu baja berlapis-lapis di paviliun ini. Beda cerita saat kami melongok Paviliun Melati, blok sel yang dibangun belakangan seiring bertambahnya jumlah warga binaan.

Semua jendela di bangunan lama memiliki dua daun berbahan kayu dengan kisi-kisi. Bagian atas dilengkapi lagi ventilasi udara dengan terali besi yang terpasang vertikal. Ini ciri khas bangunan ala Belanda untuk menyesuaikan iklim tropis di Tanah Air.

Saat melongok genteng bangunan, samar tertulis “Tan Liok Tiauw. Batavia, Java”, sebuah perusahaan industri genteng dan batu bata masyhur milik Tan Liok Tiauw Sia (1872-1947).

Ada banyak gedung atau bangunan peninggalan Belanda menggunakan genteng merek ini. Salah satunya Nederlandsche Handles Maatschappij yang kini menjadi Museum Bank Mandiri di Kota Tua, Jakarta Pusat.

Menurut penuturan Leony Paramitha yang sudah dua tahun menghabiskan waktunya sebagai warga binaan, kondisi lapas yang kondusif seperti ini membuat sisi psikologisnya tidak semakin terpuruk.

Hal tersebut diamini Mutiara Rahma, Olif Ayunia Fitri, dan Erna Handayani, rekan Oce --panggilan akrab Leony-- yang tergabung dalam kelompok musik Trallis.

Kuartet ini bahkan dengan jujur menceritakan kisah mengapa bisa menghuni lapas ini. Sesekali antara mereka saling menimpali nahas yang menimpa kawannya dengan kelakar.

“Di sini saya mendapat banyak tambahan pengetahuan. Belajar introspeksi diri dan saling berbagi kebisaan. Sisi religus kami juga semakin terasah. Pokoknya jauh dari penggambaran kebanyakan orang yang bilang penjara itu menyeramkan,” ungkap Oce yang sebelumnya biasa menyanyi dan menjadi pembawa acara.

Dikisahkan Oce, kelompok musik Trallis yang terbentuk menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun lalu berawal dari kegiatan ekstra kurikuler lapas. Makanya mereka sempat mengusung nama Ekspas.

Warga binaan lembaga pemasyarakatan Tangerang sedang berolahraga.
Warga binaan lembaga pemasyarakatan Tangerang sedang berolahraga. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
Kegiatan warga binaan di lembaga pemasyarakatan Tangerang.
Kegiatan warga binaan di lembaga pemasyarakatan Tangerang. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
Warga binaan lembaga Pemasyarakatan Tangerang sedang melakukan kegiatan menari.
Warga binaan lembaga Pemasyarakatan Tangerang sedang melakukan kegiatan menari. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Hingga kini Trallis sudah punya enam lagu ciptaan. Cukup untuk sebuah mini album. Lirik lagu-lagunya berisi doa, harapan, kepasrahan, dan bagaimana menghabiskan hari-hari selama di lapas.

Produktivitas dalam mencipta tak lepas dari andil para petugas di lapas ini yang senantiasa memotivasi mereka. Satu figur utama yang mereka sebut adalah kehadiran Prihartati sebagai Kalapas Anak Wanita Kelas II B Tangerang.

Warga binaan di sini menyapanya dengan sebutan Bu Jeger. Kami bertemu dengannya pada hari kedua kunjungan. Sosoknya energik, tempo bicaranya cepat dengan artikulasi jelas, humoris, tapi tegas.

“Beliau itu sangat suportif dan merakyat banget lah istilahnya. Mau membaur dengan kami warga binaan. Kalau kami duduk di bawah, beliau juga duduk di bawah. Selain itu juga tidak ada perlakuan berbeda di antara warga binaan. Kami di sini menganggap beliau seperti ibu kami sendiri,” pungkas Oce.

Sebelum memutuskan pulang, kami berkesempatan menyaksikan Trallis latihan. Tempatnya di aula yang terletak di bagian selatan lapas ini.

Bermula dari intro sepanjang empat bar, Oce melantunkan lagu bertajuk “Terima Kasih”. Liriknya berkisah seperti ini:

Kami hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa.

Kami hanya punya sebuah cerita .

Tuhan yang tahu segalanya. Jangan pernah menyangka semua akan indah pada waktunya.

Di Lapas Anak Wanita, kita perlu berkarya dengan penuh suka cita.

Ibu Prihartati kita, teruslah kau berjuang dan ikut membina kita.

Tak akan kami sesali semua keadaan ini, kami penuhi janji sampai bebas nanti.

Meminjam kesaksian mantan rekan Lili Kraus di tempat yang sama ini lebih dari tujuh dekade silam, saya mendengarkan mereka bermain dalam keheningan pula. Ketika akhirnya mereka selesai, yang tersisa adalah rasa kagum dan takzim.

Warga binaan lembaga pemasyarakatan Tangerang sedang menjemur pakaian.
Warga binaan lembaga pemasyarakatan Tangerang sedang menjemur pakaian. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
Artikel Terkait