Sejumlah wisatawan asing berwisata ke Pantai Karangjati Nusakambangan. Mereka menyebut pulau ini Pulau Surga
Sejumlah wisatawan asing berwisata ke Pantai Karangjati Nusakambangan. Mereka menyebut pulau ini Pulau Surga Aris Andrianto / Beritagar

Sisi lain Nusakambangan

Nusakambangan bukan hanya penjara. Sejarahnya terbentuk karena komoditas karet. Hingga kini, wisatanya yang menarik turis asing.

Setiap jelang pengumuman hukuman mati, nama Nusakambangan kembali bergaung. Pulau yang kerap disebut Alcatraz-nya Indonesia ini memang akrab dengan para narapidana dengan kejahatan berat. Mereka yang sudah divonis mati dan dipindah ke pulau penjara ini, tinggal menunggu waktu eksekusi.

Namun, Nusakambangan menyimpan cerita lain. Sejak zaman Hindia Belanda, hingga kini saat ancaman lingkungan mendera. Nusakambangan juga menyimpan potensi wisata. Bahkan, wisatawan mancanegara menyebut pulau ini sebagai Paradise Island.

Sudah 20 tahun, Hasan Makarim memikul tugas yang tak mudah. Ia harus menyiapkan mental terpidana mati sebelum menghadapi regu tembak. Beberapa di antara mereka, sudah menyimak pengajiannya selama bertahun-tahun.

Setelah muncul kabar eksekusi mati jilid 3, Hasan menjadi tumpuan informasi kabar informasi. Tapi kabar itu belum juga muncul. "Biasanya memang ada surat penunjukkan untuk mendampingi mereka," kata Hasan, dua pekan lalu.

Salah satu yang menanti regu tembak itu adalah Freddy Budiman. Terpidana kasus narkotika itu terancam ikut dieksekusi mati setelah hakim menolak peninjauan kembali kasusnya. "Saya sudah siap dieksekusi," kata Freddy pasrah di Pengadilan Negeri Cilacap. Jika hukuman jadi dilaksanakan, Freddy akan dieksekusi di Nusakambangan.

Duo anggota Bali Nine, kasus narkotika lainnya, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan juga harus menjalani mengakhiri hayat di depan regu tembak. Demikian dengan terpidana mati lainnya. Trio terpidana kasus terorisme Bom Bali I, Muklas, Ali Imron, dan Imam Samudra meregang nyawa setelah tertembus peluru regu tembak.

Sejumlah wisatawan asing piknik di Pantai Karangjati di ujung barat pulau Nusakambangan itu. Mereka menyebutnya pulau surga karena tak ada orang lain yang pergi ke sana.
Sejumlah wisatawan asing piknik di Pantai Karangjati di ujung barat pulau Nusakambangan itu. Mereka menyebutnya pulau surga karena tak ada orang lain yang pergi ke sana. | Aris Andrianto /Beritagar

Pulau Nusakambangan akrab dengan cap pulau eksekusi, Namun Nusakambangan memiliki wajah lain. Pulau di selatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah ini dikenal sebagai tujuan wisatawan lokal dan mancanegara.

Pada 14 Juni lalu, sedikitnya 25 orang dari berbagai negara kedapatan sedang berpesta di Pantai Kalijati Nusakambangan. Pantai ini letaknya memang tersembunyi. Berada di ujung barat pulau, Kalijati bisa diakses melalui Pantai Pangandaran Jawa Barat. Sambil menenggak bir dan berjemur di pantai, turis asing itu mengadakan pesta kecil. Beberapa di antaranya berenang di pantai yang cukup dangkal.

Yatino Sambas, 48 tahun, pemandu wisata dari Pangandaran mengatakan, baru tiga kali ini mengantar wisatawan berlibur ke Nusakambangan. "Mereka sedang berlibur di Pangandaran dan saya ajak ke sini," katanya.

Yatino mengatakan, paket wisata Paradise Island memang bagian dari paket wisata Pangandaran setelah wisatawan ke grand canyon di Pangandaran. Ia mengakui memang tak menginformasikan pada wisatawan yang ia pandu bahwa tempat yang mereka tuju itu, merupakan bagian dari pulau penjara Nusakambangan dan semestinya tak dikunjungi. Tiga tahun terakhir, ia mengantar wisatawan asing ke ujung barat pulau Nusakambangan ini. "Tahun ini baru ngantar ini. Satu tahun sekali," kata Yatino.

Ia tetap nekat memandu ke Pantai Kalijati Nusakambangan meski mengetahui terlarang, Yatino menyatakan ia hanya menjalankan tugas dari biro perjalanan wisata tempat ia bekerja. Yatino mengaku tak tahu ongkos yang harus dirogoh para wisatawan itu. Tapi ia sendiri diberi upah Rp1 juta untuk memandu. "Saya tidak ada niat melanggar apapun, saya hanya cari uang saja," ujar yatino.

Di pantai itu, mereka mendirikan satu tenda yang bertuliskan free & easy traveler. Batang-batang kayu berjajar untuk api unggun. Delapan krat bir dan sejumlah mimunan beralkohol disimpan di gubuk samping tenda. Godfrey Benjamin Mark, 28 tahun, warga Kanada memimpin puluhan wisatawan asing itu.

Godfrey menyeberang dari Pangandaran Jawa Barat dan tiba di Pantai Kalijati sekitar pukul 12.00 siang. Ia menyatakan tidak mendapat informasi dan tidak mengetahui bahwa pantai yang mereka tuju, merupakan bagian dari pulau Nusakambangan yang merupakan pulau penjara.

Sepengetahuan Godfrey yang akrab disapa Cody ini, pantai yang mereka tuju bernama Paradise Island yang ditawarkan oleh biro wisata dan merupakan bagian paket wisata di Pangandaran. "Saya tidak tahu. Setahu saya ini Paradise Island. Tempat yang sangat indah," katanya.

Lelaki bercambang lebat ini juga bercerita ongkos menuju pantai yang disebut Paradise Island itu USD50 per orang. Pemandu membawa tiga perahu jenis kathir. Cody juga mengakui mereka memang berencana menginap di pantai yang tak berpenghuni tersebut. Ia juga mengatakan membawa banyak bir dari hotel dan tak ada larangan dari siapapun. "Saya juga pertama kali ke sini, sangat indah pantainya," imbuhnya dengan bau alkohol menyengat.

Puluhan wisatawan itu tak mengenal bahwa pulau yang mereka kunjungi itu adalah Nusakambangan. Mereka tak tahu, pulau itu sebagian besar wilayahnya digunakan sebagai tempat untuk menghukum narapidana-narapidana sejak era Hindia Belanda sampai saat ini.

Informasi yang sampai di telinga mereka, pulau itu disebut Paradise Island (Pulau Surga), dan mengira tempat eksotis yang mereka kunjungi tak berpenghuni dan merupakan bagian dari wilayah Pangandaran, Jawa Barat.

Sejarah Nusakambangan, selaras dengan posisinya yang terpencil dan tak terjamah. Menurut sejumlah literatur, pada abad ke-16 puluhan kapal VOC melewati Samudera Hindia. Mereka tersesat dan terdampar di teluk Dick de Vries, pantai barat Pangandaran.

Berawal dari ketersesatan inilah, pada 1739, VOC memerintahkan Paulus Paulusz untuk menyurvei lokasi sekitar dan mengitari Segara Anakan, Teluk Penyu dan Nusakambangan. Dari survei itu, Paulusz berkesimpulan, wilayah tersebut yang dianggap bagian dari pegunungan Sunda dinilai strategis untuk dijadikan pelabuhan di bagian Pantai Selatan Jawa.

Benteng Karang Bolong dan Benteng Banyu Njappa merupakan bukti ingatan akan sistem pertahanan Nusakambangan yang dibangun VOC tahun 1836 untuk menghadapi musuh di seberang lautan. Kala itu, bajak laut adalah musuh yang dianggap momok.

Dalam catatan Kapten Godfrey Philip Baker (1786-1850) seperti yang dikutip Peter Carey dalam Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 Jilid I (2011), menulis:

Para bajak laut Bali, Bugis dan Timor membuang sauh di tempat yang terlindung oleh Nusa Kambangan dan mendayung perahu masuk ke arah hulu lewat kuala dan kali kecil untuk menculik orang dan merampas bahan pangan

Tetapi momok sesungguhnya justru bukan kawanan perompak, tetapi wabah malaria. Awal kisahnya, ketika sistem pengamanan dianggap tak lagi bisa mengandalkan Benteng Karang Bolong dan Benteng Banyu Njappa, maka atas perintah Mayor von Gagern dibangun benteng di ujung Semenanjung Cilacap yang kini dikenal sebagai Benteng Pendem.

Singkat cerita, tahun 1850, malaria menyerang 80 persen penduduk yang turut membangun benteng. Untuk menggantikan mereka, diputuskan menggunakan narapidana sebagai tenaga kerja. Maka, di sekitar benteng Karang Bolong dibangun penjara dari bambu dengan kapasitas 300 narapidana.

Lagi-lagi wabah malaria menyerang di tahun 1862, sehingga pembuatan benteng tersendat-sendat. Demi alasan keamanan, pulau Nusakambangan ditutup untuk penduduk sipil. Baru pada tahun 1869 bagian selatan benteng bisa diselesaikan dengan tenaga para narapidana.

Dari kejadian inilah, cikal bakal Nusakambangan sebagai pulau bui pun mulai terbentuk. Hingga akhirnya tahun 1908 Nusakambangan ditetapkan sebagai Poelaoe Boei atau bijzondestraf gevangenis di bawah pengawasan dan pemilikan Raad van Justitie atau Departemen Kehakiman.

Setelah penetapan itu, di tahun yang sama, di sebelah bagian selatan Nusakambangan dibangun Penjara Permisan dengan daya tampung 700 orang dan mulai dipergunakan pada tahun 1910. Para napi yang ada di Nusakambangan ini, mulai dilibatkan dalam pembukaan hutan untuk dijadikan perkebunan karet.

Karet saat itu sedang jadi primadona perekonomian dunia. Pada tahun 1910-1913 terjadi booming karet dunia atau disebut rubber-boom. Dalam sejarah Statistik Ekonomi Indonesia terbitan Yayasan Obor Indonesia, Pieter Creutzberg dan JTM van Laanen menengarai hal ini menyebabkan terjadinya pengalihan modal secara besar-besaran ke dalam industri perkebunan karet di Hindia Belanda.

Tren global ini turut memperluas lahan karet di Nusakambangan. Dampak dari perluasan perkebunan karet tersebut, jumlah napi yang dikirim ke Nusakambangan makin banyak. Pada tahun 1912 dibangun dua penjara sekaligus yakni Penjara Karang Anyar dan Penjara Nirbaya yang masing-masing bisa menampung 750 orang.

Penjara Batu dibangun pada 1924. Selang tiga hingga empat tahun secara beriringan dibangun tiga penjara yakni, Penjara Besi pada tahun 1927 dilanjut Penjara Gliger dan Penjara Karang Tengah pada 1928. Penjara terakhir yang dibangun di masa kolonialisme Hindia Belnada yakni Limus Buntu pada 1935.

Mengingat titik penekanan Nusakambangan sebagai pulau bui bukan sebagai sekadar tempat penampungan napi, tapi upaya pemanfaatan tenaga napi untuk mendukung kegiatan ekonomi Hindia Belanda. Manajemen kepenjaraan yang dipakai saat itu, open gesticht atau penjara terbuka.

Para napi selayaknya kuli serupa gambaran novelis hindia belanda, M.H Szekely Lulofs. Szekely menulis dua novel 'Berpacu Nasib di Kebun Karet' dan 'Kuli'. Novel ini menggambarkan masa jaya perkebunan karet dan warga pribumi sebagai perintis pembukaan tanah dan diperkerjakan dengan sangat keras.

Dalam sudut pandang kala itu, Nusakambangan mungkin bukan sekadar pulau bui. Tapi tanah seberang yang menggiurkan. Sebuah pulau yang tertutup tapi menyediakan harta karun. Maka dalam sudut pandang ini Pulau Nusakambangan sejatinya adalah pulau surga seperti yang dibayangkan oleh 25 orang turis asing itu. Dalam pandangan mereka, pulau yang mereka kunjungi eksotis, penuh pemandangan yang indah, mengesankan, yang pernah menjadi bagian dari koloni Eropa.

Salah satu lorong di dalam komplek Benteng Pendem Cilacap yang dipercaya menembus lautan hingga berakhir di Pulau Nusakambangan.
Salah satu lorong di dalam komplek Benteng Pendem Cilacap yang dipercaya menembus lautan hingga berakhir di Pulau Nusakambangan. | Aris Andrianto /Beritagar

Sepasang muda-mudi tampak asik bercengkerama di sebuah gazebo bambu. Di Benteng Pendem, di atas bukit itu, keduanya terbuai angin sepoi-sepoi dari laut selatan. Wajah keduanya jauh dari takut dari kesan seram Benteng Pendem.

Benteng Pendem Cilacap selama ini memang lebih terkesan seram dan menakutkan dibandingkan sebagai tempat yang mempunyai nilai sejarah tinggi. "Biasanya kalau hari libur saya datang ke sini," kata Yuli Hastuti, 23 tahun, warga Cilacap yang sedang kongkow dengan pacarnya di Benteng Pendem Cilacap, Selasa (29/6).

Gazebo yang disinggahi Yuli, letaknya persis di atas bukit. Tepat berada di bawah tempat ia berdiri, tertimbun sebuah benteng yang cukup luas. Hanya saja, benteng ini tak cukup terlihat seperti benteng peninggalan Belanda seperti Benteng Van Der Wijk di Kebumen dan Benteng Van Der Burg di Yogyakarta.

Sesuai namanya, Benteng Pendem letaknya berada di bawah tanah. Tertimbun tanah dan pasir pantai selatan. Dari kejauhan, tempat ini tak tampak seperti benteng. Hanya rerimbunan pohon dan bukit yang tak terlalu tinggi.

Kepala Seksi Promosi dan Pemasaran Dinas Pariwisata Cilacap, Dewi Siti Yuhani mengatakan, benteng ini kini dikelola oleh pemerintah daerah. "Dulu dikelola swasta," kata Dewi. Luas benteng ini sekitar 6,5 hektare. Sebenarnya total kawasan benteng mencapai 10,5 hektare. Namun sejak tahun 1987, Pertamina membangun tangki penimbunan minyak dengan luas 4 hektare. Area itu dikenal sebagai area 70. Dewi menyebut, di bawah tangki Pertamina itu, masih ada lorong-lorong kecil bagian dari benteng. Namun hingga saat ini lorong itu belum sempat diteliti.

Peta Benteng Pendem pertama diketahui pada tahun 1988. Peta tersebut hanya dimiliki di arsip negeri Belanda. Dari peta itu, ia menjelaskan, keberadaan benteng pendem baru tersingkap sebanyak 60 persen. Sementara sisanya sebanyak 40 persen masih tertimbun tanah dan pasir. Bangunan yang masih ada kini tampak kurang terawat. Beberapa bagian bahkan telah mengelupas.

Di bagian pertama setelah pintu masuk terdapat bangunan barak serdadu yang dibangun tahun 1877. Barak tersebut terdiri dari 14 kamar dengan panjang bangunan mencapai 103 meter. Sementara kamar barak berukuran 9 x 5 meter. Cukup luas untuk ditempati beberapa serdadu sekaligus. "Benteng ini mulai dibangun tahun 1861 dan baru selesai tahun 1879," katanya.

Selain barak, bangunan lain yang berada di dalam benteng yakni ruang kesehatan yang dibangun tahun 1879. Ruangan ini terdiri dari dua ruangan dengan ukuran 9 x 4 meter. Di bagian selanjutnya yakni benteng pertahanan. Tembok setebal hampir dua meter ini terdiri dari empat bagian. Dua benteng terletak di bagian barat dan lainnya di bagian timur. Panjangnya pun tak tanggung-tanggung, mencapai 329 meter.

Di dalam benteng pertahanan ini terletak 112 ruang tembak, 49 ruang perlindungan dan ruang penyimpanan senjata. Masing-masing ruang dalam benteng ini terhubung dengan sebuah terowongan panjang mencapai 114 meter.

Terowongan ini berbentuk lengkung dengan lebar 3 meter dan tinggi mulai dari 2,5 meter hingga 5 meter. "Tempatnya becek dan gelap," kata Darmawan, salah satu pengunjung. Terowongan yang dimaksud memang terlihat seram. Tak ada lampu penerangan di terowongan itu. Lantai terowongan berlumpur dan di beberapa titik terdapat genangan. Jika tak memakai alat penerangan, di dalamnya tidak akan terlihat apapun.

Menurut Dewi, terowongan yang dibangun tahun 1868 ini dipercaya terhubung dengan benteng yang berada di Pulau Nusakambangan, menembus selat Nusakambangan. Ruangan lainnya yakni ruang amunisi yang dibangun tahun 1861. Lalu ruang penjara dengan ukuran 1 x 1 meter. Di bagian lainnya ada ruang amunisi, ruang senjata, ruang akomodasi, dan dapur. Sementara tepat di atas bukit ada landasan meriam berjumlah 11 dengan diameter enam meter.

Selain bangunan benteng yang dibangun dari bata merah dan tak menggunakan kerangka beton, Benteng Pendem juga dikelilingi oleh parit yang cukup besar. Airnya tak pernah surut karena terhubung dengan laut. Parit yang sudah digali kembali panjangnya mencapai 591 meter. Lebar parit terdiri dari dua bagian, di sisi barat lebarnya mencapai 10 meter dan di bagian timur mencapai 20 meter. "Benteng yang belum tergali diperkirakan 3 benteng Jepang, 12 terowongan kecil dan sebagian parit," kata Dewi.

Kepala Bidang Sarana dan Obyek Wisata Dinas Pariwisata Cilacap, Ety Helinah mengatakan, arsitektur Benteng Pendem merupakan banguna kuno pada masa kolonial Belanda. Dari dokumen peta bangunan benteng terdapat tulisan KUST BATTERIJ OP DE LAND TONG TE TJILATJAP. Benteng yang dibangun pada tahun 1861-1879 itu menggunakan bahan baku yang dominan memakai bata merah tak tampak konstruksi beton bertulang. "Pada setiap ruangan dan pintu berbentuk lengkung serta tidak banyak variasi," katanya.

Ety menyebutkan, arti Benteng Pendem sesuai dengan tulisan Belanda di atas yakni tempat pertahanan pantai di atas tanah menjorok ke laut menyerupai bentuk lidah. Benteng ini digunakan sebagai markas pertahanan tentara Belanda pulau Jawa di bagian selatan. Menurutnya, Cilacap dipandang sangat strategis untuk pendaratan serdadu. Pantainya terlindung oleh Nusakambangan.

Benteng ini sempat direbut Jepang pada tahun 1942. Namun pada tahun 1945, Belanda kembali merebutnya hingga tahun 1950. Hingga tahun 1952, benteng ini kosong. TNI sempat menggunakannya sebagai markas pada tahun 1952 - 1965. Setelah tahun 1965 hingga 1986, Benteng Pendem tidak digunakan, hingga terbengkelai. Akhirnya, Pertamina membangun tangki minyak seluas 4 hektare yang disebut area 70.

Pada tanggal 26 November 1986, seorang warga Cilacap bernama Adi Wardoyo menggali dan menata lingkungan Benteng Pendem. Sejak tanggal 28 April 1987, dapat dikunjungi dan terbuka untuk umum.

Kampung Laut, kawasan delta yang terbentuk dari sedimentasi Sungai Citanduy di Laguna Segara Anakan.
Kampung Laut, kawasan delta yang terbentuk dari sedimentasi Sungai Citanduy di Laguna Segara Anakan. | Aris Andrianto /Beritagar

Langit Nusakambangan terbentang biru. Musim kemarau sudah merambati pesisir selatan Jawa ituseiritng nelayan memanen di Kampung Laut Cilacap. "Ikan mulai banyak. Saatnya nelayan melaut," ujar Tarsun, 43 tahun, nelayan Desa Klaces Kecamatan Kampung Laut Cilacap.

Selain melaut, Tarsun juga sering membawa rombongan mahasiswa yang ingin meneliti mangrove di Kampung Laut. Sesekali ia juga membawa rombongan penduduk luar kota yang memakai jubah panjang. Tarsun tak kenal para pemakai jubah panjang itu. Mereka kebanyakan pergi ke daerah Selok Jero. Daerah yang terbentuk dari sedimentasi di Segara Anakan. Di daerah itu, kini sudah berdiri masjid lengkap dengan asramanya.

Thomas Heri Wahyono, warga Dusun Lempong Pucung Desa Ujung Alang yang biasa mengunjungi Nusakambangan sering berpapasan dengan kapal yang mengangkut pendatang berjubah. Mereka biasanya menuju ke Selok Jero. Sebuah daerah di ujung barat Pulau Nusakambangan.

Euis, warga Jawa Barat yang tinggal di sekitar Selok Jero mengatakan, sejak datangnya Abu Bakar Ba'asyir, banyak pendatang berjubah datang ke tempat itu. "Saya tidak tahu apa itu latihan militer apa bukan, tapi mereka seperti latihan silat," kata dia dalam Bahasa Sunda. Ia mengatakan, selama ini kegiatan mereka tidak mengganggu aktivitas penduduk setempat. Mereka sempat menghilang saat ada eksekusi mati beberapa bulan lalu. "Mereka tiba-tiba lari menggunakan kapal," katanya.

Kepala Kepolisian Resor Cilacap, Ajun Komisaris Besar Ulung Sampurna Jaya mengatakan, di Nusakambangan sekarang sudah ada pondok pesantrennya. Ia mengatakan, sudah melihat langsung pesantren yang berada di dalam pulau penjara itu. Pesantren itu dinilai ilegal karena tidak ada izin dari Kementerian Hukum dan HAM. Ia mengatakan, lokasi pesantren berada di Selok Jero. Sebuah tempat di ujung barat Pulau Nusakambangan. Dari Cilacap, lokasi ini bisa dijangkau dengan perahu sekitar empat jam perjalanan.

Selain pesantren, kata Ulung, mereka juga sudah membangun Masjid dan asrama penginapan. Masjidnya diberi nama Jami Al - Muwahidin. Lokasinya cukup tersembunyi dan hanya bisa ditembus melalui jalur tikus. Ulung mengaku sudah memberikan peringatan kepada mereka untuk tidak menyebarkan paham radikal. Di Selok Jero, Kapolres juga mengaku bertemu langsung dengan Ustad Abu Tohari, pemimpin masjid tersebut. Sejauh ini, Ulung tak menemukan kelompok Abu Tohari ini mengadakan latihan bersenjata seperti disebut selama ini.

Ketua Forum komunikasi Umat Beragama Kabupaten Cilacap, Taufik Hidayatulloh meminta kepada pihak berwenang mengambil tindakan atas kegiatan kelompok Islam yang menurut mereka masuk dalam kelompok ideologi radikal. Taufik menyebut, keberadaan mereka tidak hanya di Selok Jero, namun juga membuat pemukiman di Kampung Laut di sebelah Nusakambangan, dan memiliki rumah singgah di dalam kota Cilacap.

Selain masalah pemukiman liar, Nusakambangan juga menghadapi tantangan ekologis. Tambang semen di dalam pulau dinilai bisa merusak ekosistem di dalam pulau itu. Koordinator Save Nusakambangan, Mohammad Yahya mengatakan, Nusakambangan berada dalam darurat ekologis.

Ia mengatakan, selama ini telah terjadi pengerukan tanah kapur untuk semen sebanyak 24 ribu ton per hari selama operasi 24 jam non stop. Bagian barat Nusakambangan juga ramai pembalakan liar atau penebangan liar (illegal logging). Yahya menambahkan, eksploitasi industri semen harus distop karena dalam operasionalnya menggunakan bahan peledak. "Aktivitas yang merusak lingkungan ini harus dihentikan," katanya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cilacap, Adi Saroso menyatakan kewenangan penghentian eksploitasi ada di pusat karena status Pulau Nusakambangan dibawah otoritas Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Baik Pemerintah Kabupaten dan Dewan telah mengupayakan permohonan pengelolaan namun selalu berujung gagal. Pasalnya sejak pemerintah Hindia Belanda samapai kini, Pulau Nusakambangan ditetapkan sebagai pulau penjara berdasarkan Ordonansi Staadblad No 25/1912 di mana Pemerintah Daerah tak punya hak pengelolaan.

Selain persoalan tambang dan pembalakan liar, Nusakambangan juga menghadapi ancaman sedimentasi di Segara Anakan. Laguna ini terancam menjadi daratan karena sedimentasi yang terus memenuhi laguna. Jika tak segera ketemu solusi, Pulau Nusakambangan dan Pulau Jawa bisa bersatu. Apalagi saat musim penghujan, sejauh mata memandang adalah hamparan sampah. Warnanya keruh kecoklatan. Tak ada lagi Pesut yang menari-nari di laguna itu.

"Dulu saya mencari ikan, kini mencari sampah untuk dijual," ujar Sumaryono, 40 tahun, warga Desa Klaces Kecamatan Kampung Laut Cilacap. Ia menjual sampah plastik hasil 'tangkapan' di Laguna dengan harga Rp1.500 perkilogram. Dalam sehari, ia bisa mengais rezeki dari sampah hanya Rp10 ribu.

Pulau-pulau kecil penuh sampah tadi adalah tanah timbul hasil endapan lumpur Sungai Citanduy yang berhulu di Jawa Barat. Kerusakan hutan wilayah hulu menggerus tanah sekaligus menggelontor ribuan ton sampah ke laguna.

Kini, ada 12 pulau kecil di sekitar muara, tersebar di Desa Ujunggagak, Panikel, Ujungalang, dan Klaces, Kecamatan Kampung Laut. Sedimen juga berakibat pendangkalan laguna. Perahu acap kandas saat melintas di laguna. "Sekitar 20 tahun lalu dalam laguna bisa 15 meter, kini hanya 1-1,5 meter," kata Wahyono.

Data Dinas Kelautan, Perikanan, dan Pengelola Sumber Daya Kawasan Segara Anakan (DKP2SDKSA) Cilacap menyebutkan, pada tahun 1903, luas Segara Anakan masih 6.450 hektare. Pada tahun 2000 menyusut hingga 1.200 hektare, dan kini tinggal 400 hektare. Akibatnya, nelayan sulit mencari ikan.

Badrian (53), tokoh nelayan Desa Ujunggagak yang melaut sejak 1980-an menceritakan, sekitar 1990-an, dengan peralatan sederhana, bisa didapat ikan dan udang 40-50 kg per hari. Namun, kini maksimal hanya 10 kg. Berbagai jenis ikan mulai hilang seperti belanak, kerapu, dan kembung. Ikan-ikan murah seperti dawah, lemuru, dan layur yang dulu tak dianggap, kini jadi target utama. Perairan laguna kini sepi. Setiap hari hanya terlihat belasan perahu kecil. Anak-anak nelayan, kata Badrian, lebih memilih merantau ke Jakarta dan Batam.

Penelitian pakar Biologi Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Erwin R Adli (2008), pada 1978, luas hutan mangrove di perairan laguna mencapai 17.090 hektare. Namun, kini tersisa 8.495 hektare. Sebaliknya, jika pada 1978 belum ada lahan pertanian, pada 2008 luasnya mencapai 9.442 hektare. Jika tak segera dibendung, menurut Erwin, bencana ekologi dan ekonomi mengancam Segara Anakan.

Penelitian Science for the Protection of Indonesian Coastal Marine Ecosystems (Spice) menyebut, potensi kawasan pesisir selatan yang lenyap karena kerusakan Segara Anakan ditaksir Rp73 miliar per tahun. Kepunahan 45 jenis ikan laut dan 85 burung yang berhabitat di ekosistem unik tinggal menunggu waktu.

Pemerintah sempat mengapungkan gagasan sudetan Citanduy dan mengalihkan muaranya ke Nusewere, Pangandaran. Rencana itu menguap akibat tarik-menarik kepentingan dengan pelaku ekonomi di Pangandaran yang khawatir pesisir mereka kotor.

Kepala DKP2SDKSA Cilacap Sudjiman mengakui, perikanan tangkap tak lagi mampu jadi sandaran hidup warga sekitar. Untuk itu, dalam usulan perubahan rencana tata ruang dan wilayah ke Pemerintah Pusat, Pemerintah Kabupaten mendorong perikanan budidaya. "Laguna akan dibagi beberapa zona, seperti konservasi dan ekowisata. Ada kawasan budidaya dengan karamba, kolam apung, serta rumah apung," katanya.

Erwin juga mengingatkan agar kerusakan laguna tak meluas. Salah satunya, menjaga keasrian bakau di Nusakambangan timur yang masih cukup lebat. Walau diakuinya, tanpa rehabilitasi hulu-hulu sungai yang bermuara ke laguna, upaya konservasi akan selalu kalah cepat ketimbang laju kerusakannya. Nelayan jadi korban pertama, mereka tercerabut dari alamnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR