Iqbaal Ramadhan bersama Vanesha Prescilla turut membawa Dilan 1990 sebagai film laris
Iqbaal Ramadhan bersama Vanesha Prescilla turut membawa Dilan 1990 sebagai film laris Andi Baso Djaya/Beritagar.id
FILM INDONESIA

Sistem bintang dalam perfilman Indonesia

Diperkenalkan oleh Hollywood, sistem bintang kemudian diikuti oleh banyak negara.

Senin petang di kantor Falcon Pictures, Jalan Duren Tiga Raya, Pancoran, Jakarta Selatan (17/7/2017), saya terhimpit antara deretan kursi dan puluhan anak baru gede. Beberapa di antara mereka bahkan masih mengenakan seragam sekolah.

Kehadiran mereka pada hari itu untuk memenuhi undangan pengumuman para pemain film Dilan 1990, adaptasi dari novel berjudul sama yang sukses menyita perhatian kalangan remaja.

Dari corong pengeras suara, pembawa acara memberi instruksi bahwa sesaat lagi aktor pemeran Dilan akan memasuki area. Mula-mula sang mystery guest yang mengenakan jaket denim biru dan helm sengaja membelakangi kami.

Perlahan ia menanggalkan semua yang menutupi identitasnya. Masker jadi item terakhir yang tersingkap. Tak butuh waktu lama setelah membalikkan badan, pecahlah histeria abege.

Tokoh fiktif yang mereka idolakan dalam novel akan dihidupkan oleh Iqbaal Ramadhan. Pendampingnya sebagai pemeran Milea adalah Vanesha Prescilla, alumni Gadis Sampul 2014.

Laiknya Vanesha, Bale --panggilan Iqbaal-- bukan sosok asing yang datang entah dari mana lantas tiba-tiba terpilih. Selama bertahun-tahun kalangan abege mengenalnya sebagai anggota grup vokal Coboy Junior.

Beranjak remaja, ia juga sempat bermain dalam film CJR The Movie: Lawan Rasa Takutmu (2015) dan Ada Cinta Di SMA (2016). Pendeknya ia telah menjadi bintang di hati kalangan remaja.

Menghadirkan pemain bintang adalah keniscayaan dalam sebuah produksi film. Fungsi mereka tidak hanya terbatas sebagai pelakon.

Kehadiran bintang penting untuk minat investor, juga menunjang proses produksi, distribusi, dan ekshibitor --dalam hal ini bioskop-- agar khalayak rela menebus harga tiket demi menonton idolanya bermain.

Andibachtiar Yusuf alias Ucup, sutradara film Love for Sale (2018), ingat betul pesan produsernya, Angga Sasongko, dari Visinema Pictures.

“Jangan sampai pemilihan pemain bikin wartawan saja enggak tertarik mendatangi konferensi pers film lo karena enggak ada yang terkenal di dalamnya,” ujar Ucup menirukan pesan Angga saat Beritagar.id menemuinya di Gordi HQ, Jeruk Purut, Jakarta Selatan (29/8/2017).

Walaupun ada banyak faktor yang membuat sebuah film kemudian laris di pasaran, kehadiran pemain yang masuk kategori bintang diharapkan sanggup memuluskan pencapaian tersebut.

Jika dengan bintang saja sebuah film masih bisa jeblok di pasaran, apalagi minus bintang. Pemain yang kadung populer memudahkan produser dalam berpromosi. Sementara menghadirkan persona yang sama sekali baru, terutama sebagai pemeran utama, butuh usaha ekstra.

Pasalnya sebelum film tersebut tayang di bioskop dan ketahuan menarik atau tidak sesuai standar masing-masing penonton, wajah-wajah pemain yang diharapkan menjadi magnet awal

Jika yang menghiasi poster dan cuplikan film merupakan figur tenar dengan basis penggemar luas, maka produser boleh punya asa filmnya menimbulkan ketertarikan pada banyak orang pula.

Bintang-bintang film bukan hanya jadi magnet bagi para penggemar, tapi juga wartawan
Bintang-bintang film bukan hanya jadi magnet bagi para penggemar, tapi juga wartawan | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Ukuran kebintangan seseorang lazimnya berdasarkan kepopuleran dan kemampuan menarik perhatian khalayak.

Sistem ini diciptakan oleh studio produksi film di Hollywood, Amerika Serikat, sejak era 1920-an. Media massa juga berperan penting melanggengkan praktik ini.

Jika ia seorang aktor, produser sudah barang tentu melihat pencapaian film-film terdahulu sebagai parameter.

Simaklah ucapan produser Dheeraj Kalwani dari Dee Company saat menghadiri konferensi pers film Rasuk di XXI Metropole, Cikini, Jakarta Pusat (28/5/2018).

“Alasan memilih Shandy Aulia sebagai pemeran utama, karena dia sudah punya penggemar khusus. Angka penontonnya luar biasa, tidak pernah jeblok. Saya percaya film ini akan sesukses film Danur dan Danur 2: Maddah,” ujar Dheeraj.

Shandy, 31 tahun, populer di kalangan penggemar film Indonesia setelah membintangi dua bagian Eiffel… I'm In Love yang memperoleh jutaan penonton.

Belum lagi kehadirannya dalam berbagai sinetron, film televisi, videoklip musik, dan iklan. Jumlah pengikut akun Instagram-nya juga bejibun. Lebih dari 3,9 juta akun (hingga 1/3/2019).

Belakangan seiring merebaknya penggunaan kanal-kanal di media sosial (medsos), jumlah pengikut mereka di sana masuk pula dalam hitungan. Pun total subscribers jika sang pemain aktif sebagai youtuber.

Hal tersebut diungkapkan Ody Mulya Hidayat, produser dari Max Pictures yang memproduksi Dilan 1990 dan menyusul Dilan 1991.

“Enaknya mengajak pemain yang punya banyak followers karena mereka akan membagikan info tentang film tersebut kepada para pengikutnya di media sosial,” ujar Ody saat kami menemuinya dalam konferensi pers film Taufiq: Lelaki yang Menantang Badai di Brewerkz Resto & Bar, Senayan City, Jakarta Selatan (1/2).

Tak heran jika kemudian nama-nama yang semula belum punya pengalaman bermain film, tapi punya bejibun pengikut di medsos berkesempatan main film.

Sebutlah misalnya Bayu Skak, Atta Halilintar, Ria Ricis, Anya Geraldine, atau Chandra Liow yang akrab digelari vlogger atau selebgram menyeberang ke medium layar lebar. Kehadiran mereka tentu saja diharapkan bisa memikat para pengikutnya untuk menonton.

Pun demikian, Chandra tegas menampik tudingan hanya bermodalkan jumlah pengikut di medsos sebagai syarat satu-satunya terpilih bermain film.

“Kalau Mas perhatikan konten-konten yang saya bikin di YouTube, semua itu saya bikin dengan persiapan yang matang dan enggak sembarangan,” ujarnya saat menghadiri sesi perkenalan film Hit N’ Run di CGV fX, Senayan, Jakarta Selatan (17/1).

Beragam konten yang disajikan Chandra dalam kanal Tim2one - ChandraLiow memang tergolong spesial dan berbeda. Penonton seolah menyaksikan film pendek. Hal tersebut yang membuatnya selalu berakting.

Produser Wicky V. Olindo dari Screenplay Films juga membantah pemilihan Chandra hanya berdasarkan jumlah followers.

“Semua videonya terkonsep dengan matang. Standar cinematic value-nya terjaga. Lagi pula aktingnya sudah mencuri perhatian saat bermain dalam film Single,” tambah Wicky.

Masuknya banyak sosok populer dari bidang lain membuat industri perfilman semakin bertaburan bintang. Tinggal bagaimana mereka semakin meningkatkan kualitas agar bisa terus bersinar.

Kesuksesan film Terang Boelan yang diperankan Roekiah dan Rd Mochtar jadi awal mula diberlakukannya sistem bintang dalam perfilman Indonesia
Kesuksesan film Terang Boelan yang diperankan Roekiah dan Rd Mochtar jadi awal mula diberlakukannya sistem bintang dalam perfilman Indonesia | Wikimedia Commons

Salah satu dari sedikit aktor yang sanggup bertahan dari ketatnya persaingan di industri ini adalah Roy Marten (66).

Mengawali karier sebagai model, pemilik nama tulen Wicaksono Abdul Salam pertama kali mencicipi dunia akting lewat film Bobby (1974). Honor mainnya Rp100 ribu.

Lambat laun ayah Gading Marten ini menyeruak di antara bintang-bintang lainnya. Puncaknya terjadi kurun 1978-1979, Roy membintangi 12 dan 10 film.

Boleh dibilang hampir tidak ada pecinta film Indonesia kala itu yang tidak mengenal sosoknya. Saban hari ada 100 surat dari penggemar yang mampir.

Bersama Roby Sugara, Yenny Rachman, Yati Oktavia, dan Doris Callebout, Roy termasuk dalam deretan “The Big Five” alias bintang-bintang dengan bayaran termahal saat itu.

Rerata honor mereka sekali main mencapai Rp5 juta. Hingga sekarang Roy masih tetap eksis.

Sebelum Roy --juga The Big Five-- dinobatkan sebagai bintang, permulaan sistem ini dalam lingkup perfilman di Tanah Air terjadi pada 1937.

Tepatnya setelah film Terang Boelan produksi Algemeen Nederlandsch Indisch Filmsyndicaat (ANIF) rilis.

Roekiah dan Raden Mochtar yang jadi pemeran utama film tersebut sukses menjadi pusat perhatian.

Ketika Terang Boelan rilis, umur Roekiah baru 20 tahun. Namanya sudah masyhur seantero Batavia (nama Jakarta kala itu) sebagai pemain Palistina Opera.

Ciamik di atas panggung sebagai pemain sandiwara, suara mumpuni kala melantunkan tembang-tembang keroncong, plus wajah rupawan membuatnya cepat jadi bintang idola.

Sementara rekan mainnya, Rd. Mochtar, dideskripsikan sebagai pemuda yang tinggi, kuat, tampan, dan berasal dari keluarga ningrat. Status sosial menjadi penting untuk ditonjolkan kala itu demi menarik minat penonton dari kalangan kelas atas.

Maklum, penonton dari kalangan elite hanya mau ke bioskop menyaksikan film-film impor buatan Hollywood. Sementara golongan menengah ke bawah lebih memilih tonil atau sandiwara dan musik keroncong sebagai sarana hiburan.

Kehadiran Roekiah sang bintang panggung sandiwara dan biduanita keroncong, berpasangan Rd. Mochtar dari golongan ningrat, ternyata berhasil menggaet pangsa pasar baru yang selama ini emoh menonton film Indonesia.

Berbagai media massa, semisal De Indische Courant edisi 8 Desember 1937, menulis bahwa selain tayang perdana di Rex Theater, Batavia, Terang Boelan juga ditayangkan serentak di Medan, Surabaya, lalu menyeberang ke negeri jiran karena ANIF menjual hak peredarannya kepada RKO Radio Pictures, Singapura.

Animo warga di sana tak kalah besar. Secara artistik, banyak sanjung puji dialamat kepada Terang Boelan karena dianggap sebagai film berbahasa Melayu yang berhasil membentuk standar baru dalam genrenya.

Imbasnya adalah kesuksesan finansial. Selama dua bulan beredar film ini menghasilkan SGD200.000 (setara dengan AS$114.470). Jika memakai perhitungan sekarang, maka angka tersebut mencapai AS$2 juta (Rp28 miliar).

Demi melihat fakta tersebut, para produser mulai memberi perhatian besar akan pentingnya kedudukan pemain.

Mereka berbondong mengikuti formulasi Terang Boelan, yaitu kisah romantis, sedikit adegan aksi, bumbu humor, alunan musik keroncong, dan tentu saja menghadirkan bintang cemerlang yang menjadi idola kala itu.

Sebelum Terang Boelan muncul, para produser lain umumnya masih meramu resep pembuatan film yang menarik minat khalayak.

Kini hampir sembilan dekade kemudian, star system masih relevan digunakan dalam industri perfilman.

Pun demikian, Reza Rahadian (31) tak pernah ingin silau dengan segala status yang dilekatkan oleh publik dan media kepadanya.

Sebagai pengingat, peraih empat Piala Citra sebagai aktor terbaik itu berkata, “Jangan pernah berhenti menggali dan mencintai dunia akting hanya karena merasa sudah populer dan bergelimang prestasi.”

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR