Keterangan Gambar : Fatimah di depan pondok pengungsian beratap dan berdinding terpal di Jamtoli, Ukhiya, Cox's Bazar, Bagladesh, Rabu (18/10/2017). © Beritagar.id / Dhihram Tenrisau

Fatimah (58) dan keluarganya berlari dari kengerian yang dibawa militer Myanmar. Ia kehilangan suami, rumah, dan harta benda.

Selasa dini hari (26/8/2017), Fatimah (58) dan suaminya Abdul Syukur (50), sedang beristirahat di rumah. Ada pula tiga anak mereka, Kulsumah Atu (20), Luth Rahman (13), dan Umma Jami (7).

Sehari-hari, Fatimah beraktivitas sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan Abdul Syukur adalah nelayan. Dua anak perempuannya, Umma Jammi dan Kulsumah Atu, memelihara seekor lembu di belakang rumah. Luth Rahman, anak lelaki satu-satunya, bekerja mencari kayu di hutan.

Anak tertua Fatimah, Aminah Atu (28) tinggal di seberang rumahnya. Aminah Atu sudah berkeluarga, dan tinggal bersama suami serta dua anaknya yang masih balita.

Mereka semua berumah di desa Thawinchaung atau kerap disebut Bossora, distrik Maungdaw, Rakhine, Myanmar.

Mereka tengah tidur pulas, saat keheningan pecah dengan suara para lelaki di luar rumah. "Tentara... tentara... tentara!" Demikian suara teriakan disertai gedoran pintu.

Kegaduhan itu membuat Fatimah dan keluarganya bangun dalam kepanikan. Sontak, mereka berlari ke luar rumah, berusaha mengamankan diri dari kengerian yang dibawa militer Myanmar.

Bossora belum dialiri listrik, penerangan hanya bertumpu pada lampu karanshes (semacam petromaks). Alhasil, pada dini hari nan panik itu, jalan-jalan desa jadi terang dengan nyala karanshes yang dibawa warga berlarian.

Kebanyakan warga--termasuk keluarga Fatimah--berlari menuju hutan di bukit sebelah utara Bossora.

Di tengah perjalanan, Abdul Syukur memutuskan kembali ke rumah untuk mengambil beberapa barang dan makanan sebagai bekal pelarian.

Sebenarnya, kata Fatimah, saat itu teriakkan "Potong! Bakar!" kian mendekat ke arah mereka. Namun, Abdul Syukur berkukuh ambil bekal. Mereka terpisah: Abdul Syukur turun bukit; sedang Fatimah dan anggota keluarga lainnya ke puncak bukit.

Dalam perjalanan, Fatimah sesekali mendengar desing peluru. Ia juga melihat beberapa orang sipil memburu warga desanya sambil menenteng parang, besi, dan senjata lain. Ia sempat pula menyaksikan beberapa tetangga mendapat siksa dari orang-orang sipil itu.

Tiada pilihan bagi Fatimah dan warga lain selain terus berlari. Mereka tiba di puncak bukit ketika cahaya mentari mulai tampak.

Dari kejauhan, Fatimah melihat desanya terbakar. Air matanya jatuh kala sang jago merah mengamuk di atap rumahnya.

***

Seorang jurnalis memotret sebuah rumah yang terbakar di desa Gawdu Thara, Maungdaw, Rakhine, Myanmar, Kamis (7/9/2017).
Seorang jurnalis memotret sebuah rumah yang terbakar di desa Gawdu Thara, Maungdaw, Rakhine, Myanmar, Kamis (7/9/2017).
© Nyein Chan Naing /EPA

Selasa pagi (26/8/2017), api menyala di Bossora. Desa itu jadi salah satu korban keganasan militer Myanmar di negara bagian Rakhine. Wilayah yang disebut terakhir jadi pusat perhatian dunia beberapa bulan belakangan, sehubungan persekusi terhadap etnik Rohingya.

Sejak 25 Agustus 2017, militer Myanmar melakukan serangan ke Rakhine. Mereka berdalih serangan itu merupakan balasan atas aksi Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA). Sebelumnya, ARSA menyerang pos militer di bagian barat Rakhine--menewaskan belasan tentara Myanmar.

Namun, tiada yang menduga aksi balasan bakal berlangsung besar-besaran. Merujuk citra satelit dari Human Rights Watch, aksi militer Myanmar mengakibatkan 288 desa rusak keseluruhan atau sebagian, dan 530 ribu orang Rohingya menyingkir ke Bangladesh.

Distrik Maungdaw merupakan area paling terpapar serangan militer Myanmar. Sekitar 90 persen wilayah Maungdaw hancur akibat serbuan antara 25 Agustus-25 September 2017.

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) menyebut serangan militer Myanmar berlangsung "teratur, terkoordinasi, dan sistematis", sekaligus memercik dugaan kejahatan kemanusiaan terhadap etnik Rohingya.

Cerita keluarga Fatimah adalah bab kecil dalam kisah pilu pengungsi Rohingya.

"Hidup saja susah, kenapa mau ikut ARSA?" kata Fatimah, ketika Beritagar.id bertanya soal hubungan dirinya atau anggota keluarganya dengan ARSA.

Pernyataan serupa kerap didapat ketika kami bertanya pada pengungsi Rohingya lainnya. Bahkan, beberapa pengungsi Rohingya mengaku tak tahu apa pun tentang ARSA.

***

Pengungsi Rohingya berjalan menuju sebuah kamp pengungsi setelah menyebrangi perbatasan Bangladesh-Myanmar di Palong Khali, dekat Cox's Bazar, Bangladesh, Jumat (3/11).
Pengungsi Rohingya berjalan menuju sebuah kamp pengungsi setelah menyebrangi perbatasan Bangladesh-Myanmar di Palong Khali, dekat Cox's Bazar, Bangladesh, Jumat (3/11).
© Hannach McKay /Antara Foto/Ruters

Di atas bukit, demi melihat desanya terbakar, Fatimah hanya bisa menangis sambil mendekap anak-anaknya. Pun, hampir semua orang di atas bukit berlinang air mata.

Fatimah bertambah resah lantaran tak jelasnya nasib Abdul Syukur. Ia bertanya soal kabar suaminya itu kepada para penduduk desa yang berlarian masuk ke area puncak bukit.

Sedikit informasi terungkap ketika Fatimah bertemu keponakannya, Soidurahman (30), yang mengaku melihat Abdul Syukur tewas kena peluru. Kabar duka itu bikin Fatimah menjerit sejadi-jadinya.

Kengerian belum berlalu. Tentara Myanmar terus menyisir hutan. Warga terjebak.

Di dalam hutan, Fatimah bergabung dengan 100-an warga Bossora. Kebanyakan dari mereka tak mengenakan alas kaki. Beberapa orang masih membawa ternak. Di hutan yang sama, ribuan warga dari pelbagai area Maungdaw ikut bersembunyi.

Selama dua hari, manusia-manusia itu menahan lapar dan haus. Pada hari ketiga (28/8/2017), barulah beberapa orang turun ke kampung --termasuk Soidurahman--dengan harapan bisa mengambil sisa makanan dan barang yang belum terbakar.

"Sepanjang perjalanan dari bukit, saya lihat desa penuh asap. Di desa, mayat-mayat terlihat di antara reruntuhan rumah," kata Soidurahman, menceritakan pengalaman pilu itu. Ia juga lihat mayat pamannya, Abdul Syukur, beberapa meter dari rumah Fatimah.

Soidurahman sempat mencari lembu milik keluarga Fatimah, tetapi tak menemukannya. Dari rumah bibinya, ia hanya menemukan sebuah cel (guci tradisional), tempat menyimpan beras yang berbau asap dan agak gosong. Ia pun mengambil beras dalam guci, dua lembar saree, dan beberapa helai pakaian untuk keluarga Fatimah.

Dengan bekal seadanya, Soidurahman balik ke hutan. Keluarga Fatimah akhirnya bisa makan nasi meski tanpa lauk. Sebelumnya, selama tiga hari awal, para pelarian bertahan hidup dengan makan dedaunan serta minum air dari genangan dan sungai.

Perbekalan dari kampung tak bertahan lama. Lantaran bekal habis, sekitar 100 warga Bossora menuju ke daerah pesisir Maungdaw, Nakon Dhia--dalam bahasa Myanmar: Na Khaung To.

Wilayah tersebut merupakan jalur terdekat mencapai Bangladesh. Keluarga Fatimah turut dalam gelombang eksodus.

"Kita menuju Bangladesh, karena itu yang paling dekat dari sini (baca: Maungdaw). Apalagi bahasa Rohingya dan Bengali mirip," katanya.

"Dalam perjalanan, kadang saya merasa pasrah bila harus mati."

Fatimah

Perjalanan Bossora-Nakon Dhia berjarak sekitar 38 kilometer. Mereka juga harus bersiasat mencari jalur yang aman dari pengintaian militer Myanmar, dengan berjalan kaki selama sehari-semalam melewati hutan serta tanah berlumpur.

Mereka melalui perjalanan itu tanpa makan dan minum. Tubuh Fatimah pun lemas. Anak bungsunya, Umma Jami juga merasakan hal yang sama. "Dalam perjalanan, kadang saya merasa pasrah bila harus mati," ujar Fatimah.

Kamis pagi (2/9/2017), mereka tiba di pesisir Nakon Dhia. Di sana, mereka melihat antrean pengungsi yang ingin menumpang perahu menuju Bangladesh.

Para pelaut Bangladesh dengan pelbagai jenis perahu riuh menawarkan jasa penyeberangan.

Pengungsi tanpa uang terpaksa menunggu, sesekali merengek kepada para pelaut Bangladesh. Sedangkan, orang-orang yang membawa ternak bisa menukar peliharaannya dengan tempat duduk di perahu.

Seorang Bangladesh menawarkan tempat untuk keluarga Fatimah--delapan orang, termasuk dua cucunya yang masih balita--seharga 5.000 taka Bangladesh atau 10.000 kyat Myanmar (sekitar Rp825 ribu).

Itu harga nan mahal bagi keluarga Fatimah. Mereka kelimpungan, ingin segera meninggalkan duka di Myanmar tetapi harus berpikir soal ongkos yang tak murah.

Di tengah kuldesak, Fatimah tak sengaja bertemu keponakannya, Saiburahman (35)--berprofesi sebagai guru Madrasah di kampungnya. Saiburahman memberi setengah ongkos "tiket perahu" menuju Bangladesh. Bantuan itu dalam bentuk pinjaman.

Keluarga Fatimah akhirnya jadi "manusia perahu" dan melewati perbatasan Myanmar-Bangladesh. Sepanjang mengarungi laut, mereka berhadapan dengan angin dan ombak. Bahkan, beberapa perahu karam, nyawa pun melayang di perairan ini.

Setelah dua jam perjalanan melintasi Teluk Bengal, perahu tiba di Shah Porir Dwip, Dakhinpara, Cox's Bazar, kawasan pesisir di ujung selatan Bangladesh. Persisnya di muara Sungai Naf.

Di sana, keluarga Fatimah mendapat makanan dan penginapan di rumah sepupunya, Soiderahman (50).

Besok paginya, mereka menggunakan tomtom (bajaj lokal Bangladesh) menuju Nayapara, Teknaf, Cox's Bazar.

Di Nayapara, kebetulan ada beberapa orang yang membagikan uang, penganan, dan pakaian kepada pengungsi yang telah ditampung di wilayah itu. Keluarga Fatimah pun beroleh makan, minum, dan sedikit uang jatah pengungsi.

Sesama pengungsi juga menawarkan tempat menginap. Lantaran hari menjelang petang, keluarga Fatimah memutuskan menginap di satu tenda pengungsi beralaskan tanah.

Keesokan hari, mereka lanjut berjalan kaki sesuai arahan militer Bangladesh. Perjalanan itu ditempuh selama setengah hari menuju ke Jamtoli, Ukhiya, Cox's Bazar. Di satu bukit bernama Blok H, mereka dapat tenda pengungsian.

Di sanalah, mereka tinggal hingga artikel ini terbit (15/11/2017). Keluarga Fatimah menempati pondok berukuran empat kali dua meter. Pondok mereka terbuat dari terpal yang jadi atap sekaligus dinding, dengan bambu sebagai tiang penyangga. Sebagai alas tidur, ada dua karpet anyaman yang didapat dari pembagian jatah pengungsi.

Sehari-hari, mereka berharap pada bantuan makanan dan barang dari lembaga penderma atau pemerintah Bangladesh. Tak jarang, mereka menahan lapar lantaran tak kebagian jatah makanan pada saat pembagian--biasanya rebutan.

Meski serba seadanya dan tanpa kehadiran Abdul Syukur, keluarga Fatimah lebih tenang di pengungsian. Mereka merasa lebih aman karena jauh dari kengerian.

***

Rute pelarian keluarga Fatimah.
Rute pelarian keluarga Fatimah.
© Sandy Nurdiansyah / Beritagar.id

Ratusan orang mengantre di posko kesehatan milik Dompet Dhuafa dan Indonesian Humantiarian Alliance, di Blok F, Jamtoli, Ukhiya, Cox's Bazar, Bangladesh, Rabu siang (18/10/2017).

Di satu meja pemeriksaan, Dokter Ershad dan penerjemahnya Zubair mengecek kesehatan seorang bocah perempuan yang memakai singlet dan celana pendek.

Anak perempuan berkulit legam itu duduk di kursi pemeriksaan sambil menggenggam secarik kertas status.

"Namki?" Zubair menanyakan nama anak tersebut.

"Umma Jami," balasnya.

Dokter Ershad mulai bertanya soal keluhan anak itu lewat bantuan penerjemah. Namun, pasien kecilnya bergeming tanpa kata, betapapun Zubair mencoba menggali keterangan.

"Mana ayahmu?" ujar Zubair, yang mulai kewalahan.

Tiba-tiba seorang perempuan ringkih muncul dari kerumunan pengungsi. Di mulutnya terselip paan (sirih).

"Baba," ucap perempuan itu beriring tanda kematian lewat jari yang bergerak horizontal di lehernya.

Dokter Ershad dan Zubair tertegun.

Perempuan itu memecah keheningan, dan berkisah tentang pelarian dari kengerian.

Catatan redaksi: Penulis, Dhihram Tenrisau, merupakan anggota tim medis Dompet Dhuafa dan Indonesian Humanitarian Alliance di Jamtoli, Ukhiya, Cox's Bazar, Bangladesh. Baca juga laporan lain dari Cox's Bazar, Bangladesh:
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.