Foto adalah ilustrasi mengenai pemilih pemula, yang memiliki rentang usia 17-21 tahun. Menurut taksiran Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, jumlahnya sekitar 40 juta. Foto ini bercerita tentang proses perekaman Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yosonegoro, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, oleh petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kamis (27/12/2018).
Foto adalah ilustrasi mengenai pemilih pemula, yang memiliki rentang usia 17-21 tahun. Menurut taksiran Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, jumlahnya sekitar 40 juta. Foto ini bercerita tentang proses perekaman Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yosonegoro, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, oleh petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kamis (27/12/2018). Antara Foto / Siswo Widodo
POLITIK MILENIAL

Suara dari segelintir pemilih pemula

Pemilih pemula tak sedikit. Jumlahnya sekitar 40 juta. Itu menurut taksiran Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman. Bagaimana beberapa di antaranya memandang pemilu pertama mereka?

“Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya/Pengemban ampera yang setia.” Itu petikan lagu “Pemilihan Umum” bikinan Mochtar Embut. Berpuluh-puluh tahun mengisi memori warga Indonesia sejak Pemilihan Umum pertama zaman Orde Baru digelar pada 1971.

Tersiar melalui--tentu saja--stasiun pemancar media pelat merah, RRI dan TVRI. Iramanya seolah meniru tentara berbaris. Berderap-derap.

Riwayat lagu itu tak sepenuhnya tamat setelah Suharto turun dari kursi kekuasaan pada 1998. Grup beraliran rock, Slank, memberi rasa baru pada ciptaan Embut.

Hasil aransemen tersebut muncul dalam album Road to Peace pada 2004. Satu-satunya lagu Pemilu yang mungkin bisa disimak lewat platform music streaming Spotify.

Mungkin karena tak terlalu kepengin lengket dengan masa lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) memesan lagu baru. Penyelenggara Pemilu yang berdiri usai Reformasi itu menunjuk Nortier Simanungkalit, komponis kawakan yang kesohor dengan lagu “Senam Kesegaran Jasmani”.

Diberi judul “Mars Pemilihan Umum”, lagu Pak Nortier diputar menjelang Pemilu pascareformasi pada 1999, 2004, 2009, dan 2014. Esensi syairnya tentu serupa dengan versi lama. Plus detail baru: “Kita pilih wakil rakyat anggota DPD, DPR, dan DPRD…Memilih presiden dan wakil presiden/Tegakkan reformasi Indonesia”.

Kalau pakai beat hip-hop mungkin liriknya bisa lebih luwes dan ‘kekinian’. Telinga para milenial—yang konon berusia di bawah 40 tahun—kayaknya bisa lebih menerima. Apalagi golongan pemilih pemula. Walau itu cuma asumsi amatiran saja. Kisaran usia pemilih pemula tersebut, menurut buku Pedoman Pendidikan Pemilih (pdf) terbitan KPU, 17-21 tahun.

Kelompok paling belakangan disebut itu jumlahnya tak sedikit. Setidaknya kalau meminjam pernyataan Ketua KPU, Arief Budiman, di sejumlah outlet pemberitaan. “Sekitar 40 jutaan orang,” katanya. (Bandingkan dengan jumlah pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap Pemilu 2019 yang mencapai 192.828.520).

Upaya kedua kubu yang bakal bertarung pada Pemilihan umum kali ini—tentu saja ini mengacu kepada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden—untuk menggaet milenial atau pemilih pemula juga cukup serius.

Pemakaian simbol-simbol yang dianggap mewakili ‘kemudaan’ begitu kentara. Presiden Joko “Jokowi” Widodo—sebagai petahana—acap kali melabrak pakem formal kepresidenan dengan memakai sneakers.

Dia juga enteng saja memakai jaket denim, sepatu Vans Metallica, atau menunggang motor custom warna emas. Bahkan datang ke acara musik We the Fest, atau mengendarai Yamaha FZ1 dalam acara pembukaan Asian Games pada Agustus 2018.

Di sisi sebaliknya, gimmick yang diajukan oleh pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berupaya menampilkan kesegaran yang biasa terlekat dengan kemudaan.

Maka, untuk mendobrak kesan kaku-tegang ala militer pada diri Prabowo, Sandiaga mengangsurkan label The New Prabowo bagi mantan Komandan Jenderal Kopassus tersebut.

“Pak Prabowo itu orangnya asyik, The New Prabowo yang kita selalu bilang sekarang orangnya sangat cair, sangat mendengar, menghormati,” ujarnya dinukil pelbagai media.

Sandiaga pula sepertinya lebih menarik perhatian pemilih muda ketimbang pasangannya. Meski tengah menuju usia 50, dia kadung beken dengan citra kemudaan berkat aktivitas olahraga seperti maraton dan kayuh sepeda. Juga dipandang sukses sebagai pengusaha lulusan universitas Amerika Serikat.

Lantas, bagaimana para pemilih di kisaran usia 17-21 memandang pesta demokrasi nasional yang bakal digelar tahun ini? Sila simak pandangan dari beberapa di antaranya.

Secuplik Suara dari Pemilih Pemula /Beritagar ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR