Para calon penumpang melintas di lorong pemberangkatan Terminal Tipe A Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (13/8/2019).
Para calon penumpang melintas di lorong pemberangkatan Terminal Tipe A Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (13/8/2019). Rommy Roosyana / Beritagar.id
TRANSPORTASI UMUM

Sudah berbenah, Terminal Bus Indihiang masih sepi penumpang

Terminal Tipe A Indihiang hanya jadi pilihan kedua para calon penumpang, kalah saing dengan pool perusahaan otobus yang lokasinya lebih strategis.

Panas matahari yang cukup menyengat membuat setiap orang mengernyitkan dahi. Gumpalan awan tipis tak cukup meneduhi langit di kawasan Terminal Tipe A Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Napas panjang terdengar diembuskan saat kaki Reza Cahyana (27) mulai beranjak memasuki Ruang Tunggu Terminal Tipe A Indihiang yang dibangun tahun 2006 itu. Lelaki muda ini datang dari Bumi Resik Panglayungan dengan menumpang taksi daring ke sana.

"Biasanya kalau mau ke arah Jakarta naik di pool (perusahaan otobus), jarang ke terminal. Posisi terminal agak jauh," ungkap Reza sambil menyeka keringat di dahi dan sekitar lehernya.

Ia menyebut pool bus lebih strategis dibading terminal. Bahkan, kata dia, dua pool bus menyediakan fasilitas yang nyaris sama dengan terminal. "Di pool juga fasilitasnya lengkap, ada ruang tunggu yang lumayan nyaman," ungkapnya.

Memang, tak banyak bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang menunggu penumpang di terminal yang berada di Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Selasa (13/8/2019) siang.

Hanya beberapa unit bus jurusan Timur--Yogyakarta, Solo, hingga Madiun--dan beberapa bus jurusan Barat--Jakarta, Bekasi, dan Bogor--yang hanya singgah beberapa menit dan langsung meninggalkan terminal.

Indihiang tampak amat lengang. Apalagi jika mengingat luasnya yang mencapai 7,8 hektare. Ya, Indihiang adalah terminal bus terluas di Pulau Jawa.

Staf Pelayanan Penumpang Terminal Tipe A Indihiang, Ali Imron, mengakui jika Terminal Tipe A Indihiang menjadi pilihan kedua para calon penumpang lantaran terdapat sejumlah pool bus yang melayani naik dan turun penumpang dari luar kota.

"Terminal ini dibangun sejak 2003, diresmikan 2006, tapi sampai sekarang belum optimal pemanfaatannya oleh para calon penumpang bus angkutan umum. Tapi kami tak pernah kehabisan akal, kami terus berusaha untuk menarik minat para calon penumpang," ungkap Imron kepada Beritagar.id, Selasa (13/8) siang.

Padahal, sebut Imron, terminal itu melayani pemberangkatan ke semua jurusan. "Kami melayani semua jurusan, dari Barat, Timur, Selatan, Utara, hingga lintas Sumatra," sebut Imron. (Detail profil Terminal Tipe A Indihiang bisa dilihat pada Grafik di bawah ini.)

Imron menjelaskan, bus angkutan umum yang keluar dan masuk terminal per hari mencapai sekitar 450-700 unit. Beragam fasilitas disediakan pengelola terminal untuk membuat nyaman para calon penumpang.

"Selain fasilitas, kami juga menjamin keamanan para calon penumpang. Di terminal kami, nol persen kejahatan. Ada 10 orang personel penjaga keamanan yang bertugas 24 jam penuh. Termasuk 11 orang petugas kebersihan, lihat saja ada gak sampah yang berceceran di sini," ujarnya.

Tak hanya itu, para pedagang yang berjualan di sana tambahnya, semua terorganisir. Begitu juga dengan para pengurus bus angkutan umum yang melayani pemberangkatan dan kedatangan.

Menanti implementasi regulasi

Kendala letak geografis memengaruhi tingkat kedatangan para calon penumpang ke Terminal Tipe A Indihiang. Imron menyebut, tiga pool bus angkutan umum berada lebih dekat dengan pusat kota.

"Harus diakui, pool bus milik tiga perusahaan (otobus) yang ada di Tasikmalaya ini lokasinya lebih strategis dari terminal. Makanya banyak penumpang yang memilih naik dan turun di luar terminal, terutama di pool-pool tersebut," ujarnya.

Imron menyatakan pihak pengelola terminal tak bisa memaksa penumpang untuk naik di terminal karena mereka punya hak untuk memilih naik dan turun di lokasi yang mereka inginkan.

Ruang tunggu pemberangkatan bus angkutan umum Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di Terminal Tipe A Indihiang, nyaris lengang. Hanya ada beberapa penumpang yang menunggu pada Selasa, (13/8/2019) siang.
Ruang tunggu pemberangkatan bus angkutan umum Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di Terminal Tipe A Indihiang, nyaris lengang. Hanya ada beberapa penumpang yang menunggu pada Selasa, (13/8/2019) siang. | Rommy Roosyana /Beritagar.id

Pengelola terminal telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat para calon penumpang agar bersedia menunggu bus di sana. "Kami selalu berupaya melayani penumpang sebaik-baiknya, bahkan mengajak masyarakat pengguna angkutan umum (bus) untuk memanfaatkan terminal tipe A ini," ujar Imron.

Ia mengisahkan, sejak Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya menyerahkan terminal itu kepada pemerintah pusat pada Januari 2017 lalu, pihaknya terus berusaha keras mengoptipalkan pemanfaatan sarana publik tersebut.

"Kita tidak pernah pesimistis, terus berbenah dan melakukan segala cara agar bisa melayani penumpang sebaik-baiknya. Fasilitas kita sudah lengkap, sudah bersih, kemudian aman, nyaman. Kami harap kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan terminal karena dibangun dengan uang rakyat," imbuhnya.

Pengelola terminal sebutnya, kini tengah menunggu implementasi Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor 15 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Dalam Trayek.

"Dalam PM (Peraturan Menteri) 15 Tahun 2019, pool tidak boleh menaikan dan menurunkan penumpang. Berdasarkan aturan itu, kendaraan yang akan melayani keberangkatan itu 15 menit sebelum berangkat harus berada di terminal," tegasnya.

Staf Pelayanan Terminal Tipe A Indihiang lainnya, Ahmad menjelaskan, setiap kendaraan umum yang akan melayani pemberangkatan AKAP ataupun AKDP mesti melalui "ram check", alias uji kelayakan.

"Selain uji kelaikan, kami juga harus memeriksa kelengkapan surat kendaraan dan pengemudinya. Makanya, kendaraan harus stay di terminal 15-20 menit sebelum berangkat," jelasnya.

Jika hanya melintas di terminal, tambah Ahmad, waktu untuk memeriksa kelengkapan bus angkutan umum sangat terbatas.

Sepinya Terminal Tipe A Indihiang tak hanya dikeluhkan para pengelolanya. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga mengeluhkan hal serupa saat kunjungan dinas tahun 2017 silam.

Budi pernah menginstruksikan kepada seluruh perusahaan otobus AKAP dan AKDP yang memiliki trayek dari dan ke Tasikmalaya untuk menaikan dan menurunkan penumpang di Terminal Tipe A Indihiang.

Menurutnya, terminal tersebut menjadi terlihat sepi lantaran banyak perusahaan otobus yang tidak menaikan dan menurunkan penumpang di sana. "Ini disebabkan arogansi perusahaan otobus yang tidak mempergunakan terminal, namun malah membuat terminal bayangan," ujarnya.

Kini, sang Menhub tengah mempertimbangkan membuat aturan tegas untuk menindak perusahaan otobus yang enggan menggunakan fasilitas terminal.

Hal tersebut, kata Budi, bertujuan agar aktivitas perusahaan otobus terpusat di terminal, sehingga dapat berintegrasi dengan moda transportasi lainnya.

"Selama ini masih ada PO (perusahaan otobus) yang nakal karena memilih untuk tidak ke terminal. Bus tersebut malah mengangkut penumpang di pinggir jalan. Pengalaman yang ekstrim seperti di Tasikmalaya, PO tidak menggunakan terminal. Kemenhub akan membuat regulasi yang lebih lugas, memeringati, bahkan bukan tidak mungkin cabut izin PO (yang melanggar)," tegasnya (27/7).

Ia menandaskan, dibangunnya terminal bertujuan mengintegrasikan moda transportasi darat. Dengan demikian tambahnya, para pengguna bus dapat melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuan dengan kendaraan lain yang lebih kecil.

Bila tempat berhenti bus dan angkot terpisah jauh, sebut Budi, hal tersebut akan mengurangi kenyamanan masyarakat saat bepergian. Imbasnya, moda transportasi bus kalah pamor dibanding pesawat ataupun kereta api yang menjadi favorit para pelancong.

Untuk mengatur persoalan angkutan umum di terminal, Kemenhub sudah mengundangkan Permen No 15 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek.

Persoalan perusahaan otobus yang mangkir dari terminal, tegas Budi, mesti segera dituntaskan agar moda transportasi umum darat dapat berjalan lebih baik. Selain itu, optimalisasi pemanfaatan kendaraan umum juga bertujuan untuk mengurangi angka kemacetan.

Jika bus angkutan umum tak singgah di terminal jelas Budi, akan berhenti seenaknya di sejumlah titik, sehingga menimbulkan kemacetan. Begitu juga dengan penumpang, akan merasa kurang nyaman lantaran mesti terburu-buru naik ke bus.

Revitalisasi ditawarkan pada swasta

Dalam upaya menata dan mengembangkan terminal bus tipe A di sejumlah daerah agar tak senasib dengan Terminal Tipe A Indihiang, Kementerian Perhubungan berencana melakukan revitalisasi. Langkah itu dilakukan untuk menghilangkan stigma buruk dan menarik minat masyarakat untuk menggunakan transportasi umum.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setyadi mengatakan, selama ini wajah terminal di beberapa kota sangat buruk di mata masyarakat. Kondisi yang kumuh hingga tingkat kejahatan yang masih tinggi menjadi perhatian.

"Saya coba melihat satu tahun terakhir ini bagaimana kondisi terminal kita. Sebetulnya kita sebagai bagian bangsa Indonesia harusnya merasa malu. Kenapa terminal seperti itu kondisinya?" ujar Budi, (31/7).

Lantaran stigma buruk yang ada di masyarakat mengenai terminal bus, kata dia, perlu ada suatu perubahan. Dengan wajah baru atau penataan ulang, diharapkan terminal akan semakin lebih baik ke depan.

Dari data Kemenhub, jumlah terminal bus penumpang tipe A per Mei 2019 terbanyak berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, masing-masing 19 terminal.

Data tersebut dirujuk dari Keputusan Menteri Nomor 109 tahun 2019 yang diteken pada 20 Mei 2019. Terminal penumpang tipe A berfungsi melayani kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar kota antar propinsi (AKAP), angkutan lintas batas antar negara, angkutan antar kota dalam propinasi (AKDP), angkutan kota (AK), serta angkutan perdesaan.

Dari 128 terminal tipe A di Indonesia sebut Budi, ada 40 terminal kini menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan. Dari 40 tersebut, 20 terminal dikelola dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan 20 sisanya akan dikembangkan investor swasta.

"Kalau terminal yang 20 sudah dianggarkan di APBN tahun 2020, dan sekarang tahap perencanaan. Tadinya kan 40, karena cuma 20, berarti 20 sisanya terbuka untuk swasta. Apakah KSP (Kerja Sama Pemanfaatan) atau KPBU (Kerja Sama Badan Usaha)," tandasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR