Warga sedang mengangkut air dari satu kios air di Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.
Warga sedang mengangkut air dari satu kios air di Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
SUMBER DAYA AIR

Susah air di ibu kota

Sekitar 25 kilometer dari sentral Jakarta, sebuah kampung bersemuka krisis air. Saban hari, warga kudu mengantre dan mengeluarkan uang puluhan ribu demi beroleh air bersih.

Siang terik pada awal Juli 2019, Aisyah (37 tahun) berdiri sambil menenteng selang di satu kios air.

Bersama Aisyah, ada belasan orang yang mengelilingi tandon-tandon air. Selain selang, beberapa orang membawa gerobak guna mengangkut jeriken-jeriken.

Mereka tengah mengantre air, satu rutinitas harian bagi warga RW 04, Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Wilayah berjuluk Kampung Nelayan itu berstatus kekurangan air bersih, betapa pun jaraknya hanya sekitar 25 kilometer dari pusat pemerintahan dan bisnis ibu kota.

Saban hari, kata Aisyah, keluarganya harus keluar uang Rp10.000 – Rp20.000 untuk kebutuhan air. "Musim kemarau gini, bisa sampai 400 - 600 ribu sebulan," ujar ibu dua anak itu.

Nominal tersebut, ucap Aisyah, sama dengan seperempat penghasilan bulanan Sang Suami yang bekerja serabutan sebagai nelayan dan buruh. Saking mahalnya ongkos air, tak jarang warga harus berutang kepada kios-kios air.

Di Kampung Nelayan, kios-kios air pasang tarif Rp4.000 - Rp7.000 per gerobak (120 - 150 liter, atau 4 - 7 jeriken). Itu belum termasuk ongkos angkut Rp4.000 per gerobak.

Ongkos angkut dibutuhkan bila kios dan rumah pembeli terpaut jauh. Kalau jaraknya dekat -- kurang dari 50 meter -- cukup pakai selang.

Adapun suplai air datang dari PAM Lyonase Jaya (Palyja), yang memberi harga Rp3.550 per meter kubik (1.000 liter) kepada kios air. Ada juga truk partikelir yang saban hari menyinggahi kios air, dan mengenakan tarif Rp250 ribu per tangki (7.000 liter).

Bila musim hujan, warga bisa menekan pengeluaran. Tiap rumah warga punya penadah hujan seadanya. Bentuknya berupa corong air yang ditempatkan di talang air pada atap rumah. Di ujung corong ada selang atau pipa yang mengalirkan air ke dalam gentong.

Lagi pula, saat hujan turun, pelbagai perkakas bakal digunakan demi menadah air. "Kampung ramai kalau hujan. Loyang, panci, ember, baskom, sampai sendok kalau bisa kita keluarin," ujar Aisyah setengah berkelakar.

Masalahnya, hujan belum jua menyapa Kampung Nelayan sejak lebaran lalu.

Sudirman, (Plt) Ketua RW 04 Kamal Muara, membenarkan bahwa 734 kepala keluarga (sekitar 2.000 jiwa) di wilayahnya masih kesulitan air. "Pernah ada bantuan pemerintah untuk bikin sumur bor. Tapi airnya payau, maklum dekat laut," katanya.

Sumur bor tersedia di beberapa rumah warga. Penggunaannya bukan tanpa biaya. Sebagai ganti listrik, warga bayar Rp4.000 kepada pemilik rumah untuk isi air empat jeriken (120-150 liter).

Ibu-ibu Kampung Nelayan punya penjelasan detail soal sumber dan fungsi air. Air dari sumur bor dipakai buat cuci kaki, wudu, dan cuci pakaian. Sedangkan tirta dari kios air untuk masak, minum, dan mandi. Itu pun, untuk minum, kerap diganti air galon isi ulang.

Krisis air ini sudah berlangsung dua dekade, sejak Kampung Nelayan berdiri pada 1998.

Mulanya, warga Kampung Nelayan menempati bantaran Kali Muara. Pembangunan jalan dan Stadion Kamal Muara membuat mereka tergusur.

Mereka pun beringsut ke "tanah timbul" (sedimen) yang berada di tepi laut, bersisian dengan muara Kali Kamal. Kini, area yang bersemuka Teluk Jakarta itu telah jadi perkampungan padat berudara asin khas pesisir.

Rumah-rumah panggung dengan tiang pancang setinggi satu hingga dua meter berdiri rapat-rapat. Lorong-lorong kampung hanya cukup untuk dua motor berpapasan. Tanah kosong dan kolong-kolong rumah penuh tumpukan kulit kerang.

Mayoritas warganya -- sekitar 80 persen Suku Bugis -- memang bekerja sebagai nelayan. Perahu-perahu mereka bersandar di tanggul beton yang membatasi perkampungan dengan muara Kali Kamal.

Bila berdiri di atas tanggul bakal terlihat daratan hasil reklamasi: Pulau Maju. Gedung dan infrastruktur modern di ujung mata itu tampak kontras dengan Kampung Nelayan.

Daeng Yulla, tokoh masyarakat Kampung Nelayan, punya pandangan tak kalah kontras. "Kami malu, kalau ada keluarga atau famili dari daerah. Mereka heran, kok di ibu kota, masih ada daerah kekurangan air," katanya.

***

Jakarta darurat air bersih.
Jakarta darurat air bersih. | Gary Jatikusumo /Beritagar.id

Krisis air di Jakarta

Kampung Nelayan di Kamal Muara, hanyalah satu wilayah Jakarta yang berstatus krisis air.

Selain Kamal Muara, ada 20 kelurahan lain yang masih kesulitan air baku (untuk minum) dan air bersih.

Kelurahan itu tersebar di Jakarta Utara (7 kelurahan), Jakarta Barat (6 kelurahan), Jakarta Timur (2 kelurahan), dan Jakarta Selatan (6 kelurahan). Wilayah tersebut antara lain: Pegadungan, Kalideres; Kapuk Muara, Penjaringan; Pademangan Barat, Pademangan.

Itu belum menghitung 15 kelurahan yang sebagian wilayahnya masih butuh pelayanan air baku dan air bersih, yakni: Jakarta Utara (5 kelurahan), Jakarta Barat (6 kelurahan), dan Jakarta Timur (3 kelurahan).

Pada 2017, sekitar 3 persen kebutuhan air baku warga ibu kota berasal dari sungai di Jakarta, yaitu: Kali Krukut, Pesanggrahan. Sisanya, warga ibu kota bergantung dari sumber air di luar Jakarta, macam Waduk Jati Luhur, Cisadane, dan Cikokol.

Potensi sumber air di Jakarta sebenarnya tak sedikit. Namun sungai-sungai yang semestinya jadi sumber air dinilai tercemar. Airnya tak layak olah.

Hingga 2025, bila tiada penambahan pasokan, Jakarta akan tetap defisit air baku dengan pemenuhan kebutuhan hanya 89 persen. Artinya, ketersediaan air baku hanya 30.558 liter per detik, padahal proyeksi kebutuhannya mencapai 34.322 per detik.

***

Sabtu, 13 Juli 2019, Aisyah berkumpul lagi bersama warga lainnya. Mereka menempati kursi-kursi yang disusun berbanjar di tepian sebuah gang. Siang itu, Kampung Nelayan dikunjungi sejumlah pejabat -- termasuk yang mengurusi pengairan.

Warga dan pembesar berkumpul dalam acara "Sarasehan Kepemimpinan Berempati: Krisis Akses Air Bersih di Jakarta" yang diadakan Lembaga Administrasi Negara (LAN).

Lembaga pendidikan dan latihan Aparatur Sipil Negara (ASN) itu memang tengah mengembangkan program pelatihan "Kepemimpinan Berempati" -- bermitra dengan Global Green Growth Institute (GGGI).

LAN sudah sering mengadakan kunjungan lapangan. Namun, kunjungan kerap berlangsung formal, misal para pejabat mengenakan baju dinas dan penuh sambutan.

Kali ini formatnya berbeda. Para pejabat datang dengan pakaian kasual. Mereka tak banyak bicara, tidak pula memperkenalkan diri, dan lebih banyak mendengar keluhan.

"Kami ingin mereka (pejabat) mencium bau masalah, merasakan penderitaan di kulitnya, mendengar jeritan di telinganya," kata Basseng, Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kompetensi LAN, tentang format sarasehan.

Basseng berharap sarasehan itu mengusik "macan tidur" di hati para pembesar. "Setelah pulang, 'macan tidur' itu bisa mengamuk. Kalau sudah begitu, sebagai pejabat, tidak ada yang bisa menghalangi mereka untuk menyejahterakan rakyat," ujar Basseng.

Sarasehan pun berlangsung tanpa jarak. Perwakilan warga berbicara tentang krisis air tanpa tedeng aling-aling. Tiap keluhan yang terlontar bersambut tepukan dan seruan penyemangat dari warga.

Hidajat Edhy Liestiento, Senior Manager Bina Program PAM Jaya, jadi salah seorang pejabat yang ikut sarasehan. Dia sibuk mencatat keluhan warga. Pun, kala berkunjung ke rumah-rumah warga, Edhy aktif menggali masalah.

Selepas sarasehan, kepada Beritagar.id, Edhy menjelaskan bahwa Kamal Muara merupakan wilayah pelayanan air minum terjauh di Jakarta. Pihaknya pun tengah berusaha menyelesaikan krisis air ini.

"PAM JAYA dan Pemprov DKI -- disepakati DPRD -- sudah menyiapkan pendanaan untuk merealisasikan pelayanan air minum jaringan perpipaan ke Kamal Muara," katanya.

Di tempat terpisah, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengaku tengah bernegosiasi dengan sejumlah pihak untuk membangun serta mengembangkan jaringan pipa air di ibu kota.

"Yang terlayani dengan pipa baru sekitar 57 persen. Ini tantangan kita. Masyarakat yang secara sosial ekonomi rendah, terpaksa membayar lebih tinggi untuk air minum," kata Anies, dalam acara CNBC Indonesia Conference, Selasa (23/7/2019).

Sejak awal tahun, warga Kampung Nelayan juga sudah mendengar desas-desus tentang pipa air yang bakal terhubung ke sana.

Konon, akhir tahun ini, pipa-pipa bakal mengalirkan air ke rumah-rumah warga. Meski begitu, kebanyakan warga bersikap skeptis. Pasalnya, desas-desus macam itu bukan cerita baru dalam dua dekade terakhir.

Aisyah pun hanya bisa menggantung harap, "Semoga omongan soal pipa air masuk tahun ini, bukan gosip (lagi)."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR