Keterangan Gambar : Ilustrasi selebritas media sosial. © Shutterstock / LOFTFLOW

Influencer, profesi kekinian nan menjanjikan, idaman kaum muda. Terlihat menyenangkan, tetapi tak semudah kelihatannya.

Di era digital, menjadi selebritas tak melulu harus tampil di televisi, mengikuti ajang pencarian bakat, berperan dalam film, atau jadi penyanyi terlebih dahulu. Bermodalkan media sosial, semua bisa terkenal.

Tentunya, butuh usaha agar bisa dikenal. Pertama, Anda harus menjadi pribadi yang menarik, selain itu harus punya kreativitas dalam membuat konten. Konten yang dimaksud bisa berupa foto, video, maupun tulisan.

Semakin menarik konten yang dibuat, semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan banyak pengikut di media sosial. Jika pengikut sudah banyak, tentunya besar pula kesempatan untuk dilirik berbagai jenama untuk mempromosikan produk mereka.

"Banyaknya follower di media sosial bisa jadi salah satu faktor yang menentukan bayaran dari pihak brand pengguna jasa selebritas media sosial," ujar Rade Tampubolon, CEO Sociabuzz, salah satu jasa penyedia layanan yang menghubungkan pengiklan dengan influencer.

Istilah influencer kini marak digunakan. Menurut Rade, pengertiannya kurang lebih orang-orang berpengaruh yang punya massa cukup besar dan sosok yang bisa memengaruhi audiens.

Sebutan influencer sebelumnya juga dikenal dengan sebutan-sebutan buzzer, endorser, content creator, selebgram--orang yang terkenal di Instagram, serta selebtweet--orang yang terkenal di Twitter.

Para influencer senantiasa membagikan konten yang mereka buat di akun media sosial masing-masing. Laiknya pesohor pada umumnya, para influencer pun memiliki penggemar.

Putri Aulia Maharani, termasuk salah seorang remaja pengguna media sosial yang mengikuti, bahkan menggemari influencer kecantikan di Indonesia, salah satunya Sarah Ayu Hunter (230 ribu pengikut).

"Kelihatannya seru (menjadi influencer) bisa menjalankan apa yang kita suka, tapi ya itu pekerjaan. Kayaknya enteng," ujar Putri pada Beritagar.id.

Bagi para pengikut akun para media sosial influencer, bukan hal asing bila melihat betapa serunya pekerjaan mereka. Seolah pekerjaannya hanya datang dari satu acara ke acara, membuat video unboxing produk, tutorial, mengulas berbagai produk terbaru, mengunggah foto-foto ke Instagram, dan tak lupa membagikan cerita kehidupan sehari-hari lewat Instagram Story.

Sekilas, memang begitulah kehidupan para influencer yang biasa dilihat orang di media sosial mereka. Padahal, influencer juga bisa disebut sebagai profesi bila dijalankan dengan serius.

Meski tak memperlihatkan adegan di kantor, berpakaian rapi, atau melakukan pekerjaan rutin seperti pekerja pada umumnya, ternyata menjadi influencer tak bisa dibilang enteng.

Laiknya pesohor pada umumnya, para influencer pun memiliki penggemar.
Laiknya pesohor pada umumnya, para influencer pun memiliki penggemar.
© taniavolobueva /Shutterstock

Mengenal influencer sebagai profesi kekinian

"Sebenarnya kata influencer itu luas, semua orang bisa disebut influencer ketika berhasil memengaruhi orang lain, misalnya untuk membeli produk tertentu, ujar Rade dalam perbincangan dengan Beritagar.id melalui telepon pada Kamis (04/05/2017).

Rade juga berpendapat bahwa sebutan influencer adalah kata yang diberikan pihak lain terhadap diri mereka. Para influencer ini biasanya di dunia nyata sudah jadi selebritas, terkenal di media sosial, atau seorang pembuat konten.

"Influencer cakupannya bisa banyak, ada sebagian orang yang memang ahli di bidangnya kemudian memiliki followers banyak di platform digital mereka, bisa disebut influencer," kata Claradevi Handriatmadja, sosok di balik blog lucedale.co.

Lalu, apakah yang sebenarnya dikerjakan para influencer?

Dilansir dari situs Thenextweb, tugas influencer ialah melakukan pemasaran produk, meningkatkan kesadaran terhadap produk, mendatangi acara-acara dari produk yang bekerjasama dengan influencer tersebut, serta mengadakan giveaway sebagai salah cara mempromosikan produk.

"Tahapan kerja untuk video biasanya dimulai dari pra produksi, bikin konsep, storyline, mood board, lalu masuk ke produksi," ujar Andy Garcia yang dikenal lewat akun Instagram garciandyyy kepada Beritagar.id saat diwawancarai di sebuah kedai kopi di Jakarta Barat, Jumat (05/05/2017).

"Kalau gue produksi enggak mungkin pakai ponsel, pasti pakai kamera profesional. Gue juga menerapkan ilmu film yang gue pelajari waktu kuliah," tambah pria berusia 24 tahun tersebut.

Menurut Claradevi, pekerjaan influencer bisa sangat bervariasi. "Tetapi saya rasa generally akan bersangkutan dengan aktivitas membuat konten yang sesuai dengan bidang spesialisasi mereka masing-masing seperti memasak, fotografi, olahraga, otomotif, traveling, dan sebagainya," katanya.

Rade berpendapat bahwa pekerjaan utama para influencer adalah membuat konten promosi yang nantinya akan diunggah ke media sosial mereka.

Menurut Rade, untuk jadi influencer harus memiliki sesuatu yang menarik dari sisi konten dan persona. "Untuk pemula, coba bikin konsep yang menarik. Fokus pada konten dan bagikan ke media sosial, nanti juga akan menemukan target marketnya."

Claradevi mengemukakan pandangannya terhadap kemampuan yang harus dimiliki influencer, yaitu komunikasi, selera, kepribadian, dan kemampuan mengelola manajemen waktu.

Memiliki ciri khas yang menjadi identitas diri juga penting. Claradevi misalnya, terkenal karena gemar bergaya vintage dan membagikan info seputar dunia mode sekaligus cerita perjalanan.

"Bahkan, hanya signature character dan personality yang membuat kita bisa bertahan dari maraknya kompetisi antar digital creators pada masa sekarang," ujar Claradevi.

Sementara Diana Rikasari, terkenal karena selalu berpakaian warna-warni dan terlihat nyentrik dalam setiap unggahan foto dan videonya.

Andy memilih trik sulap editing dan mengutamakan kualitas profesional pada setiap videonya. Sedangkan Clairine berusaha agar selalu lucu dan ceria sehingga dapat menghibur warganet.

Claradevi Handriatmadja, selebriti media sosial.
Claradevi Handriatmadja, selebriti media sosial.
© Claradevi Handriatmadja /Lucedale.co

Pekerjaan yang sulit tetapi menyenangkan

Seperti yang terlihat di media sosial, pekerjaan sebagai influencer ternyata memang menyenangkan. Clairine Christabel menyatakan bahwa koneksi dan bisa bertemu orang-orang hebat adalah salah satu hal yang ia suka dari pekerjaan tersebut.

"Aku awalnya aktif di Instagram tahun 2014. Waktu itu literally iseng bikin meme, ternyata feedback-nya bagus jadi lanjut terus," kata perempuan berusia 22 tahun ini.

Peraih penghargaan Breakout Influencer pada ajang Influence Asia 2015 ini mengaku bahwa ide membuat meme biasanya dari dari pengalaman diri sendiri atau permintaan dari follower. Hingga kini, akun Instagram perempuan yang akrab disapa Clay ini telah memiliki 687 ribu pengikut.

Tahun 2014 juga menjadi awal bagi Andy Garcia aktif di media sosial Instagram. Saat itu, ia membuat video komedi dengan durasi 15 detik. "Tapi karena gue enggak lucu, konsepnya ganti sama apa yang gue bisa yaitu sulap editing dan makan."

Andy bersama rekannya Victor Samuel juga memiliki akun Youtube dengan nama JWest Bros dengan mayoritas video bertema makanan, seperti tutorial memasak, mencoba makanan esktrem, serta mengulas berbagai jenis makanan.

Saat ditanya kenapa tidak membuat akun Youtube sendiri, Andy menjawab, "Karena berdua lebih enak sih. Bukannya enggak pede, tapi kalau berdua bisa tektokan, dan gali ide jadi ada dua kepala."

Berbeda dengan Andy dan Clairine, Claradevi memulai kariernya dengan menulis blog sejak tahun 2007.

Perempuan yang sejak 2013 juga bekerja sebagai Creative Director di salah satu Digital Agency di Tokyo tersebut menyatakan bahwa menulis blog tanpa ada niatan untuk menggunakan hobi tersebut untuk tujuan komersil.

"Blogging membuka banyak pintu networking bagi saya, dan membawa saya ke berbagai kesempatan terbatas seperti Fashion Weeks, runway backstage, bekerjasama dengan brand-brand besar untuk membuat campaign, dan sebagainya," kata Claradevi.

"Semua karena kekuatan tulisan dan fotografi yang saya buat. It's nice and empowering to feel that way," tambahnya.

Diana Rikasari yang dikenal dengan gayanya yang penuh warna juga memulai kariernya sebagai narablog sejak 2007. Awalnya, Diana yang juga seorang pengusaha hanya iseng-iseng. "Memang saat itu tidak terpikir bahwa blog dan media sosial bisa menjadi sebuah pekerjaan."

Pemilik usaha I Wear Up dan Schmiley Mo ini mengatakan bahwa hal yang menyenangkan dari pekerjaan sebagai influencer pada dasarnya karena dirinya memang suka fotografi dan menulis.

"Jadi semuanya mengalir saja. Aku juga menulis dan mengulas produk-produk yang genuinely aku suka, jadi enggak ada beban," kata Diana yang juga menulis buku trilogi berjudul 88 Love Live.

Ada hal menyenangkan, bukan berarti pekerjaan ini tanpa kesulitan dan hambatan. Andy berkata bahwa bekerja sebagai influencer mungkin berbeda dengan pekerja kantoran, tetapi tetap terikat waktu dan tuntutan.

"Kelihatannya mudah karena bisa dikerjakan dari mana saja, padahal bikin video itu mikir ceritanya saja lama. Video 10 detik saja proses shooting bisa dua jam dan editing bisa berjam-jam. Kita pun kan sama, punya bos, yaitu pihak brand. Belum lagi revisi dan juga ada deadline," ujar Andy.

Menurut Diana, kesulitannya selama ini lebih kepada konsistensi. "Sebagai influencer, kita harus bisa konsisten untuk regularly post something new, keep updating our feed, layout look biar enggak membosankan, dan harus bisa kerja within a tight deadline karena most clients want reviews or posts dalam waktu dekat," ujar perempuan yang kini tinggal di Swiss tersebut.

Kuat di salah satu media sosial bukan berarti bisa sama-sama kuat di media lain. Clairine merasa masih kesulitan untuk bisa eksis di Youtube, seeksis dirinya di Instagram.

"Orang sudah lebih kenal aku di Instagram," kata perempuan kelahiran Jakarta tersebut. Hal tersebut kemudian jadi tantangan tersendiri baginya untuk membuat inovasi dan konten yang sedang mengetren.

Sedangkan kesulitan yang sekaligus menjadi tantangan bagi Claradevi ialah untuk disiplin dan konsisten membuat konten yang relevan bagi pembaca.

Claradevi berpendapat bahwa yang paling sulit adalah ketika kita tidak bisa mempertahankan reputasi. "Biasanya, karier dengan mudah berhenti dan sulit sekali mendapatkan pekerjaan dari klien," jelas Claradevi.

Konten adalah kunci sebagai seorang influencer.
Konten adalah kunci sebagai seorang influencer.
© Africa Studio /Shutterstock

Pesona eksistensi yang membuat orang bermimpi

Putri, mahasiswa berusia 18 tahun mengaku memiliki keinginan untuk bisa eksis di media sosial. Menurutnya, banyak teman seusianya yang juga tertarik untuk bisa menjadikan media sosial sebagai pekerjaan.

Menurut Putri yang tertarik pada dunia kecantikan, menjadi pesohor di media sosial tidak akan memberikan dampak negatif selama orang tersebut bisa menahan diri. Apa kata psikolog tentang hal ini?

"Ingin eksis di media sosial adalah hal yang normal. Tetapi dalam beberapa kasus, memang ada yang terlalu obsesif dan butuh pengakuan lebih," jelas Psikolog Elizabeth.

Elizabeth berpesan bahwa menjadi eksis juga bisa dilakukan dengan cara positif. Pertama, harus mengenali diri sendiri. Kedua, harus mencintai diri sendiri. Ketiga, memahami bahwa apa yang akan diunggah ke media sosial itu adalah demi diri sendiri dan bukan untuk orang lain.

"Orang yang mencintai dirinya sendiri akan membangun citra positif. Orang yang mencintai diri sendiri juga tidak butuh pengakuan dari orang lain. Kalau sudah begitu, pasti tidak akan aneh-aneh di media sosial," tutupnya.

Putri hanyalah satu dari sekian banyak anak muda yang berminat menjadi selebritas di media sosial. Ya, kesempatan untuk bekerjasama dengan jenama-jenama ternama memang menjadi pesona tersendiri dari pekerjaan baru ini.

Rade mengatakan bahwa pekerjaan ini masih menjanjikan, tetapi tentu butuh kerja keras karena sudah banyak pesaing. Maka, memiliki ciri khas merupakan hal penting.

Dari segi pengiklan, jasa yang dikerjakan influencer juga memberikan pengaruh pada kesadaran terhadap produk dan penjualan. Menurut pengakuan Rade, tak hanya jenama besar, bahkan usaha kecil menengah pun banyak yang menggunakan jasa tersebut.

"Influencer berpengaruh besar terhadap penjualan. Biasanya, modal promosi makin besar, sehingga pengiklan terus menerus menggunakan influencer," ucapnya.

Bagi influencer yang ingin bekerjasama dengan pihak tertentu tetapi kesulitan mencari jalan untuk bertemu dengan pengiklan, bisa memanfaatkan situs seperti Sociabuzz agar mudah 'ditemukan' oleh pihak pengiklan. Saat ini, sudah ada lebih dari 12 ribu akun yang mendaftar sebagai influencer di situs tersebut.

Soal penghasilan, dari mempromosikan produk lewat foto, influencer bisa meraup keuntungan mulai dari ratusan ribu hingga jutaan Rupiah. "Kalau untuk video lebih mahal, bisa mulai dari jutaan hingga ratusan juta," jelas Rade.

Selain Sociabuzz, ada pun situs-situs lain yang berfungsi untuk mempertemukan antara pengiklan dan influencer, seperti GoViral, ID Blog Network, Blogmint, Buzzer Hero, dan Sociagush.

Bila berminat menjadi selebritas media sosial, seseorang harus membangun citra diri yang menarik, membuat konten yang unik dan disukai pasar, selalu berinovasi, dan memanfaatkan teknologi serta layanan yang telah tersedia.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.