Ilustrasi Benyamin Sueb.
Ilustrasi Benyamin Sueb. Salni Setyadi / Beritagar.id
BENYAMIN S

Tak ada makan bersama lagi bagi Bela

Bersama kelompok pengajiannya ia membentuk klub bola. Hobinya bermain bola itu membawa maut.

Bianca Beladina namanya. Peristiwa itu terjadi ketika ia berusia tujuh tahun. Namun peristiwa yang terjadi 23 tahun berlalu itu tak akan pernah ia lupakan. Tepatnya Sabtu (27/8/1995) malam. Bela –panggilan Bianca--yang kini berusia 30 tahun, sama sekali tak menyangka malam itu menjadi makan malam terakhir bersama sang ayah, Benyamin Sueb.

Hari itu Ben kebetulan tak ada jadwal syuting atau manggung keluar kota. Seperti yang menjadi kebiasaannya, kalau sedang di rumah, sang “Biang Kerok” selalu menyempatkan waktu bersama keluarga. Berkumpul atau sekadar jalan-jalan mencari tempat makan.

“Malam itu bapak ngajak kami semua makan di warung Sunda langganan di dekat rumah sini (Cinere),” kata putri ketiga almarhum Ben dari pernikahan dengan Alfiah kepada Beritagar.id, Selasa (7/8/2018).

Di warung itu mereka ngobrol dan bercanda. Mereka memesan menu-menu khas Sunda. Tak ketinggalan Ben memesan cemilan kesukaannya: emping diberi kecap. Ben makan dengan lahap. Tak ada firasat apapun bagi Bela dan keluarganya malam itu.

Usai makan, mereka pulang. Berkumpul lagi di rumah Ben di bilangan Cinere Estate Jalan Delima 263.

Setelah salat subuh, Ben mengajak Alfiah jalan santai di sekitar tempat tinggalnya. “Gue kok pingin main bola ya,” kata Ben kepada istrinya seperti ditulis dalam buku “Benyamin S: Muka Kampung Rezeki Kota” yang ditulis Ludhy Cahyana dan Muhlis Suhaeri.

Selepas jalan-jalan itu, sekitar pukul 05.30, Ben sudah siap dengan seragam kesebelasannya. Celana pendek hitam dan kaos orange strip hitam menyilang. Sepatunya dicangking.

Alfiah dan tiga anaknya yang masih kecil diajaknya. Ia menyetir sendiri mobil Trooper, Chevrolet, buatan 1994 menuju lapangan sepak bola di dekat kantor kelurahan Karang Tengah. Di lapangan, teman-temannya sudah berdatangan.

Hari itu ada beberapa tim yang akan bertanding. Ben yang masuk dalam Tim Cinere mendapat giliran pertama bertanding melawan kesebelasan Banjar Sari. Pertandingan ini merupakan pertandingan terakhir sejak digelar pertengahan Juli 1995.

Tak lupa sebelum main, Ben melumuri kakinya dengan balsem. Pukul 07.30 pertandingan dimulai. Seperti biasanya, setiap kali main bola, Ben selalu menjadi penyerang. Permainan berlangsung seru.

Ketika permainan berlangsung sekitar menit ke-30 Ben pingsan di tengah lapangan. Seketika teman-temannya mengerubungi.

Pertandingan dihentikan. Mereka langsung menggotong Ben ke pinggir. “Sempat kami urut,” kata Tukiman (72), teman satu tim Ben yang main bola saat kami temui usai pengajian di Cinere, Jumat (24/8/2018). Ben siuman tapi tak lama. Lalu ia pingsan lagi.

Alfiah yang duduk di bangku tribun tak mengetahui suaminya pingsan. Yang ia tahu, Ben kecapekan dan sedang ngaso. Lalu ia menyuruh Bela memberikan kacamata ayahnya. Bela yang kala itu masih berusia tujuh tahun bergegas ke pinggir lapangan, mengantarkan kacamata bapaknya. “Saya lihat beliau seperti kecapekan. Teman-temannya juga pas lagi ngurutin,” kata Bela.

Bela tak tahu ayahnya sedang tak sadarkan diri. “Taunya abis itu bapak digotong ke mobil,” ujar Bela.

Menurut Tukiman, saat itu Ben mau dilarikan ke Rumah Sakit Puri Cinere. Dalam perjalanan menuju RS Cinere, beberapa temannya kembali menguruti tubuh aktor serba bisa itu. Saat mobil tiba di rumah sakit Ben siuman. “Mau dibawa ke mana gue,” kata Tukiman menirukan ucapan Benyamin.

Saat diberitahu, Ben menolak dimasukkan rumah sakit. “Gue enggak apa-apa,” ujar Ben.

Ia meminta agar diantar ke rumahnya. Mereka menuruti permintaannya. Mobil berbelok arah ke rumahnya yang ada di kawasan Cinere. Sampai di rumah, Ben kembali dipijit dan dikeroki. “Tapi saat itu kok dia enggak bangun-bangun,” ujar Tukiman.

Mengetahui kondisi itu, keluarganya memutuskan untuk kembali membawa Ben ke RS Puri Cinere. Kali ini Ben memang benar-benar tidak sadarkan diri. Alat pacu jantung dipasang. Di layar monitor jantung Ben sempat berhenti berdetak namun tak lama.

Benyamin Sueb hadir dalam pembukaan Pekan Olahraga Korps Pegawai Republik Indonesia, Senayan, Jakarta, 1981.
Benyamin Sueb hadir dalam pembukaan Pekan Olahraga Korps Pegawai Republik Indonesia, Senayan, Jakarta, 1981. | Dodo Karundeng /TEMPO

Sekitar dua jam di RS Puri Cinere, Ben dipindahkan ke Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta Barat. Lapangan sepak bola yang semula ramai jadi sepi. Hampir semua rekan-rekannya yang hari itu ada di lapangan menuju RS Harapan Kita. Menurut Asikin Hanafiah, dokter RS Harapan Kita yang menangani, Ben terkena serangan jantung.

Di rawat kurang lebih sembilan hari di ICU, kondisi penyanyi dan bintang film asal Betawi ini tak kunjung membaik. Tekanan darahnya bahkan sempat drop 70/50 namun kemudian membaik menjadi 110/80.

Sejumlah rekan dan pejabat datang membesuk. Karangan-karangan bunga – di antaranya dari Presiden Soeharto--berisi doa agar Ben lekas sembuh juga tampak memenuhi lantai II, RS Harapan Kita.

Tepat pada 5 September 1995, layar indikator jantung Ben tampak melemah. Sekitar pukul 05.20, layar indikator jantung itu tak berdenyut alias membentuk garis lurus. Legenda Betawi yang pamornya kembali naik berkat perannya di sinetron “Si Doel Anak Sekolah” itu wafat.

Indonesia berduka. Kabar itu segera tersiar. Masyarakat umum, rekan sesama artis, dan sejumlah pejabat berdatangan ke kediaman artis kelahiran 5 Maret 1939 itu. Karangan bunga dari berbagai kalangan juga bertaburan.

Harian Kompas tertanggal 6 September 1995 berjudul “Benyamin Telah Mendahului Kita” menulis, saking banyaknya pelayat, Jalan Karang Tengah pada pukul 08.00 sampai 11.00 yang biasanya lengang, hari itu praktis macet. Masyarakat berduyun-duyun datang ingin melayat ke rumah duka.

Di kediaman almarhum, manusia menyemut. Dari kalangan pejabat, masih menurut laporan Harian Kompas, tampak Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat era Orde Baru, Azwar Anas, Wakil Gubernur DKI Bidang Pemerintahan Idris, dan Walikota Jakarta Selatan Pardjoko.

Ribuan orang terlihat berdiri di jalur yang dilewati rombongan pengantar jenazah. Mulai dari Jalan Pondok Labu, Fatmawati, Panglima Polim, Sudirman, hingga ke TPU Karet. Di TPU Karet, ribuan orang sudah menunggu kedatangan jenazah.

Gila bola

Ben memang tak bisa dilepaskan dari dunia bola. Menurut salah satu anaknya, Benny, sejak kecil bapaknya sudah hobi main bola. Benyamin kecil yang tinggal di Kemayoran kerap main bola dengan teman sebayanya. Bahkan jika ada waktu longgar dan ada pertandingan bola di televisi, Ben selalu menontonnya hingga larut. Bola sudah mendarah daging dalam tubuhnya.

Saat namanya mulai tenar, ia bersama selebritas lain seperti Ateng, Bagio, Eddy Sud sempat membuat paguyuban bola. Mereka kerap latihan dan melakukan pertandingan persahabatan dengan masyarakat maupun pejabat. Namun latihan rutin yang dilakukan ya bersama kelompok pengajiannya di Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

Dari kiri-kanan: Keenan Nasution, Bianca Beladina, dan Tukiman.
Dari kiri-kanan: Keenan Nasution, Bianca Beladina, dan Tukiman. | Arnold Simanjuntak /Beritagar.id

Di kelompok pengajian ini, para jemaahnya memang dianjurkan untuk menjaga kebugaran tubuh. Tak hanya bermain bola tapi juga olahraga yang lain. Tapi dari olahraga yang ada, bola yang paling banyak diminati.

Tak hanya di Cinere, di kantung-kantung LDII, kaum laki-lakinya juga punya klub bola. Klub bola ini biasanya disesuaikan dengan nama daerahnya. Ada Pulo, Andara, Gang Pinang, Mawar, Pasar Jumat, Banjar Sari, dan Pondok Labu. Induk kelompok ini, seperti ditulis dalam buku "Benyamin S: Muka Kampung Rezeki Kota,” bernama Setia Jaya. "Iya itu klub bola pengajian," kata Ludhy.

Karena sudah ada beberapa klub, Ben berinisiatif membuat turnamen Bens Cup. Turnamen ini diadakan setahun sekali sejak 1987. Biaya penyelenggaraan sepenuhnya ditanggung Benyamin.

Penyanyi Keenan Nasution, teman pengajian yang rumahnya satu kompleks dengan Ben, bercerita di kelompok pengajiannya, mereka biasa latihan hari Minggu. Jika ada waktu longgar, Ben pasti tak akan melewatkan latihan bersama. Demikian juga Keenan.

Di Cinere, mereka biasa latihan di lapangan Karang Tengah. Karena lapangan Karang Tengah ini mau dialihfungsikan, kini mereka membuat lapangan sendiri di daerah Gandul yang masih di kawasan Cinere.

Ben sangat mencintai timnya. Setiap tahun Bens selalu membelikan dua pasang seragam, dan kaus kaki untuk timnya. “Pokoknya beliau itu ngebosi,” kata Tukiman.

Artikel Terkait