Tampak depan Taman Baca Kesiman, Denpasar, Bali.
Tampak depan Taman Baca Kesiman, Denpasar, Bali. Bram Setiawan / Beritagar.id

Taman Baca Kesiman menghapus citra kaku perpustakaan

Muncul sejak 2014, Taman Baca Kesiman menjadi alternatif ruang berbagi publik. Koleksi bukunya berasal dari beberapa individu.

Dua personel Nosstress, Kupit dan Angga, mengasah nada di Taman Baca Kesiman (TBK), Denpasar, Bali, Selasa (30/1). Alunan musik akustik dari band indie setempat itu merambat ke telinga. "Tempat latihan yang asyik, nyaman, menambah pengetahuan untuk asupan ide," kata Kupit mengenai TBK.

Taman Baca Kesiman tergolong perpustakaaan. Namun, konsep yang ditawarkan tidak monoton. "Menunjukkan kebudayaan literasi itu enggak membosankan dan asyik," tutur Manajer Program Taman Baca Kesiman, Gede Indra Pramana, kepada Beritagar.id.

Dirintis pada 2014, taman baca itu bukan cuma menjadi tempat membaca buku saja. Para seniman, akademikus, aktivis, jurnalis, serta pelaku industri kreatif acap kali berhimpun di sana untuk melakukan banyak hal. Pada 2016, tercatat telah ada 84 kegiatan yang digelar di lokasi tersebut.

"Per bulan rata-rata enam kegiatan," ujar Gede mengenai aktivitas di taman baca yang terletak di Jalan Sedap Malam No. 234, Denpasar.

Satu contoh kegiatan diadakan pada 10 Desember 2017. Ketika itu, Amnesty Internasional Indonesia terlibat diskusi dengan gerakan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBali) dalam peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional.

Acara bertajuk "Semakin Dibungkam, Semakin Melawan!" menandai gerakan penolakan reklamasi Teluk Benoa yang telah berlangsung lima tahun.

Acara itu tidak hanya menghadirkan Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid. Di antara hadirin adalah Koordinator ForBALI, Wayan Gendo Suardana; penabuh drum Superman Is Dead, Jerinx; serta beberapa pemuda penolak reklamasi.

"Diskusi (tersebut) juga mengembangkan literasi," kata Gede.

Taman Baca Kesiman mengagendakan beberapa kegiatan rutin bulanan dengan beberapa tajuk utama. Di antaranya, Bincang Sore untuk agenda diskusi, Cinecoda untuk pembahasan tentang film, dan Berdendang khusus untuk mengangkat hal-ihwal musik.

Pendiri Taman Baca Kesiman (TBK), Agung Alit, di ruang perpustakaan TBK, Denpasar, Bali, Selasa (30/1/2018).
Pendiri Taman Baca Kesiman (TBK), Agung Alit, di ruang perpustakaan TBK, Denpasar, Bali, Selasa (30/1/2018). | Bram Setiawan /Beritagar.id

Beberapa kursi dan meja terkumpul di beberapa sisi depan perpustakaan. Wajah taman baca itu menjadi ruang terbuka yang biasa digunakan untuk melakukan pertemuan.

Saat agenda program Taman Baca Kesiman sedang kosong, area ini biasa digunakan pengunjung mengobrol.

TBK juga masih menyimpan lahan kosong berumput yang lazim dimanfaatkan untuk pertunjukan musik atau menggelar lokakarya. Jika sedang tidak ada kegiatan, anak-anak dari desa setempat memakainya sebagai ruang bermain.

Taman Baca Kesiman mengoleksi lebih dari empat ribu buku. Temanya beragam, di antaranya filsafat, sastra, agama, sejarah, biografi dan politik.

"Buku teknologi terapan ada, tapi enggak banyak," ujar Gede.

Para pengunjung dapat membaca semua buku di Taman Baca Kesiman tanpa mesti mengeluarkan uang sewa. Namun, buku-buku tersebut tidak boleh dibawa pulang. Demi mengalihkan kebosanan, para peminat baca dapat memesan makanan atau minuman.

Kehadiran Taman Baca Kesiman digagas oleh Agung Alit. Ia pendiri Mitra Bali, anggota World Fair Trade Organization. Alit tidak sendirian mewujudkan TBK. Bersama istrinya, Hani Wardani Duarsa, dan kakaknya, antropolog Degung Santikarma, mereka bahu-membahu merajut harapan demi pengembangan literasi di Bali.

"Ini (Taman Baca Kesiman) tempat orang rekreasi sebagai kantong intelektual organik," tutur Alit kepada Beritagar.id.

Kemunculan taman baca itu lantas menjadi semacam penyeimbang bagi sisi pariwisata Bali yang cenderung terabaikan. Menurut Alit, TBK bisa menjadi alternatif bagi tujuan wisata.

Seturut keterangannya, koleksi buku TBK tidak hanya bersumber dari milik pribadi keluarganya saja. Di antara penyumbangnya adalah penulis Made Supriatma, dan antropolog John MacDougall.

Patung dada Abdurrahman Wahid di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Bali, Selasa (30/1/2018).
Patung dada Abdurrahman Wahid di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Bali, Selasa (30/1/2018). | Bram Setiawan /Beritagar.id

Komitmen sosial Alit untuk mendirikan TBK lahir berkat keanggotannya di World Fair Trade Organization. Hidup mapan tidak membuatnya terlena. Lahan warisan dari neneknya--berada di antara tempat hiburan malam--telah menjelma sebuah ruang pemikiran dan pertumbuhan kreativitas.

Menurutnya, merawat dan mengembangkan pikiran perlu ditunjang dengan 'asupan gizi'. "Orang membaca butuh makanan sehat (harga) terjangkau dan enak," katanya.

Pengelola memiliki dapur sendiri. Papan kayu bertulisan "Dapur TBK" memajang beberapa menu sederhana. Tersedia olahan pisang goreng maupun kolak. Di sektor minuman, tersedia kopi, teh, dan jus. Harga untuk makanan dan minuman terentang dari Rp5.000 hingga Rp25.000.

Dapur Taman Baca Kesiman tampak memikat dengan memajang lukisan sosok penulis Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Di pintu masuk dapur terpacak kutipan singkat. Kalau memang tidak punya wewenang jangan masuk dapur, masuk polisi aja, demikian bunyinya.

Para awak dapur mendapatkan bahan mentah dari area kebun TBK. Saat ini, kebun itu ditumbuhi singkong, kembang telang, rumput serai, sawi, okra, cabai, terung, dan pisang.

"Kalau bahan yang tidak ada dari kebun beberapa kami beli," kata Gede.

Cara Alit melawan sistem pengadaan produk makanan yang saat ini cenderung berasal dari luar negeri pun terwujud di dapur TBK. Salah satu yang ingin diwujudkannya di dapur tersebut adalah penerapan prinsip keberpihakan bagi para petani lokal.

Gagasan untuk dapurnya terbit tiga tahun lalu di sebuah restoran di Rio de Janeiro, Brasil. Saat berada di meja rumah makan itu, pandangan Alit tertuju pada beberapa kode dalam daftar menu. Kode tersebut mengidentifikasi sumber bahan makanan yang berasal dari petani di beberapa daerah.

Restoran dimaksud dikelola oleh rekannya, yakni seorang juru masak yang juga anggota World Fair Trade Organization. Dari sana, inspirasinya pun tumbuh untuk mengembangkan model yang sama di dapur TBK.

"Tapi belum tergarap," kata Alit.

Ia berharap suatu saat nanti daftar menu di dapur Taman Baca Kesiman bisa memunculkan nama petani yang menyalurkan bahan-bahan makanan itu. Bila ada pengunjung yang tertarik dengan hasil perkebunan yang dinikmati, mereka bisa langsung berhubungan langsung dengan petani.

Anggota grup musik folk indie Nosstress, Kupit (memangku gitar) saat berlatih di Taman Baca Kesiman.
Anggota grup musik folk indie Nosstress, Kupit (memangku gitar) saat berlatih di Taman Baca Kesiman. | Bram Setiawan /Beritagar.id

Para pengunjung pun dapat menikmati sejumlah karya rupa di TBK. Pada 2015, Alit memajang patung dada Abdurrahman Wahid di dekat ruang baca. Alit memilih patung itu sebagai simbol dukungan terhadap keberagaman.

"Semua golongan bisa menerima beliau (Gus Dur), seorang guru bangsa," ujar Alit.

Pada pertengahan Januari 2018, patung Bob Marley menjadi anggota baru di kompleks TBK. Ia diletakkan di sisi pintu ruang baca. Wajah patung itu menunduk, membaca buku.

"Dunia butuh malaikat berwajah dekil daripada yang klimis," kata Alit.

Ucapan barusan bukan sekadar cakap angin. Ia ingin menegaskan sebuah pesan bahwa membaca buku bukan hanya untuk kalangan orang tertentu saja.

Patung Bob Marley memberikan gambaran seorang seniman yang cerdas dalam balutan kesederhanaan. "Biar kaum gimbal yang memberikan contoh, seorang urakan yang membawa perubahan kehidupan," katanya lagi.

Meskipun ruang baca tergolong mini, namun spektrum tema buku yang ditawarkan di sana luas.

Penataan ruangan bernuansa artistik, sehingga tidak bikin jenuh pengunjung. Rak-rak menempel di dinding. Meja berisi kutipan-kutipan bernas dan gambar tokoh terkemuka seperti Pramoedya Ananta Toer dan Wiji Tukul.

Setelah tiga tahun lebih, TBK membawa kebahagiaan bagi Alit dan keluarganya. "Saya semakin yakin tempat ini dibutuhkan seperti yang diimpikan," katanya. "Semoga menjadi nuansa berbeda memperkaya khazanah kampung kesayangan, Desa Kesiman".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR