Tanaman hias
Tanaman hias Shutterstock / v.gi

Tanaman hias: Dari hobi hingga terapi

Tak hanya sedap dipandang mata, beberapa jenis tanaman hias ampuh sebagai pembersih udara, bahkan bisa dimanfaatkan untuk terapi.

Sejak bertahun-tahun lalu, tanaman hias merupakan sahabat karib para ibu. Kaum ibu dikenal gemar bercocok tanam. Mengoleksi berbagai macam tanaman mungil dalam pot berupa dedaunan atau bunga-bungaan yang cantik.

Belum lagi beragam tren tanaman hias dalam pot yang sempat menyambangi rumah-rumah sejak beberapa waktu lalu. Sebut saja mawar, anggrek hingga anthurium yang fenomenal karena harganya yang selangit.

Padahal tanaman hias tak melulu mesti identik dengan perempuan. Lelaki pun sah saja jika ingin mengoleksinya.

Pasalnya tanaman hias tak hanya sedap dipandang mata, tetapi juga banyak gunanya. Beberapa jenis tanaman hias ampuh sebagai pembersih udara. Ada juga yang bisa dimanfaatkan untuk pengobatan. Bercocok tanam pun bisa membuat tubuh lebih bugar.

Cara pembudidayaannya tak sekadar menanam bibit tanaman di tanah dan memberinya pupuk. Tanaman hias kini juga bisa ditanam tanpa tanah dan dijadikan karya seni yang lebih menarik, bukan jadi pajangan di pojok ruangan semata.

Tanaman hias cantik yang dibudidayakan dalam pot
Tanaman hias cantik yang dibudidayakan dalam pot | v.mi /Shutterstock

Awalnya pada zaman Mesir kuno

Tanaman hias bukan merupakan jenis tanaman yang tumbuh dengan sendirinya, seperti yang diduga banyak orang. Jenis tanaman ini merupakan tanaman yang dikreasikan oleh manusia.

Pada zaman Mesir kuno, belum marak tren menanam tanaman hias, apalagi menanam bunga-bungaan di dalam pot cantik. Namun, manusia pada zaman Raja Fir'aun sudah gemar membawa tumbuh-tumbuhan yang ditemukan di hutan atau daerah sekitar.

Mereka kemudian memotong atau mengambil bagian dari tanaman kemudian membawanya dalam skala kecil dan menanamnya di dalam rumah. Tanaman ini kemudian dijadikan hiasan rumah.

Tanaman ini yang lalu dikenal sebagai tanaman hias atau dalam bahasa Inggris disebut dengan houseplants. Perumahan dan perkantoran, kini merupakan konsumen besar tanaman hias.

Seiring dengan berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan, tanaman hias pun dibagi ke dalam tiga kelompok. Tiga kelompok tersebut ialah tanaman hias bunga, tanaman hias buah serta tanaman hias daun.

Tanaman hias bunga ialah tanaman yang berbunga dan dipelihara karena kecantikan bunganya. Bunga mawar, melati, kembang sepatu, beragam jenis anggrek, geranium, krisan, merupakan tanaman hias bunga yang banyak dipelihara sebagai hiasan rumah.

Tanaman hias buah, seperti namanya merupakan tanaman hias yang menghasilkan buah. Ya, tanaman buah juga bisa dijadikan sebagai hiasan, seperti jeruk Nagami, kecapi Bangkok atau buah naga mini.

Sementara itu jenis tanaman hias daun sering kali berupa tanaman yang hanya berupa daun saja dan biasanya memiliki daun tunggal atau satu daun untuk satu batang.

Misalnya aglaonema dan kastuba yang digemari karena warna daunnya merah menyala atau anthurium yang sempat mengetren dan bernilai jual sangat tinggi di sekitar pada 2006.

Biasanya tanaman-tanaman ini ditanam di dalam pot. Cara merawatnya pun tak seberapa sulit. Pertama-tama, Anda harus mengenali jenis tanaman yang akan Anda rawat, karena setiap tanaman memiliki jenis perawatan yang berbeda-beda.

Misalnya saja pohon fikus yang memerlukan sedikit cahaya dan tanah lembap, sedangkan jenis kaktus justru butuh cahaya terang dan tanah yang kering.

Perhatikan pula kapan tanaman memerlukan air. Jangan sampai terlalu kering atau terlalu basah yang dapat menyebabkan tanaman hias mati karena kering atau busuk di akarnya. Tanaman hias juga tak luput dari serangan hama dan malnutrisi.

Selain tanaman hias yang bisa ditanam dengan media tanam konvensional berupa tanah dan pupuk, ada juga jenis-jenis yang bisa ditanam menggunakan sistem hidroponik yang mengandalkan ketepatan asupan nutrisi pada tanaman.

Sistem hidroponik bisa menggunakan media sekam padi, sabut kelapa, batu apung bahkan spons.

Telegraph melansir, tanaman hidroponik kini banyak digemari karena proses menanamnya dianggap lebih bersih dan lebih sederhana. Selain itu, tanaman yang ditanam dengan sistem hidroponik juga cenderung lebih efisien dalam pemakaian tempat serta lebih mudah untuk dikendalikan dari serangan hama.

Contoh tanaman spider plant
Contoh tanaman spider plant | Chaileart /Shutterstock

Tanaman hias pun menguntungkan kesehatan

Tanaman hias memang digemari karena kecantikannya. Tak heran jika penggemarnya pun tak jauh dari kalangan ibu-ibu. Salah satunya ialah Ibu Condronegoro yang mengoleksi tanaman hias sejak lama.

Kepada Beritagar.id, Ibu Condronegoro yang juga seorang dosen Institut Pertanian Bogor ini mengemukakan alasannya mengoleksi tanaman hias, "Hanya mengisi waktu luang dan mempercantik halaman rumah." Alasan yang mungkin populer di kalangan serupa.

Sementara itu, memelihara tanaman hias juga menawarkan keuntungan lain. Baik dari segi lingkungan, fisik maupun mental. Jika meletakkan tanaman hias di dalam ruangan, Anda juga bisa sekaligus membersihkan udara di dalam ruangan dengan menanam tanaman hias di dalam ruangan. Penelitian NASA mengonfirmasi hal ini.

Situs pengendali hama, Bayer Advance menulis, tanaman dapat membersihkan udara hingga 87 persen dari bahaya volatile organic compounds (VOCs), salah satu pembentuk ozon, senyawa organik yang mudah menguap.

Zat ini banyak terdapat pada cat tembok dan perabot, cairan pelapis permukaan perabot, cairan atau produk pembersih, asap rokok hingga material pembuat perabot rumah tangga.

Menurut hasil penelitian, tanaman hias dapat memurnikan kembali udara yang tercemar lewat tanah. Polusi yang tertangkap akan dijadikan makanan, dibawa oleh tanah dan diolah melalui proses fotosintesis.

Tanaman hias yang berguna untuk membersihkan udara antara lain english ivy, golden pothos, spider plant dan jenis palem seperti naga palem dan palem waregu. Karenanya, memiliki tanaman hias di dalam rumah bisa membantu menyegarkan udara sekitar sehingga baik bagi kesehatan.

Menanam tanaman hias pun banyak manfaatnya bagi kesehatan mental. Dilansir Psychology Today, memelihara dan merawat tanaman hias dapat meredakan stres. Hal ini karena memelihara tanaman membuat seseorang merasa dibutuhkan untuk merawat makhluk hidup lainnya dan juga menumbuhkan rasa memiliki.

Menanam tanaman hias juga dapat meningkatkan daya ingat serta daya fokus seseorang. Mirip sebuah terapi. Apalagi, untuk menanam tanaman hias kini tak sesulit dahulu. Langkah-langkah menanam dan merawatnya pun bisa dengan mudah ditemukan di internet dalam bentuk tulisan maupun video.

Hal tersebut juga yang disadari anak-anak muda masa kini. Mereka tak ragu untuk ikut menanam tanaman hias, baik untuk dijual, dikaryakan, maupun hanya sekadar sebagai media pelepas penat.

Misalnya Katherine, perempuan 28 tahun yang mengaku kegemarannya memelihara tanaman hias di rumahnya karena sudah terbiasa melihat tanaman hias sejak kecil. Tempat tinggalnya dulu asri dan hijau, berlokasi di daerah Bogor, Jawa Barat.

Sejak berkeluarga dan menetap di Jakarta, perempuan 29 tahun ini merindukan asrinya lingkungan yang banyak pepohonan. Namun, karena keterbatasan lahan, ia pun memutuskan untuk menanam tanaman hias yang cenderung mungil dan mudah dirawat.

"Kalau buat saya, tanaman itu stress relief. Kerjaan di kantor sudah bikin sakit kepala, tetapi begitu sampai di rumah lihat tanaman banyak dan asri, rasanya senang," cerita Marketing Communication di ABB Engineering Technologies Co. itu.

Koleksi Katherine pun jenis-jenis tanaman hias yang tak seberapa sulit didapat. Jenis tanaman yang paling mahal yang dimilikinya ialah gelombang cinta atau anthurium dan king monstera deliciosa yang sedang hit di kalangan anak muda.

Monstera deliciosa sama halnya seperti philodendron, kini sedang hit di kalangan para penggemar tanaman hias. Tak heran jika jumlah produksinya di Indonesia mencapai 19 juta pohon sepanjang 2015 lalu.

Nama philodendron pun disebut-sebut Elle Decor sebagai salah satu tanaman hias yang masih banyak digemari hingga 2016 ini. Tanaman hias berdaun lebar tersebut juga banyak diincar para dekorator interior untuk menghias ruangan bernuansa kekinian.

Jika tak ingin membeli pohon aslinya, beberapa toko dekorasi interior juga menjual daun-daun monstera deliciosa dan philodendron. Satu batangnya dihargai sekitar Rp100 ribu, nyaris sama dengan harga tanaman aslinya.

Tak hanya sebagai penghias ruangan, karena ketenarannya philodendron dan monstera deliciosa atau yang dikenal juga dengan sebutan Swiss cheese (karena berlubang-lubang), banyak diadaptasikan menjadi beragam aksesori dan motif pakaian.

Inspiração 🌿😍 Costela de Adão ou Monstera deliciosa. #monstera #monsteradeliciosa

A photo posted by Mais Vida em seu Jardim (@floramorumby) on

Tetap laku meski telah mengering

Tanaman hias tak hanya jago mempermanis ruangan kala masih segar. Bahkan ketika sudah dikeringkan pun, tanaman hias masih bisa dimanfaatkan sebagai dekorasi.

Seperti yang dilakukan Vina Kosasih. Pendiri jenama Kaminari ini mahir membuat tanaman hias menjadi bentuk lain yang tak kalah gunanya. Kaminari adalah sebuah jenama yang mengkreasikan lilin dengan campuran minyak wangi.

Di dalam lilin itu, Vina yang pernah masuk dalam nominasi kompetisi desain internasional, Red Dot Design Award 2014 ini juga mencampurkan tanaman hias ke dalamnya. Tanaman hias yang banyak digunakan oleh perempuan 24 tahun ini berasal dari jenis tanaman hias bunga dan daun.

Misalnya bunga mawar, hortensia, krisan atau lavender, atau daun eucalyptus yang telah dikeringkan. Kaminari memang menggunakan tanaman hias yang sudah dikeringkan terlebih dahulu dalam proses pembuatan lilinnya.

Kepada Beritagar.id, Vina menjelaskan bahwa tanaman-tanaman yang digunakannya ada yang sulit ditemukan di Indonesia, sehingga ia kerap kali harus mengimpornya dari negeri seberang.

Namun, hal tersebut justru membuat jenama lilin yang akan menggelar kelas di Kota Tua 3-4 Desember ini kian unik. Apalagi setiap karyanya dibuat sendiri dengan tangan, sehingga model lilin satu dengan lainnya tak pernah ada yang persis sama.

Tak heran jika kemudian lilin buatan Kaminari dijual dengan harga mulai dari Rp78 ribuan hingga Rp238 ribu. Karyanya juga sudah melanglang buana hingga Singapura dan Hong Kong.

Hal ini dibenarkan Pepito, yang juga pernah memelajari cara mengkreasikan tanaman hias dalam lilin kepada Vina Kosasih dalam salah satu kelas yang diadakan.

Menurut perempuan 26 tahun yang kini menggemari lilin dan tanaman hias tersebut, bahan baku tanaman hias memang ada beberapa jenis yang masih sulit ditemukan di penjual bunga biasa. Sekali pun ada, harganya terbilang cukup mahal.

Meski mahal, tak sedikit kaum muda yang mau bergelut dengan tanaman hias. Masih ada Kitty Manu yang dikenal dengan kerajinan tangan terampilnya. Perempuan yang akrab disapa Kitty ini sering menggunakan tanaman hias sebagai inspirasinya dalam berkarya.

Contohnya ketika para perempuan sedang menggemari mahkota yang terbuat dari rangkaian bunga plastik, Kitty Manu membuat tutorial bagaimana merangkai tanaman hias bunga hidup hingga menjadi mahkota bunga yang cantik.

Tren terrarium dan sukulen juga pernah dijadikannya sebagai ide dalam membuat karya. Kitty Manu pernah menjabarkan kiat membuat terrarium menggunakan gelas atau wadah apapun yang Anda miliki di rumah.

Perempuan yang sudah sering membuka kelas praktik kerajinan tangan ini juga pernah membuat media tanam baru untuk sukulen. Media tanam tersebut berupa buah labu yang telah dikeruk isinya, kemudian tanah dan sukulen dipindah ke dalamnya.

Labu yang berwarna oranye terang bisa jadi dekorasi rumah yang apik ketika dipadukan dengan hijaunya sukulen.

Prakaryaan hari ini di @livingwithlof, mainmainan labu 🎃🎃🎃🎃. #kittymanuDIY #ceritaperiperi

A photo posted by kitty manu (@kittymanu_) on

Tanaman hias, pun bukan sekadar hobi. Jika terampil merawatnya dan gemar bereksperimen, Anda bisa menemukan jenis tanaman hias baru. Seperti yang kerap kali dilakukan ahli tanaman, Greg Hambali.

Greg Hambali dikenal sebagai 'penghulu' tanaman hias karena rajin mengawinsilangkan dua jenis tanaman menjadi tanaman hias baru. Salah satu contohnya harlequin, hasil pengawinsilangan aglaonema yang pada 2008 lalu berhasil dijual senilai Rp660 juta melalui lelang.

Gregori Garnadi Hambali, demikian nama lengkapnya, punya julukan sang Bapak Aglaonema Indonesia. Karya lulusan Biologi Pertanian di Institut Pertanian Bogor itu, meroket setelah menemukan "Pride of Sumatra", varietas baru tanaman aglaonema pada 1987.

Greg menemukan "Pride of Sumatra" dengan menyilangkan Aglaonema "Precursor" (A. commutatum var tricolor x A. rotundum) dengan A. rotundum. Mulai meneliti aglaonema sejak 1982, ketertarikannya terhadap tanaman hias aglaonema muncul ketika menjadi juri pada salah satu kontes tanaman hias di Pasar Seni Ancol, Jakarta.

Sebanyak 31 varietas aglaonema telah didaftarkannya ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman, Departemen Pertanian. Berkat ketekunan pria berusia lebih dari setengah abad ini, pada 2010 pemerintah Indonesia menganugerahinya penghargaan Anugerah Kekayaaan Intelektual Luar biasa (AKIL) dalam bidang Varietas Tanaman.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR