Ilustrasi sejumlah pelajar SD Muhammadiyah 4 Surabaya melakukan aksi menyambut bulan Ramadan (30/4/2019)
Ilustrasi sejumlah pelajar SD Muhammadiyah 4 Surabaya melakukan aksi menyambut bulan Ramadan (30/4/2019) Didik Suhartono/AntaraFoto
RAMADAN 2019

Tayangan religi di bulan suci

Jumlah penonton dan durasi menonton televisi meningkat saat Ramadan. Tayangan islami pun semakin banyak.

Setelah banjir besar menenggelamkan Kampung Kincir, para warga yang selamat terpaksa hijrah. Atas usulan Pak Jalal, warga terkaya sekaligus paling dermawan, mereka pindah ke Kampung Atas di daerah Bogor, Jawa Barat.

Pak Jalal memiliki tanah berhektar-hektar yang belum tergarap di kampung tersebut. Para warga lain akhirnya setuju lantaran berharap di tempat baru nanti mereka bisa mengubah nasib.

"Eh, Mul. Kalau mau ganti nasib, jangan takut berubah. Paling enggak berubah selera. Hidup susah itu jangan dibikin hobi. Enggak ada untungnya," ujar Agung kepada Mul, rekannya sesama warga Kampung Kincir yang memilih tinggal di kolong jembatan, saat mengajak pindah ke Kampung Atas.

Demikian intisari cerita episode pembuka sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) yang ditayangkan SCTV saban pukul 03.00 WIB selama Ramadan tahun ini.

Sinetron produksi Demi Gisela Citra Sinema itu adalah primadona pemirsa. Kehadirannya selalu ditunggu karena isinya sarat pesan moral, kemanusiaan, agama, dan berselip komedi satire.

Penyampaian pesan tersebut melalui cerita-cerita atau problem keseharian yang sering dialami orang kebanyakan. Ini membuat PPT terasa dekat dengan pemirsanya.

Jangan heran kalau sinetron ini tercatat sebagai tayangan spesial Ramadan paling lama bertahan dalam sejarah pertelevisian di Indonesia. Total jenderal PPT sudah memasuki tahun ke-12 penayangannya.

Menurut David Suwarto selaku Deputy Director Programming SCTV, sinetron ini menjadi salah satu program spesial Ramadan andalan mereka tahun ini.

"Sinetron Para Pencari Tuhan memang unik dan menarik sehingga kalau bulan Ramadan selalu ditunggu masyarakat yang tengah beribadah puasa," ujarnya.

Agus Kuncoro, pemain yang berpartisipasi dalam 10 jilid sinetron ini, menyebut ayat dan hadis dalam PPT menjadi konten yang dijalani sehari-hari, bukan tempelan yang dijual.

Makanya ketika sinetron ini absen pada Ramadan tahun lalu, digantikan sinetron Cuma di Sini yang juga produksi Demi Gisela Citra Sinema, warganet yang menggemari PPT kontan melayangkan protes.

Kini keinginan penggemar sudah terkabulkan. Selain berpindah lokasi, PPT jilid ke-12 ini juga menghadirkan sejumlah pemain baru untuk memberikan kesegaran cerita.

Beberapa tokoh baru dalam sinetron ini, antara lain H. Qomar (sebagai Abah Nyinyi), Silvia Anggraini (Aliya), Dina Lorenza (Nurlela), Miqdad Addausy (Viral), Isel Fricella (Hera), Irvan Siagian (Maing), dan Dimas Anggara (Fadly).

Sementara tokoh-tokoh lama yang tetap muncul, selain Pak Jalal (Jarwo Kwat), adalah Bang Jack (Deddy Mizwar), Udin (Udin Nganga), dan Asrul (Asrul Dahlan).

Bertahannya PPT di layar kaca tentu tak lepas dari perolehan rating (jumlah penonton sebuah acara televisi) dan share (persentase penonton di antara stasiun televisi lain).

Dari hitung-hitungan kuantitas yang menjadi alasan utama iklan datang itu, PPT tidak pernah terlempar dari peringkat 10 besar.

Bicara soal kualitas, pada ajang Anugerah Komisi Penyiaran Indonesia 2014, PPT mendapatkan penghargaan sebagai Program Sinetron Terbaik.

Persentase tayangan berkonten religi selama Ramadan
Persentase tayangan berkonten religi selama Ramadan | Teks & Olah data: Aghnia Adzkia, Rabiatul Adawiyah, dan Nur Cholis / Desain: Danil Aufa

Sinetron PPT hanya satu dari beberapa program unggulan yang dihadirkan SCTV spesial menemani pemirsa selama Ramadan tahun ini.

Bagi penyuka sinetron, masih ada Istri-Istri Akhir Zaman, Merindu Baginda Nabi, dan Anak Langit spesial Ramadan.

Hadir pula serial animasi Lorong Waktu, tausiah Mutiara Hati dan Mengetuk Hati, serta drama yang diangkat dari kisah nyata seseorang bertajuk Andai Ku Tahu.

Dalam konferensi pers peluncuran program spesial bulan puasa yang kali ini mengusung tema “Ramadan Penuh Cinta” (23/4/2019), Deputy Director Programming SCTV David Suwarto mengatakan, sejumlah acara tersebut bukan sekedar menghadirkan nuansa Ramadan kepada pemirsa, tapi juga nilai-nilai kebaikan yang universal.

Pada kesempatan berbeda, RCTI juga tak mau kalah. Bahkan berdasarkan olah data yang dilakukan Beritagar.id merujuk AC Nielsen, Harian Kompas, dan beberapa situs stasiun televisi, RCTI paling terdepan dalam hal produksi program spesial selama Ramadan.

Infografik di atas menunjukkan bahwa stasiun televisi swasta tertua itu memproduksi 11 program acara bernuansa islami selama Ramadan. Menyusul kemudian Indosiar, Trans7, MNCTV, dan SCTV.

Total durasi tayangan islami di RCTI sepanjang Ramadan dari yang biasanya hanya 2 jam 15 menit, meningkat drastis menjadi 11 jam 31 menit.

Beberapa program unggulan RCTI, antara lain ajang pencarian bakat Hafiz Indonesia, Ngaji Pagi, serta sinetron Amanah Wali 3 dan Aku Bukan Ustad: Mendadak Soleh.

Dalam rilis pers, Dini Putri selaku Programming and Acquisition Director RCTI menyebut bahwa sederet program bernuansa Islami ini diharapkan tidak hanya membuat para pemirsa terhibur, tapi juga mendapatkan ilmu keagamaan melalui pesan religi yang disampaikan.

Sementara Indosiar yang masih “saudara kandung” SCTV melowongkan 10 jam siarannya setiap hari untuk aneka tayangan religi Islam. Jumlah tersebut menyusut saat bulan-bulan biasa.

Kecenderungan menggenjot tayangan-tayangan islami tak lepas dari kebiasaan pemirsa televisi selama Ramadan tiba.

Mengacu survei AC Nielsen terhadap terhadap lebih dari 17 ribu orang berusia 10 tahun ke atas pada kurun yang sama tahun lalu, selalu terjadi peningkatan konsumsi media televisi sepanjang Ramadan, terutama di 11 kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar, dan Banjarmasin.

Jumlah penonton TV di 11 kota besar tersebut meningkat dari rata-rata 5,9 juta per hari menjadi 7 juta per hari. Dominasi peningkatan jumlah penonton terjadi waktu sahur.

Durasi menonton ikut pula terkatrol. Jika hari-hari biasa rerata orang menonton TV hanya 4 jam 53 menit, di bulan Ramadan meningkat menjadi 5 jam 19 menit.

Peningkatan kepemirsaan televisi ini karena kebiasaan orang-orang yang cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, terutama saat sahur. Alhasil ada penambahan co-viewing untuk anak usia 5-14 tahun yang ditemani oleh penonton usia 20 tahun ke atas.

Dari peningkatan jumlah tayangan islami itu, tipe program paling banyak menghadirkan nuansa keagamaan adalah gelar wicara alias talk show yang menyita 35,5% dari total porsi tayangan spesial Ramadan.

Beberapa contoh program tipe ini adalah Mamah dan Aa Beraksi (Indosiar), Dakwah on the Spot (Metro TV), Indahnya Islam Bersama Ustas Abdul Somad (tvOne), dan Islam Itu Indah (TransTV).

Adegan saat warga Kampung Kincir hijrah ke Kampung Atas dalam sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 12
Adegan saat warga Kampung Kincir hijrah ke Kampung Atas dalam sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 12 | Tangkapan layar dari akun SCTV di YouTube

Sudah menjadi hal lumrah jika persaingan merebut hati pemirsa televisi saban Ramadan menjadi sangat ketat.

Fakta bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar jadi salah satu alasan.

Alhasil beragam program unggulan bertebaran diproduksi. Melibatkan para tokoh ulama atau pendakwah, dan artis-artis favorit masyarakat.

Semua demi memikat para penonton agar tidak mengganti kanal ke stasiun televisi lain.

Jika tidak demikian alamat kesempatan mendapat pemasukan besar dari iklan yang menyandarkan keputusannya pada hasil rating dan share akan menipis.

Dua slot prime time tambahan yang menjadi incaran setiap bulan puasa adalah saat sahur dan jelang waktu berbuka.

Stasiun MNCTV, misalnya, menghadirkan serial animasi Upin & Ipin sebagai jagoan untuk mengisi slot sore menjelang buka puasa.

Berbeda dari sebelumnya, tayangan Upin & Ipin selama Ramadan kali ini menampilkan episode terbaru yang dibalut dengan cerita-cerita berkonten islami, di antaranya mengajarkan anak-anak salat dan bacaan ayat Al-Quran.

Pun demikian, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengimbau para penyelenggara stasiun televisi untuk tetap mengutamakan prinsip perlindungan anak dan remaja pada setiap program siaran.

Sensor internal tersebut dimaksudkan agar jangan sampai terjadi pelanggaran regulasi penyiaran yang dapat menodai kesucian bulan Ramadan.

Pasalnya hampir setiap tahun KPI melayangkan teguran kepada beberapa program spesial Ramadan yang ditayangkan stasiun televisi.

Ramadan tahun lalu ada tiga stasiun televisi yang mendapat “surat cinta” KPI, yaitu ANTV, Trans7, dan TransTV.

KPI menilai program Brownis Sahur dan Ngabuburit Happy (TransTV), Sahurnya Pesbukers dan Pesbukers Ramadhan (ANTV), serta Ramadhan di Rumah Uya (Trans7) melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dan tak selaras dengan nilai Ramadan.

“Banyak program hiburan yang judul programnya ditempeli kata-kata Ramadan, namun kontennya sepanjang program hanya berisi hiburan saja tanpa mengedepankan unsur yang bernuansa Ramadan,” kata Nuning Rodiyah, Komisioner Bidang Isi Siaran KPI Pusat (2/5).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR