Interior Splow House di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Interior Splow House di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Delution
RUMAH MILENIAL

Tiga hunian, tiga cerita

Banyak teknik menyiasati lahan sempit. Intinya, berani mengeksplorasi bentuk dan ruang.

Kalau Anda belum memiliki tempat tinggal, tapi tak masuk kategori crazy rich, rumah impian tak perlu besar dan mewah. Yang penting sesuai kebutuhan.

Tulisan ini menyajikan tiga rumah yang ukurannya di bawah 110 meter persegi, yang memiliki desain keren dan pas. Tak berlebihan.

Banyak hal bisa dipelajari dari ketiganya. Terutama tentang memanfaatkan lahan sempit tanpa melupakan keindahan bangunan.

Seperti apa desainnya? Berikut laporannya.

Gunung Sahari House

Saat pertama masuk rumah ini, kami disambut dengan tanaman rambat yang telah lama tumbuh dan menghiasi halaman depan. Rumah ini milik Adrianus Mulya. Arsitek yang membangunnya, Wendy Sudibyo.

Tampak depan rumah Gunung Sahari, Jakarta Pusat, karya WEN Urban.
Tampak depan rumah Gunung Sahari, Jakarta Pusat, karya WEN Urban. | /Diambil dari tangkapan layar situs ArchDaily

Wendy membukakan pintu gerbang saat kami datang ke sana pada Juli lalu. Tak ada pintu masuk pada bangunannya. Sebuah dapur langsung menyambut kedatangan para tamu.

Dinding batu bata terekspos telanjang. Di bagian tengah rumah terdapat taman kecil. 'Saya banyak aktivitas di luar ruang, jadi suka rumah yang terbuka," kata Adrian.

Pria kelahiran 1974 ini membangun rumah baru tepat di depan rumah orang tuanya. Dari luar letak rumah ini seperti terhimpit antar dua bangunan. Letaknya di daerah Gunung Sahari, Jakarta Pusat.

Fungsi asli lahan ini sebenarnya garasi rumah orang tua Adrian. Panjang dan lebarnya sangat minim, tiga kali sembilan meter. Ya, luas keseluruhannya hanya 27 meter persegi.

Wendy dari biro arsitektur WEN Urban mengatakan, kesulitan desainnya adalah memberi akses jalan dari rumah baru ke lama. "Adrian bilang ada kemungkinan rumah belakang mau direnovasi," katanya. Bagian belakang rumah pun tak ia tutup, hanya berupa halaman menuju kediaman orang tuanya.

Kesan pertama masuk ke dalamnya adalah sangat terbuka. Sirkulasi udara dan cahaya alami sangat mudah masuk ke rumah. Kalau hujan, sudah pasti tampias.

Tampak dalam rumah Gunung Sahari, Jakarta Pusat, karya WEN Urban.
Tampak dalam rumah Gunung Sahari, Jakarta Pusat, karya WEN Urban. | /Diambil dari tangkapan layar situs ArchDaily

“Ya kalau hujan biarin aja. Tinggal lari doang," kata Adrian sambil tertawa.

Ada tangga spiral di dekat dapur. Kami diajak naik ke lantai dua. Di sana terdapat kamar tidur dan kamar mandi. Lagi-lagi, tak ada pintu. Tapi kali ini di kamar mandi.

"Kalau mau pakai, tinggal tutup saja pakai tirai," kata pria yang hobi wall climbing ini.

Lahan yang sempit, mau-tak mau membuat Wendy bersama empat arsitek dari WEN Urban berusaha menempatkan perabotan yang fungsional. Seperti tempat tidur yang kala tidak terpakai bisa ditegakkan lalu disembunyikan di antara rak buk

Wendy juga menerapkan desain ramah kantong pada bangunan ini. Batu bata terpasang dan terekspos tidak hanya di dinding, tapi juga lantai. "Lantai jadi enggak perlu dicor beton," kata Wendy. Budget untuk membangun rumah tentu jadi berkurang.

Adrian mengatakan, total biaya pembangunan rumah hingga furnitur di dalamnya menghabiskan uang Rp200 jutaan.

Tampak depan rumah Heavy Rotation di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Tampak depan rumah Heavy Rotation di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. | /Diambil dari tangkapan layar situs ArchDaily

Heavy Rotation House

Nama rumah ini mirip dengan lagu girlband JKT48. Tapi ada alasan khusus di balik penamaan tersebut. Rumah ini memang benar-benar memutar ruang sejauh 45 derajat untuk memenuhi keinginan pemiliknya.

“Kita sebut Heavy Rotation karena ada benda berat yang diputar, dan rasanya lebih catchy seperti judul lagu JKT 48” kata arsiteknya, Ario Andito, saat dikunjungi oleh Beritagar.id di kantornya, SA_E Studio, Jalan Cucur Barat XI Blok E1 Nomor 15, Bintaro Sektor 4, Tangerang Selatan, Banten, pada Juli lalu.

Rumah itu awalnya hanya satu lantai di lahan seluas tujuh kali 15 meter ini di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Pemilik sering merasa kepanasan di siang hari karena rumahnya menghadap ke barat.

Ario lalu mengajukan konsep krowakism. Istilah ini ia ambil dari bahasa Jawa, krowak atau lubang. Bagian tengah ia buat void, lalu di atasnya terdapat segaris jendela kaca pada langit-langit rumah.

Untuk mengakali sinar matahari sore yang terlampau panas masuk ke rumah, Ario memutar bagian depannya sebanyak 45 derajat. Posisi dinding dan jendela jadi tak perlu menghadap lurus ke jalan. "Cahaya dan panas matahari bisa dipecah," kata Mahesa, pemilik rumah itu.

Interior rumah Heavy Rotation di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Interior rumah Heavy Rotation di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. | /Diambil dari tangkapan layar situs ArchDaily

Bangunan ini kemudian direnovasi dari hanya selantai menjadi dua lantai. Mahesa ingin ada tambahan kamar dan ruang untuk salat.

Dinding rumah hanya bercat putih. Cara ini berhasil membuat rumah terlihat lebih lapang. “Putih itu sebagai background universal karena pasti akan ada perabotan yang warna dan sifatnya lebih sesuai dengan keinginan owner," kata Ario.

Ario memanfaatkan konstruksi bangunan asli dalam renovasi ini. "Sebanyak 70 persen struktur bangunan yang lama masih kami pakai," ujarnya.

Untuk merenovasi rumah ini Mahesa mengeluarkan biaya sekitar Rp500-600 juta, termasuk interior dalam. "Rumah saya luasnya 160 meter persegi. Jadi, biaya pembangunannya Rp3,5-4 juta per meter," kata Mahesa.

Splow House

Rumah ini lumayan terkenal dan sering tampil dalam acara televisi dan majalah arsitektur. Split Grow House alias Splow House namanya.

Tampak depan Splow House di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Tampak depan Splow House di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. | /Delution

Tampak dari luar bangunan ini hanya dua lantai. Namun, ketika ke dalam ternyata ada tiga lantai. Luasnya 90 meter persegi dengan dimensi enam kali 15 meter.

Biro arsitektur Delution yang merenovasi rumah ini memakai konsep split. Jika mezzanine, turun setengah lantai, nah split merupakan gabungan turun dan naik setengah lantai.

"Kami ingin menyiasati kebutuhan ruang," ujar Indira Pramundita Setiadewi selaku Senior Design Architect pembangunan rumah ini, ketika dihubungi pada Juli lalu.

Interior Splow House di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Interior Splow House di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. | /Delution

Ia perlu waktu untuk meyakinkan klien dengan konsep split. Indira sampai harus mempresentasikan desainnya kepada keluarga besar pemilik rumah.

Dengan konsep split rumah jadi punya tiga lantai di belakang dan dua lantai di depan. Empat kamar ada di dalamnya. Terlihat dinamis dan sirkulasi naik-turun, tak monoton.

Rumah ini berada di kawasan padat penduduk di Tebet, Jakarta Selatan. Karena itu masalah utama bangunannya adalah sirkulasi udara. Solusinya, ada koridor dan void besar di tengah bangunan.

Di atas void ia taruh jendela kaca untuk sirkulasi udara dan pencahayaan alami. Biaya untuk membuat rumah ini, Indira mengatakan, mencapai Rp600 jutaan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR