Suasana Museum Prasasti di di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat, Selasa (25/6/2019).
Suasana Museum Prasasti di di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat, Selasa (25/6/2019). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
FREEMASONRY

Riwayat kebangkitan dan pemusnahan Freemasonry di Indonesia

Banyak mitos yang menyelubungi keberadaan Freemasonry. Di Indonesia, jejaknya banyak terekam. Anggotanya menolak disebut aktivitas organisasi rahasia.

Relief itu tertempel megah mengitari pintu masuk Museum Prasasti di jalan Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Bertinggi sekira 2 meteran, batu-batu kuno itu berjumlah 17.

Di antara belasan prasasti tersebut, ada satu yang cukup menarik perhatian, yakni, prasasti milik Lodewyk Schneider. Kasat mata, prasasti miliknya tak berbeda jauh dari prasasti-prasasti lainnya: tertempel menjulang, berkelir laiknya batu, dan memiliki jenis huruf yang hampir serupa.

Namun, jika melihat bagian paling bawah, akan Anda sadari maksud kalimat "menarik perhatian" tadi. Di sana, terdapat sebuah logo jangka dan penggaris segitiga--dengan posisi terbalik.

Jika mengikuti teori-teori konspirasi, Anda akan dengan cepat tahu logo apa itu. Yaitu, logo Freemasonry--sebagian orang menyebutnya Freemason, lainnya mengatakan Remason (sebuah jenama balsem untuk mengolok-olok para penganut teori konspirasi).

"Dari semua prasasti-prasasti di sini, cuma ini yang ada logo kayak gitunya," ucap Eko, salah seorang penjaga museum kepada Beritagar.id, Selasa (25/6/2019).

Prasasti tersebut membuktikan satu hal, soal keberadaan organisasi yang kerap dibumbui mitos oleh masyarakat Indonesia. Yaitu soal eksistensi organisasi Freemasonry--didirikan di dunia sebelum 1717.

Dan, keberadaan anggota organisasi tersebut di nusantara, bukan hanya seorang atau dua orang. Rekam sejarah membuktikan hal itu--bahkan anggotanya bukan hanya orang asing.

Mulai dari maestro lukis dunia, Raden Saleh, hingga seorang dokter masyhur, Dr. Radjiman Wediodiningrat, tercatat pernah menjadi bagian dari anggota tersebut. Setidaknya, hal itu diamini oleh peneliti Freemasonry, Sam Ardi.

"Iya, mereka-mereka adalah anggota Freemasonry asal Indonesia," ucap Sam kepada Beritagar.id, Jumat pekan lalu, ketika mengkonfirmasi nama-nama tersebut. Di luar nama-nama di atas, masih banyak anggota lainnya.

Lantas, mengapa para pembesar tersebut bergabung di dalam anggota organisasi yang seolah tabu di Indonesia?

Sam berujar, tak ada yang salah dengan hal itu. Karena Freemasonry bukanlah organisasi yang berkonotasi negatif: lekat dengan Yahudi, Zionis, atau aneka mitos lainnya.

"Dia bukan organisasi agama, partai politik atau pun lembaga negara. Freemasonry adalah organisasi kemasyarakatan yang bergerak di dalam bidang kemanusiaan," ucap Ardi.

Dan, pernyataan Sam tersebut diamini oleh budayawan asal Bandung, Jawa Barat, yang juga tertarik dengan organisasi Freemasonry, Budi Setiawan Garda Pandawa alias Budi Dalton. "Ini semacam paguyuban atau persaudaraan," katanya, Sabtu pekan lalu.

Dimusnahkan Soekarno, hidup era Gus Dur

Sulit. Begitu kalimat yang tepat untuk menelusuri jejak berdirinya Freemasonry. Yang umum diketahui, di dunia, Freemasonry berdiri pada 1717, kala berdirinya Grand Lodge of England (Loji Besar Inggris) di London, tepatnya pada tanggal 24 Juni.

Namun, sebelum tarikh tersebut, sejatinya Freemasonry sudah ada.

"Dokumen dan jejak arkeologi membuktikan itu, mereka sudah ada sebelum 1717," kata Sam. "Mereka mengajak orang-orang berpikiran sama dalam persaudaraan di seluruh dunia yang melampaui segala perbedaan atas nama kemanusiaan."

Di Nusantara, Freemasonry masuk pada abad ke-18 yang dibawa oleh orang-orang Belanda. Salah satu tokohnya adalah Jacob Cornelis Mattheus Radermacher, yang disebut-sebut sebagai putra dari Grand Master (Suhu Agung) Freemasonry pertama Belanda Joan Cornelis Radermacher.

Sejak saat itu, pertumbuhan organisasi Freemasonry, bertumbuh di Nusantara, meski tak bisa dibilang subur-subur amat. Mereka membangun puluhan loji, mulai dari Pulau Sumatra hingga Papua.

"Apakah tujuan mereka membangun loji di di setiap wilayah? Tidak. Loji semacam sekretariat bersama saja. Tujuan mereka membangun 'kuil' bernama humanisme," ucap Sam. "Mereka bergerak di bidang sosial hingga pendidikan."

Setidaknya, ada puluhan sekolah yang didirikan oleh organisasi Freemasonry, terbanyak terjadi pada 1900. Menurut Ardi, sekolah-sekolah yang dibangun organisasi tersebut fokus pada sains.

"Pelajaran agama berasal dari orang tua, bukan di sekolah," katanya.

Budi Dalton, budayawan dan dosen di Bandung, melengkapi pernyataan Ardi di atas, Menurutnya, gerakan Freemasonry tak lepas dari teosofi. Teosofi merupakan ajaran yang berusaha menjembatani antara agama dan ilmu pengetahuan untuk menjawab segala pertanyaan.

"Gerakan Freemasonry tidak lepas dari teosofi," ucap Budi.

Keberadaan sekolah, menurut Budi, bisa menjadi salah satu indikator organisasi Freemasonry berkembang di satu daerah di Indonesia.

Ada empat karakteristik lainnya. Yakni bank tabungan daerah dengan sistem yang dibangun dari sumbangan anggota--laiknya koperasi. Sedangkan tiga sisanya adalah keberadaan perpustakaan, pengobatan, dan gerakan kaum muda.

Namun, masuknya Jepang sekitar 1943 seolah menjadi lonceng kematian bagi organisasi Freemasonry di Indonesia. Faktor sejarah lah yang menjadi penyebabnya.

Jepang, yang kala Perang Dunia II bergabung dalam blok Jerman, memusnahkan semua hal yang berbau Belanda. Pasalnya, Belanda masuk ke dalam blok barat, yang dipimpin Amerika Serikat. Dan Freemasonry dianggap salah satu representasi dari Belanda.

Atas nama aliansi itulah, banyak bangunan-bangunan Freemasonry di Indonesia dimusnahkan. "Jepang itu menganggap yang berbau Belanda adalah musuh. Karena saat itu mereka dalam konteks perang dunia," kata Ardi.

Keberadaan Freemasonry semakin tersudut pasca-Indonesia merdeka dan dipimpin oleh Soekarno. Pada 1962, Presiden RI pertama itu mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 264/1962 tentang larangan keberadaan sejumlah organisasi.

Mereka adalah Organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Loge Agung Indonesia (Freemasonry), Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization of Crucians, dan Baha'i.

Sejak saat itu hingga dekade millenium, otomatis keberadaan dan pergerakan Freemasonry berhenti. Ardi mengistilahkan masa-masa tersebut sebagai masa vakum keberadaan Freemasonry.

"Pada masa-masa vakum inilah banyak beredar buku-buku membuat Freemasonry identik dengan mitos dan dongeng," ucap Ardi.

Sejumlah buku yang terbit pada periode-periode tersebut, di antaranya "Gerakan Freemasonry" terbitan Rabitah Alam dan "Freemanosnry, Gerakan Rahasia Yahudi" terbitan LPPA Muhammadiyah.

Sedangkan buku-buku pembandingnya, tak ada yang terbit. Baru pada era Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Keppres RI No. 264/1962 dicabut dan digantikan dengan Keppres No. 69/2000 tentang Pencabutan Keppres No. 264/1962.

Meski Keppres RI No. 264/1962 telah dicabut, tapi tak serta merta keberadaan Freemasonry di Indonesia aktif kembali. Ardi menyebut, saat ini tak ada aktivitas Freemasonry di Indonesia.

"Hanya ada satu buku pembanding yang cukup bisa berimbang, karya T. H. Stevens pada 2004," kata Ardi. Buku yang dimaksud adalah "Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat Hindia belanda di Indonesia (1764-1962)".

Salah satu lambang Freemasonry di Museum Prasasti di di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat, Selasa (25/6/2019).
Salah satu lambang Freemasonry di Museum Prasasti di di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat, Selasa (25/6/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Subur di Bandung

Ada satu kata yang sangat melekat dalam diri organisasi Freemasonry: rahasia. Gerakannya yang seperti seolah tertutup ini tak lepas dari sejarah berdirinya organisasi.

Kala didirikan, benua Eropa masih dikuasai dua institusi besar, yakni agama dan negara. Freemasonry, adalah gerakan yang bebas dari itu. Hal inilah yang menyebabkan Freemasonry seolah-olah sekuler.

"Ketika Freemasonary muncul, mereka direpresif. Otomatis, ada tekanan--bukan hanya masyarakat, tapi juga agamawan, seperti Katolik. Dari dulu, Freemasonary dengan Katolik itu saling serang," ucap Ardi.

Masalahnya, kenapa sampai saat ini gerakan mereka masih seperti rahasia? Salah seorang anggota Freemasonry yang namanya tak ingin dipublikasikan, mengatakan bahwa gerakan mereka tak rahasia.

"Kan tidak ada aturan yang menyatakan bahwa kita harus declare bila ikut ke sebuah organisasi. Nggak seperti itu juga," katanya kepada Beritagar.id. "Bukan rahasia, tapi lebih eksklusif saja. Kalau rahasia, kita tidak tahu sama sekali aktivitas atau datanya."

Narasumber Beritagar.id tadi bisa jadi benar. Toh kami mampu mendapatkan sejumlah data yang mampu terkonfirmasi. Salah satunya adalah keberadaan loji. Dalam perkembangannya, Jakarta (yang saat itu masih bernama Batavia), menjadi daerah tersubur keberadaan Freemason.

Lihat lah jumlah loji di Batavia. Dalam catatan Beritagar.id, setidaknya ada tujuh loji.

Namun, seiring berjalannya waktu, justru Bandung lah yang kini cukup subur ihwal Freemasonry. Setidaknya, kini diskusi-diskusi soal Freemasonry--dengan segala mitosnya--marak terselenggara di Kota Kembang itu.

Tak percaya, simak polemik Masjid Al Safar rancangan biro arsitek Ridwan Kamil. Pun berbagai kajian Freemasonry. Salah satu yang terbaru adalah, "Simbol Peradaban Freemason, Fakta atau Fiksi?", yang terselanggara di Masjid Al-Imtiyaaz di Surapati Core.

Dalam perjalanannya, tokoh Freemasonry asal Bandung juga memang tak main-main. Beberapa di antaranya adalah Bupati (kini Wali Kota) Bandung, R.A. Wiranatakusumah V, Kapten R. M. Soegondo, dan Gubernur Jawa Barat, R. Sewaka.

Menurut penulis buku Okultisme di Bandoeng doeloe: menelusuri jejak gerakan Teosofi dan Freemasonry di Bandung, Muhammad Ryzki Wiryawan, bisa jadi untuk meningkatkan status sosial.

"Karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ke dalam organisasi elite tersebut," kata Ryzki.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR