Hans Mandacan, 35 tahun, berpose untuk Beritagar.id di hutan Gunung Kungoi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Kamis (11/1/2018).
Hans Mandacan, 35 tahun, berpose untuk Beritagar.id di hutan Gunung Kungoi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Kamis (11/1/2018). Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Tobat pemburu dari Kampung Kwau

Hans Mandacan memburu segala burung di kawasan Arfak. Bermodal ketapel, panah, dan senapan angin. Tapi, dia lalu jera.

Pukul tujuh pagi belum lama lampau. Hawa sejuk masih menguasai koridor pepohonan di hutan Gunung Kungoi. Cuma kalori terbakar di badan yang sanggup mengingkari suasana lindap.

Jalan setapak sesak oleh perdu dan daun-daun mati. Beberapa jenis lumut memberi gradasi warna pada lantai monokrom, menempa kesuburan. Permukaan lintasan mengungkapkan basah. Sayup-sayup suara mirip gonggongan beruk datang, menguji akustik hutan.

Hans Mandacan, 35 tahun, menyibak semak yang menghalangi lantai rimba dengan parang. "Di sini tidak ada monyet. Itu suara burung," ujarnya mengenai gema barusan. Tangannya lalu mengarahkan ujung pisau besar itu ke sejumlah buah geluk dari pohon ek.

"Ini makanan babi hutan. Tapi, burung kasuari juga ambil," katanya.

Dia bilang, babi hutan sudah musnah dari hutan Gunung Kungoi, Pegunungan Arfak, Papua Barat. Begitu pun rusa. Dua hewan empat kaki itu habis karena diburu.

"Kalau (burung) kasuari sekarang tinggal sepasang," ujar Hans.

Hans lantas menghampiri bahu jalan setapak, membabat belukar di dekat tubir jurang, dan membuka ruang ke kaki sebuah pohon. Masyarakat Hatam, suku tempat Hans bernaung, menyebut pohon itu benia.

"Kalau airnya diminum, bisa buat menyembuhkan demam," kata Hans menjelaskan ihwal genangan air di tonjolan akar benia.

Selesai dari situ, dia mengacungkan dagu ke barisan tumbuhan rendah. Telunjuknya terangkat ke mulut, membuat isyarat bungkam. "Biar ibu tadi tidak terganggu," dia berbisik.

Hans Mandacan, kanan, dan adiknya, Lamboh, kiri, di hutan primer Gunung Kungoi, Kamis (11/1/2018), pada ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut. Hans selalu memakai 'jaket motor' itu demi menghalau udara dingin. Sementara para turis yang diantarnya mengenakan 'sepatu gunung', dia dan Lamboh santai berbot karet.
Hans Mandacan, kanan, dan adiknya, Lamboh, kiri, di hutan primer Gunung Kungoi, Kamis (11/1/2018), pada ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut. Hans selalu memakai 'jaket motor' itu demi menghalau udara dingin. Sementara para turis yang diantarnya mengenakan 'sepatu gunung', dia dan Lamboh santai berbot karet. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Maksud Hans dengan "ibu tadi" adalah perempuan bernama Katherine, seorang turis asal Swiss yang mampir ke Kungoi untuk mengamati burung setelah menyelam di Raja Ampat. Saat itu, Katherine sedang menanti atraksi namdur polos (Amblyornis inornatus) menata sarang. Kalau kami bikin suara berlebihan, burung yang dipanggil brecew oleh masyarakat lokal bakal hengkang atau tak datang.

Katherine bermalam di Papua Lorikeet, penginapan kelolaan Hans, tempat kami juga menumpang tidur. Dia berangkat ke bilik pengamatan namdur polos alias burung pintar pukul 5.30 pagi--atau pukul 3.30 dini hari waktu Jakarta--sejam lebih dulu dari kami.

Jalan kaki dari penginapan ke bilik pengamatan tersebut butuh nyaris setengah jam. Itu setelah menyeberangi jalan tanah yang menghubungkan desa-desa sekitar hutan dengan Manokwari, ibu kota Papua Barat. Dari titik yang tadi dibicarakan, kami masih butuh dua jam lagi untuk sampai di puncak Gunung Kungoi, tempat pohon akway tumbuh, tujuan akhir pendakian.

Jarak dari Kungoi ke Manokwari tidak sampai 40 kilometer. Jarak dari penginapan ke Kampung Kwau, desa tempat Hans tinggal, sekitar 4-5 kilometer. Desa terdekat dengan Papua Lorikeet adalah Kampung Syoubri, yang berjarak sekitar 500 meter.

"Kalau masih jadi pemburu, mungkin saya tidak punya guest house," ujar Hans mencomot segumpil masa lalu. Pria beranak tiga itu "baru sembilan tahun" menekuni bisnis ekowisata sebagai pemandu. Portofolionya belum sesolid Zeth Wonggor, rekan seprofesi Hans, warga Kampung Syoubri.

Kepala dapur di penginapan Papua Lorikeet, ibunda Hans Mandacan. Dulu, sebelum keluarganya turun melayani tamu, Hans menyewa koki berdarah Manado untuk menyiapkan makanan di penginapan.
Kepala dapur di penginapan Papua Lorikeet, ibunda Hans Mandacan. Dulu, sebelum keluarganya turun melayani tamu, Hans menyewa koki berdarah Manado untuk menyiapkan makanan di penginapan. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

"Kalau ada orang minta dengan beliau (Zeth Wonggor), saya juga akan kasih antar," begitu pengakuan Hans kepada Beritagar.id, Kamis (11/1/2018). Sebelum rata-rata pemandu wisata dari Manokwari mengenal Hans, mereka niscaya menyewa jasa Zeth Wonggor.

Zeth sudah jadi penunjuk jalan sejak paruh awal dekade 1990-an. Namanya selalu dicari oleh pengamat burung mancanegara yang berencana ke Arfak. Permintaan tinggi atas jasanya jadi mungkin setelah dia mengantar Sir David Attenborough, penyiar kesohor program sejarah alam BBC, mengamati dan mendokumentasikan cenderawasih di Arfak.

Hingga kini, Hans tidak pernah merasa berkeberatan jika ada orang lain meminta bantuannya untuk menemui Zeth. Karena dia meyakini local guide Arfak lebih berfaedah buat warga sekitar ketimbang pemandu dari luar kawasan itu.

"Kalau orang lain menjadi guide di sini, mereka menipu orang tua (porter) yang ada di sini. Dulu pernah ada (pemandu wisata) dari Manado, dari Jawa, dari Biak, dari Numfor. Mereka minta ke tamu Rp200 ribu, tapi porter lokal sebenarnya (dikasih) Rp100 ribu," katanya.

Beda kode lazim berbuah kecurangan. Perkaranya galib: pemandu non-Arfak berkomunikasi dengan porter lokal dengan bahasa setempat. Tamu terima jadi. Ujungnya, aksi culas merusak pembagian hak keuangan.

"Kalau semua masyarakat menikmati, berarti alam kita tidak dirusak. Kalau untuk kepentingan satu orang (pemandu saja), masyarakat yang tidak dapat akan menjadi musuh untuk membantu hutan," Hans berujar.

Beberapa jenis lumut yang bisa dilihat di lantai hutan Kungoi, Kamis (11/1/2018).
Beberapa jenis lumut yang bisa dilihat di lantai hutan Kungoi, Kamis (11/1/2018). | Bonardo Maulana Wahono /Beritagar.id

Sebelum Papua Lorikeet berdiri di lahan seluas lebih dari 1.000 meter persegi, Hans memakai rumahnya di Kampung Kwau untuk menginapkan tamu, berbagi ruang dengan keluarganya. "Saya ada tiga kamar, dua buat tamu. Satu kamar bisa buat dua tamu. Biayanya Rp50.000 per kepala per malam," katanya.

Yang jadi masalah, homestay dimaksud cuma dekat dengan lokasi pengamatan satu spesies burung, yakni Cicinnurus magnificus atau cenderawasih belah rotan. Waktu untuk mengantar tamu ke lokasi pengamatan burung lain pun acap kali terlalu mepet. "Perjalanan dari sana ke kawasan hutan agak susah," katanya, "bisa-bisa datang untuk burung dancing sudah lewat".

Problem sejenis tak hadir di Papua Lorikeet, yang bertarif Rp150.000 per malam per orang. Selain lokasinya cenderung merapat ke 'gerbang' hutan, jalan di sana tak sesulit di lingkungan penginapan lama. Setelah turun dari angkutan umum, yakni mobil berkabin dan bergarda ganda rute Manokwari-Pegunungan Arfak, tamu hanya butuh berjalan kaki kira-kira 100 meter ke penginapan.

"Dari sini bisa mengamati empat burung," ujar Hans.

Keempat spesies burung dimaksud masuk satwa endemik Arfak. Selain cenderawasih belah rotan, ada namdur polos, parotia arfak (Parotia sefilata), dan paruh sabit kurikuri (Epimachus fastuosus).

Orang Kwau menyebutnya katak daun. Ia cakap berkamuflase dengan guguran dedaunan di lantai hutan Kungoi. Konon, jika yang menangkapnya orang jahat, rasanya pedas ketika dikonsumsi.
Orang Kwau menyebutnya katak daun. Ia cakap berkamuflase dengan guguran dedaunan di lantai hutan Kungoi. Konon, jika yang menangkapnya orang jahat, rasanya pedas ketika dikonsumsi. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

"Dulu terbanyak di kawasan ini burung emas, tapi yang kasih binasa saya semua," katanya.

Hans kemudian bercerita tentang masa berburu dengan ketapel atau panah. "Pakai ketaper (ketapel) atau panah, tiga-empat kali menembak baru dapat," katanya. Padahal, dia telah lama menyimpan senapan peninggalan Perang Dunia Kedua. Ketiadaan amunisi membuat bedil tak pernah menyalak.

Senapan jompo itu hanya lumrah dipakai sebagai mas kawin. Tapi, ada pula yang menjadikannya mata uang untuk menyewa pembunuh bayaran setempat yang berjuluk suanggi.

Merasa jemu berburu dengan alat tradisional, Hans akhirnya membeli senapan angin di Manokwari. "Dengan senapan, sekali tembak dapat satu," ujarnya, yang kadang menukar huruf 'l' dengan 'r' ketika berbicara, dan sebaliknya, akibat pengaruh bahasa Hatam. "Senapan angin ini merugikan banyak binatang".

Dia baru setop jadi pemburu kira-kira 10 tahun lalu. Target terakhirnya, cenderawasih belah rotan dan parotia arfak. Hans mengonsumsi daging burung itu dan memanfaatkan bulu-bulunya "untuk bikin topi tradisional".

"Saya menyesar di ujung-ujung ini. Wisatawan datang bukan untuk menembak, bukan untuk membeli burung. Tapi, ambil gambar saja," katanya. "Hutan mencetak uang bagi masyarakat. Kalau hasil bumi, masyarakat turun mencari uang di kota. (Lewat) ekowisata, uang mencari masyarakat di pedalaman".

Warga Kampung Kwau memiliki pengetahuan baik mengenai khasiat tanaman, yang banyak terdapat di hutan. Pada gambar adalah 'daun gatal', yang berguna untuk melenyapkan kaku otot.
Warga Kampung Kwau memiliki pengetahuan baik mengenai khasiat tanaman, yang banyak terdapat di hutan. Pada gambar adalah 'daun gatal', yang berguna untuk melenyapkan kaku otot. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Di belakang hari, ancaman bagi satwa liar tak lagi datang dari para pemburu seperti Hans. Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Papua Barat 2013-2033 jadi misal. Pada 2015, revisi itu menunjukkan bahwa pemerintah daerah lebih condong ke arah peningkatan fungsi budi daya hutan, yakni 66 persen (sekitar 6,5 juta hektare), demikian keterangan lembaga swadaya masyarakat Yayasan Paradisea.

Di sisi lain, total area hutan yang berfungsi sebagai hutan lindung menurun hingga hanya mencakup 34 persen (sekitar 3,3 juta hektare). Sebelum revisi, fungsi budi daya hutan mencapai 46,1 persen (sekitar 4,5 juta hektare), dan fungsi lindung 53,9 persen (sekitar 5,3 juta hektare).

Padahal, hutan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan orang Arfak. "Kalau hutan dimusnahkan, berarti obat tradisional tidak ada, rotan tidak ada, dan habitat burung tidak ada di sini. Akhirnya merugikan," kata Hans.

Penduduk lokal memiliki prinsip igya ser hanjop, atau secara literal berarti berdiri menjaga batas. Gerak masyarakat lantas mengacu pada konsep itu, yang mewujud pada tiga klasifikasi hutan: susti, nimahamti, dan bahamti.

"Rumah, tempat ibadah, tempat berkebun, ada di daerah susti," kata Hans.

Nimahamti merupakan hutan penyangga. Di area itu tumbuh pohon-pohon besar dan masih bisa dimanfaatkan warga untuk berburu juga meramu atas izin kepala adat. Tapi. membuka hutan untuk kebun atau ladang diharamkan.

Zona teratas adalah Bahamti, seperti arupadhatu pada Borobudur. Ia hutan primer. Pada 2016, igya ser hanjop ditetapkan sebagai warisan takbenda Indonesia.

Hans Mandacan dilihat dari lubang intip bilik pengamatan burung di Gunung Kungoi.
Hans Mandacan dilihat dari lubang intip bilik pengamatan burung di Gunung Kungoi. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

"Tapi, memang tidak mudah menjaga hutan ini," kata Hans.

Dia lalu bercerita tentang seorang turis perempuan dari Prancis yang sangat cerewet dengan kondisi alam liar. Begitu bawelnya si pelancong, ia tak sudi melihat Hans menebas semak yang menghalangi jalan setapak. Padahal, jika penghalang itu tak dipangkas, mereka harus mencari jalan memutar. Dan itu jelas makan waktu.

"Dia sangat cinta dengan alam, kami saja tidak sampai begitu," ujar Hans. "Saya singkirkan hewan yang menghalangi jalan saja tidak boleh meski pakai cara baik-baik."

Wisatawan jenis ini--yang gemar trekking, yakni kegiatan menjelajah alam dengan berjalan kaki--tidak banyak, tapi meminta perhatian penuh. Hans tidak hanya menjadi penunjuk jalan bagi mereka, tapi juga merangkap porter.

"Tahun depan dia minta trekking lagi untuk satu bulan full. Minta tempat yang tidak pernah dilewati orang. Ada daerah yang seperti itu, sulit sekali. Melewati dua gunung. Dari bawah, ke puncak, ke bawah, ke puncak lagi. Pusing saya, harus pikir-pikir dulu," katanya.

Untuk perjalanan selama itu, persoalan terpenting menyangkut penyediaan logistik. Masalahnya, perempuan itu tidak ingin memakai tenaga porter. Jalan paling masuk akal bagi Hans adalah menempatkan sejumlah makanan di titik-titik tertentu.

"Dulu saya pernah antar perempuan dari ruar yang minta trekking ke Anggi. Dua hari perjalanan. Dia kepayahan karena bawa barang terlalu banyak. Tapi, kalau orang ruar saya akan antar. Kalau orang dari Indonesia, saya pikir-pikir," ujar Hans.

Anggi dimaksud adalah dua danau yang terletak di kawasan Distrik Anggi--ibu kota Kabupaten Pegunungan Arfak--dan Distrik Anggi Gida.

Tampak depan-samping Papua Lorikeet Guest House, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Tampak depan-samping Papua Lorikeet Guest House, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. | Bonardo Maulana Wahono /Beritagar.id

Pada ekstrem lain, Hans juga pernah kedatangan tamu yang tidak minta diantar ke mana-mana karena terpincut dengan suasana Papua Lorikeet Guest House. Beberapa hari bermalam, mereka sudi hanya mengutip pemandangan dari taman sekitar penginapan. "Saya memang sengaja tanam bunga-bunga untuk pancing banyak kupu-kupu," kata Hans.

Di antara belasan jenis bunga dan perdu, menjulang pohon pisang. Musa ingens nama latinnya. Orang menyebutnya pisang raksasa. Tinggi batangnya bisa 15 meter. Ditambah daun mungkin jadi sekitar 20 meter.

Ada satu jenis burung favorit para pengamat yang suka sekali pisang raksasa selain pula buah merah. Ia parotia arfak. Periode untuk menontonnya, kata Hans, adalah Mei hingga Desember. Barangkali karena musim kawin. Jika di luar masa itu, ia tak datang ke 'panggung'. Jadi, bagi turis penasaran, sekadar melihat parotia arfak bersantap sudah dikata lumayan.

"Tapi, tamu ada juga yang lebih suka magnificent (cenderawasih belah rotan)," ujar Hans.

Dia pun berkisah mengenai tamu dimaksud, seorang perempuan fotografer asal Vietnam yang sering melempar bujuk rayu. Dan dalam satu kesempatan pas, perempuan itu akhirnya melepas jurus. "Kau cantik seperti magnificent," kata Hans menirukan kata-kata si tamu kepadanya.

Kali lain, perempuan itu mengangsurkan selembar USD100 kepada Hans sebagai persen. Pihak yang ketiban nasib baik pun kaget. "Ini lebih dari yang seharusnya," kata Hans. Tapi, kuda-kuda perempuan itu sudah mantap. "Tidak mengapa," ujarnya membalas komentar Hans, "itu sebagai tanda cinta".

BACA JUGA