Terdapat 7 dangsil yang diarak warga berbagai desa dalam ritual Usaba Dangsil. Tingginya lebih dari 18 meter, tingkatan menaranya tertinggi adlaah tingkat 11.
Terdapat 7 dangsil yang diarak warga berbagai desa dalam ritual Usaba Dangsil. Tingginya lebih dari 18 meter, tingkatan menaranya tertinggi adlaah tingkat 11. Luh De Suriyani / untuk Beritagar.id
FESTIVAL BUDAYA

Toleransi Hindu-Islam dalam ritual Usaba Dangsil

Meski Usaba Dangsil adalah ritual terbesar umat Hindu, sebuah komunitas kecil muslim di Desa Bungaya, Kabupaten Karangasem, Bali, turut memegang peran penting.

Dahlan dan Sakban, dua warga dari kampung muslim di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, sudah siap terlibat dalam Usaba Aya atau Usaba Dangsil, sebuah ritual besar yang dirayakan puluhan ribu warga umat Hindu pada Senin (29/8/2016). Mereka bertelanjang dada dan mengenakan kamen (kain) yang diikat selendang.

Keduanya menyambangi kepala dusun Lebah Sari, Safari, untuk menanyakan kesiapan rekannya yang lain. Safari berencana mengajak sekitar 20 orang pria dari kampung muslim Sasak Lombok ini untuk ngayah atau membantu Desa Bungaya mengarak sebuah dangsil, semacam menara terbuat dari aneka dedaunan dan buah selain kelapa.

Usaba, artinya upacara selamatan desa atau subak. Ngusaba berarti melaksanakan upacara selamatan desa atau subak (Kamus Bali Indonesia, 1990: 782). Karena itu Usaba Dangsil bisa disebut sebagai upacara selamatan dan ungkapan syukur desa atau subak, dengan memakai sarana pohon berbuah, kecuali pohon kelapa.

Dangsil dihias sedemikian rupa, sehingga menyerupai meru (salah satu bangunan suci umat Hindu di Bali, yang sangat agung, megah dan monumental, serta sarat dengan kandungan makna simbolis dan kekuatan religius). Meru bisa dijumpai pada pura-pura besar di Bali, berciri khas atap yang bertumpang tinggi.

Sedangkan Bungaya merupakan salah satu desa tua di Bali, terdiri dari Desa Bungaya dan Desa Bungaya Kangin. Desa adat ini terdiri atas 13 banjar adat dengan jumlah penduduk sekitar 15.000 jiwa dari 3000an KK. Desa Bungaya merupakan desa tua yang pernah menjadi pemerintahan Raja Gelgel (Dalem Waturenggong). Lokasinya sekitar 80 kilometer dari Kota Denpasar, ibu kota provinsi Bali.

Halnya desa-desa tua lain yang sudah ada sebelum penguasaan Majapahit dan membawa pengaruh besar di Bali, Bungaya memiliki ritual unik dan terus melestarikannya. Salah satunya Usaba Dangsil ini. Perayaan ini juga sebagai penghormatan bagi generasi penerus, anak-anak perempuan dan laki-laki yang belum menikah. Mereka mendapat penggemblengan mental dan spiritual.

Pengarakan dangsil sejauh sekitar 500 meter ini adalah puncak ritual yang sudah dilaksanakan beberapa minggu. Terakhir, ritual Usaba Dangsil dilaksanakan 14 tahun lalu. Ribuan warga pun gotong royong mempersiapkan upacara yang prosesinya secara lengkap berlangsung selama hampir satu bulan.

"Gimana sudah siap, kumpul di mana?" tanya Dahlan pada Safari (51) dalam bahasa Sasak. Ini adalah pengalaman pertama Dahlan (30) dan Sakban (25) terlibat dalam ritual desa yang memberi leluhur mereka tempat tinggal di Karangasem ini. Sementara untuk Safari ini pengalaman kedua.

Dahlan dan Sakban (dua paling kiri) bersama warga Hindu Desa Bungaya Nengah Latra, bersiap menghadiri Usaba Dangsil yang ritual puncaknya dilaksanakan Senin (29/8/2016) di Desa Bungaya, Kabupaten Karangasem, Bali.
Dahlan dan Sakban (dua paling kiri) bersama warga Hindu Desa Bungaya Nengah Latra, bersiap menghadiri Usaba Dangsil yang ritual puncaknya dilaksanakan Senin (29/8/2016) di Desa Bungaya, Kabupaten Karangasem, Bali. | Luh De Suriyani /untuk Beritagar.id

Prosesi awal dari upacara Usaba Dangsil berupa melasti, ritual pembersihan lahir batin manusia dan alam yang melibatkan ribuan warga. Melasti dilakukan sejauh 5 kilometer, dari Pura Puseh Desa Pakraman Bungaya di Kecamatan Bebandem, menuju Pantai Desa Bugbug di Kecamatan Karangasem, pada Rabu (17/8) lalu.

Menurut Sekretaris Karya Usaba Dangsil Desa Pakraman Bungaya, I Gede Krisna Widana, setelah upacara melasti, rangkaian prosesi berikutnya adalah mendak pralina Ida Batara di Desa Pakraman Kedampal, Kecamatan Kubu, Karangasem pada Kamis (25/8).

Kemudian dilanjutkan dengan upacara pawintenan (penyucian) yang melibatkan tak kurang dari 600 calon Daha dan Teruna pada Jumat (26/8). Mereka inilah para remaja putri dan putra lajang, yang mendapat penggemblengan mental dan spiritual. Lalu para Daha Teruna yang telah melalui penyucian, wajib menari di pura Puseh pada Sabtu (27/8).

Puncaknya pada 29 Agustus, ribuan pria bertelanjang dada mengenakan kamen (kain) mengarak tujuh dangsil (semacam tugu dari aneka hasil bumi) raksasa yang beratnya bervariasi, dari 2 hingga 7 ton. Dangsil setinggi 18 meter dikerjakan selama 12 jam, mulai dari memotong kayu durian, dibagi lima, ditata, kemudian dipasang hiasan daun andong, kayu sugih, kayu murip, dan sebagainya.

Meski merupakan salah satu ritual terbesar umat Hindu, sebuah komunitas kecil umat Islam di Desa Bungaya, Kabupaten Karangasem, Bali menjadi kunci keberhasilan. Upacara ini, seolah tak lengkap tanpa kehadiran mereka. Warga kampung muslim ini diberi kehormatan menarik tali dangsil tertinggi, di antara tujuh dangsil yang diarak warga dari 15 desa lainnya.

Warga sekitar menyebut, pada ritual terakhir 2002 silam, dangsil terbesar tak bisa bergerak karena umat Islam di Kedokan (nama tempat mukim) sekitar Desa Bungaya ini tak hadir. Hal ini juga terungkap dalam penelitian I Wayan Damayana dari Fakultas Teologi UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana) Salatiga, berjudul Menyama Braya (Studi Perubahan Masyarakat Bali) pada 2011.

Pada Bab IV "Dalam Pluralitas dan Integrasi Sosial Bali" yang memuat wawancara dengan Nyoman Sekar, Bendesa Adat Bungaya Kangin (2010), disebutkan bahwa "bila nyama Selam tidak terlibat maka dangsil itu tidak akan mampu dipikul dan diarak dengan benar." Istilah nyama Selam berarti saudara Islam, istilah bagi warga muslim di Bali.

Selain itu, warga muslim juga punya peran penting dalam satu tahapan ritual di pura, lokasi persembahyangan. Sejumlah perwakilan warga Islam Kedokan ini menghaturkan sesajen bebek berjambul putih. Mereka juga diberi kehormatan nglungsur, atau menikmati sesajen itu usai didoakan.

Generasi muda Desa Bungaya mengarak perangkat sakral seperti gamelan selonding sejauh sekitar 500 meter menuju Pura Penataran, melintasi bentangan kain putih.
Generasi muda Desa Bungaya mengarak perangkat sakral seperti gamelan selonding sejauh sekitar 500 meter menuju Pura Penataran, melintasi bentangan kain putih. | Luh De Suriyani /untuk Beritagar.id

Bersama Safari, Dahlan, dan Sakban, terungkap secuil kisah bagaimana leluhur mereka terlibat dalam sebuah akulturasi budaya antara dua komunitas dengan agama dan etnis berbeda ini. Menurut Safari, ayah tiga anak itu mengetahuinya dari cerita lisan orang tuanya. Sementara Dahlan dan Sakban mengaku tidak tahu detail sejarahnya.

"Katanya dulu dapat angkat dangsil, ini adat istiadat ikut aja sebagai generasi penerus," Dahlan tersenyum bangga. "Nyaman saja umat beragama bisa silahturahmi, persatuan jadi baik. Penting menyatukan hati mengenal adat," lanjutnya.

Cerita Dahlan sudah cukup mengambarkan bagaimana toleransi berjalan turun temurun di desa Bungaya. Banjar dinas Lebah Sari kini penduduknya sekitar 198 Kepala Keluarga (KK), hanya 16 KK yang memeluk Hindu. Namun mereka melebur, meski dikelilingi desa-desa dan banjar lain yang mayoritas Hindu.

Safari hanya ingat sedikit kisah dari mulut ke mulut riwayat leluhur mereka yang hijrah dari Lombok ke Bali. Awalnya ketika warga Karangasem dari desa ini ikut berperang dengan Raja Karangasem ke Lombok.

Saat berlayar pulang, sebuah tempat sesaji (ada yang menyebut bentuknya alat gong) jatuh ke laut. Sejumlah warga Sasak Lombok membantu mengambilkan. Konon warga penolong ini sepasang pria dan perempuan yang kemudian diajak ke Desa Bungaya dan diberi tempat tinggal sebagai ucapan terima kasih.

Singkat cerita, mereka beranak pinak dan Leluhur desa Bungaya memberi sebidang lahan yang diberi nama Balalungan yang berasal dari kata bala (pengawal) dan luwung (baik), yakni pengawal yang baik. Komunitas ini juga memiliki kuburan sendiri yang disebut sema nyame Sasak atau kuburan saudara Sasak.

Pada masa lalu, kedua umat juga berbagi hasil panen dari jineng (tempat penyimpan tradisional). Warga Hindu menghormati ritual umat Islam yang berbeda dalam tata cara kematian, persembahyangan, dan lainnya. Namun sebagai ikatan, komunitas muslim ini juga terlibat dalam tanggung jawab adat, meski secara terbatas.

"Jika bukan dari kelompok mereka yang pasang tembok pura Bale Agung, tidak akan selesai. Pasti rubuh lagi," cerita Ida Bagus Jungutan, salah satu tokoh masyarakat dan ketua panitia ritual Ngusaba Dangsil tahun ini. Inilah ikatan secara niskala (tak kasat mata) yang menguatkan toleransi sekaligus melindungi kelompok minoritas di desa ini.

Kelihan (pemimpin) Desa Adat Bungaya, De Salah Sukata mengatakan warganya sampai kini menjaga hubungan yang harmonis dengan komunitas muslim yang bermukim di desanya. Ia ingat dulu kekerabatan lebih terasa karena banyak hal yang menyambungkan seperti ngejot atau tradisi saling mengirim makanan saat hari raya masing-masing.

"Dulu leluhur kami usai bertempur di Lombok tak bawa apa-apa untuk berterimakasih, jadi diajak ke sini," ujar pria tua ini tentang sejarah hadirnya keturunan Sasak dari Lombok di Bungaya, yang kemudian terikat secara tradisi tanpa melalui penyeragaman agama.

Safari tampak bangga dengan kerukunan antar-umat beragama yang telah berlangsung sejak lama ini. "Sampai sekarang kalau kita kondangan ke warga Hindu disambut ucapan 'terima kasih kehadirannya saudara muslim'. Persaudaraan yang dikedepankan," tuturnya.

Daha atau perempuan generasi muda Desa Bungaya mengenakan pakaian khas saat Usaba Dangsil. Sedikitnya 1000 anak-anak dan remaja mengikuti ritual ini selama seminggu, seperti puasa dan menari di pura semalam suntuk.
Daha atau perempuan generasi muda Desa Bungaya mengenakan pakaian khas saat Usaba Dangsil. Sedikitnya 1000 anak-anak dan remaja mengikuti ritual ini selama seminggu, seperti puasa dan menari di pura semalam suntuk. | Luh De Suriyani /untuk Beritagar.id

Adapun ritual Usaba Dangsil digarap sangat megah, memobilisasi puluhan ribu orang warga yang membantu pengarakan tujuh menara sakral simbol kesejahteraan dan perlindungan. Seluruh warga, pengunjung, dan pejabat yang hadir diwajibkan hanya mengenakan kamen, tanpa udeng (penutup kepala) dan perhiasan.

Biasanya orang memamerkan perhiasaan atau pakaian gemerlap saat pelaksanaan upacara adat atau agama, namun warga Bungaya dan desa-desa sekitarnya malah mendorong kesetaraan dan kesederhanaan. Meski begitu, tetap terasa wah dan elegan. Usaba Dangsil menghadirkan potret Bali di masa lalu, ketika warga fokus pada ritual, bukan bagaimana berdandan.

Dimulai dengan iringan benda-benda sakral seperti perangkat gamelan selonding yang dibawa ratusan remaja pria menuju Pura Penataran. Iringan ini berjalan di atas kain putih yang disambungkan dari satu pura ke pura lainnya.

Warga hanya diperkenankan duduk melihat iringan, tidak boleh ada yang mondar mandir termasuk fotografer. Suasana sontak hening dan membuat merinding.

Setelah semua benda sakral ditempatkan dengan baik, keriuhan terlihat di sekitar dangsil-dangsil yang siap diarak. Tiap desa sudah mendapat tugas mengarak yang mana, termasuk warga kampung muslim Belalungan di Bungaya. Untuk itu, Safari dan warganya makemit (berjaga) semalaman di sekitar dangsil setelah diarak ke Pura Penataran.

Sementara itu, angin terasa berhembus kencang ke arah Utara. Pepohonan besar bergoyang. Ada dangsil yang harus sedikit diperbaiki karena tak seimbang. Ribuan warga berbagi tugas, ada yang mengangkat tiang-tiang kayu penyangganya yang luar biasa berat.

Kemudian ratusan lain bertugas menarik empat tali untuk menyeimbangkan menaranya. Lainnya mengarahkan jalan dan mengurai massa penonton yang terus memberikan semangat dengan sorakan dan tepuk tangan.

Ketika sampai di lokasi yang dituju, tepukan makin keras disertai ucapan terima kasih untuk para pengaraknya. Sorak sorai kebahagiaan. Beberapa warga mengalami luka kecil dan dengan sigap diobati oleh tim kesehatan yang disiapkan panitia ritual.

Prosesi upacara sakral terbesar di Desa Pakraman Bungaya--bahkan Ngusaba tertua di Bali-- berlangsung sehari penuh sejak pagi hingga malam. Selain tujuh dangsil besar, sebenarnya ada 40 dangsil lainnya dengan tinggi rata-rata hanya 1 meter. Inilah Dangsil Taksu, pengawal perjalanan tujuh dangsil besar agar lancar menuju Pura Penataran.

Setelah ketujuh dangsil besar distanakan di Pura Penataran, barulah 40 Dangsil Taksu berhenti ngempet (menjaga wilayah perbatasan). Tujuh dangsil itu punya nama: Dangsil Nungnungan, Dangsil Desa, Dangsil Dalem, Dangsil Sanekauh, Dangsil Puseh, Dangsil Penguhung, dan Dangsil Susuan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR