Traidisi main topeng labu di pinggir Sungai Batanghari, Desa Muara Jambi, Kabupaten Muarojambi, Jambi, pada Rabu (5/7/2019).
Traidisi main topeng labu di pinggir Sungai Batanghari, Desa Muara Jambi, Kabupaten Muarojambi, Jambi, pada Rabu (5/7/2019). M Ramond EPU / Beritagar.id
RAMADAN 2019

Topeng labu di antara kusta dan pesta lebaran

Tradisi topeng labu di Jambi dipercaya sebagai media penderita kusta untuk datang berkunjung di hari lebaran. Kini, legenda itu berubah menjadi tradisi dan hampir punah.

Dung…dung…tak…dung…dung….tak….dung…

Gong dan gendang terus berbunyi. Kerumunan anak sesekali berserakan ketakutan. Belasan orang bertopeng terus bergerak dan menari tak seragam di jalan setapak pinggir Sungai Batanghari, Desa Muara Jambi, Kabupaten Muarojambi, Jambi.

Terlihat setiap penghuni rumah yang dilalui gerombolan bertopeng tadi sudah menunggu di teras masing-masing. Berharap gerombolan bertopeng singgah dan menari di depan mereka. "Sini dulu," teriak penghuni rumah melambaikan tangan memanggil.

Usai menari diiringi gong, gendang, biola, harmonika dan pianika, pemain topeng langsung berebutan bersalaman dengan tuan rumah. Sebaliknya, tuan rumah langsung memberikan beragam makanan dan minuman. Tak sedikit pula yang memberikan amplop berisi uang lebaran.

Sepanjang perjalanan, pemain topeng tidak melewatkan orang tua yang mereka jumpai. Begitu juga dengan gadis remaja, pemain topeng berlari berebutan untuk bisa bersalaman. Ulah jenaka mereka disambut gembira warga Desa Muara Jambi.

Tapi banyak juga anak-anak kecil dan gadis remaja yang menangis ketakutan ketika dikejar pemain topeng ini.

Karakter seram dan lucu ditampilkan pada setiap topeng. Sedangkan kostum yang digunakan, rerata mengenakan daster. Topeng dari labu manis tua berkulit keras dihias menggunakan cat berbagai warna. Selain itu, ijuk terlihat diletakkan di atas topeng menyerupai rambut.

"Main topeng labu ini tradisi di desa Muaro Jambi pada hari pertama Idulfitri," ungkap Abdul Haviz, Tokoh Pemuda Desa Muara Jambi usai mendampingi rombongan main Topeng kepada Beritagar.id, Rabu (5/62019) kemarin.

Kata pria yang akrab disapa Ahok tersebut, tradisi main topeng selalu ditunggu warga desa. "Belum lengkap lebaran di desa kami kalau tidak ada permainan topeng labu," jelasnya.

Pemain topeng labu, kata Ahok, merupakan pemuda Desa Muara Jambi yang peduli terhadap pelestarian kebudayaan dan seni tradisi. Ada 9 Rukun Tetangga (RT) yang dilalui para pemain topeng ini.

"Perjalanan yang ditempuh sekitar tujuh kilometer, tapi tidak terasa. Karena sepanjang jalan banyak keseruan yang ditampilkan pemain topeng. Begitu juga dengan sambutan masyarakat," ujar pria 41 tahun itu.

Ahok mengungkapkan, makanan dan minuman yang didapatkan itu dibagi-bagikan kepada pemain topeng dan rombongan. Sedangkan uang, digunakan sebagai modal kegiatan mereka di Kawasan Candi Muaro Jambi menggelar Festival Seni Budaya Solidaritas Candi Muaro Jambi.

"Selama empat hari kawan-kawan punya kegiatan di kawasan Candi Muaro Jambi untuk menghibur pengunjung selama libur lebaran ini," katanya.

Sempat hilang

Main topeng labu merupakan tradisi turun temurun di Desa Muara Jambi. Diperkirakan tradisi ini sudah ada ratusan tahun lalu. "Kami melakukan penelitian sendiri kepada orang tua kampung. Rata-rata mereka berusia di atas delapan puluh tahun," ujar Ahok.

Dari penelitian yang berdasarkan pengakuan tetua kampung, dahulu tradisi ini dimainkan lebih sederhana dibandingkan sekarang. Namun, tidak menghilangkan kesakralan untuk saling bermaafan dan menghibur di hari pertama lebaran.

"Kata mereka (tetua kampung) topeng labu saat itu tidak dicat seperti sekarang. Tapi hanya diwarnai dengan menggunakan arang," katanya.

Hal yang sama disampaikan Mukhtar Hadi, Pelestari kesenian Topeng Labu Muara Jambi. "Kami sudah menanyakan langsung kepada para pelaku tradisi Topeng Labu pada zaman itu," jelas pria yang sering dipanggil Borju ini kepada Beritagar, Rabu 5 Juni 2019.

Bahkan, menurut penuturan tetua kampung, keberadaan topeng labu ini merupakan bagian dari sejarah perjuangan masyarakat Jambi pada zaman kolonial. Saat itu, mereka menggunakan topeng labu kala berhadapan dengan penjajah.

"Jelas sekali, topeng ini digunakan sudah sejak lama," katanya.

Traidisi main topeng labu di pinggir Sungai Batanghari, Desa Muara Jambi, Kabupaten Muarojambi, Jambi, pada Rabu (5/7/2019).
Traidisi main topeng labu di pinggir Sungai Batanghari, Desa Muara Jambi, Kabupaten Muarojambi, Jambi, pada Rabu (5/7/2019). | M Ramond EPU /Beritagar.id

Sayang, tradisi Topeng Labu sempat hilang. Seperti di akhir tahun 1990 sampai akhir tahun 2000, tradisi ini tidak dimainkan. Borju mengatakan, dekade-dekade tersebut, para pemuda setempat enggan memainkannya. Banyak alasan untuk hal itu.

Gelisah dengan ancaman kepunahan, pada 2009, usai menyelesaikan kuliah di IAIN Sultan Thaha Saipudin Jambi, Borju berinisiatif mengangkat kembali tradisi Topeng Labu di desanya.

Dengan beberapa pemuda Desa Muara Jambi, dirinya mulai mencari labu manis yang sudah tua di sawah-sawah warga. Proses kreatif mulai mereka lakukan.

"Saya berpikir, kalau tradisi ini hanya muncul setahun sekali di hari lebaran, kesenian ini tidak akan dikenal orang di luar Desa Muara Jambi," ungkap pria 36 tahun ini.

Akhirnya, Borju berupaya membawa Topeng Muara Jambi ke beberapa kegiatan di Kota Jambi. Seperti pawai budaya, pergelaran seni, hingga festival-festival pariwisata. "Upaya mengenalkan permainan topeng labu ini akhirnya mulai memperlihatkan hasilnya," kata Borju.

Bahkan, sejumlah Topeng Labu yang sudah mereka mainkan di tradisi Lebaran, dibawa beberapa pemerhati seni dan budaya ke pameran di luar negeri. "Pernah dibawa pameran ke Prancis, Australia dan beberapa negara Eropa," ungkapnya.

Kini, setidaknya usaha mereka untuk mempertahankan tradisi daerah tersebut bisa dibilang berhasil. Main Topeng Labu menjadi salah satu tradisi yang selalu dinanti masyarakat sekitar Desa Muara Jambi saban hari pertama lebaran.

Namun, Borju mengaku, ia tak bisa berleha-leha menikmati "kesuksesan" tadi. Dia dan pemuda kampung kembali dihinggapi kekhawatiran musnahnya kesenian tersebut—seperti pada dekade 1990 dan 2000-an.

Untuk itu, sejak dini mereka melakukan regenerasi. Caranya, dalam tiap pertunjukkan, mereka selalu melibatkan anak-anak dengan jumlah tak menentu; kadang dua kadang tiga.

"Harapannya, anak-anak ini bisa memotivasi teman-teman seumuran mereka untuk terlibat dalam menjaga tradisi kampung," katanya.

Borju ingat betul masa-masa awal ia dan kawan-kawannya menghidupkan tradisi ini. Tak perlu berbicara ihwal peran pemerintah, entah pusat mau pun daerah. Masyarakat desa sendiri, pada saat itu, pesimistis mengenai niat Borju tadi.

"Kami sempat dibilang orang, dak tek gawe (tidak ada kerjaan). Namun sekarang sebaliknya, dukungan dari masyarakat sangat besar kepada kami. Malah, setiap tahun, masyarakat desa menantikan kehadiran kami di hari pertama lebaran," kata Borju.

Kini, setelah tradisi topeng labu telah kembali hidup, menurut Jaffar Rasuh, Pengamat Seni dan Budaya Jambi, ada pekerjaan rumah yang masih harus dilakukan. Yakni, peran yang lebih besar dari pihak-pihak lainnya, seperti pemerintah.

Maklum, sudah banyak kesenian daerah yang sudah punah di Jambi. "Kesenian topeng labu seperti di Muara Jambi ini juga pernah ada di Mersam, Kabupaten Batanghari dan Air Batu di Kabupaten Merangin, dengan media topeng berbeda. Namun, saat ini sudah hilang," katanya, Sabtu (8/6).

Dugaan Jaffar, pergeseran nilai menjadi salah satu penyebab hilangnya kesenian ini. Dicontohkannya, di Mersam, kesenian Topeng dilakukan pada saat arakan pengantin. Sekarang, demi efisiensi, penggunaan topeng dalam arakan pengantin sudah tidak diperlukan lagi.

Sehingga, lambat laut, kesenian seperti itu menjadi hilang. "Memang perlu pelestarian yang diinisiasi warga seperti yang dilakukan pemuda di Desa Muara Jambi," tegas Jaffar.

Sementara itu, Toto Sucipto, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Tanjung Pinang untuk wilayah kerja Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Jambi dan Bangka Belitung, mengatakan pihaknya terus berupaya menginventarisasi kekayaan budaya.

Tujuannya, inventarisasi ini untuk menjadi dasar revitalisasi kesenian dan tradisi yang hampir punah. “Setidaknya kita punya dokumentasi dengan perekaman video dan tulisan,” katanya kepada Beritagar, Minggu (9/7/2019).

Pihaknya berharap peran aktif Pemerintah Daerah dalam upaya pelestarian seni tradisi. Karena, salah satu penyebab kepunahan seni tradisi, kurangnya ruang pergelaran kesenian di tiap daerah. Banyak taman budaya yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

Andai pun ada dengan prosedur yang berbelit. “Seniman sudah capek-capek latihan, tapi tidak punya ruang untuk pergelaran,” katanya.

Legenda topeng labu

Borju menjelaskan, ada beberapa nilai yang terdapat pada tradisi main topeng labu ini. Seperti penggunaan labu manis dijadikan media topeng.

Dahulu, nenek moyang mereka menggunakan labu manis yang sudah tua sebagai wadah mendinginkan air. Hal ini memiliki makna lain dalam dalam kesenian Main Topeng Labu.

"Maknanya, suasana Idulfitri sebagai hari yang sejuk dan dingin untuk saling memaafkan," jelasnya.

Sedangkan ijuk, lazim digunakan untuk dijadikan sapu. Nilai yang terkandung dari penggunaan ijuk, pada hari lebaran adalah waktu yang tepat untuk membersihkan semua kesalahan yang pernah dibuat, dengan cara bermaafan ke semua orang.

Begitu juga dengan kostum yang mereka pakai. Tidak ada kostum yang menunjukkan kemewahan, semua dengan kesederhanaan.

"Pada hari lebaran, sebaiknya tidak terlalu berlebihan dalam segala hal. Dalam tradisi topeng ini ditunjukkan dengan menggunakan kostum sederhana," jelasnya.

Sedangkan makanan, minuman dan uang yang diberikan warga kepada pemain topeng, menunjukan sikap berbagi kepada sesama di hari raya Idulfitri. "Pentingnya berbagi kepada sesama diajarkan dalam tradisi ini," ujarnya.

Ada satu cerita yang hingga saat ini bertahan mengenai keberadaan topeng labu tadi. Cerita itu tak lepas dari penyakit kusta. Dahulu, kata Borju, Desa Muara Jambi pernah terserang wabah Kusta. "Penyakit kukut kalau orang sini bilang," kata Borju.

Orang yang terkena kusta di kampung zaman dahulu akan diasingkan ke dalam hutan--Ngutan istilah mereka. Ketika hari raya Idulfitri, orang yang terkena kusta ini memiliki kerinduan untuk kembali ke kampung untuk bertemu keluarga.

Sehingga, digunakan media labu untuk menutupi wajah agar tidak dikenali warga kampung.

"Ternyata kehadiran orang bertopeng ke kampung, menjadi hiburan bagi warga desa. Kemudian, warga desa memberikan makanan dan minuman kepada orang yang terkena kusta ini untuk dibawa ke dalam hutan," jelasnya.

Dari cerita ini, mereka meyakini, bahwa ada pesan kesetaraan sesama manusia. Tidak ada manusia yang layak dikucilkan dan direndahkan. Semua orang harus mendapatkan perlakuan yang sama.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR