Alfian Anfal, salah satu peserta touring Leh-Manali di India bagian utara, pada sepenggal jalur Leh-Manali, Minggu (26/6/2018)
Alfian Anfal, salah satu peserta touring Leh-Manali di India bagian utara, pada sepenggal jalur Leh-Manali, Minggu (26/6/2018) Andi Al Hakim / Dokumen Pribadi
LAPORAN KHAS

Touring Leh-Manali, penaklukan sejumlah jalan tertinggi dunia

Lima biker Indonesia menjajal jalur Manali-Leh yang berkondisi ekstrem di India bagian utara. Motor boleh sewa, tapi pengalaman riding menjadi penentu.

Konon, sekali lagi konon, berhadap-hadapan langsung dengan alam--tanpa perantara, seperti keterangan di papan iklan jual tanah atau rumah--bakal menunjukkan betapa kecil diri, dan betapa akbar dunia.

Berlawanan dengan media sosial, platform digital yang lebih sering bikin banyak pemilik akunnya membesar-besarkan diri.

Bisa jadi itu klise. Tetapi, bukankah hal-hal yang dianggap klise, lagi-lagi kata orang, justru telah teruji?

Subjektif, memang. Syarat untuk meluruhkan nafsi di muka semesta pun tampak sepele, juga sulit. Seperti ular melucuti kulit. Atau kucing merelakan bulu. Atau pari manta menanggalkan gigi. Praktiknya berkenaan dengan pertanyaan mengenai apa yang mesti kita rontokkan. Apakah barang-barang kesayangan? Atau kenyamanan?

Atau ego?

"Saking takutnya (terjebak) jalan ketutup (longsoran), aku ninggal temen kakakku yang lagi makan jagung. Tak tinggal aja," kata Andi Al Hakim, Rabu (1/8/2018).

Pria berusia 35 itu berbicara mengenai pengalamannya waktu menunggang motor di India bagian utara--kawasan berpagar pegunungan jangkung--pada 20 Juni-28 Juni 2018 bersama empat kawannya.

Andi berkata begitu setelah mengalami sendiri bagaimana alam beberapa kali pamer kekuatan: hujan dua hari yang sungkan berjeda, runtuhan batu dari pucuk gunung, dingin dan hawa kering yang keras kepala, longsoran yang bikin rombongan mati kutu.

Karenanya, tanpa pikir panjang, Andi Al Hakim emoh peduli pada rekan seperjalanannya yang tengah rehat isi perut itu. "Pokoknya tak tunggu di rental (motor di Manali)," ujarnya.

Andi Al Hakim dan Royal Enfield Classic 350 cc, ketika berada di Leh, ibu kota Ladakh, India bagian utara, Minggu (24/6/2018).
Andi Al Hakim dan Royal Enfield Classic 350 cc, ketika berada di Leh, ibu kota Ladakh, India bagian utara, Minggu (24/6/2018). | Andi Aldi /Dokumen Pribadi

Rute yang sedang dibicarakan ini terdapat di India utara. Ia membujur dari Manali, daerah berbukit di Himachal Pradesh, hingga Leh, kawasan Lembah Sungai Indus. Trek itu biasa disebut Jalan Raya Leh-Manali saja.

Andi dan rombongan menambah angka odometer dengan menyambangi pula Danau Pangong--lokasi syuting film laris, "3 Idiots"--yang punya pemandangan ajib, dan Puncak Khardung La yang bertopi salju abadi.

Perjalanan itu melibas total jarak kurang dari, menurut kalkulasi GMaps, 1.500 kilometer. Itu nyaris setara Jakarta-Duri di Riau. Tapi, meski bersaing ihwal jarak, medan yang harus ditaklukkan teramat menantang.

Tengok saja beberapa puncak yang mesti ditaklukkan. Beberapa di antaranya bahkan masuk jajaran jalan tertinggi dunia yang masih bisa dilewati kendaraan: Baralacha La (4.892 m dpl), Lachulung La (5.065 m dpl), dan Tanglang La (5.328 m dpl). Jika dipukul rata, banyak titik jalan berlokasi di ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut.

Jalur transportasi itu pun biasanya cuma dibuka antara Mei atau Juni hingga pertengahan Oktober. Diurus Border Roads Organization (BRO)--lembaga pembangun dan pengelola jalan di daerah perbatasan India--Jalan Raya Leh-Manali dibuka setelah bersih dari salju.

Penekanan ada pada kalimat, "masih bisa dilewati kendaraan". Soalnya, kalau ambil perspektif elevasi belaka, Indonesia punya gunung-gunung yang puncaknya di atas 4.000 meter. Semuanya di Papua. Di antaranya, Puncak Jaya, Puncak Mandala, dan Puncak Trikora. Namun, tak satu pun dilewati kendaraan.

Hasil tangkapan layar dari aplikasi GMaps yang menunjukkan jalur touring Andi Al Hakim dan kawan-kawannya pada 21 Juni - 28 Juni 2018 di India bagian utara. Perkiraan waktu dari GMaps tak bisa dijadikan pegangan.
Hasil tangkapan layar dari aplikasi GMaps yang menunjukkan jalur touring Andi Al Hakim dan kawan-kawannya pada 21 Juni - 28 Juni 2018 di India bagian utara. Perkiraan waktu dari GMaps tak bisa dijadikan pegangan. | /Google Maps

Dengan ketinggian sedemikian, orang-orang yang melaluinya rentan tersambar acute mountain sickness (AMS) atawa altitude sickness atawa mabuk ketinggian. Kondisi itu jamak memantik pening yang datang dan pergi--disertai mual dan insomnia--dan bisa berlangsung berhari-hari.

Jika memburuk, satu-satunya obat adalah pergi ke daerah yang lebih rendah.

Sudah begitu, Andi dkk. riding di tengah kemarau. Banyak sungai kecil bisa terbit tiba-tiba akibat gletser meleleh. Arus deras-dingin bakal menyela laluan. Saat itu terjadi, butuh keterampilan tinggi untuk menyiasatinya.

"Bisa sampai setengah ban" motor, katanya mengenai level air.

Karena itu, menurut Andi Al Hakim, kondisi ekstrem dimaksud membuat Jalan Raya Leh-Manali layak menjadi semacam Mekah-nya para biker .

"Jalurnya emang udah terkenal," ujar pegawai divisi Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Kekayaan Negara itu. "Kalau yang biasa riding di Indonesia kalau ke sana kastanya langsung naik drastis. Dari sudra-paria, langsung brahmana. Dan pemandangannya bagus".

Saya agak terpukul waktu dia cuma mengomentari pemandangan di sana dengan kata "bagus". Pasalnya, saya masih ingat kesan saat menjajal jalur Leh-Manali pada Juli 2010.

Kiri ke kanan: Alfian Anfal, Andi Al Hakim, Lingga Oktapa, Andi Aldi. Foto diambil di Rohtang La yang berketinggian 3.978 meter di atas permukaan laut.
Kiri ke kanan: Alfian Anfal, Andi Al Hakim, Lingga Oktapa, Andi Aldi. Foto diambil di Rohtang La yang berketinggian 3.978 meter di atas permukaan laut. | Andi Al Hakim /Dokumen Pribadi

Waktu itu, meski cuma menumpang minibus, saya merasakan ada keistimewaan di tiap penggal jalan. Ada kesederhanaan sekaligus kerumitan. Ada kefanaan tebal yang sekaligus menyiratkan kelanggengan.

Mungkin kata-kata Andi Aldi, yang juga turut dalam rombongan touring itu, lebih kena sasaran. Dia bilang, berada di jalur itu "Berasa masuk dunia Narnia, Warcraft. Indah banget. Asli".

Andi Aldi seorang guru musik yang menolak patuh semata pada rutinitas di Jakarta. Dia acap kali melakoni perjalanan jauh dengan motor pribadi andalannya, Bajaj Pulsar 220. Portofolionya bisa bikin cemburu.

"Jawa, Bali, Lombok. Pernah juga ke Sumatra sampai Aceh. Ke Sabang Alhamdulillah kesampaian," ujar sang instruktur drum, Jumat (3/8/2018).

Meski, hasrat terdalamnya adalah mencapai Merauke, Papua, Andi Aldi girang saja waktu tahu bahwa India lebih dulu memanggil.

"Awalnya," kata Andi Aldi tentang ide touring India utara, "posting di wall FB (Facebook)," dan dijawab oleh sembilan orang. "Pada gugur. Sisa empat. Eh ada satu tambahan lagi. Saya juga harus pilih-pilih teman yang mau berangkat. Soalnya harus satu visi dan misi".

Motor meleset keluar dari jalur beraspal di kawasan Pang yang berketinggian di atas 4.500 m dpl pada trek Leh-Manali, Sabtu (23/6/2018)
Motor meleset keluar dari jalur beraspal di kawasan Pang yang berketinggian di atas 4.500 m dpl pada trek Leh-Manali, Sabtu (23/6/2018) | Andi Aldi /Dokumentasi Pribadi


Perihal pengeluaran

Lima orang itu, harap maklum, berangkat pakai duit sendiri. Memang, mereka dibuntuti empat sponsor. Tapi, hanya barang, bukan uang. Jadi, "ada atau enggak ada sponsor, (kami) pasti jalan," ujar Andi Al Hakim.

Dia lalu tak segan kasih ilustrasi pengeluaran pokok. (Untuk mengakali fluktuasi rupiah, artikel ini memakai patokan rupee India. Nilai Rs1, atau satu rupee India, sekarang kira-kira setara Rp211).

Andi Al Hakim bertolak dari Jakarta dengan pesawat Thai Airways bertujuan Delhi. Harga kursi dapat best deal, sekitar Rp4,3 juta. Itu sudah untuk pergi-pulang.

Penerbangan tiba malam. Esok sorenya, dia dan kedua teman seperjalanan dari Jakarta meninggalkan Delhi menuju Manali dengan bus "Volvo semi sleeper yang ongkosnya Rs1.400 dan tiket pasarannya, Rs1.300-1.500".

Sampai di tujuan pukul 10 pagi.

Untuk menginap di Manali, mereka menempati dua kamar yang dipesan lewat Booking.com senilai Rs2.200. Harga itu, menurutnya, "menipu" karena sebenarnya spesifikasi penginapannya tak sesuai dengan yang terpampang di laman pemesanan tersebut.

Setelah itu, mereka mengunjungi Bike Rentals Manali (BRM) untuk mengambil motor. Ongkos sewa per motor sehari, Rs1.800. Jatah mereka sembilan hari. Cuma tiga motor diamankan karena dua peserta lain, yaitu Andi Aldi dan Lingga Oktapa, menyewa dari Delhi.

(Ihwal motor ini, duo Andi beda opini walau jenis motornya sama, yakni Royal Enfield Himalayan dengan kapasitas mesin 411 cc. Menurut Andi Aldi, "motornya enak". Tapi, Andi Al Hakim mengeluhkan kondisi motor yang menurutnya "enggak bertenaga").

Demi menghindari mabuk ketinggian, rombongan itu mesti jeli menyesuaikan kondisi fisiknya dengan lingkungan baru yang berketinggian superior. Istilah lazimnya, aklimatisasi. Karena itu, pengaturan waktu berhenti dan lokasi menginap dijadwalkan secara ketat.

"Pokoknya, rekomendasinya, setelah dari Manali, menginap pertama itu kalau enggak di Keylong, di Jispa, karena enggak terlalu tinggi," ujar Andi Al Hakim.

Mereka lantas memutuskan menginap di Keylong. Tarifnya Rs2.500 per malam. "Satu kamar gede. Bed empat. Satu extra bed," katanya.

100 km lepas Keylong, mereka kembali menepi. Kali ini sebuah perhentian utama bernama Sarchu. Penginapan di sana berbentuk tenda "dengan WC duduk," kata Andi Al Hakim.

Tarif per orang untuk semalam, Rs900. Itu sudah "dapat dinner dan breakfast," ujarnya, "meski cuma nasi, sama kacang hijau dikasih bawang bombai".

Di Sarchu pula kesahihan identitas para biker Asia Tenggara ini diperiksa. Pengecekan itu lumrah. Sebab, daerah itu punya pangkalan militer dan pos kontrol polisi.

"Sarchu titik di mana lo bisa lanjut atau enggak. Kalau orang biasa kurang fit, di Sarchu dia milih berhenti dan kembali ke Manali. Mountain Sickness mulai nyerangnya di situ. Sampai ada rekan yang kayak orang kesurupan. Sedikit-sedikit bangun. Enggak jelas," kata Andi Al Hakim.

Nyaris 250 km kemudian, mereka tiba di Leh, ibu kota Ladakh. Itu daerah yang secara administratif termasuk sebagai bagian Jammu&Kashmir, India, dan secara kultural dekat dengan Tibet. Dalam lingkup ekonomi zaman baheula, Ladakh penting karena menghubungkan India dengan Jalur Sutra.

"Di Leh kami dapat dua kamar untuk Rs1.700, menginap tiga malam," ujarnya.

Andi Al Hakim dengan Royal Enfield Himalayan 411 cc di Baralacha La, satu titik di Jalan Raya Leh-Manali, India bagian utara, yang berketinggian 4.890 meter dpl, Jumat (22/6/2018)
Andi Al Hakim dengan Royal Enfield Himalayan 411 cc di Baralacha La, satu titik di Jalan Raya Leh-Manali, India bagian utara, yang berketinggian 4.890 meter dpl, Jumat (22/6/2018) | Andi Al Hakim /Dokumentasi Pribadi

Leh bukan tujuan akhir. Tetapi, sialnya, saat bermaksud riding ke Khardung La, mereka dilarang memakai motor sewaan dari Delhi atau Manali. "Dianggap udah beda daerah. Aneh aturannya," kata Andi Al Hakim.

Mereka pun harus rela mengeluarkan uang Rs1.400. Itu harga sewa per motor. Karena cuma dipakai ke Khardung La, mereka hanya butuh sehari.

Namun, di luar uang sewa motor, "salah satu pengeluaran terbesar itu BBM (bahan bakar)," ujar Andi Al Hakim, yang di Indonesia memakai Kawasaki Versys 650 tahun 2013. Bahan bakar yang tersedia beroktan 93. Kelasnya "di atas Pertamax dan di bawah Turbo" produksi Pertamina. Harganya mahal. Sekitar Rp16.500 per liter.

"Pas berangkat salah perhitungan. Sampai Sarchu udah habis karena kebanyakan ngegas. Di sana harganya dua kali lipat. Rp33 ribu per liter," ujarnya.

Kapasitas tangki RE Himalayan yang dikemudikan Andi Al Hakim 13 liter. Untuk berjaga, ia dan beberapa anggota tim mengangkut dua jeriken berukuran masing-masing lima liter.

"Helm bawa sendiri. Kalau dipakai jalan sekitar 1.500 km, kalau (helm) enggak enak, ya sengsara," kata Andi Al Hakim.

Puncak Khardung La, udara dingin, dan rasa sesak

Jalan Raya Leh-Manali sebenarnya berlaku sebagai bonus menggiurkan bagi mereka. Soalnya, tujuan utama ke India adalah Khardung La.

"Pertama kali dengar dari teman. Dia bilang, 'lo kalau mau touring, pergi aja sana ke Himalaya. Ada Khardung La. Itu jalan tertinggi," ujar Andi Aldi mengenang perkataan kawannya.

Gagasan sang kawan membetotnya. Untuk menggandeng rekan seperjalanan, dia memajang undangan lewat akun Facebook pribadi, seperti sudah diceritakan di depan.

Yang terjadi selanjutnya jelas telah dicatat malaikat dan para petugas pos pemeriksaan.

Tapi, pengakuan Khardung La sebagai jalan tertinggi yang masih bisa dilewati kendaraan sesungguhnya sudah terbantahkan. "Sebenarnya itu sih marketing dari pemerintah India aja," kata Andi Al Hakim tentang klaim tersebut.

Kiri ke kanan: Lingga Oktapa, Andi Aldi, Andi Al Hakim, Alfian Anfal. Empat dari lima anggota tim touring Leh-Manali berpose di Khardung La yang berketinggian 5.359 meter dpl (menurut Google Earth, 5.354 m dpl), Minggu (24/6/2018)
Kiri ke kanan: Lingga Oktapa, Andi Aldi, Andi Al Hakim, Alfian Anfal. Empat dari lima anggota tim touring Leh-Manali berpose di Khardung La yang berketinggian 5.359 meter dpl (menurut Google Earth, 5.354 m dpl), Minggu (24/6/2018) | Andi Al Hakim /Dokumen Pribadi

Sang amtenar tidak salah.

Khardung La memang bukan yang tertinggi. Wikipedia bilang begitu. Google Earth membuktikannya. Bahkan laman Devil on Wheels, forum dan komunitas online urusan perjalanan di kawasan Himalaya punya daftar layak-rujuk berisi jalan-jalan tertinggi yang masih bisa dilewati kendaraan.

Kebanyakan jalan tertinggi dalam lis dimaksud memang terdapat di Ladakh. Yang tertinggi bernama Umling La (5.883 m dpl), 235 km dari Leh. Khardung La bahkan absen dari 10 besar, kalah tinggi semeter dari Chang La (5.360 meter dpl) yang sempat dilewati rombongan Andi waktu mereka ke Danau Pangong.

Sebagai perbandingan, Dataran Tinggi Dieng dan Bromo ada di ketinggian 2.100-an meter dpl, dan Puncak Pass yang kesohor dengan Restoran Rindu Alam itu elevasinya tak sampai 1.500 meter dpl.

Informasi dari Ensiklopedia Britannica mungkin bisa meluruskan manipulasi lokal ihwal ketinggian. Satu entri berkepala Himalaya menunjukkan bahwa Khardung La memang tertinggi.

Masalahnya itu pencapaian di zaman jebot. Periode waktu kafilah dagang India masih berpayah-payah menggapai Asia Tengah dengan tenaga hewan.

"Jadi, sebenarnya perjalanan ke jalan (dianggap) tertinggi itu enggak epik-epik banget. Berangkat jam dua siang, dua jam udah sampai," ujar Andi Al Hakim mengenai perjalanan 80 kilometer Leh-Khardung La PP.

Meski begitu, perkara udara dingin, Andi dan Andi segendang-sepenarian.

"Kondisinya dingin, kering, bibir sampai pecah-pecah," kata Andi Aldi. "Apalagi kalau kena air dan angin," kata Andi Al Hakim. Andi yang disebut belakangan ini lalu bercerita kondisi saat mereka kehujanan, dan air mulai menembus sarung tangan.

"Di ketinggian segitu, enggak bagus banget. Sarung tangan pasti tembus meski ada tulisan water-proof. Jadi pakai inner (pelapis dalam) yang sutra itu mendingan. Basah, tapi tetap hangat. Lalu pakai plastik, dilakban. Cara paling ampuhlah itu. Pada akhirnya memang tembus. Tapi, basahnya enggak kedorong angin," ujarnya.

Bekas terpaan udara dingin di Leh-Manali membuat tangan Andi Al Hakim mati rasa selama sebulan. Semacam frostbite atau radang dingin. Serangan yang pada titik tertentu sebenarnya dapat merusak jaringan kulit secara permanen.

Kiri-ke-kanan: Andi Al Hakim, Andi Aldi, Alfian Anfal, dan Lingga Oktapa dan Royal Enfield Himalayan di Danau Pangong, Senin (25/6/2018). Danau berketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut ini berair asin dan membentang hingga daratan Cina.
Kiri-ke-kanan: Andi Al Hakim, Andi Aldi, Alfian Anfal, dan Lingga Oktapa dan Royal Enfield Himalayan di Danau Pangong, Senin (25/6/2018). Danau berketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut ini berair asin dan membentang hingga daratan Cina. | Andi Al Hakim /Dokumen Pribadi

"Tapi, enggak terlalu sengsara lah. Capeknya itu lebih ke masalah ketinggian. Bikin tidur susah, makan susah," kata Andi Al Hakim. "Dan itu (perubahan ketinggian) mendadak," ujar Andi Aldi, "dari 3.000 m dpl ke 5.000 m dpl. Kalau kita (mendaki) gunung, bisa berhari-hari itu. Nah, ini cuma hitungan jam udah nyampe. Bisa bikin sakit itu."

Andi Al Hakim boleh mengaku "enggak terlalu sengsara". Tapi, nyatanya, dia sempat susah bernapas.

"Waktu di Sarchu. Saya merasa sesak. Bahkan untuk salat. Maksudnya, dengan kondisi tubuh yang terbilang bugar, dan usia yang masih muda. Untuk kita salat aja, dari berdiri ke sujud, ruku, ngos-ngosan setengah mati. Kita ngerasa kecil bangetlah di situ," katanya.

Kiat touring Leh-Manali ala Andi Al Hakim

  • Wajib jaket dan celana touring. Pakai yang triple layer.
  • Jangan lupakan long john untuk lapis kedua. Pakai dobel. Untuk ketinggian ekstrem, itu sudah lebih dari cukup. Plus pelindung leher.
  • Sepatu tahan air. Lebih bagus kalau mau pakai AP Boot yang Rp70 ribu-an. Tapi, "AP enggak nyaman kalau dipakai seharian".
  • Jas hujan, "karena cuaca enggak jelas banget".
  • Sarung tangan pakai dua. Satu sarung tangan riding biasa, satu yang untuk musim dingin. Kalau lewat ketinggian 4.000 meter, "mulai nanjak, mulai gila. Tangan pasti baal. Enggak berasa."
  • Naik motor butuh tubuh fit. Tiap hari harus minum vitamin C, malam sebelum tidur.
  • Pastikan tidur tepat waktu. Kalau bisa lebih dari delapan jam. Lebih bagus.
  • Untuk mencegah AMS, pakai diamox. Di sana banyak yang jual.
  • Base-layer tak perlu banyak. Sembilan hari paling cuma butuh tiga.
  • Hujan sulit diprediksi. Sarung tangan pasti tembus. Siapkan plastik dan lakban. "Cara paling ampuh lah itu," katanya.
  • Pakai interkom. Dengan itu, anggota tim bisa menjaga komunikasi dengan anggota lain.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR