Ilustrasi kondisi terakhir Presiden Soeharto yang berhenti lantaran dihimpit masalah krisis ekonomi dan kerusuhan sosial.
Ilustrasi kondisi terakhir Presiden Soeharto yang berhenti lantaran dihimpit masalah krisis ekonomi dan kerusuhan sosial. Kiagus Auliansyah / Beritagar.id

Tsunami ekonomi pendongkel si Jenderal Besar

Nilai tukar rupiah terhadap dolar jadi biang keladi krisis ekonomi. Kala itu, Soeharto tak bisa tangani. Hari ini, 18 tahun lalu, ia berhenti.

Tsunami krisis ekonomi pada 1997-1998, nyaris melumat seluruh sendi perekonomian sejumlah negara di kawasan Asia. Thailand, Korea Selatan, dan Indonesia, merupakan tiga negara yang paling keras terhempas.

Ribuan perusahaan rontok, puluhan bank ambruk, jutaan pekerja kehilangan sumber penghasilan.

Sapuan Angin Topan kemelut ekonomi diperkirakan bermula dari Thailand pada 2 juli 1997. Dengan kekuatan penuh, kemelut itu lantas menerjang negara-negara tetangga, bahkan angin ribut sanggup melompat jauh hingga ke Korea Selatan. Silam dalam semalam, nilai tukar Baht, mata uang Thailand, terdepresiasi hingga seperempatnya terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

Tak lama setelah Baht rebah, tepatnya dua pekan berikutnya, Rupiah lantas melemah. Sialnya rupiah malah terperosok jauh lebih dalam dibanding Baht. Terhitung hingga awal November, saat tangan lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) ikut campur ke dapur Indonesia lewat Letter of Intent yang diteken September 1997, kurs rupiah sudah jatuh lebih dari 30 persen. Krisis kala itu dinilai banyak pengamat politik maupun ekonomi menyumbang sebab paling banyak bagi tumbangnya Soeharto, hari ini, 18 tahun lalu.

Melihat ke belakang masa sebelum krisis mendera, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Keuangan dan Industri, Ginandjar Kartasasmita mengklaim kondisi ekonomi Indonesia sebelum ditonjok krisis sebenarnya baik. Dari data yang ia miliki dari kurun 1965 hingga 1995, angka pendapatan per kapita di Indonesia, secara riil terus mengalami kenaikan sebesar 6,6 persen per tahun.

"Ilustrasinya, pada pertengahan tahun 1960-an Indonesia lebih miskin dibanding India. Tapi kondisi berbeda kala media 1990-an di mana PDB per kapita Indonesia melampaui USD 1.000. Angka itu tiga kali dari India," tulis Ginandjar dalam makalahnya yang mengutip data perhitungan dari Bank Dunia, 1997.

Lantas soal laju inflasi, masih ditulis Ginandjar, Indonesia berhasil menekan hingga satu dijit saja pada pertengahan 1990-an. Bicara soal kemiskinan, Ginandjar juga mengklaim Soeharto dan para menteri ekonominya bisa mengurangi angka kemiskinan dari semula 69 persen pada 1970 menjadi 49 persen pada 1976, kemudian pada 1990 menjadi 15 persen, hingga mencapai 11,5 persen pada 1996.

Kondisi lantas berbalik pada 1998. Pondasi yang diklaim Ginandjar itu kemudian roboh. Terperosoknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memang menjadi biang krisis. Masalah rupiah memicu lonjakan inflasi, terutama ada harga komoditas impor. Jatuh bebasnya kurs mengganggu hampir mengganggu semua persendian ekonomi Indonesia.

Pada 14 Agustus 1997, rupiah mencetak sejarah. Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad didampingi Gubernur BI J Soedradjad Djiwandono mengumumkan penghapusan band intervensi rupiah. Sejak pukul 09.00 WIB kala itu, kurs rupiah dibiarkan fleksibel ditentukan sendiri oleh kekuatan pasar. Khususnya oleh kekuatan penawaran dan permintaan rupiah versus dolar AS, atau sebaliknya.

Dari data yang disajikan terbaca bahwa nilai rupiah mulai terpuruk pada 1997 dan terjun bebas pada satu tahun berikutnya. Nilai rata-rata terendah pada tahun itu yang tercatat oleh Bank Dunia, rupiah mencapai Rp10.014 per dolar.

Adapun titik nadir rupiah, dari Rp4.850 per dolar AS pada 1997, melambung ke level sekitar Rp17.000 pada 22 Januari 1998. Dengan kata lain, terdepresiasi lebih dari 80 persen sejak mata uang tersebut diambangkan pada 14 Agustus 1997.

Di sisi lain, seperti yang ditulis CNNIndonesia, otoritas fiskal terhimpit oleh beban subsidi energi yang semakin mencekik. Kala itu, pemerintah dilema, apakah memangkas subsidi melalui kenaikan harga BBM dengan risiko inflasinya semakin tinggi atau membiarkannya dengan konsekuensi ruang fiskal terus menyempit.

Akhirnya, Senin, 4 Mei 1998, Presiden Soeharto mengikuti saran International Monetery Fund (IMF) untuk memangkas subsidi energi. Opsi yang diambil saat itu adalah dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dari Rp700 per liter menjadi Rp1.200 per liter per 5 Mei 1998.

Publik yang kala itu sedang susah dan gerah menjadi bertambah marah. Berdasarkan cerita dari Menteri Pertambangan dan Energi, Kuntoro Mangkusubroto, pada detik akhir sebelum menyatakan berhenti, Presiden Soeharto memerintahkan sang menteri untuk mengoreksi keputusan kenaikan BBM dan menurunkan harga ke angka Rp600 per liter.

"Tapi tidak berhasil. Kerusuhan sudah meluas dan sulit dikendalikan meski harga bensin diturunkan," ujarnya seperti dikutip dari CNNIndonesia. Belum lagi harga BBM turun, Sang Jenderal Besar mengundurkan diri.

Tak hanya menggerogoti Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lewat subsidi sana-sini, krisis juga menggerus kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia. Apabila selama tahun anggaran 1996/1997 aliran modal asing yang masuk ke Tanah Air mencapai USD13,48 miliar, maka pada 1997/1998 keadaannya berbalik. Total modal bersih yang keluar akibat krisis kala itu mencapai USD11,82 miliar.

Masalah lain adalah soal utang. Menurut Ginandjar, lantaran mengikuti resep IMF untuk mengambil alih utang valas swasta, utang pemerintah melonjak menjadi USD148 miliar atau setara 104 persen terhadap PDB pada 1999. Dari angka tersebut kurang lebih separuhnya adalah utang sektor swasta, termasuk utang perusahaan publik dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Krisis juga mengakibatkan sektor perbankan nasional ambruk. Alhasil, masih dari catatan CNNIndonesia, sejumlah bank yang dianggap layak berlanjut dibantu dengan mekanisme Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), yang antara lain menyatakan sebanyak 16 bank dilikuidasi, empat bank diambil alih (take over), 10 bank dibekukan operasinya,dan 39 bank berstatus Bank Beku Kegiatan Usaha Tertentu (BBKU).

Persoalan yang pelik di bidang ekonomi ini berpengaruh besar terhadap kondisi sosial dan politik. Jelang 21 Mei 1998, Soeharto terjepit. Dalam buku Biografi Prabowo Subianto--bekas menantu Soeharto, mantan suami Siti Hediati Haryadi--diceritakan sebuah drama yang terjadi pada tengah malam sebelum Soeharto mengundur diri.

Di sebuah ruang keluarga di kediamannya di Jalan Cendana 10, Menteng, Jakarta Pusat, ia duduk dengan wajah yang pias. Bahunya luruh sembari berkata pelan, "Saya sudah bicara dengan anak-anak. Saya akan mundur besok agar tak ada korban lebih besar."

Benar saja, keesokan hari, 21 Mei 1998, sekitar pukul 09.00 WIB, Soeharto undur diri di tengah tsunami ekonomi.

Presiden Indonesia Soeharto.
Presiden Indonesia Soeharto. | Ed Zoelverdi /Tempo

20 Mei 1998. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Madeleine Albright, tiba-tiba mengeluarkan pesan yang teramat penting. Saking mendesaknya, kalimat yang ditujukan buat Presiden Indonesia Soeharto itu, disegerakan tayang dalam program "Breaking News" stasiun televisi CNN, pada pukul 22.48 waktu Jakarta. Kondisi ibu kota kala itu memang porak poranda.

"Presiden Soeharto sudah memberikan jasa demikian banyak bagi negaranya selama lebih dari 30 tahun ... Kini, ia memiliki kesempatan untuk melakukan langkah historis seorang negarawan, yang akan memelihara warisannya sebagai seorang tokoh yang tidak hanya memimpin negaranya tetapi juga membuka jalan bagi transisi secara demokratis," kata Albright seperti dikutip dari Harian KOMPAS edisi 21 Mei 1998.

Kalimat "membuka jalan bagi transisi secara demokratis", diterjemahkan KOMPAS dalam judul artikelnya sebagai anjuran dari Albright agar Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Mengapa pesan sang menteri jadi sinyal penting untuk rezim? Sebab perkataan Albright menyiratkan adanya perubahan sikap dari pemerintah Amerika Serikat terhadap kondisi Indonesia.

Perubahan sikap AS yang semula hanya menyarankan adanya reformasi politik menjadi anjuran pengunduran diri. Meski Albright tak mewakili pemerintahnya kala itu, namun cukup memberikan pertanda kuat untuk posisi politik internasional Indonesia- AS, terlebih ucapan terlontar sehari sebelum Soeharto turun dari kursi kuasanya.

Rupanya, benar saja. Hari ini 18 tahun lalu, pada 21 Mei 1998 sekitar pukul 09.00 WIB, Soeharto membacakan pidato pengunduran dirinya. Dalam pidato politiknya yang ditulis Guru Besar Hukum Tata Negara dari Universitas Indonesia, Yusril Ihza Mahendra, iapun "menyatakan berhenti" dari jabatan Presiden RI.

Selentingan dari Kairo

Melompat ke sepekan sebelumnya, Rabu 13 Mei 1998, sekitar pukul 19.00 waktu Kairo. Kala itu, Presiden Soeharto sedang menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) kelompok 15 negara-negara Nonblok (G-15).

Pada kesempatan itu, Soeharto bicara di hadapan masyarakat Indonesia dalam satu ruang di Kedutaan Besar Indonesia untuk Mesir. Berdasarkan reportase wartawan KOMPAS J Osdar yang kala itu turut rombongan kepresidenan, Soeharto membincangkan tuduhan yang dilayangkan kepadanya dan keluarga.

Mulai dari tudingan telah memonopoli ekonomi hingga cap yang sebagai keluarga terkaya ke-4 di dunia. Malam itu, Soeharto tegas membantah semua. Ia mengatakan, itu fitnah untuk menghancurkan kepercayaan rakyat kepadanya.

"Sebetulnya, kalau masyarakat tidak memberi kepercayaan lagi, tidak apa-apa. Saya sendiri sudah mengatakan, jika sudah tidak percaya, ya sudah. Saya tidak akan mempertahankan dengan kekuatan senjata," demikian pesan Soeharto yang sayup didengar Osdar lantaran mengaku mengantuk dan setengah tertidur saat mengikuti pertemuan.

Ucapan Soeharto itu lantas dilaporkan segera ke kantor redaksi KOMPAS di Jakarta, bahkan sebelum sang jenderal besar itu menghentikan pidatonya.

-"Ada berita apa? Di Jakarta sudah hampir pukul setengah satu dini hari," kata petugas telepon di KOMPAS Jakarta.

-"Ini, Soeharto bilang mau mundur," kata wartawan KOMPAS di Kairo.

-"Ya sudah kirim saja secara lisan jangan panjang-panjang," kata petugas malam KOMPAS saat itu.

-"Presiden Soeharto mengatakan, jika rakyat tidak menghendakinya lagi, silakan saja, saya tidak akan mempertahankan (kursi kepresidenan saya) dengan senjata," begitu berita lisan yang disampaikan.

Laporan itu kemudian menjadi berita utama di KOMPAS, Kamis, 14 Mei 1998. Waktu itu, hanya KOMPAS yang membuat berita semacam ini hari itu.

Kehebohan lantas terjadi keesokan harinya. di lobi Hotel Hilton Kairo, tempat Soeharto menginap, para wartawan asing, salah satunya CNN di Kairo bertanya-tanya, betulkah Soeharto menyatakan seperti yang diberitakan KOMPAS?

Dalam penerbangan ke Jakarta hari itu juga, seseorang yang dekat dengan Soeharto mendekati sang jurnalis KOMPAS sembari tersenyum menanyakan, "Kamu itu tulis apa, mau terjun di Laut Merah atau Laut Mati?" Pertanyaan itu, kata Osdar, membuat bulu kuduknya berdiri.

Selama dalam penerbangan, seperti yang diceritakan oleh Kuntoro Menteri Pertambangan dan Energi masa itu kepada CNNIndonesia, paras Presiden RI kedua itu terlihat muram. Wajah Jenderal bintang lima ini semakin dingin tatkala melihat dari jendela pesawat asap hitam mengepul di langit Jakarta.

Sepekan kemudian, persis pada hari ini 18 tahun lalu, setelah digempur krisis ekonomi sejak setahun sebelumnya, lantas Soeharto memang benar-benar mundur dari jabatannya.

Seorang fotografer memotret foto mantan Presiden RI, Soeharto, yang dipajang di kompleks Dalem Kalitan Solo, Jawa Tengah, Selasa, 15 Januari 2008.
Seorang fotografer memotret foto mantan Presiden RI, Soeharto, yang dipajang di kompleks Dalem Kalitan Solo, Jawa Tengah, Selasa, 15 Januari 2008. | Arie Basuki /Tempo

Selepas Maghrib, Rabu 20 Mei 1998, di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat kediaman Presiden Soeharto. Letnan Jenderal Prabowo Subianto--kala itu masih merupakan menantu lantaran menikahi putri Soeharto Siti Hediati Haryadi--datang dengan berpakaian loreng lengkap. Ia baru saja pulang dari kawasan Patra Kuningan bertemu dengan Wakil Presiden Habibie.

Di dalam rumah, Soeharto sedang duduk bersama seluruh anaknya ditemani Menteri Pertahanan dan Keamanan sekaligus Panglima ABRI Jenderal Wiranto. Alih-alih menyambut kedatangan Prabowo, keluarga orang nomor satu di Indonesia saat itu malah bersikap memusuhi.

Yang pertama berdiri dan "menyapa" Prabowo adalah putri bungsu Soeharto, Mamiek. "Kamu pengkhianat! Jangan injakan kakimu di rumah saya lagi!" kata Mamiek sembari mengacungkan telunjuknya ke hidung Prabowo. Detil cerita ini diperoleh dari buku yang bertajuk "Prabowo dari Cijantung Bergerak ke Istana".

Menerima perlakuan itu, Prabowo, seperti dituturkan buku tentangnya, segera keluar rumah. Awalnya ia tak langsung pergi, menunggu sang istri Siti Hediati Haryadi. Alih-alih menemui sang suami, Titi Soeharto, menangis. Setelah menunggu cukup lama Prabowo lantas pergi.

Banyak versi soal alasan kejadian itu terjadi. Namun faktanya memang kebencian yang spontan dari keluarga Cendana terhadap Prabowo. Bisa jadi kecewa lantaran tak banyak membantu sang mertua saat keadaan genting atau benar dianggap pengkhianat.

Beberapa kejadian penting yang terekam sehari sebelum Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden Indonesia.
Beberapa kejadian penting yang terekam sehari sebelum Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden Indonesia. | Antyo /Beritagar.id

Hari-hari terakhir Presiden Soeharto dijejali banyak drama. Terutama di seputar kediamannya di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat.

Para pejabat hilir mudik. Keluar masuk pintu rumah Cendana bergantian. Salah satunya Yusril Ihza Mahendra. Sejak kerusuhan pecah di ibu kota, Guru besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia itu kepada CNNIndonesia mengaku tak pernah pulang ke rumah. Sebagai tenaga ahli Presiden Soeharto, ia memilih untuk menginap di Cendana dan mengikuti perkembangan serta krisis yang terjadi dari sana.

"Saya detik demi detik di samping Pak Harto. Beliau sangat gelisah," ujar Yusril.

Soeharto, kata Yusril, banyak merenung jelang keputusannya mengundurkan diri. Dalam satu kesempatan saat waktu mendekati tengah malam di Cendana, lanjut Yusril, sambil menepuki kaki, lalu Soeharto berkata, "Ya sudah, kalau begitu saya mundur saja besok. Kamu urus bagaimana cara saya berhenti'," ujar Yusril menirukan ucapan Soeharto kepadanya.

Soeharto menolak mengundurkan diri

Setelah mendapatkan perintah dari Soeharto, segera Yusril dan rekan-rekannya pun rapat malam itu juga, membuat skenario pengunduran diri yang dirasa paling tepat untuk sang presiden yang telah memimpin Indonesi selama 32 tahun itu. Yusril sendiri yang menulis naskah pidato pengunduran diri Soeharto.

Menurut Yusril, masih seperti ditulis CNNIndonesia, Soeharto memilih kata 'berhenti' ketimbang 'mengundurkan diri'. "Kalau 'mundur', itu harus disampaikan ke sidang MPR karena saat itu Presiden mandataris MPR. Masalahnya, MPR tak bisa bersidang karena Kompleks MPR-DPR RI dikuasai mahasiswa," kata Yusril.

Maka demi keamanan, termasuk dari sisi hukum, Soeharto menyatakan secara sepihak 'berhenti' dari jabatan sebagai Presiden RI.

Keesokan harinya, masih berkutat di cerita Yusril, ada cerita yang tak kalah menarik. Soeharto merebut pulpen milik Yusril untuk mengkoreksi tulisan yang ada dalam naskah pidato buatan sang guru besar itu.

Mengapa harus direbut? Yusril saat itu ragu untuk mengeksekusi permintaan Soeharto menambahkan kata demisioner setelah kata kabinet--dilakukan agar kabinet tak bisa berkuasa lagi setelah Soeharto berhenti.

"Kalau tak mau tulis 'demisioner,' sini saya sendiri yang tulis," ujar Yusril mengulang ucapan Soeharto. Yusril mengaku sedih saat itu. "Tapi wajah Pak Harto tenang, tanpa terlihat rasa kecewa atau kesal,"

Banyak drama di rumah Cendana jelang kejatuhan Soeharto. Mulai dari hilir mudik pembantu istana hingga konflik keluarga.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR