Warga keturunan India di Padang melakukan tradisi serak gulo, membagikan gula pasir dalam kain dengan cara dilempar dari  Masjid Muhammadan, Padang, 5 Februari 2019.
Warga keturunan India di Padang melakukan tradisi serak gulo, membagikan gula pasir dalam kain dengan cara dilempar dari Masjid Muhammadan, Padang, 5 Februari 2019. Febrianti
WARISAN BUDAYA NUSANTARA

Uniknya tradisi serak gulo warga keturunan India di Padang

Tradisi serak gulo telah dimulai sejak 200 tahun silam yang digelar warga muslim keturunan India di Padang.

Kantong dari kain warna-warni menggunung di ruang tengah sebuah rumah di Jalan Pasar Batipuh, Kecamatan Padang Selatan, Padang. Di samping gundukan kantong- kantong, beberapa pria sibuk memasukkan gula pasir lewat corong ke kantong yang mirip pouch itu.

Tak ada timbangan untuk menakar lebih presisi berat gula dalam kantong kain. Kalau dipukul rata, satu bungkusan kain itu ditaksir berisi 200 gram gula pasir.

Tumpukan gula yang dibungkus kain itu merupakan hasil sumbangan dari warga keturunan India di Padang. Ada juga sumbangan dari warga keturunan India yang tinggal di Pekanbaru, Jambi dan Jakarta.

Gula dalam bungkusan kain itulah yang akan dipakai dalam tradisi serak gulo di Padang pada 5 Februari 2019. Perayaan serak gulo pada tahun ini menebarkan sekitar 5 ton gula kepada warga Padang dan sekitarnya.

Tradisi melempar gula digelar oleh warga keturunan India di Masjid Muhammadan, persis seberang rumah penampungan gula. Masjid itu didirikan orang India di Padang 200 tahun lalu. Mereka kebanyakan datang menjadi pedagang rempah sampai akhirnya menetap di Pasar Batipuah, Padang.

Warga keturunan India memasukkan gula pasir ke kantong kain untuk acara serak gulo di Padang, Sumatra Barat, 5 Februari 2019.
Warga keturunan India memasukkan gula pasir ke kantong kain untuk acara serak gulo di Padang, Sumatra Barat, 5 Februari 2019. | Febrianti /Beritagar.id

Serak gulo artinya membagi-bagikan gula dengan cara melemparkannya ke kerumunan orang di depan Masjid Muhammadan.

Tradisi serak gulo bermula di perkampungan kecil Nagore, Nagapattinam daerah Tamil Nadhu India Selatan, 450 tahun lalu. Tradisi menebar gula merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh Syekh Shahul Hamid.

Syekh Shahul adalah ulama sufi di India yg dikenal sebagai waliyullah yang memegang peran penting dalam penyebaran agama Islam pada masa itu. Ia keturunan generasi ke-13 dari Syekh Abdul Qadir Al Jailani, ulama besar sufi dan dijuluki "penghulu para wali".

Seiring migrasi masyarakat muslim India ke Asia Tenggara, tradisi membagikan gula ikut dibawa serta. Selain daerah asal, tradisi serak gulo dilaksanakan di dua tempat yaitu di Singapura dan Padang.

Di Padang, konon tradisi serak gulo telah dimulai sejak 200 tahun lalu yang digelar warga muslim keturunan India.

Tradisi serak gulo jatuh pada bulan Jumadil Akhir, dilaksanakan dalam acara peringatan maulid Syekh Shahul Hamid selama 10 hari yang diawali diawali acara serak gula pada hari pertama dan diutup dengan acara arak cendana pada hari ke sepuluh.

Kata Ali Khan, Ketua Himpunan Keluarga Muhammadan, persatuan keluarga keturunan India di Padang, gula merupakan simbol keberkahan dalam budaya India. Tradisi kuliner India juga dikenal dengan cita rasa manis.

Tradisi serak gula intinya sebagai rasa syukur atas rezeki sepanjang tahun dengan cara berbagi gula kepada masyarakat menyertai peringatan maulid Syekh Shahul Hamid. "Ini merupakan bentuk berbagi rezeki kepada sesama warga yang hadir," kata Ali Khan.

Sejarawan Universitas Andalas, Gusti Asnan memperkirakan abad 13-14 sudah ada orang India ke Sumatra Barat.

Tome Pires, pengelana yang melaporkan untuk Portugis, menuliskan ada kapal dari Gujarat yang datang ke pantai barat Sumatra pada awal abad ke-16. Mereka berdagang dan mendarat di Pelabuhan Tiku (kini di Kabupaten Agam) dan di Pelabuhan di Pariaman.

Gusti Anan mengatakan orang India datang ke Padang untuk berdagang baju, kain, perhiasan perak dan emas. Dari Padang, mereka membawa madu, emas mentah, gading, cula, kayu gaharu dan rempah-rempah. "Ada juga yang tinggal dan menetap karena kawin dengan orang lokal," kata Gusti Asnan.

"Gula itu sudah didoakan, jadi semua orang ingin mendapatkannya, biar dapat berkah."

Halida Umar

***

Menjelang tengah hari, kesibukan di Jalam Batipuh mulai meningkat. Para pria memasang umbul-umbul kain berwarna hijau bergambar bulan sabit dan warna putih mirip bendera Pakistan.

Umbul-umbul warna hijau ini berselang seling dengan warna putih. "Ini bukan bendera India, tapi bendera tradisi untuk acara ini," kata Abu Bakar, 60 tahun, warga keturunan India yang tinggal di Jambi.

Di Jambi, kata Abu Bakar, tidak ada perayaan serak gulo. Jadi dia selalu ke Padang setiap tahun saat perayaan serak gulo. Abu Bakar lahir di kampung Pasar Batipuh di Padang lalu merantau ke Jambi.

Perayaan serak gulo bisa lebih ramai dari hari raya. "Kalau hari raya belum tentu kami pulang, tapi kalau serak gula, pasti banyak yang pulang," kata Abu Bakar.

Kesibukan pun terlihat di bagian belakang rumah. Halida Umar, 55 tahun, sang tuan rumah bersama beberapa perempuan lainnya masih menyiapkan kuliner khas untuk acara serak gulo.

Ada dua tong plastik besar penuh air asam berempah yang akan dibagikan saat acara. Di sampingnya, berjejer baskom emping beras ketan dan bolu koja.

"Itu menu untuk acara serak gulo, sudah tradisi dari dulu, dan saya yang membuatnya tiap tahun," kata Halida Umar.

Air asam dibuat dari jeruk nipis dan rempah garda munggu serta adas manis, sedangkan emping beras ketan dicampur kelapa dan gula, sedangkan bolu koja, bolu yang juga ditambah rempah.

"Serak gulo ini bukan tradisi agama Islam, tapi tradisi keturunan India, nanti gula-gula itu akan diperebutkan, yang menyumbangkan gula ini punya niat, jadi gula itu sudah didoakan, jadi semua orang ingin mendapatkannya, biar dapat berkah," kata Halida Umar.

Di Padang terdapat 8 ribu keluarga keturunan India. Hampir semua keturunan India di Padang mempunyai hubungan kerabat. Tradisi serak gula menyatukan mereka, termasuk memberi jalan agar anak-anaknya mencari pasangan.

"Jadi kesempatan untuk anak-anak yang belum dapat jodoh mencari jodoh," kata Halida.

Warga berebut gula pasir dalam acara serak gulo di Padang, 5 Februari 2019.
Warga berebut gula pasir dalam acara serak gulo di Padang, 5 Februari 2019. | Febrianti

Menjelang sore, acara serak gulo yang ditunggu-tunggu segera dimulai di halaman Masjid Muhamadan.

Karung-karung berisi gula dalam bungkusan kain dibawa ke atap masjid. Tempat melempar gula tidak hanya di atap masjid, juga ada tiga panggung yang didirikan sejajar dengan masjid.

Ratusan warga memenuhi jalan sepanjang 200 meter. Wali Kota Padang Mahyeldi dan Atase dari Kedutaan Besar India di Jakarta hadir dalam acara serak gulo itu.

Warga yang datang tidak hanya keturunan India, tetapi juga berbagai etnis. Misalnya, Adi, 60 tahun, yang datang dari Jakarta mengenang masa kecilnya.

Adi lahir di Padang Selatan dan mengenal tradisi serak gulo sejak kecil. Dalam benak Adi, tradisi serak gulo zaman dahulu tak semeriah sekarang.

"Dulu saat saya kecil, sekitar tahun 1970-an, serak gulo ini acaranya tidak sebesar sekarang, tapi di sore hari pintu rumah kami diketuk, ada orang turunan India mengenakan baju gamis putih yang datang membagi-bagikan gula untuk kami ke tiap-tiap rumah," kata Adi.

Acara yang ditunggu-tunggu datang juga. Jam menunjukkan pukul 17.30 WIB. Setelah doa-doa dipanjatkan, saat diumumkan Serak Gulo akan dimulai, ratusan warga yang memadati Jalan Batipuh bersorak gembira.

Anak-anak, remaja, perempuan, laki-laki, tua dan muda bersiap menerima lemparan gula dari atap masjid. Sebanyak 10 orang pelempar gula sudah bersiap. Hujan gula dimulai.

Orang-orang bersorak minta dilempari gula. Dalam sekejap bongkahan gula dalam bungkusan aneka warna beterbangan di udara.

Semua berebutan mengambilnya. Banyak yang terkena lemparan, tapi tetap larut dalam kegembiraan.

Lemparan gula terasa agak menakutkan bagi yang pertama kali mengalaminya seperti saya. Sebongkah gula dalam kain merah tiba-tiba mendarat di kening dan cukup keras hingga gulanya berserakan.

Rasanya sakit juga. Seperti kena hantam bola tenis. Semua orang larut dalam kegembiraan. Seperti dalam konser, teriakan minta dilempar gula bergelombang dari berbagai penjuru.

Di tengah rebutan gula, seorang perempuan datang membawa nampan di atas kepala yang penuh gelas-gelas berisi air asam dan emping manis. Perempuan bersari dengan paras India. Saya mengambil segelas air asam dan emping manis dari perempuan itu.

Dia pun memanggil tiga anak gadisnya yang sedang menyambut hujanan gula. "Ini minum air asam, makan empingnya juga, biar kamu cepat dapat jodoh," katanya pada ketiga anak remajanya.

Serak gulo belangsung sampai 45 menit. Berkarung-karung gula itu akhirnya habis dibagikan. Mayarakat yang mendapatkan gula berbondong-bondong meninggalkan Jalan Batipuh dengan gula di tangan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR