Grafiti pada tembok sebuah bangunan di pusat kota Paris, Prancis, yang kira-kira berarti
Grafiti pada tembok sebuah bangunan di pusat kota Paris, Prancis, yang kira-kira berarti "Amarah Rakyat", Minggu (9/12/2018) Ian Langsdon / EPA
INTERNASIONAL

Unjuk rasa Prancis: bukan sekadar suara dari daerah

Unjuk rasa di Prancis yang berlabel Rompi Kuning awalnya memang berasal dari daerah. Tetapi, kini, tuntutan datang dari berbagai kalangan, termasuk pendukung presiden menjabat.

Aksi protes saban Sabtu di Prancis, yang telah berlangsung lebih dari sebulan, belum kelihatan bakal setop.

Pada Sabtu kelima sejak gerakan turun ke jalan bermula pada 17 November 2018, Paris dan sejumlah kota lain pada akhir pekan lalu (15/12) kembali menjadi saksi orang-orang berdemonstrasi.

Meski jumlah pengunjuk rasa diperkirakan jauh lebih sedikit dari sebelumnya--66 ribu berbanding 125-126 ribu--tapi kaleng-kaleng gas air mata masih melayang, dan bentrokan antara demonstran dan polisi tetap terjadi.

Setidaknya di Paris. Atau Bordeaux. Atau Nantes.

Pun demikian, seorang saksi mata demonstrasi mengatakan aksi represif oleh polisi bukan hal baru.

"Yang saya saksikan adalah prosedur berulang oleh polisi: penggunaan kekerasan terhadap sejumlah pengunjuk rasa," kata Glauber Sezerino kepada Beritagar.id via email, Jumat (14/12).

Sezerino mahasiswa asal Brasil. Dia tengah mengambil program doktoral bidang sosiologi di EHESS, Paris. Sezerino sempat terbawa arus demonstrasi--meski tidak berada dalam jarak dekat saat bentrokan terjadi--yang berlangsung pada 8 Desember, hari ketika pihak keamanan menahan hampir 1.000 demonstran di seluruh Prancis.

"Tindakan represif yang dipraktikkan Negara dan kepolisian sudah berlaku pada beberapa tahun belakangan. Tahun lalu waktu terjadi demonstrasi menentang perubahan UU Buruh, prosedur yang sama juga diterapkan," ujarnya.

Dalam aksi 15 Desember, sekitar 90 ribu polisi dikerahkan, dan 2.000 orang ditahan--nyaris sebagiannya ditangkap di Paris.

"Saya tak yakin kalau hidup sudah kembali seperti sedia kala. Sudah lebih dari sebulan ini rompi kuning jadi pembicaraan di mana-mana," kata Sezerino menyinggung rompi kuning, julukan bagi para demonstran.

Keraguan Sezerino bergaung pada diri Maria, seorang manajer di sebuah restoran dekat salah satu monumen kesohor Paris, Arc de Triomphe, bangunan yang sempat menjadi target corat-coret demonstran.

"Demonstrasi tidak masalah, tapi yang bikin ngeri itu vandalisme," ujarnya dikutip Al Jazeera, Sabtu (15/12) pagi.

Sebagaimana halnya ribuan pemilik toko dan restoran di Paris, Maria merasa gentar dengan preseden kekerasan. Pada 24 November, misalnya, Paris kacau-balau karena terdapat golongan massa tertentu yang memantik kekerasan. Mobil dan restoran dibakar. Toko-toko dijarah.

Kerugian besar tentunya. Menurut sebuah taksiran yang mengemuka pada pekan pertama Desember, sektor ritel kemungkinan rugi hingga 1,1 miliar dolar AS sejak unjuk rasa pecah pada November.

Walau begitu, kondisi penuh kecemasan di pusat kota Paris tak serta-merta merambat ke wilayah suburban.

Di sebuah kawasan bernama Bagnolet, sebagai misal, yang berjarak lima kilometer lebih sedikit dari pusat Paris, keadaan terbilang lurus-lurus saja.

"Imbas (memang) ada. Transportasi umum terganggu. Banyak stasiun tutup. Tapi, di sini baik-baik," kata Indah Lestari, seorang warga Indonesia yang tinggal di Bagnolet, Selasa (11/12/2018).

Perempuan asal Jakarta itu bekerja sebagai penerjemah paruh-waktu, dan sedang mengikuti kursus bahasa Prancis di Sorbonne Nouvelle (Paris 3). "Paling (menunggu informasi) kampus diblokir apa enggak", ujarnya.

Glauber Sezerino meyakini demonstrasi sejauh ini belum ditunggangi oleh partai-partai politik yang berkepentingan. Dan kalau ingin melihat bagaimana demonstrasi bisa pecah, ujarnya, daerah mesti ditengok.

"Orang-orang sudah gerah dengan memburuknya kehidupan mereka sehari-hari," ujarnya. Sialnya, "serikat buruh, pejabat daerah, atau perhimpunan masyarakat sipil tidak sanggup mengusung ketidakpuasan tersebut secara konsisten".

Suara dari daerah

Dalam unjuk rasa yang mulai memasuki pusat-pusat kota di Prancis, para demonstran Rompi Kuning mulai melebarkan tuntutan.

Padahal, protes pada awalnya semata menyorot rencana pemerintahan Presiden Emmanuel Macron untuk menaikkan pajak solar dan bensin pada 2019.

Demonstran Rompi Kuning beraksi di alun-alun Champs Elysees, Paris, Sabtu (15/12/2018)
Demonstran Rompi Kuning beraksi di alun-alun Champs Elysees, Paris, Sabtu (15/12/2018) | Etienne Laurent /EPA

Kebijakan itu sebenarnya diarahkan untuk memerangi perubahan iklim. Pemerintah sepertinya berharap kenaikan dimaksud bakal mendesak warga untuk beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Kota-kota besar seperti Paris--yang sudah terjerat jejaring sistem transportasi mumpuni--mungkin takkan begitu merasakan efek kebijakan itu. Namun, bagi warga di daerah, problemnya berbeda. Pasalnya, mereka sangat bersandar pada kendaraan pribadi.

Ghislain Coutard salah satunya. Pria berusia 36 itu disebut sebagai salah satu perintis gerakan rompi kuning. Dia penduduk Grigny, Essonne, yang berjarak nyaris 22 km dari pusar Paris. Tiap hari, daya jelajahnya dengan kendaraan mencapai 500 km.

"Harga-harga naik. Alasannya tak jelas. Saya tidak tahu ke mana uang saya amblas. Hidup jadi tambah mahal. Kami bekerja dan lembur, tapi di sana-sini disikat pajak. Ujung-ujungnya, saya jadi bingung kenapa kerja cuma buat bertahan hidup," ujarnya dinukil euronews.

Menurutnya, mengendarai mobil dengan bahan bakar nonfosil bukan masalah. Yang jadi problem adalah harga mobil bertenaga listrik atau hibrid terlampau mahal. "Kami sebenarnya bukan menentang" kebijakan Macron yang bertujuan meningkatkan lingkungan lebih bersih.

Sebuah tulisan di The Guardian mengungkai pandangan beberapa orang daerah yang terlibat protes.

Seorang pria mengatakan perubahan iklim omong kosong, jadi kenaikan BBM adalah upaya kebohongan yang dikampanyekan pemerintah dan disebarkan media massa.

Orang lain lagi berbicara tentang hal lain. Katanya, semua yang terjadi merupakan kesalahan para pendatang. "(Orang-orang) Afrika menjajah kami. Mereka tak keberatan bekerja dan dibayar 1 euro per jam. Kami jadi lebih miskin. Kami tak punya arti di negeri kami sendiri," ujarnya.

Sementara, seorang pria lain mengeluhkan hal yang sama yang diutarakan Coutard. Dia tinggal di kawasan Drome yang pastoral. Jarak dari rumahnya ke kantornya di Valence lebih dari 20 km.

Bila kereta tak berfungsi, pilihannya cuma menyetir mobil pribadinya ke kantor. Berbeda dari warga Paris, yang masih bisa mengayuh sepeda dan menyewa mobil listrik.

"Macron arogan. Saya tidak tahan. Saya mau sistem berubah, bukan cuma harga BBM saja," katanya.

Tiada dua

Prancis tak asing dengan gerakan protes--yang pernah amat masyhur adalah demonstrasi pelajar dan mahasiswa yang melumpuhkan negeri itu pada 1968. Tetapi, salah kalau menganggap unjuk rasa kali ini tak istimewa.

Pergesekan antara demonstran dan polisi antihuru-hara di Paris, Prancis, Sabtu (15/12/2018).
Pergesekan antara demonstran dan polisi antihuru-hara di Paris, Prancis, Sabtu (15/12/2018). | Ian Langsdon /EPA

Gerakan Rompi Kuning bermula sebagai aksi akar rumput yang berkembang sendiri, dan sepenuhnya dimobilisasi lewat Facebook. Dalam pola demonstrasi lumrah di Prancis, serikat buruh besar lazim mengelola atau mendukung mereka yang beraliran kiri. Sementara, kalau orang-orang beraliran kanan mau protes, penggeraknya adalah kaum Katolik.

Ketiadaan lembaga-lembaga penunjang yang biasanya muncul kemudian memisahkan Si Rompi Kuning dari gerakan-gerakan politik lain yang berlangsung sebelumnya. Karena itu, mereka jadi terlihat mandiri, tak terantai pada partai, politisi, atau kecenderungan politik tertentu.

Sudah begitu, seiring waktu, tuntutan para demonstran Rompi Kuning menjadi bercabang-cabang. Segala jenis kemarahan terhadap pemerintahan Macron seolah menemu kanalnya. Mulai ketimpangan gender, pembiayaan layanan publik, hingga kebijakan imigrasi. Pemerintah pun jadi kelimpungan untuk mulai membuka dialog. Soalnya itu tadi, Rompi Kuning bergerak tanpa pemimpin.

Sekat identitas para demonstran mengabur. Orang-orang sosialis, komunis, konservatif, ekstrem kanan-jauh, anarkis, atau bahkan orang-orang yang sebelumnya lekat sebagai pendukung Macron berkumpul menjadi satu.

Para demonstran adalah orang-orang seperti yang sempat tersebut di muka, yakni orang-orang pinggiran yang bergantung pada kendaraannya untuk bekerja dan merawat keluarga.

Orang-orang itu bisa saja memiliki usaha kecil, bekerja sebagai petani, pembantu rumah tangga, atau sopir truk yang tinggal dan menghabiskan banyak waktu di tepi kota dan daerah dan penghasilannya cuma--dalam istilah di Indonesia--'numpang lewat'.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR