Para pelajar menghadiri pekan apresiasi film Indonesia dalam rangka FFI 1982 di Balai Sidang Senayan, Jakarta
Para pelajar menghadiri pekan apresiasi film Indonesia dalam rangka FFI 1982 di Balai Sidang Senayan, Jakarta Departemen Penerangan RI / Domain publik/Wikimedia Commons
FESTIVAL FILM INDONESIA

Upaya FFI meningkatkan citra

Festival Film Indonesia terus melakukan perbaikan demi meningkatkan citra dan menggenjot kualitas perfilman di tanah air.

Film bagus, citra Indonesia. Demikian tema yang diusung pada penyelenggaraan Festival Film Indonesia (FFI) ke-38 yang malam puncaknya berlangsung di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat (9/12/2018).

Pemilihan tema tersebut sejalan dengan misi panitia yang ingin semakin meningkatkan kualitas film-film nasional sehingga tidak kehilangan kepercayaan penonton.

Menurut catatan Bicara Box Office, hingga 3 Desember 2018, penonton film Indonesia telah menyentuh 47,37 juta.

Angka itu notabene sudah melewati pencapaian tahun sebelumnya yang berakhir pada jumlah 42,65 juta penonton.

Sebagai ajang apresiasi perfilman tertua dan bergengsi di tanah air, FFI atau biasa disebut Piala Citra tentu harus menjadi barometer kualitas.

Untuk mencapainya, Komite FFI yang dipimpin Lukman Sardi mencari, memilih, dan mempromosikan film-film bagus sepanjang tahun (1 Oktober 2017 - 30 September 2018) yang dapat mewakili pencapaian terbaik perfilman Indonesia kepada khalayak, di dalam negeri maupun mancanegara.

Pemilihan nama-nama yang terpilih menjadi nomine --dan pada akhirnya pemenang-- melalui dua tahap penjurian.

Ini tahap yang lazim digunakan dalam berbagai penghargaan film, termasuk edisi-edisi FFI terdahulu.

Sineas dan produser Nia Dinata kali ini dipercaya menjadi Ketua Komite Penjurian.

Dalam rilis pers yang diterima Beritagar.id usai pengumuman nominasi (10/11), terdapat 135 nama yang mengisi daftar penilai Piala Citra tahun ini. Dan keterlibatan 20 asosiasi profesi dan komunitas film.

Kriteria yang menjadi dasar penilaian masih sama seperti penyelenggaraan tahun sebelumnya, yaitu kejernihan gagasan dan tema, pencapaian teknis dan estetika, serta profesionalisme.

Seperti apa rupanya film bagus yang mencitrakan Indonesia itu tercermin dari penilaian anggota asosiasi profesi dan komunitas film.

Pasalnya seleksi awal bermula dari pilihan mereka yang menghasilkan nomine dalam 22 kategori pada FFI tahun ini. Prosesnya berlangsung 2-25 Oktober 2018.

Untuk tahun ini juga, film-film yang dinilai tak lagi harus mendaftarkan diri seperti penyelenggaraan sebelumnya.

Setelah daftar kandidat tadi diumumkan ke publik, tahap selanjutnya adalah pemilihan pemenang yang melibatkan FFI Member menggunakan sistem pemungutan suara alias voting. Ini tahapan yang ajek berlaku dalam Academy Awards atau Piala Oscar.

FFI Member adalah setiap orang yang pernah jadi nomine atau memenangkan Piala Citra sejak tahun 1955.

Selain itu, ada tambahan sembilan orang lainnya sebagai juri independen. Mereka berasal dari latar belakang sebagai budayawan, pengamat film, dan jurnalis.

Lukman menggaransi bahwa kinerja dewan juri sangat ketat dalam mengaplikasikan tema FFI tahun ini. Kerahasiaannya pun terjamin karena yang mentabulasi adalah akuntan publik independen Deloitte Consulting.

“Ada penerapan standar nilai yang sangat ketat. Kalau ada kategori yang hanya berisi tiga nomine, itu karena selisih angka dengan yang di bawahnya jauh sekali. Kalau kami memberikan toleransi hanya agar nomine di kategori itu terisi penuh, katakanlah lima nama, maka tidak ada gunanya kita bicara kualitas,” ujar Lukman kepada Beritagar.id usai pengumuman nominasi di Lamoda Cafe, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.

Penerapan standar tinggi itu diharapkan bisa merangsang sineas untuk menghasilkan karya yang semakin berkualitas.

“Harapan kami pada FFI tahun depan semua kategori tidak ada lagi yang kekurangan nomine,” sambung peraih Piala Citra 2007 di kategori Aktor Pendukung Terbaik.

Daftar pemenang FFI di kategori Film Terbaik sepanjang 1955-2017
Daftar pemenang FFI di kategori Film Terbaik sepanjang 1955-2017 | Lokadata/Beritagar.id

Sejak diselenggarakan perdana pada 1955 hingga 2017, total sudah terpilih 35 judul yang memenangkan kategori film terbaik.

Menariknya sepanjang sejarah perjalanan FFI, ada beberapa penyelenggaraan yang menghadirkan pemenang kembar dalam kategori paling prestisius ini. Dan itu sudah berlangsung sejak penyelenggaraan perdana.

FFI perdana itu memutuskan Lewat Djam Malam (arahan Usmar Ismail pemilik Perfini) dan Tarmina (Lilik Sudjio dari Persari yang dimiliki Djamaluddin Malik) sebagai pemenang film terbaik.

Kategori pemeranan, kecuali pemeran pendukung wanita terbaik yang sendirian direbut oleh Endang Kusdiningsih, juga menghasilkan dua pemenang.

Maka susah untuk mengelak tudingan yang menyebut FFI pertama laiknya arena bagi-bagi kue antara Perfini dan Persari.

Setahun usai dibangkitkan lagi dari tidur panjang, dewan juri FFI kelima yang berlangsung di Surabaya, 28-31 Maret 1974, juga memutuskan dua judul sebagai pemenang film terbaik, yaitu Si Mamad dan Cinta Pertama.

Film Si Mamad besutan Sjuman Djaja meraih gelar Film Terbaik dengan Pujian, sementara Cinta Pertama karya Teguh Karya mendapat titel Film Terbaik dengan Penghargaan.

Dewan Juri FFI 1974 yang terdiri dari Prof. dr. Soelarko, R.M. Soetarto, Maria Ulfah Subadio, Sri Martono, Hasyim Amir, D. Djajakusuma, Goenawan Mohamad, dan Moh. Said memang mengubah prosedur penjurian.

Mereka tidak lagi sekadar memberikan dan mengumpulkan angka, tapi menggantikannya dengan pencalonan terbuka dan diskusi.

Hal yang tak kalah menarik lainnya, kalau tak mau dibilang kontroversial, perkara pemilihan film terbaik adalah ketiadaan pemenang.

Kejadian tersebut bukan hanya sekali terjadi saja dalam pentas FFI, melainkan tiga kali. Masing-masing pada penyelenggaraan 1967, 1977, dan 1984.

Harmoko pernah kecele saat akan mengumumkan pemenang film terbaik dalam FFI ke-15 yang berlangsung di Yogyakarta (8/8/1984).

“Dan pemenangnya adalah….,” ucap Harmoko yang kala itu menjabat Menteri Penerangan sembari membuka amplop. “Tidak ada,” lanjutnya.

Kontan para tamu undangan yang terdiri dari kalangan sineas terkesiap.

Teguh Karya sang sutradara yang cempiang itu sampai tepok jidat, aktor Slamet Rahardjo geleng-geleng kepala, sementara Ratno Timoer, aktor cum sutradara yang kala itu menjabat Ketua Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia), mengaku akan mengadakan rapat untuk koreksi internal.

Ki Suratman selaku Ketua Dewan Juri FFI 1984 beralibi bahwa keputusan tidak memilih film terbaik sesuai buku putih yang menjadi pedoman penilaian para juri.

Buku putih alias pedoman penjurian disusun sejak FFI 1978. Dikeluarkan dengan SK Menpen dan terus mengalami perbaikan seiring waktu. Kala itu, penetapan pemenang berdasarkan beberapa kriteria, antara lain soal teknis, sosio-kultural, artistik, dan edukasi.

“Hampir semua film unggulan tidak punya kejutan artistik, penggalian tema, dan mengabaikan isi cerita," sambung Ki Suratman dilansir Tempo (18/8/1984).

Banyaknya unsur seks dan kekerasan dalam film-film yang mendaftar juga ikut menjadi pertimbangan para anggota Dewan Juri.

Semisal film Budak Nafsu yang sangat difavoritkan meraih gelar sebagai film terbaik karena sebelumnya telah membawa pulang empat Piala Citra di kategori penyutradaraan, sinematografi, pemeran utama pria, dan penata musik.

Film bertema perjuangan kemerdekaan arahan Sjuman Djaja itu toh tetap gagal terpilih lantaran memberi porsi cukup besar untuk seks dan kekerasan.

Hasil tabulasi Lokadata Beritagar.id merujuk status genre yang direkatkan Film Indonesia, dari 35 judul film terbaik yang pernah menang di FFI, seperti tampak pada penampang di atas, genre drama mendominasi kemenangan.

Anasir genre itu juga masih tetap hadir dalam kemenangan film bergenre lain, semisal thriller (dalam film Nightbus, pemenang FFI 2017) dan komedi (Naga Bonar Jadi 2, 2007).

Melihat daftar nomine film terbaik tahun ini yang diisi Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (Mouly Surya), Sekala Niskala (Kamila Andini), Aruna dan Lidahnya (Edwin), serta Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta (Hanung Bramantyo), angin tampaknya masih memihak genre drama.

Berbekal kemenangan di sirkuit festival mancanegara, persaingan ketat mungkin akan mengerucut pada dua film yang dituliskan pertama.

Catatan singkat perjalanan Festival Film Indonesia 1955-2018
Catatan singkat perjalanan Festival Film Indonesia 1955-2018 | Sandy Nurdiansyah/Beritagar.id

Diselenggarakannya FFI bermula dari keinginan Djamaluddin Malik dan Usmar Ismail yang ingin perfilman Indonesia menembus kancah internasional, dalam hal ini ikut tampil dalam Asia-Pacific Film Festival 1954 yang berlangsung untuk pertama kalinya di Tokyo, Jepang.

Maka didirikanlah Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) yang diketuai Usmar. PPFI kemudian menyelenggarakan FFI yang pemenangnya mewakili Indonesia dalam ajang FFA.

Acara FFI perdana pada 1955 mengusung slogan "untuk perbaikan mutu kebudayaan seni-teknis film Indonesia".

Mengutip buku kenang-kenangan FFI pertama, rangkaian acara berlangsung mulai 29 Maret dengan menggelar konferensi pers di Hotel des Indes (sekarang menjadi Pertokoan Duta Merlin) di Harmoni, Jakarta Pusat.

Keesokan harinya, acara diisi dengan pawai bintang-bintang film Indonesia yang diikuti, antara lain Raden Mochtar, Netty Herawati, Titien Sumarni, A.N. Alcaff, Astaman, Dahlia, Fifi Young, Raden Ismail, dan Turino Djunaidy.

Pawai yang dilepas usai pidato Moh. Yamin itu bergerak dari Gedung Olahraga Lapangan Ikada (Monas), seberang Balai Kota Jakarta, mulai pukul 17.00 WIB.

Keesokan harinya, acara berlanjut dengan pemutaran film-film Indonesia selama tujuh hari beruntun (31 Maret - 6 April 1955) di Metropole, Menteng, Jakarta Pusat.

Film yang diputar dalam rangka memeriahkan FFI adalah Lewat Djam Malam, Harimau Tjampa, Tarmina, Djakarta di Waktu Malam, Belenggu Masyarakat, dan Debu Revolusi.

Pelaksanaan FFI berhasil menggugah perhatian masyarakat, tapi hasilnya menimbulkan silang pendapat karena adanya pemenang ganda, juga kemenangan Lilik Sudjio di kategori sutradara terbaik mengalahkan Usmar yang membesut Lewat Djam Malam.

Sitor Situmorang mewakili dewan juri menyebut bahwa kemenangan tersebut karena adanya dukungan oleh anggota juri yang rapat hubungannya dengan dunia sandiwara kita yang lama dengan ukuran-ukuran tertentu.

S.M. Ardan selaku kritikus menyebut bahwa dewan juri terbagi antara kubu pujangga baru dan angkatan '45.

Kisruh soal sistem penjurian --maupun kinerja para juri-- seolah langgeng mewarnai perjalanan FFI. Berbanding terbalik dengan penyelenggaraannya yang sempat beberapa kali mandek.

Penyebabnya beragam. Mulai dari ketiadaan dana, intrik sesama kalangan film, imbas memanasnya kondisi sosial politik negara, hingga faktor lesunya perfilman nasional.

Soal penjurian, panitia bukannya tak berusaha memperbaiki keadaan. Entah sudah berapa kali format dan sistem penilaian mengalami perubahan demi meminimalisir keputusan yang memicu polemik.

Titik penting terjadi saat penyelenggaraan FFI 1978 di Ujung Pandang (6-10 Mei). Saat itu mulai diterbitkan buku putih alias berisi aturan pelaksanaan FFI, termasuk penjurian.

Pendekatan berupa dialog antarjuri, lalu kemudian dinihilkan seperti yang berlaku sekarang, menambah anggota juri, membentuk dewan/komite penyeleksi awal, menggandeng akuntan publik independen, hingga yang paling gres, melibatkan asosiasi profesi dan komunitas film adalah sejumlah upaya FFI memperbaiki diri.

Semua demi meningkatkan kualitas Piala Citra sebagai ajang apresiasi kebanggaan insan perfilman Indonesia. Langkah itu diharapkan bisa ikut mendongrak kualitas film-film karya sineas tanah air.

Catatan redaksi: Terjadi ralat pada teks infografik tentang Kronik FFI (9/12/2018). Pada 2010, Komite FFI mengganti susunan Dewan Juri menjelang pengumuman nomine. Sebelumnya tertulis Komite Seleksi yang mendadak mengganti Dewan Juri.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR