Romeo, orang utan berusia 36 tahun yang telah 5 tahun menghuni Pulau 5 BOS di Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, tampak pada Jumat (16/8/2019).
Romeo, orang utan berusia 36 tahun yang telah 5 tahun menghuni Pulau 5 BOS di Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, tampak pada Jumat (16/8/2019). Sri Gunawan Wibisono / Beritagar.id
KONSERVASI SATWA

Upaya melatih orang utan, lalu melepasliarkannya di Samboja

Butuh upaya dan dana besar untuk bisa menjaga dan melestarikan orang utan di Kalimantan, seperti yang dilakukan Yayasan BOS.

Romeo termangu di pinggiran saung Pulau 5 Borneo Orangutan Survival (BOS) di Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim). Pejantan orang utan ini duduk menjuntaikan kaki. Polah lincah betina Fani di sebelahnya pun tak digubris.

Sesekali, Romeo, orang utan yang genap berusia 36 tahun ini, menggaruk perut tambunnya. Selama proses me time ini, ia tetap mengawasi sekelilingnya. Bahkan terkadang memelototi pengunjung konservasi yang kebetulan melintas.

Lima tahun sudah Romeo menghuni pulau buatan seluas setengah hektare. Pulau pra-pelepasliaran orangutan yang dibentengi parit air sedalam 1,5 meter.

Romeo merupakan satwa yang disita dari sitaan kelompok sirkus asal Taiwan. Orang utan tertua di Samboja tinggal bersama pasangan; Fani dan Isti. Di situ, mereka sedang diobservasi apakah layak ikut program pelepasliaran ke hutan restorasi Kehje Sewen di Kutai Timur (Kutim).

“Seperti manusia, mereka ibaratnya sudah lulus sekolah menengah atas. Harus lulus kuliah dulu,” papar Koordinator tour guide BOS Samboja, Imam Muslim, Jumat (16/8/2019).

Contohnya adalah Romeo ini. Meskipun lulus program rehabilitasi, ia tidak kunjung ikut program pelepasliaran. Padahal Romeo paling senior tinggal di BOS Samboja.

“Peluangnya sekarang 50:50 untuk ikut program pelepasliaran,” papar Imam.

Memang kenyataannya, Romeo kesulitan beradaptasi dengan alam liar. Selama di pulau buatan, ia terlihat lebih nyaman berinteraksi di darat dibandingkan di atas pohon.

Bukan hanya itu, ia seperti tidak takut terhadap keberadaan manusia. Prilaku ini bertolak belakang dengan insting orang utan pada umumnya.

"Romeo seharusnya lebih sering di atas pohon dibandingkan di atas tanah. Logikanya, musuh alami mereka lebih banyak ada di atas tanah," sebut Imam.

Padahal, Romeo, Fani, dan Isti punya kecerdasan di atas rata rata. Romeo rutin mengecek kedalaman air parit mempergunakan ranting, sementara Isti berhasil mencuri kanoo pawang serta pindah ke Pulau 4.

“Romeo pernah kabur saat paritnya dangkal sedangkan Isti menaiki perahu kanoo menuju Pulau 4,” papar Imam.

Pulau 4 sendiri berpenghuni kelompok lain; Papa, Vera dan Citra.

“Sepertinya sudah cocok di Pulau 4 sehingga kami membiarkan Isti tinggal disitu,” imbuhnya.

Melatih orang utan bukan perkara gampang

Tim Yayasan BOS sedang melakukan proses pelepasliaran orang utan di Samboja, Kalimantan Timur (16/8/2019).
Tim Yayasan BOS sedang melakukan proses pelepasliaran orang utan di Samboja, Kalimantan Timur (16/8/2019). | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

BOS Samboja membangun 13 pulau buatan mengadopsi hutan tropis Kalimantan. Pulau ini merupakan observasi terakhir orang utan menuju program pelepasliaran.

Di pulau ini, orang utan dirangsang bertahan hidup di alam. Pawang pun menempatkan pakan buah-buahan jauh tinggi di bagian atas pohon. “Agar orangutan memanjat dan membuat sarang diatas pohon. Itu harus dilakukan setiap hari dan belum tentu berhasil,” papar Imam.

Memang, bukan perkara gampang melatih orang utan. Butuh kesabaran luar biasa para pawang.

Meskipun begitu, tantangan terberat sebenarnya merawat bayi orang utan. Mayoritas mereka adalah orang utan usia 0 hingga 2 tahun berstatus yatim piatu.

"Merawat bayi orang utan butuh kasih sayang. BOS Samboja memperkerjakan baby sitter perempuan menangani mereka ini," papar Imam.

Penanganan bayi orang utan sama persis manusia. Seluruh bayi orang utan akan manja kepada baby sitter yang dianggap induknya.

"Bayi orang utan juga pakai popok, mereka tiap malam kadang terjaga dan rewel. Sehingga baby sitter menggendong dan memberi dot susu untuk menenangkannya,” ungkap Imam.

Setelah berusia diatas 3 tahun, orang utan mulai mengenal alam liar. Mereka belajar di sekolah hutan mempelajari keterampilan dasar seperti memanjat pohon, pembuatan sarang, dan pencarian pakan.

"Pelatih dan orangutan lain akan mencontohkan keterampilannya. Pelatih bahkan mempraktekkan makan buah masam dengan mimik muka bahagia. Kalau terlihat tidak menikmati, orang utan pun enggan makan buahnya," tuturnya.

Di sekolah hutan, pawang mengenalkan pakan asli mereka seperti pisang, cempedak, lay dan nangka. Orang utan pun dipandu menguasai teknik pembuatan sarang berupa kumpulan ranting dan daun.

Bayi orang utan umumnya butuh waktu tujuh tahun mempelajari program rehabilitasi. Mereka yang cerdas langsung berkesempatan tinggal di pulau pra-pelepasliaran.

“Sedangkan yang bodoh mungkin selamanya hidup di BOS Samboja,” sebutnya.

Selepas dari pulau buatan, orang utan terbaik berkesempatan ikut program pelepasliaran. Seperti sebulan lalu, CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite melepaskan enam orang utan ke Hutan Kehje Sewen seluas 86.450 hektare.

Ada 103 individu orang utan program BOS Samboja yang telah tinggal di pulau ini.

"Kami sudah melepasliarkan orangutan sejak 2012 silam,” ungkap Jamartin.

Jamartin mengatakan, butuh komitmen tinggi melestarikan primata Kalimantan ini. Pelepasliaran orangutan setidaknya butuh biaya Rp50 juta per individu.

Bukan hanya itu, tim penyelamat pun harus menerabas ratusan kilometer hutan belantara dan sungai deras di Kalimantan untuk bisa mencapai mereka.

Namun, sejak awal Yayasan BOS memandang penting program guna menjaga kelangsungan populasi orang utan Kalimantan. Sehingga mereka memilih orang utan terbaik, dengan asumsi memiliki kemampuan cukup untuk bertahan hidup.

“Hutan Kehje Sewen merupakan tujuan pelepasliaran orang utan. Kapasitas tampungnya sudah hampir tidak memadai,” papar Jamartin.

Hutan Kehje Sewen sudah menampung 103 individu orang utan. Padahal, populasi maksimal di hutan ini hanya 150 individu.

Untuk itu pula, Jamartin kembali memutar otak mencari hutan restorasi baru untuk pelepasliaran. Zaman sekarang ini, bukan perkara gampang mencari hutan perawan yang cocok dengan populasi orang utan.

Persyaratannya jelimet; ketinggian 900 meter di atas permukaan laut, stok pakan alam tersedia, minim kompetitor, hingga keberlangsungan masa depan.

"Karena BOS Samboja memiliki 140 orang utan lain yang siap dilepasliarkan,” keluhnya.

Kehje Sewen adalah contoh ideal hutan bagi populasi orang utan. Buktinya, selama tujuh tahun ini, orang utan mampu beradaptasi dengan baik. Bahkan dalam kurun waktu itu terjadi kelahiran alamiah empat individu orangutan.

Di sini, BOS Samboja tidak lantas lepas tangan begitu saja. Ada tim tersendiri yang rutin memantau adaptasi orang utan. Mereka mempergunakan sinyal radio transmitter guna melacak aktivitas jelajah orang utan.

Alat pengirim sinyal memang ditanam ke tubuh orang utan. Strategi ini terpaksa dilakukan mengantisipasi orang utan sakit ataupun perburuan liar. “Informasinya juga berguna pengembangan rehabilitasi di masa mendatang,” ungkap Jamartin.

Yayasan BOS mengelola dua lokasi rehabilitasi orang utan di Samboja, Kaltim, dan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah. Sedangkan, BOS Samboja berdiri sejak 1991 di atas lahan seluas 1.800 hektare.

Kedua lokasi itu, kata Humas BOS Lestari, Nico Hermanu, fokus pada program rehabilitasi, kemudian melepaskan mereka ke hutan alami.

"Biaya melatih satu orang utan sebesar Rp45 juta per tahun dan kami memperkerjakan 114 pegawai mengelola seluruh area,” paparnya.

Untuk menutupi biaya pemeliharaan, Yayasan BOS menggalang dana hibah dari 1.305 lembaga dalam dan luar negeri, program adopsi, dan donor individu. Tahun 2018, BOS berhasil mengumpulkan Rp73 miliar.

"Dana hibah itu meningkat 41 persen dibandingkan tahun 2017 silam,” tutur Nico.

Bukan hanya itu, BOS Samboja mengelola mandiri fund raising melalui tour trip berbiaya AS$50 per orang. Dana ini dimasukkan sebagai pendapatan untuk program adopsi pelestarian orang utan.

Ancaman bagi populasi orang utan

Seekor orang utan yang siap dilepasliarkan tampak di dalam kandang di Yayasan BOS, Samboja, Kalimantan Timur (16/8/2019).
Seekor orang utan yang siap dilepasliarkan tampak di dalam kandang di Yayasan BOS, Samboja, Kalimantan Timur (16/8/2019). | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Sementara itu, ancaman terhadap populasi orang utan Kalimantan sangat nyata. Salah satu yang paling berbahaya adalah tergerusnya lahan hutan untuk perkebunan kelapa sawit.

Data The Nature Conservancy (TNC) Indonesia, berdasarkan riset di 540 desa di Kalimantan, menunjukkan terjadi penurunan populasi orang utan hingga 25 persen selama satu dekade terakhirmelansir penurunan drastis populasi orang utan sebesar 25 persen selama 10 tahun terakhir.

"Dengan memadukan kedua data tersebut, keberadaan dan perubahan jumlah populasi orang utan di seluruh Kalimantan bisa diperkirakan secara lebih akurat," kata Arif Rifqi, Orangutan Project Specialist di TNC.

TNC mengasumsikan populasi orangutan berdasarkan jumlah sarang dan luas wilayah. Survey pun mempertimbangkan kualitas sarang di Kaltim yang mampu bertahan 600 hari.

“Sehingga estimasinya berdasarkan jumlah sarang, kualitas sarang, kemampuan orangutan membuat sarang dan jumlah anaknya,” papar Arif.

TNC memperkirakan ada 2.900 orang utan yang mendiami daerah seluas 22.000 km persegi di Kaltim. Mereka terkonsentrasi di Taman Nasional Kutai (TNK), Sangkulirang – Mangkalihat dan Wehea Kelay.

Selain penyusutan hutan primer, perburuan liar, kebakaran hutan dan perubahan iklim, penyusutan populasi itu juga diakibatkan maraknya industri perkebunan dan pertambangan.

Oleh karena itu, Arif menilai perlunya komitmen pengelolaan kepentingan konservasi dan industri secara beriringan. Menurutnya, pemerintah harus menerapkan aturan tegas agar dua kepentingan tersebut bisa berjalan bersama.

“Contohnya, pemerintah tidak memberikan izin di kawasan konservasi. Perusahaan juga tidak melakukan eksploitasi di kawasan yang berbatasan langsung dengan konservasi,” ujarnya. "Strategi terbaik adalah saat konservasi dan industri mampu berjalan bersama."

Aparat pemerintah mengakui bahwa mereka kesulitan menjaga keberadaan orang utan di alam liar. Sehingga, bantuan dari berbagai pihak, seperti yang dilakukan BOS, memang diharapkan untuk menambal keterbatasan yang dihadapi negara.

"Ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Pemerintah, masyarakat, organisasi massa dan pelaku bisnis aktif melanjutkan kegiatan ini," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Sunandar Trigunajasa, tentang kegiatan Yayasan BOS.

Menurutnya, pelestarian orangutan memang menjadi kewajiban bersama. "Semua pihak harus berperan dalam upaya penyelamatan primata dilindungi negara ini," tegasnya.

Pemerintah nantinya bakal lebih fokus pada penindakan hukum terhadap praktik perburuan liar hingga eksploitasi orang utan. Negara, menurut Sunandar, tidak segan menjerat para pelaku sesuai undang-undang yang berlaku.

Di Kaltim, polisi berulang kali menjerat pelaku pembantaian orang utan. Seperti kasus terbaru, Polres Kutim membekuk lima tersangka yang memberondong orang utan dengan senapan angin. Primata malang ini tewas dengan 130 proyektil peluru bersarang di tubuhnya.

Para pelaku adalah petani kebun kelapa sawit dan nanas. Mereka adalah Muis bin Cebun (36), Andi bin Hambali (37), Rutan bin Nasir (37), Nasir bin Saka (54), dan HDR (13).

Mereka mengaku kesal karena kebun mereka dirusak rombongan orang utan. Padahal, kebun yang digarap para tersangka itu berada di area konservasi TNK yang mestinya steril seluruh aktivitas.

TNK merupakan habitat alam 1.511 individu orangutan. Hutan konservasi seluas 192.709 hektare menjadi populasi orangutan di Sangkima, Mentoko dan Menawang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR