Diskusi dan pembahasan hasil laga latihan Tim AoV Indonesia bersama tim dan pelatih di Garena, Gedung FWD, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (21/8).
Diskusi dan pembahasan hasil laga latihan Tim AoV Indonesia bersama tim dan pelatih di Garena, Gedung FWD, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (21/8). Yose Riandi / Untuk Beritagar.id

Video game di simpang olahraga dan kesehatan

eSports jadi nomor ekshibisi pada Asian Games 2018. Namun, olahraga itu masih menyimpan simalakama. Lebih-lebih bila melihatnya dalam sudut pandang kesehatan.

Lima pemuda meriung di sebuah ruangan berukuran lima kali lima meter. Mereka sibuk berolahraga dengan gawai di genggaman masing-masing.

Mata mereka tak lepas dari layar iPhone8. Dua jari jempol juga terus menari-nari di atas skrin sentuh. Di depan mereka tersaji camilan serta gelas-gelas berisi susu dan air mineral.

Lazimnya olahraga, ada banjir hormon adrenalin di ruangan itu. Paling tidak terlihat lewat seruan dan teriakan antara anggota tim.

Namun jangan harap ada otot menegang atau keringat bercucuran. Otot-otot hanya tergurat dalam penampakan para kesatria di layar gawai.

Para bahadur itu berupa satwa fantasi menyerupai manusia. Mereka beradu di sebuah padang rumput: berkejaran, saling tebas, dan sesekali melempar zat niskala bak laser.

Itulah suasana latihan Tim AoV (Arena of Valor) Indonesia di Garena, Gedung FWD, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa malam (21/8).

Jelang Asian Games 2018, Tim AoV Indonesia sibuk berlatih. Porsinya bisa mencapai 8-10 jam—diselingi beberapa kali istirahat.

AoV tergolong kategori MOBA, singkatan multiplayer online battle arena atau pertarungan berbasis strategi multipemain, yang masuk agenda ekshibisi cabang olahraga eSports pada Asian Games 2018.

Uji coba tak terhitung medali itu bakal berlangsung di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 26-31 Agustus.

Selain AoV, ada lima permainan lain dalam ekshibisi eSports: Clash Royale, Hearthstone, Starcraft 2, PES 2018, dan League of Legends.

Asian Games 2018 merupakan ekshibisi kedua eSports dalam ajang olahraga multievent. Pada awal 2018, olahraga ini sudah mendulang respons positif dalam uji coba di Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang.

Para pegiat eSports pun optimistis cabang ini bakal masuk perhitungan medali pada Asian Games 2022.

Optimisme itu dirasakan Juru Bicara Tim AoV Indonesia, Putri Dini Azizi (23). “Cabang ini layak dikategorikan olahraga, karena kita tuh adu otak sama seperti catur, apalagi eSports lagi ngetren,” ujar Putri.

Perkataan Putri bukan sesumbar. Mengacu prediksi The World Economic Forum, eSports bakal bersalin jadi bisnis bernilai USD1 miliar, terutama lewat antusiasme 300 juta penggemarnya di seluruh dunia.

Adapun di Indonesia, pemain game online diperkirakan mencapai 25 juta orang.

Indikator simpel atas kepopuleran eSports bisa pula dilihat lewat YouTube. Bila mencari kata kunci “eSports highlights”, layanan berbagi video itu akan menampilkan berbagai rekaman dengan jumlah pemirsa mencapai ratusan ribu.

Angka itu tak jauh beda dengan pemirsa Liga Primer Inggris--liga sepak bola termasyur--di laman pencarian video berbasis kata kunci “premier league highlights”.

Akan tetapi, lepas dari kepopulerannya, eSports masih menyimpan simalakama. Lebih-lebih bila melihatnya dalam sudut pandang kesehatan.

***

Laga latihan tim AoV Indonesia di Ruang Rapat Garena, Gedung FWD, Senayan Selasa malam (22/8)
Laga latihan tim AoV Indonesia di Ruang Rapat Garena, Gedung FWD, Senayan Selasa malam (22/8) | Yose Riandi /Untuk Beritagar.id

Fitriani Kitta (30) terkejut saat tiba di rumahnya, bilangan Bumi Tamalanrea Permai (BTP), Makassar, Senin malam (20/8).

Dia mendapati anaknya, Aleandra (9), kejang-kejang disertai demam tinggi. Persis di samping Aleandra, sebuah laptop tergelar. Fitriani sadar anaknya baru saja bermain video game (permainan video) dari laptop.

“Sebenarnya, sudah mi dokter kasih tau supaya hindari main game. Paling lama 20 menit satu hari,” keluh Fitrianni, saat dihubungi lewat telepon, Selasa (21/8).

Kecanduan Aleandra pada permainan video bermula pada usia dua tahun. Saat itu, dia mulai memainkan permainan video dari ponsel, tablet, atau laptop ibunya.

Dia kian cakap pada usia lima tahun beriring penguasaannya pada berbagai judul permainan--termasuk AoV.

Kala itu pula Aleandra mulai mengalami kejang disertai demam. Fitriani lantas memeriksakan anak bungsunya itu ke dokter.

Lewat pemeriksaan di RS. Wahidin Sudirohusodo Makassar, Fitriani tahu anaknya mengidap epilepsi, satu kondisi yang membuat seseorang mengalami kejang berulang.

Permainan video bisa jadi pemicu kejang kambuhan dalam semua jenis epilepsi. Kasus macam ini kerap disebut video game epilepsy.

Hal itulah yang terjadi pada Aleandra. Pasalnya, anak laki itu bisa bergelut dengan permainan video selama berjam-jam bahkan hingga sehari penuh.

“Kalau sudah begitu (bermain seharian), biasanya kambuh ki kejangnya,” tutur Fitriani.

Ibu rumah tangga itu mengaku kecolongan saat meninggalkan rumah pada pagi hari.

Tanpa disadari, Si Bungsu mengambil laptop dan bermain game seharian tanpa henti; dan, malam harinya, Fitri pun nelangsa saat melarikan anaknya ke rumah sakit.

Hingga hari ini, Aleandra rutin kontrol ke rumah sakit, salah satunya untuk mengatasi masalah kecanduan permainan video.

Hartawan Muliadi, salah seorang anggota Tim AoV Indonesia, dalam sesi latihan jelang Asian Games 2018 di Ruang Rapat Garena, Gedung FWD, Senayan Selasa malam (22/8).
Hartawan Muliadi, salah seorang anggota Tim AoV Indonesia, dalam sesi latihan jelang Asian Games 2018 di Ruang Rapat Garena, Gedung FWD, Senayan Selasa malam (22/8). | Yose Riandi /Untuk Beritagar.id

Selain kasus macam Aleandra, ada pula masalah gaming disorder yang lekat dengan permainan video dan eSports.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan gaming disorder sebagai gangguan mental akibat berasyik ria dengan permainan video dalam waktu lama.

Gangguan itu berupa masalah interaksi sosial. Salah satu gejalanya adalah penempatan permainan video sebagai prioritas nomor satu di atas aktivitas lain.

Masalah lain pernah dirasakan atlet eSports Asian Games 2018 untuk permainan Hearthstone, Hendry K. H. (34).

Medio 2011, Hendry merasakan carpal tunnel, berupa rasa sakit dan peradangan pada pergelangan tangan. Kasus itu dipicu posisi tangan yang terlalu lama berada di tetikus atau papan ketik komputer.

“Karena terlalu lama main game nih,” tutur pemain berepitel Jooh703 itu. Gangguan itu membuat Hendry mesti membatasi waktu latihan jelang Asian Games.

Indonesia eSports Association (IeSPA), organisasi payung eSports di Nusantara, tidak memungkiri bahaya permainan video.

Namun, khusus Asian Games, Sekretaris Jenderal IeSPa, Prana Adisapoetra (30), mengaku telah melakukan sosialisasi kesehatan kepada para atlet.

“Istirahat yang cukup, jangan terlalu memforsir latihan, makan sayuran, banyak minum air dan susu,” kata Prana, memerinci wejangan kepada para atlet.

Delapan atlet eSports yang mengobrol dengan Beritagar.id juga menuturkan cara mereka menjaga kesehatan, mulai dari berenang, gym, lari, kontrol ke dokter mata, hingga mengatur pola makan.

Juru Bicara Tim AoV, Putri Dini Azizi (23) punya cerita soal pengawasan kesehatan atlet eSports jelang Asian Games. “Pernah seorang pemain datang dengan muka pucat dan kelihatan lesu. Pelatihnya suruh pulang dan istirahat,” kisahnya.

Meski begitu, agaknya kesadaran itu belum dilengkapi pengetahuan seputar ergonomis. Istilah di muka berkenaan posisi dan laku nan optimal serta aman bagi seseorang yang banyak beraktivitas di depan komputer atau layar lainnya.

Para atlet eSports, misalnya, tidak melakukan pemanasan sederhana sebelum berlatih--seperti memutar pergelangan tangan.

Posisi duduk atau tangan saat berlatih juga tampak seadanya tanpa pertimbangan kesehatan. Padahal ergonomis sudah jadi satu topik diskusi di jagat eSports.

Potensi masalah kesehatan bertambah bila melihat minimnya fasilitas penunjang atlet eSports. Menurut Prana, eSports memang "belum dapat perhatian cukup" dari pemerintah bila dibandingkan dengan olahraga lainnya.

“Dana yang digunakan bersifat swadaya, maka atlet belum bisa mendapatkan dokter tim, nutrisionis, atau psikolog, yang lazim digunakan atlet eSports mancanegara,” ujar mantan gamer ini.

Bolong perhatian juga tampak pada ketidaktahuan atlet eSports seputar bahaya doping. Mereka mengaku belum dapat sosialisasi antidoping yang lazim dilakukan LADI (Lembaga Anti Doping Indonesia) kepada atlet cabang olahraga lain.

Sekalipun ada kesan jadi anak tiri, Prana yakin atletnya bisa mendulang hasil positif pada Asian Games 2018.

Ia pun berjanji akan mengadvokasi kesetaraan kesehatan para atlet eSports kepada pemerintah. “Terutama bila eSports sudah dimedalikan,” katanya.

***

Tiga pegiat eSports yang jadi narasumber, dari kiri ke kanan:  Sekretaris Jenderal  ieSP, Prana Adisapoetra; Juru Bicara Tim AoV Indonesia, Putri Dini Azizi; Atlet eSports Asian Games 2018, Hendry K. H. (34).
Tiga pegiat eSports yang jadi narasumber, dari kiri ke kanan: Sekretaris Jenderal ieSP, Prana Adisapoetra; Juru Bicara Tim AoV Indonesia, Putri Dini Azizi; Atlet eSports Asian Games 2018, Hendry K. H. (34). | Istimewa

Layar plasma menampilkan rekaman latihan Tim AoV Indonesia. Seorang kesatria terlihat kelabakan menghadapi serangan bertubi-tubi. Batang nyawanya sudah sekarat, pertanda maut mengintai.

Anggota Tim AoV Indonesia memerhatikan tayangan itu dengan saksama. Di depan mereka, seorang pelatih asal Taiwan berbicara dengan wajah dingin dan kening berkerut.

Sang pelatih memberikan analisanya dalam bahasa Mandarin, yang dialihbahasakan seorang penerjemah.

“Seandainya dikomunikasikan, ini bisa selamat,” ujar Sang Pelatih sembari menunjuk karakter kesatria yang akhirnya tumpas.

Mendengar ceramah pelatih, personel Tim AoV Indonesia hanya bisa diam dan menunduk demi menyembunyikan muka kecut.

Proses diskusi dan analisa macam itu berlangsung tiap satu sesi latihan atau pertandingan berakhir.

Dalam eSports--terlebih untuk AoV--komunikasi antar tim sangat penting. Bagi para pegiatnya, proses komunikasi itu jadi bantahan atas klaim gangguan mental yang kerap menyasar eSports.

Komunikasi yang baik, kata mereka, hanya bisa dilakukan orang bermental sehat.

“Ini satu pembuktian bahwa video game tidak seburuk yang dicitrakan orang, bukan merupakan tindakan sia-sia," ujar Prana. "eSports juga bisa membanggakan Indonesia di mata dunia.

Usai sesi analisa, Tim AoV Indonesia mengambil jeda sebelum kembali berlatih.

Saat sesi latihan mulai lagi, anggota Tim AoV Indonesia tak bisa menyembunyikan mata keruh dan paras lelah. Namun mereka setia menekuri gawai masing-masing.

Mereka sadar masih harus kerja keras demi naik podium Asian Games 2018.