Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang.
Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
BUI WARISAN KOMPENI

Wajah kekal Bulu lebih dari seabad

Sejak zaman Belanda hingga kini Lapas Bulu masih menjadi tempat terakhir napi kelas berat. Bangunan diperkirakan bukan dibuat oleh arsitek.

Semarang, 31 Januari 1944. Bep Stenger (22) harus menghadapi kenyataan pahit. Dalam sebuah sidang militer Jepang, ia divonis 10 tahun penjara.

Pangkalnya, perempuan asal Belanda itu melakukan perlawanan terhadap Jepang di Indonesia. Dia menyembunyikan para tokoh politik asal Negeri Kincir Angin beberapa tahun sebelumnya.

Umur Stenger saat itu masih awal 20-an. Menjalankan aksi mudah saja baginya. Sebab, dia anggota Palang Merah yang punya akses leluasa.

Sialnya, pada Maret 1943, ia ditangkap militer Jepang dan dijebloskan ke penjara Lowokwaroe (Lowokwaru), Malang, Jawa Timur.

Nyaris setahun setelahnya, ia divonis.

"Kami dipindahkan ke penjara wanita Boeloe (Bulu). Di Boeloe ada beberapa pemimpin dari kelompok perlawanan, seperti Wil Mendes da Costa dan Corrie Altman, yang menerima hukuman mati," ucap Stenger dalam nrc.nl.

Data warga binaan lapas kelas II A Wanita Semarang, Jawa Tengah
Data warga binaan lapas kelas II A Wanita Semarang, Jawa Tengah | Beritagar.id /Kemenkumham

Waktu menggelinding. Setelah lebih dari 75 tahun usai kemalangan yang menjerat Stenger, penjara wanita Bulu belum berubah. Ia masih menjadi tempat persinggahan terakhir bagi kriminal perempuan yang dikenai vonis berat.

Pada akhir Februari 2019, ada tiga terpidana menunggu ajal di sana. Mereka adalah Endang Setiawati, Cherry Ann Panaligan Calaud, dan Rosmalinda. Ketiganya dihukum penjara seumur hidup karena ketahuan membawa narkotika di Indonesia.

Nasib adalah kesunyian masing-masing, kata seorang penyair. Dan Cherry (34) hanya bisa meratapi nasibnya. Wanita asal Batangas City, Filipina, itu cuma bisa merindu angin pantai di kampungnya. Juga bercengkrama bersama teman-temannya selepas kerja menjadi pramuniaga di sebuah toko elektronik.

"Saya kangen dengan semuanya," ujarnya kepada Beritagar.id, akhir Februari lalu, dengan bahasa Indonesia yang lancar. "Terakhir saya melihat ibu saya itu 2015."

Cherry seorang tahanan yang cukup senior di Bulu. Sudah delapan tahun ia mendekam di penjara yang kini memiliki nama resmi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Wanita Semarang.

Harapan satu-satunya untuk mendapat angin kebebasan pada suatu saat nanti ada di tangan presiden. Sudah sekali ia mengajukan grasi. Tahun lalu. Namun, Joko Widodo menolak.

"Saya sedang mengajukan grasi lagi. Semoga presiden berkenan menandatangi berkas saya," katanya, sembari berucap bahwa ia tak ingin menghabiskan hidupnya di Bulu. "Tidak, saya selalu percaya (bisa bebas)."

Kini, untuk mengisi hari-harinya, Cherry melakoni berbagai kegiatan di dalam lapas bersama ratusan penghuni lain. Ia mencoba berdamai dengan nasib dan kebosanan yang bakal mengikutinya.

Upaya demikian, setidaknya, ia lakukan dengan berpenampilan laiknya wanita normal di luar lapas. Wajahnya memang tak dipulas make-up berlebihan. Namun, gincu merah terang menghiasi bibirnya. Rambutnya ia ikat model buntut kuda.

Padahal, hari itu ia tak sedang menunggu tamu. Ia hanya ingin tampil cantik.

"Saya kan perempuan, ingin tampil bagus (cantik) lah," katanya sembari menjahit.

Pihak Lapas Bulu memang memberikan berbagai kegiatan untuk mengisi hari-hari narapidana. Ada kelas menjahit, dress painting, membuat berbagai aksesoris, membatik, hidroponik, tata boga, untuk menyebut beberapa.

Namun, kegiatan-kegiatan tersebut tak sepenuhnya menghilangkan stres para penghuni. Nada (26), memilih candaan yang biasa ia keluarkan ketika belum dipenjara demi menghilangkan stres.

Gurauan ia lepaskan saat tengah membuat pola batik di atas kain berwarna putih kusam. Kami pun menanyakan apakah sebelumnya pernah membatik?

Tidak, jawabnya.

"Sebelumnya mah saya biasa nimbang," katanya dengan tertawa terbahak-bahak. Kami pun tertawa, karena maksudnya menimbang adalah menghitung berat narkotika. "Biar enggak stres aja."

Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang.
Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
Kolase foto warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang.
Kolase foto warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang
Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Sejarah Lapas Bulu tak sependek namanya. Pun, tak sebatas pada kisah pahit Stenger tadi. Lapas tersebut sudah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, yakni 1894. 51 tahun sebelum Indonesia merdeka, dan 1,5 abad dihitung dari sekarang.

Perjalanan waktu tersebut membuat peruntukan Bulu berubah-ubah. Meski awalnya Bulu dikhususkan bagi wanita, ia juga pernah dihuni pria. Kisah Herbert Kuin bisa ditengok. Laki-laki itu menuliskan pengalamannya berdiam di Lapas Bulu dan diterbitkan oleh Semarang.nl pada 2009.

Panjangnya rentang sejarah itu, membuat Lapas Bulu mendapat status Benda Cagar Budaya tak bergerak dalam Undang-Undang RI No. 5 tahun 1992.

Meski begitu, cukup sulit mendapatkan jejak perkembangan penjara tersebut. Bahkan, para penjaganya tak banyak tahu. Mereka hanya sanggup menyebut tahun pembuatan, dan pihak pembuatnya: Belanda.

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) bangunan-bangunan tua di Semarang, Widya Wijayanti, mengamini minimnya catatan sejarah Bulu. Yang bisa ia simpulkan, lapas tersebut memang berciri khas bangunan ala Belanda abad ke-19.

Itu periode ketika neoklasik menjadi gaya umum bangunan di Eropa, khususnya di Belanda. Problemnya, mazhab neoklasik terbagi menjadi beberapa aliran. Untuk Lapas Bulu, Widya belum mendalami aliran mana yang dipilih oleh sang pembuat.

Hanya saja, Widya berkeyakinan Lapas Bulu tak dibuat oleh arsitek khusus. Pasalnya, bila merujuk pada pola neoklasik, ada perbandingan tertentu untuk menentukan diameter kolom pada tiang ala Yunani dengan tingginya. Lapas Bulu tak memenuhi kriteria tersebut.

"Saya meyakini Bulu dibuat oleh batalion zeni (Belanda) atau anemer (sebutan kontraktor saat itu). Karena proporsi tiangnya tak menggambarkan buatan arsitek," ucap Widya kepada Beritagar.id.

Sebagai TACB, Widya telah dua kali mengunjungi Lapas Bulu dalam tiga tahun terakhir. Terakhir dia ke sana dua tahun lalu. Saat itu, bentukannya masih terlihat seperti bangunan zaman dulu.

Sayangnya, kini, sudah terdapat beberapa perubahan pada fasadnya (tampak muka). Yang menjadi catatan Widya saat kunjungan terakhir, dinding pada fasad belum seperti sekarang, yang memakai ubin berwarna.

Widya menyayangkan perubahan tersebut. Sebagai bangunan dengan kategori cagar budaya, seharusnya tak ada perubahan dari penampilan Lapas Bulu.

"Menggelikan," katanya mengomentari tampilan baru itu.

Terlepas dari fasad, tak terjadi banyak perubahan di Bulu, termasuk belasan bangunan yang berdiri di dalamnya. Bila pun ada, skalanya minor.

Di lapas tersebut, berdiri 10 bangunan yang difungsikan untuk sel tahanan. Luasnya variatif. Para sipir menyebutnya dengan istilah bangunan kecil dan besar. Tiap jenis bangunan berjumlah lima.

Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang
Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
Kolase foto warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang
Kolase foto warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang.
Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Gambaran Lapas Bulu sama dengan banyak lapas lain di Indonesia: overcapacity alias kelebihan penghuni.

Sebenarnya, ia hanya mampu menampung 174 penghuni. Namun, saat Beritagar.id melakukan liputan di sana, jumlah napinya 345. Agar para penghuni masih merasa nyaman saat tinggal, pihak lapas pun harus memutar otak.

Satu caranya adalah dengan mengalihfungsikan sejumlah bangunan. Misalnya, mengaktifkan lima bangunan kecil yang sebelumnya tak dijadikan sel tahanan sebagai tempat mengurung narapidana.

"Kita harus pintar-pintar memanfaatkan bangunan yang ada. Karena sebagai bangunan cagar budaya, tidak boleh dibuat bangunan baru," ujar Kepala Lapas Bulu, Asriati Kerstiani, kepada Beritagar.id.

Hanya saja, saat kami berkunjung masih ada lima ruangan kecil yang belum digunakan, yakni dua strap cell dan tiga kamar isolasi. Kedua jenis ruang ini akan dipakai saat ada tahanan yang memerlukan perlakuan khusus.

Bagi Asriati, mengelola lapas dengan status cagar budaya memang tak mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi dengan keterbatasan. Selain soal overcapacity tadi, pihak lapas juga memiliki keterbatasan soal anggaran.

Asriati mengatakan bahwa anggaran untuk pemeliharan Lapas Bulu terhitung sedikit. Dia memang tak ingin menyebut jumlahnya berapa, pun tak ingin membuat perbandingan.

Namun, Asriati mengakui, untuk melakukan pemeliharan secara keseluruhan, anggaran yang tersedia belum mencukupi.

"Kami paling menambal yang bermasalah saja. Sejauh ini, kami memfokuskan kepada kenyamanan penghuni," ujarnya.

Untuk kenyamanan, Lapas Bulu memang memenuhi kriteria itu. Terlihat banyak tumbuhan tertata asri di tiap sudut lapas.

Begitu pun soal makanan. Seorang napi mengatakan kepada kami sambil berjalan, "Mana ada di luar (lapas) makan seminggu bisa dua kali ayam dan sekali daging."

Nyaman itu bisa jadi relatif. Namun, ada yang niscaya di Lapas Bulu. Setelah lebih seabad, ia masih menjadi tempat bagi kriminal wanita kelas berat.

Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang sedang menggendong anaknya.
Warga binaan di lembaga pemasyarakatan Semarang sedang menggendong anaknya. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
Penjagaan di lembaga pemasyarakatan Semarang
Penjagaan di lembaga pemasyarakatan Semarang | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
Artikel Terkait