Karina Salim (kiri) dan JFlow dalam film Salawaku yang tayang di jaringan bioskop mulai 23 Februari 2017
Karina Salim (kiri) dan JFlow dalam film Salawaku yang tayang di jaringan bioskop mulai 23 Februari 2017 pritagitaarianegara.com / Kamala Film

Wajah perfilman Indonesia sepanjang 2017

Sejumlah insan di industri perfilman nasional, seperti produser, ekshibitor, dan pengamat menatap 2017 dengan penuh optimisme.

Fajar baru pertanda kehadiran 2017 telah menyingsing. Saatnya melupakan sejenak segala pencapaian yang terjadi kurun 2016. Bagi para pekerja yang terkait dengan industri film, khususnya tanah air, kehadiran tahun ayam api membawa optimisme.

Penyebabnya apalagi kalau bukan peningkatan jumlah penonton film Indonesia sepanjang tahun lalu. Merujuk data situs filmindonesia.or.id, ada 10 film yang berhasil mencetak penjualan lebih dari satu juta tiket penonton.

Hikmat Darmawan, kritikus film dan Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), pernah mengungkapkan kegembiraannya menanggapi fakta tersebut dalam sebuah tulisan yang diterbitkan Beritagar.id (7/11/2016).

"Saya gembira pada capaian industri film kita tahun ini, baik dari segi komersial, maupun segi standar produksi dalam industrinya. Keberhasilan komersial film-film produksi Falcon Pictures dengan tiga buah film laris yang ditonton lebih dari dua juta penonton adalah hal penting," tulis Hikmat.

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part. 1 yang jadi film Indonesia terlaris 2016 merupakan produksi Falcon. Penjualan tiketnya di bioskop ludes melebihi 6,8 juta lembar. Angka yang sekaligus menahbiskannya sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa melewati Laskar Pelangi (2008) yang mencetak 4,6 juta penonton.

Selain pecahnya rekor film terlaris, fenomena 10 film yang meraup lebih dari satu juta penonton dalam setahun juga belum pernah terjadi sebelumnya. Saingan terdekat perkara banyak-banyakan jumlah film dengan penonton terbanyak hanya terjadi pada 2009, saat enam judul film ditonton lebih dari satu juta orang.

Catherine Keng, Corporate Secretary Cinema 21, menyebut bahwa jumlah penonton film Indonesia di jaringan bioskop 21 sepanjang 2016 mencetak rekor tertinggi sejak 2008.

Dari 118 film yang ditayangkan, total 34,5 juta lembar tiket ludes terjual. Tahun sebelumnya "hanya" 16,2 juta penonton dari total 116 judul film.

Panen penonton itu otomatis mengatrol market share film Indonesia menuju titik 32 persen, meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama setahun silam.

Singkat cerita, industri perfilman nasional mulai menggeliat. Kepercayaan para penonton terhadap film Indonesia perlahan tumbuh kembali. Dapatkah industri perfilman nasional bertahan, bahkan melebihi tren positif itu?

Pasalnya fenomena seperti ini bukan hal baru. Ambil contoh tahun 2008. Saat itu 81 judul film sanggup mendatangkan 34,4 juta penonton. Namun hingga tujuh tahun setelahnya, rekor itu tak bisa didekati meski jumlah film bertambah --kecuali 2010 (75 judul) dan 2011 (80).

Ada beragam alasan yang jadi penyebab. Salah satu yang paling nyaring terdengar adalah ketidakmampuan rumah produksi meyakinkan masyarakat untuk lebih memilih film Indonesia alih-alih produk Hollywood. Intinya, kuantitas tidak berbanding lurus dengan kualitas.

Namun, cemerlangnya perfilman nasional di 2016 membuat Keng optimistis menyambut 2017. Menurut dia, ada beberapa film dalam daftar tayang 2017 yang bisa menarik banyak penonton.

"Semoga jumlah penonton film nasional tahun 2017 akan melewati tahun 2016. Dan yang penting juga makin banyak film yang bisa mencapai angka penonton satu juta ke atas," ujar istri Robert Ronny, produser rumah produksi Legacy Pictures, itu melalui surel (14/12/2016).

Hal senada juga meluncur dari Fauzan Zidni, Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), yang menyebut bahwa sekarang ini merupakan momentum paling menggairahkan bagi pelaku industri film.

Bukti awal sudah hadir tatkala film Promise (Screenplay Films dan Legacy Pictures) telah meraup 502.972 penonton dalam kurun dua pekan sejak pertama kali tayang pada 5 Januari 2017. Lebih cepat satu bulan dari pencapaian London Love Story, juga produksi Screenplay Films, awal tahun lalu.

Apakah ini pertanda bahwa optimisme Catherine bakal terwujud?

Laiknya artikel "Daftar film yang akan tayang sepanjang 2016", laporan khas kali ini mencoba menelisik akan seperti apa wajah perfilman tanah air sepanjang tahun ini.

Kalender film yang tidak ajek

Para pemain film Moammar Emka's Jakarta Undercover. Ditayangkan mulai 23 Februari 2017
Para pemain film Moammar Emka's Jakarta Undercover. Ditayangkan mulai 23 Februari 2017 | Andi Baso Djaya /Beritagar.id

Bagi penggemar film yang kerap berlangganan majalah terbitan luar negeri semisal Empire, Total Film, atau Entertainment Weekly, sudah menjadi kebiasaan jika menyambut kehadiran tahun baru, laporan panjang berupa daftar film Hollywood yang bakal ditayangkan selama setahun penuh menjadi menu utama. Dilengkapi sinopsis dan tanggal penayangan pula.

Jika ingin mengakses secara online, tinggal buka peramban dan ketik alamat situs movieinsider.com. Mulai dari ekranisasi The Summoning bergenre horor yang tayang 10 Januari 2017, hingga drama musikal The Greatest Showman on Earth sebagai penutup pada 25 Desember 2017 tercantum di situ.

Majukan hingga tiga tahun ke depan, anda masih menemukan beberapa tanggal yang telah terisi sejumlah judul film.

Hal tersebut belum kita jumpai --setidaknya hingga tahun ini-- pada majalah atau situs web film Indonesia. Apa sebab? Karena kalender yang berisi jadwal penayangan film nasional kita belum ajek.

Penyebabnya beragam. Hal pertama karena industri perfilman kita masih terkendala biaya, terutama perihal promosi. Faktor kedua disebabkan keengganan beberapa rumah produksi mengumumkan tanggal penayangan film produksi mereka di bioskop.

Alasan yang kedua itu juga dikemukakan pihak Cinema 21 dan CGV Blitz, dua jaringan bioskop terbesar di Indonesia, ketika dihubungi melalui surel maupun sambungan telepon (16/1/2017).

Susanti Dewi, produser di Demi Istri Production, dalam konferensi pers film Moammar Emka's Jakarta Undercover di Jakarta (18/1), menyebutkan, keengganan sebagian produser mengumumkan jadwal rilis karena memang ada film yang belum pasti mengunci tanggal penayangannya di bioskop.

Santi mengambil contoh apa yang terjadi pada dirinya. Sejatinya film Jakarta Undercover telah menyelesaikan proses syuting sejak November 2015. Namun, ia belum mau meminta tanggal penayangan kepada ekshibitor karena masih ingin "berlama-lama di ruang editing untuk menyempurnakan filmnya."

Contoh lain adalah Surga yang Tak Dirindukan 2 (SYTD 2). Awalnya direncanakan tayang Lebaran 2016, kemudian berubah jadi 15 Desember 2016. Jadwal tersebut kembali mengalami permutasi menjadi 9 Februari 2017.

Manoj Punjabi selaku Produser dan Chief Executive Officer MD Pictures beralasan, hasil pascaproduksi SYTD 2 seperti dikerjakan terburu-buru laiknya orang mengejar setoran. Ia ingin film itu dipoles lebih sempurna.

"Keluar biaya promosi dua-tiga kali lipat enggak masalah, saya ingin yang terbaik," kata Manoj.

Segala faktor tersebut yang menurut Santi bikin pihak bioskop kesulitan mengumumkan film Indonesia apa saja yang bakal mengisi kalender hingga penghujung tahun.

Drama masih dominan

Filosofi Kopi: Ben & Jody, salah satu film drama persembahan Visinema Pictures yang disutradarai Angga Sasongko (kedua dari kanan)
Filosofi Kopi: Ben & Jody, salah satu film drama persembahan Visinema Pictures yang disutradarai Angga Sasongko (kedua dari kanan) | Andi Baso Djaya /Beritagar.id

Jika merujuk pada data Cinema 21, total film Indonesia yang tayang sepanjang tahun lalu berjumlah 118. Dari ratusan judul yang berseliweran di bioskop itu, genre drama masih dominan.

Berdasarkan pembagian genre film yang tayang berdasarkan tahun edar 2016 dalam laman filmindonesia.or.id, Lokadata menghitung ada 72 judul film yang menjadikan drama sebagai genre utama.

Seperti dijelaskan filmsite.org, drama merupakan genre utama yang paling banyak digunakan karena punya daya jangkau luas dan bisa berkelindan dengan berbagai unsur lain. Di luar pengertiannya tadi, drama ibarat garam dalam masakan.

"Tanpa bumbu drama, film akan terasa hambar dan datar," kata sineas Hanung Bramantyo.

Sisa film lain yang ditayangkan bioskop selama 2016 mengusung genre utama horor (18 judul), aksi (16), dan komedi (13). Menyusul petualangan, animasi, thriller yang masing-masing menyumbang satu judul film.

Demam film drama tampaknya masih terus melanda. Penyebabnya karena enam dari sembilan film Indonesia yang tayang sepanjang Januari mengusung genre drama.

Belum lagi ditambah dengan kemunculan Remember the Flavor (tayang 15/2), The Nekad Traveler (16/3), Salawaku (23/2), dan Moon Cake Story (23/3) yang kembali mempertemukan Bunga Citra Lestari dan Morgan setelah Jilbab Traveller: Love Sparks in Korea (2016).

Berdasarkan data di atas, jelas bahwa rumah produksi paling produktif merilis film sepanjang tahun lalu adalah PT Kharisma Starvision Plus. Perusahaan milik Chand Parwez Servia (57) itu menghasilkan delapan film.

Menyusul kemudian MD Pictures dengan enam film, serta Maxima Pictures, Rapi Films, dan MNC Pictures yang masing-masing memproduksi empat film.

Saat kami menanyakan daftar film Indonesia yang bakal memenuhi layar bioskop hingga penghabisan tahun 2017, pemilik jaringan sinema kompleks (sinepleks) tidak bisa memberikan jawaban.

"Kami harus meminta konfirmasi terlebih dahulu kepada produser yang bersangkutan," jawab programmer Cinema 21 dan CGV Blitz di ujung telepon.

Ikhtiar serupa kami lakukan kepada sejumlah rumah produksi. Hanya ada beberapa yang memberikan balasan, yaitu MNC Pictures, Legacy Pictures, dan Starvision.

Dari ketiga jawaban rumah produksi itu, MNC Pictures jadi yang paling produktif karena menyodorkan 10 judul film. Mulai dari Demi Cinta (tayang 19/1), Men Are From Mars, Women Are From Where?, Modal Kawin, Kado Untuk Ibu, Meet Me After Sunset, 3 Dara 2, Move On, Cooking Camp, dan biografi Chrisye yang dibintangi Vino G. Bastian.

Legacy Pictures yang pertama kali hadir lewat film Kapan Kawin? (2015), berencana menayangkan film Firegate: Piramid Gunung Padang, Kartini, dan Critical Eleven hasil produksi bareng Starvision.

Rumah produksi milik Robert Ronny itu memang getol melakukan kongsi dengan perusahaan lain saat menggarap film. Tahun lalu mereka tercatat sebagai mitra Miles Films dan Tanakhir Films dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) yang meraih 3,6 juta penonton.

Selain Critical Eleven yang direncanakan tayang 10 Mei 2017, Starvision juga bersiap meluncurkan From London to Bali (2 Februari) arahan Fajar Bustomi dan Sweet 20 (6 April) hasil pembuatan ulang film Miss Granny (2014) dari Korea Selatan.

Beralih ke Soraya Intercine Films. Rumah produksi sekaligus distributor yang eksis sejak 1982 itu punya amunisi berupa The Guys, Antologi Rasa, dan Eiffel I'm in Love 2.

Materi teaser poster dari masing-masing film tersebut dilengkapi tulisan "2017 hanya di bioskop", "segera hanya di bioskop", dan "coming soon" alih-alih memajang tanggal rilis pasti.

Film The Guys merupakan kolaborasi kedua Soraya dan Raditya Dika menyusul kesuksesan Single (2015) mendapatkan 1,3 juta penonton.

Antologi Rasa adalah ekranisasi karya Ika Natassa. Sementara Eiffel I'm in Love 2 kelanjutan dari bagian pertama yang meluncur pada 2003.

Menu dari Renee Pictures meliputi Zodiac: Apa Bintangmu?, Mantan, dan My Crazy Girlfriend. Proyek film yang dituliskan pertama sebenarnya sudah mengantre sejak 2015. Sementara dua film lainnya diproduksi pada 2016.

Gandhi Fernando selaku produser yang juga aktor berencana merilis ketiga film tersebut tahun ini. Pasalnya seperti yang pernah ia kicaukan melalui Twitter (29/6/2015), Renee Pictures masih punya stok film yang belum lagi tayang; Tuyul Part 2 dan ekranisasi London Angel karya Windry Ramadhina.

Kaninga Pictures yang tahun lalu meluluhlantakkan Jakarta dengan Bangkit! dan menggaet Raisa untuk membintangi Terjebak Nostalgia, menyuguhkan dua film sebagai hidangan utama, yaitu Bid'ah Cinta dengan proyeksi tayang 16 Maret 2017 dan The Returning (Juni 2017).

Proyek kolaborasi lain dari rumah produksi ini adalah Marlina: The Murderer in Four Acts (bersama Cinesurya Production) dan Night Bus (bareng Night Bus Pictures).

Ramai sekuel

Beberapa (teaser) poster film sekuel yang direncanakan tayang 2017
Beberapa (teaser) poster film sekuel yang direncanakan tayang 2017 | Kiagus Aulianshah /Beritagar.id

Kesuksesan AADC 2 mendorong kehadiran lebih banyak sekuel. Walaupun sebenarnya tren menggarap kelanjutan cerita menyusul kesuksesan bagian sebelumnya bukan hal baru, penonton bakal lebih sering melihat sekuel film Indonesia selama 2017.

Selain Surga Yang Tak Dirindukan 2 (SYTD 2) yang sudah mengumumkan 9 Februari 2017 sebagai tanggal tayang, ada sederet sekuel film lain yang mengambil ancang-ancang.

Rumah produksi Screenplay Films telah meluncurkan cuplikan singkat London Love Story 2 melalui YouTube sejak 11 Januari. Selain masih diperkuat Michelle Ziudith dan Dimas Anggara, cast bertambah dengan kehadiran Rizky Nazar. Pola ini serupa dengan SYTD 2 yang kedatangan Reza Rahadian.

Bagian pertama London Love Story yang beredar pada 2016 meraup 1,1 juta penonton. Wajar saja jika kemudian sekuelnya meluncur hanya setahun berselang.

Film Eiffel I'm in Love 2 kurang lebih sama dengan AADC 2. Meluncur lebih dari satu dekade usai bagian pertamanya menancapkan impresi yang kuat di benak penonton.

Bahkan dalam beberapa bagian, proyek Eiffel I'm in Love 2 sejalan dengan sekuel AADC. Jika Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra masih bersedia hadir sebagai pemeran utama di AADC 2, Shandy Aulia dan Samuel Rizal juga menyatakan komitmen bergabung kembali sebagai Tita dan Adit.

Kursi sutradara juga mengalami perubahan. Riri Riza menggantikan Rudi Soedjarwo di AADC 2, sementara mendiang Nasri Cheppy yang menyutradarai Eiffel I'm in Love sudah pasti tergantikan figur lain yang belum diumumkan. Yang jelas Sunil Soraya lewat bendera Soraya Intercine Films kembali menjadi produser.

Terpilihnya Eiffel I'm in Love 2 sebagai judul sesungguhnya agak aneh. Pasalnya ekranisasi novel karya Rachmania Arunita itu pernah dibuatkan sekuelnya pada 2008 dengan judul Lost in Love produksi PT Itrema Creative Development.

Kala itu, tokoh Tita diperankan Pevita Pearce yang terpilih dari sekitar 1.100 peserta audisi. Posisi Samuel digantikan Richard Kevin. Rachmania turun tangan menjadi sutradara sekaligus penulis naskah.

Sungguh disayangkan film tersebut gagal di pasaran. Tidak termasuk dalam daftar 15 film Indonesia terlaris tahun 2008. Bandingkan dengan Eiffel I'm in Love yang sukses mendatangkan 2,9 juta penonton ke bioskop.

Mengetahui kembali dipasangkan dengan Samuel, Shandy yang kini berusia 29 mengaku bahagia dan antusias berbagi kabar. "Eiffel I'm in Love 2 tahun depan bakal rilis, kita baru mau syuting. Saya sudah baca skenarionya. Seru banget," ungkapnya penghujung 2016.

Kelanjutan film pemecah rekor, Warkop DKI Reborn Part 2, juga akan nongol tahun ini. Anggy Umbara selaku sutradara mengatakan film tersebut kemungkinan ditayangkan saat Idul Adha, seperti bagian pertama yang tahun lalu tayang empat hari menjelang hari besar umat Islam itu.

Sekuel lainnya yang meluncur setelah bagian pertamanya mendulang banyak penonton adalah Modus Part 2 (Rapi Film), 3 Dara Part 2 (MNC Pictures), dan The Doll Part 2 (Hitmaker Studios). Tambahan lain adalah Security Ugal-ugalan Part 2.

Suguhan sekuel lain bisa dinikmati dalam Filosofi Kopi: Ben & Jody dan Super Didi 2. Melihat pencapaiannya di tangga box office Indonesia, kedua film ini sebenarnya tidak terlalu laris.

Mengapa tetap kukuh memproduksi kelanjutannya? Angga Dwimas Sasongko dari Visinema Pictures yang kembali menyutradarai Filosofi Kopi: Ben & Jody punya jawaban.

"Alasan Visinema setiap bikin film karena kami suka dan merasa penting untuk membikin film itu. Bukan melulu soal untung dan rugi. Dalam konteks Filosofi Kopi, film yang pertama itu sangat menyenangkan saat dikerjakan," jelas Angga saat jumpa pers di Jakarta Selatan (5/1).

"Semua yang terlibat seolah sudah jadi keluarga. Terbukti sekarang kita bekerja dengan tim yang sama persis. Jadi, apa pun yang terjadi pada Filosofi Kopi 2, tetap akan ada Filosofi Kopi 3 kok," tegasnya.

Variasi genre

Refal Hady (kiri) dan Sheryl Sheinafia, pemeran baru tokoh Galih dan Ratna dalam film Galih dan Ratna
Refal Hady (kiri) dan Sheryl Sheinafia, pemeran baru tokoh Galih dan Ratna dalam film Galih dan Ratna | /360°Energy Production dan Nant Entertainment

Selain diramaikan sejumlah sekuel yang masih kebanyakan drama. Masih ada sederetan film dari beragam genre lain bisa dijadikan opsi saat menonton di bioskop.

Beberapa judul yang bisa disebutkan, antara lain Jakarta Undercover (tayang 23/2) yang mengetengahkan beberapa adegan laga, komedi pasutri Bukaan 8 (23/2), horor Petak Umpet Minako meluncur Mei 2017, dan animasi dua dimensi bertajuk Si Juki the Movie yang memilih keluar Desember 2017.

Masa jelang penghabisan tahun juga menjadi pilihan Chanex Ridhall Pictures dan Visinema untuk merilis film aksi Lelawa. Film ini terinspirasi peristiwa pembajakan pesawat Garuda Indonesia oleh sekelompok teroris di Bandara Don Muang, Thailand, pada 1981.

Adegan baku hantam juga akan disaksikan penonton dalam The Night Comes for Us (Screenplay Infinite Films). Timo Tjahjanto sebagai sutradara kerap mengunggah foto-foto para kru yang terlibat dalam pembuatan film melalui Instagram.

Susunan pemain The Night Comes for Us yang sejatinya telah diperbincangkan sejak 2014 sangat menjanjikan. Mulai dari Iko Uwais, Joe Taslim, Julie Estelle, Zack Lee, Shareefa Daanish, Hannah Al Rashid, Abimana Aryasatya, dan Dian Sastrowardoyo dipastikan terlibat.

Jika berjalan lancar tanpa kendala, penonton bisa menyaksikan tersebut tahun ini.

Harapan serupa juga disematkan pada produksi Wiro Sableng 212 yang dibintangi Vino G. Bastian, putra dari penulis serial novel "Wiro Sableng", Bastian Tito.

Setelah menghabiskan waktu berbulan-bulan menggarap skenario bersama Seno Gumira Ajidarma dan Tumpal Tampubolon, Lala Timothy dari Lifelike Pictures menulis di Twitter dengan tarikh 19 Januari 2017 bahwa naskah telah siap.

Namun, sebelum menyaksikan ekranisasi Wiro Sableng itu, Lifelike terlebih dahulu meluncurkan dokumenter Banda: The Dark Forgotten Trail arahan Jay Subiakto.

"Insya Allah kami rilis Juli mendatang. Dokumenter ini akan jadi dokumenter cukup panjang berdurasi 80 menit nantinya," papar Lala (18/1).

Akan halnya Wiro Sableng yang membangkitkan nostalgia, Galih dan Ratna juga demikian. Pasalnya film yang disutradarai Lucky Kuswandi itu merupakan adaptasi dari cerita bersambung --kemudian menjadi novel-- "Gita Cinta Dari SMA" karya Eddy D. Iskandar.

Sebelumnya telah difilmkan dengan Rano Karno dan Yessi Gusman sebagai pemeran Galih dan Ratna pada 1979. Sekuelnya yang bertajuk Puspa Indah Taman Hati menyusul di tahun yang sama. Film Galih dan Ratna menurut rencana tayang awal Maret 2017.

Keberhasilan Uang Panai' (2016) meraih 500 ribu lebih penonton juga memantik sejumlah rumah produksi maupun produser lokal Makassar merilis film dengan nuansa kedaerahan yang kental.

Ichwan Persada misalnya. Setelah memproduseri Miracle: Jatuh dari Surga (2015), Hijabers in Love (2014, dan Musik Hati (2008), kini menggarap film dengan tema kawin lari bertajuk Silariang.

Judul dan tema serupa juga disuguhkan Paramedia Indonesia dan 786 Production. Berbeda dengan Silariang versi Ichwan yang belum menentukan tanggal tayang, rumah produksi asal Makassar yang sebelumnya merilis Bombe' dan Sumiati itu telah memajang 2 Maret 2017 di poster film.

Film Silariang suguhan Paramedia Indonesia dan 786 Production kembali mempertemukan Ikram Noer dan Nur Fadillah yang sebelumnya bermain di Uang Panai' sebagai pemeran utama.

Potensi lokal di Sulawesi Barat juga dihadirkan lewat film Cinta Rasa Coklat yang dibintangi Nicky Tirta. Proses syuting telah rampung sejak Juni 2016. Kabupaten Majene, Mamasa, dan Mamuju jadi destinasi pengambilan gambar.

Selain film-film jebolan rumah produksi yang telah menyiapkan anggaran dana solid, ada juga yang penggarapannya menggunakan metode donasi dari publik alias crowdfunding.

Cara itu dilakukan sutradara Ismail Basbeth untuk film Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran. Karina Salim, Sekar Sari, Gandhi Fernando, hingga Cornelio Sunny terlibat sebagai pemain.

Masih sangat panjang jika membahas film apa saja yang telah selesai atau akan segera diproduksi sepanjang tahun ini.

Untuk menyebut beberapa, ada My Trip My Adventure (Transinema), My Generation (IFI Sinema), Labuan Hati (Lola Amaria Production), Salt is Leaving the Sea (Pradana Pratama Pictures), Namamu Kata Pertamaku (Paramedia & 786 Production), dan drama musikal The Players yang disutradarai Monty Tiwa.

Ada lagi Boven Digoel (Foromoko Matoa Indah Film), Stip dan Pensil (MD Pictures), Posesif (Palari Films), Happy Birthday Everyday (The United Team of Art), The Curse (Triple A Films), dan biopic tentang petinju Ellyas Pical berjudul Pical (Pradhana Pratama Pictures) arahan Robby Ertanto.

Sejumlah film telah merampungkan jadwal syuting, tapi masih menunggu tanggal tayang resmi. Harapan dari para kreatornya tentu saja agar film tersebut bisa mengarungi layar di bioskop sehingga bisa segera dinikmati penonton.

"Harusnya tahun ini filmnya tayang. Rencana dari sutradaranya mau dibawa ke festival di luar negeri terlebih dahulu," harap Olga Lydia yang memproduseri drama musikal The Players (8/1).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR