MENIK. Terlahir dengan nama Suyatno, ia disapa dengan Nunik. Ia suka karena kata orang nama Nunik itu berarti cilik menik-menik (imut).
MENIK. Terlahir dengan nama Suyatno, ia disapa dengan Nunik. Ia suka karena kata orang nama Nunik itu berarti cilik menik-menik (imut). Anang Zakaria / Beritagar.id

Waria pencari Tuhan

Tuhan bukan hanya milik kaum bersurban. Di pesantren Al Fatah, santrinya dibebaskan menjadi pria atau wanita saat beribadah.

Mereka kaum terbuang. Terasing dari lingkungan sosial, banyak waria menggantungkan harapan di jalanan. Mengamen di bawah lampu merah hingga menjajakan diri di kawasan prostitusi tak resmi. Masyarakat lazim memandang kehidupannya jauh dari agama.

Tapi Tuhan bukan hanya milik kaum bersurban. Di Kotagede, Yogyakarta, berdiri Al Fatah, pesantren yang menyediakan diri melayani bimbingan rohani bagi waria. "Menghadang para waria berusaha menemukan Tuhan sama halnya menghalangi fitrah manusia," kata Arif Nuh Safri, guru mengaji di pesantren itu.

Ramadan lalu, Beritagar.id menyambangi pesantren itu dua kali: 12 dan 19 Juni 2017, untuk melihat ritual ibadah mereka. Masing-masing sore menjelang berbuka. Bangunan pesantren menempati rumah beratap joglo milik Sinta Ratri, seorang waria. Tak ada gedung khusus dengan ruangan tempat belajar-mengajar.

Sejak lepas asar satu per satu waria berdatangan di pesantren di tengah perkampungan padat penduduk itu. Sebagian di antaranya bersarung, berbaju koko, lengkap dengan peci di kepala. Nyaris sulit memastikan waria atau bukan jika tak bertanya. Mereka lalu berkumpul di teras rumah untuk mendaras Alquran. Ada yang lancar melafalkan ada yang terbata-bata.

BERJAMAAH. Di pesantren ini, waria dibebaskan menjadi pria atau wanita saat beribadah. Sebagian mereka salat memakai mukenah, sebagian lain memakai busana pria. Mereka beribadah dengan nyaman.
BERJAMAAH. Di pesantren ini, waria dibebaskan menjadi pria atau wanita saat beribadah. Sebagian mereka salat memakai mukenah, sebagian lain memakai busana pria. Mereka beribadah dengan nyaman. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Azan magrib berkumandang ketika tadarus rampung. Mereka lalu menyerbu takjil yang telah dipersiapkan di atas meja di sudut teras. Seorang waria menuturkan tak semua rekannya puasa. Tapi waktu berbuka adalah momen kebersamaan. "Mungkin sedang datang bulan," katanya bercanda tentang rekannya sesama waria yang berpuasa.

Usai berbuka, acara dilanjutkan salat magrib berjamaah. Waria yang mengenakan busana laki-laki berdiri di shaf depan, sementara yang bermukenah di belakang. Tak ada paksaan harus menjadi pria atau wanita di hadapan Tuhan. Menurut Arif, kehadiran waria sudah kontroversial sejak awal. Biarlah mereka beribadah dengan nyaman. Kalau masih harus dibebani hal simbolik akan lebih rumit lagi. "Melihat mereka salat saja saya sudah bersyukur," katanya.

Dua orang waria bersedia menuturkan pengalaman hidupnya. Mereka bercerita tentang keseharian, diskriminasi, lika-liku mencari Tuhan, dan pandangan tentang agama. Harapannya hanya satu, masyarakat bisa menerima waria sebagai manusia.

Nunik: Para pembenci itu belum tahu saja

BERSOLEK. Gara-gara penampilannya, Nunik kerap mendapat olok-olokan orang. Diteriaki "banci" di jalanan itu sering terjadi. Tapi ia tak lagi peduli.
BERSOLEK. Gara-gara penampilannya, Nunik kerap mendapat olok-olokan orang. Diteriaki "banci" di jalanan itu sering terjadi. Tapi ia tak lagi peduli. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Usianya telah lewat setengah abad. Lahir 52 tahun lalu, tepatnya 1 Agustus 1965, keluarganya asli Yogyakarta. Rumahnya di Bumijo, sebuah perkampungan di utara Stasiun Tugu. Ketika lahir, kakeknya memberi nama Suyitno. Tapi ia lebih suka disapa Nunik. "Kata orang Nunik itu cilik menik-menik," katanya, Selasa (13/6/ 2017) saat ditemui di kantor Kebaya (Keluarga Besar Waria Yogyakarta).

Kebaya adalah sebuah lembaga non pemerintah yang bergerak di bidang pencegahan dan penanggulangan HIV di kalangan waria. Kantornya terletak di Gowongan Lor, Yogyakarta dan hanya berseberangan jalan dengan rumah tempat Nunik tinggal.

Pagi-pagi sekali Nunik sudah di sana. Hari itu ia berencana pergi ngamen dari rumah ke rumah.

Nunik anak kelima dari sembilan bersaudara. Di antaranya saudara-saudaranya, hanya ia yang waria. Ia merasakan dirinya perempuan sejak usia Taman Kanak-kanak. Kala itu ia lebih suka memainkan mainan anak perempuan dibanding laki-laki. Masak-masakan dan boneka adalah favoritnya.

Ia bersekolah hingga tingkat SMK jurusan tata boga. Ia ingin menekuni hobi masa kecilnya, memasak. Meski merasa dirinya perempuan, di sekolah, dari SD hingga SMK, ia mengenakan seragam anak laki-laki. "Rasanya tak nyaman," katanya.

Beda lagi di luar sekolah. Sejak usia SMP, ia sudah terbiasa mengenakan pakaian perempuan di rumah maupun di luar rumah. Keluarga tak pernah mempersoalkannya. Hanya kakak nomor keempat yang sering memarahinya. "Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi," katanya.

Sejak usia SMP itu pula ia mulai "keluar malam", istilah untuk menjajakan diri. Biasanya, ia mangkal di sekitar rel tak jauh dari stasiun Tugu Yogyakarta. Pekerjaan itu ia lakoni hingga kini mesti tak tiap hari.

Khusus bulan ramadan, ia berhenti menjajakan diri. Bukan apa-apa, menurut dia, petugas ketertiban semakin gencar menggelar razia dengan alasan menjaga kesucian. Dua orang rekannya tertangkap dan masih tertahan di panti rehabilitasi.

Selain menjajakan diri, ia mengamen dan menerima pesanan katering untuk mendapatkan uang. Dulu, pernah bekerja sebagai waitress di rumah makan. Jadi pelayan toko juga pernah. Tapi keduanya tak lama.

IDENTITAS. Dari sembilan bersaudara, hanya ia yang waria. Sejak duduk di bangku SMP, Nunik terbiasa berpenampilan sebagai perempuan. Sejak usia remaja itu pula, ia mulai berani "keluar malam", istilah untuk menjajakan diri di tempat prostitusi.
IDENTITAS. Dari sembilan bersaudara, hanya ia yang waria. Sejak duduk di bangku SMP, Nunik terbiasa berpenampilan sebagai perempuan. Sejak usia remaja itu pula, ia mulai berani "keluar malam", istilah untuk menjajakan diri di tempat prostitusi. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Puasa tak menghalangi niatnya pergi mengamen. Duit di kantong sudah tandas. Pesanan katering sepi, sementara ia tak berani mangkal malam. "Padahal tenggorokan saya sekarang sakit sekali sampai gak bisa menyanyi," kata dia. Gara-garanya, "Pas buka puasa kemarin langsung minum es."

Ia mengatakan selalu berusaha menuntaskan puasa ramadannya. Sejak beberapa tahun terakhir, puasanya selalu lunas sebulan penuh. "Kalau salat memang masih bolong-bolong," katanya.

Ia menyadari stigma negatif yang melekat pada waria seperti dirinya. Dianggap aneh dan mendapat perlakuan diskriminatif itu biasa. Sakit hati? Tentu. Tapi ia tak lagi peduli. Menurut dia, para pembenci itu belum tahu saja. "Kalau sudah tahu pasti tak melakukan itu."

Nur Ayu : Tuhan lebih tahu aku dibanding mereka

Masa sekolah adalah waktu paling tak menyenangkan bagi Nur Ayu (waria kini 48 tahun). Siapa orangnya yang betah menerima olokan dari teman sebaya saban hari. Setelah menamatkan SD, ia hanya mampu bertahan sampai kelas 2 SMP. "Aku tak pernah menyesal keluar dari sekolah," ia mengenangkan kembali masa kecilnya, Senin (19/6/2017).

Lahir di Bantul, 19 Desember 1969, ia anak ketiga dari sembilan bersaudara. Ia duduk di kelas 6 SD ketika merasa ada yang berbeda pada dirinya. Ia lebih nyaman berpakaian perempuan meski secara fisik terlahir sebagai laki-laki. Ia juga lebih suka disapa mbak dibanding mas.

Perasaan sebagai perempuan itu muncul alami. Ia tak pernah meminta apalagi memilih. "Waria itu ada dan nyata," katanya. Ia berharap masyarakat tak memperlakukan waria secara diskriminatif. "Kalau mereka menganggap waria penyakit itu karena mereka bukan pelaku."

Seperti kebanyakan anak-anak di kampungnya, Nur kecil ikut mengaji di masjid. Tapi tak lama. Gara-garanya, ia tak suka bersarung. Hanya ada dua pilihan jika ia tetap ngotot memakai pakaian perempuan di masjid; diolok-olok teman sebaya atau dihujani tatapan aneh. Rumah Tuhan menjadi tempat menyeramkan baginya sejak itu. "Dari pada terus di-bully lebih baik aku gak mengaji sama sekali," katanya.

Ia mengatakan berhenti sekolah bukan akhir segalanya. Orang butuh pendidikan untuk meraih kesuksesan. Dan sekolah bukan satu-satunya tempat mendapat pendidikan.

Setelah keluar sekolah, ia belajar menjahit, tata rias, menari, hingga memasak dari tempat kursus informal. Kelak saat dewasa, satu dari empat keterampilan itulah yang menafkahinya. Ia pernah bekerja menjadi juru masak di sebuah warung makan. "Sekarang saya juga sering diminta bantu-bantu memasak," katanya.

Meski tak pernah menyesal meninggalkan bangku sekolah, ia rindu belajar agama. Ketika Maryani (meninggal tahun 2014) mendirikan pesantren Al Fatah pada 2008, Nur mendaftar menjadi salah satu santrinya. Pada hari-hari tertentu, seperti dijadwalkan, ia datang untuk mengaji. Ia belajar membaca Alquran, tata cara wudlu dan salat, hingga mendengar ceramah agama.

Tak ada lagi paksakan beribadah di sini. Apalagi wajib bersarung saat salat. Jika tak suka, ia boleh mengenakan mukenah. Baginya, bermukenah bukan sekadar urusan kenyamanan ibadah semata. "Saya tak ingin beda penampilan antara di depan manusia dan Tuhan," katanya.

Mungkin manusia akan menanggapnya munafik. Tapi ia tak peduli. "Tuhan," katanya, "Dia lebih tahu tentang aku dibanding mereka."

Satu-satunya pesantren waria di dunia

PESANTREN. Sebuah pesantren khusus waria, pesantren Al Fatah, berdiri di Yogyakarta sejak 2008. Bersama waria lainnya, Nunik belajar ilmu agama di pesantren itu.
PESANTREN. Sebuah pesantren khusus waria, pesantren Al Fatah, berdiri di Yogyakarta sejak 2008. Bersama waria lainnya, Nunik belajar ilmu agama di pesantren itu. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Pesantren Al Fatah berdiri pada 2008. Seorang waria bernama Maryani yang menginisiasi pesantren khusus waria pertama di dunia ini. Mula-mula, pesantren menempati rumah kontrakannya di Notoyudan, Yogyakarta. Pada 2014, ketika Maryani meninggal, Sinta Ratri, seorang waria asal Kotagede, memindahkan aktivitas pesantren ke rumahnya.

Gagasan mendirikan pesantren bermula setelah gempa mengguncang Yogyakarta pada 2006. Waria dari berbagai daerah di Indonesia bertemu di Yogya menggelar doa bersama. Dalam acara itulah tercetus untuk mendirikan pesantren.

Seorang ustaz bernama Kiai Hamroli, pengasuh pengajian "Al Fatah" di Pathuk diminta menjadi pembimbing rohani. Selama belasan tahun sebelumnya, Maryani rutin mengikuti pengajian Kiai Hamroli.

Jangan bayangkan, santri di pesantren ini laiknya pesantren kebanyakan. Mereka tak bermukim di pesantren. Hanya pada waktu tertentu, waria datang mengaji. Jumlahnya pun naik turun. Kadang ada belasan hingga puluhan waria yang datang belajar agama, kadang hanya beberapa gelintir saja. Materi pembelajaran agama yang diberikan biasa seputar cara membaca Alquran, cara wudlu dan salah, dan tanya jawab seputar urusan agama.

Arif berharap pada masa mendatang ada kajian kitab klasik di pesantren. Salah satunya Ihya Ulumuddin karya Imam Al Gazhali. "Kitab itu mengajarkan fiqh, tasawuf, dan kebijaksanaan," katanya.

Pada Februari 2016, sekelompok orang yang menamakan diri Front Jihad Islam menggeruduk pesantren Al Fatah. Mereka menilai pesantren tak berizin dan meresahkan masyarakat. Enam bulan lamanya aktivitas pesantren berhenti setelah peristiwa itu.

Menurut Arif, desakan agar pesantren ditutup adalah kelatahan akibat meningkatkan isu penolakan LGBT di Indonensia. Tak ada guna mencemooh orang, sekalipun ia waria, belajar agama dan berusaha mendekatkan diri pada tuhan. "Mereka mau salat mau puasa itu sudah luar biasa. Itu lebih berharga dari pada sekadar mencemooh saja," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR