INOVASI TEKNOLOGI

Apple patenkan sensor biometrik untuk mobil

Ilustrasi sistem keamanan di dalam mobil
Ilustrasi sistem keamanan di dalam mobil | Pixabay

Membuka ponsel menggunakan pemindai wajah sepertinya sudah sangat umum. Lalu bagaimana jika membuka kunci mobil menggunakan pemindai wajah? Apakah ada teknologi yang mendukung?

Awal Februari 2019, laman Free Patent Online merilis pengajuan hak paten untuk proyek bernama Sistem dan Metode Otorisasi Kendaraan oleh Apple. Engadget (12/2) mengabarkan bahwa paten tersebut, walau baru terungkap sekarang, telah diajukan oleh raksasa teknologi dari Amerika Serikat itu pada tahun 2017.

Paten ini berfokus pada cara memanfaatkan ponsel, termasuk autentikasi biometrik (seperti Face ID pada Apple), untuk menambahkan lapisan keamanan pada kendaraan. Walau demikian, karena sudah dua tahun berlalu sejak paten itu diajukan, beberapa teknologi serupa telah mulai digunakan jenama lain saat ini.

Cara kerjanya, dipaparkan Biometricupdate (12/2), saat pengguna yang identitasnya telah didaftarkan berjalan mendekat, sistem pada mobil akan mengirimkan sinyal ke ponsel pengguna. Ponsel tersebut lalu mengirim sinyal balasan dan, setelah diautentikasi, kunci pun terbuka.

Teknologi ini sebenarnya bukanlah hal baru. Namun saat ini baru diterapkan oleh Tesla pada varian Model 3. Tesla memanfaatkan bluetooth sebagai sarana komunikasi antara Model 3 dengan ponsel pemiliknya.

Hal istimewa pada sistem yang patennya diajukan Apple itu adalah penggunaan sensor biometrik. Memang Hyundai telah mengumumkan bahwa pintu SUV Santa Fe versi 2019 akan bisa dibuka menggunakan sidik jari, tetapi Apple melangkah lebih jauh. Teknologinya memungkinkan digunakannya pengenal wajah (FaceID).

Selain itu, teknologi Apple memungkinkan pemilik kendaraan mendaftarkan lebih dari dua biometrik. Jadi akan bermanfaat bagi keluarga yang bergantian menggunakan mobil yang sama. Pada 7 Februari 2019, Kantor Paten AS (USPTO), merilis paten yang diajukan Apple untuk teknologi yang memungkinkan autentikasi berbagai wajah pada satu perangkat.

Dengan demikian, mobil bisa mengenali pengguna mana yang akan mengendarainya sehingga bisa melakukan pengaturan yang sudah disetel spesifik untuk pengendara tertentu--seperti posisi duduk, suhu AC, radio favorit, dan sebagainya.

Setelah berada di dalam kendaraan, ponsel akan tersambung dengan aplikasi pendukung yang bisa membantu pengemudi, seperti peta petunjuk arah atau informasi tempat pengisian bahan bakar terdekat. Bahkan sistem itu bisa terhubung langsung dengan sistem pembayaran di tempat pengisian bahan bakar itu sehingga pengemudi tak perlu keluar dari mobil atau merogoh saku.

Hal itupun sebenarnya tidak baru lagi karena General Motors sudah membenamkan teknologi serupa bernama Marketplace. Upaya ini untuk mencegah pencurian data kartu kredit atau debit (skimmer) dan masalah lain yang dapat muncul di tempat umum.

Mengapa Apple mengajukan paten untuk kendaraan? Perusahaan teknologi tersebut pernah mengembangkan kendaraan pintar "Apple Car" melalui program yang diberi nama Project Titan. Proyek yang diperkirakan dimulai pada 2014 itu tidak pernah dijelaskan secara gamblang kepada publik

Akan tetapi sepertinya minat perusahaan yang bermarkas di Cupertino, California, AS, tersebut untuk masuk ke industri otomotif sepertinya semakin surut. Menurut Futurism (12/2), pada akhir Januari lalu, Apple baru saja memecat 200 karyawan dari divisi kendaraan otomatis itu.

Oleh karena itu, ada dua pendapat mengenai paten lama yang baru dipublikasikan ini. Pertama, bisa saja paten tersebut hanyalah sisa-sisa peninggalan dari Project Titan yang takkan diwujudkan.

Namun bisa saja Apple memanfaatkannya untuk bekerja sama dengan produsen kendaraan. Tahun lalu, Apple bersama LG dan Samsung bergabung dengan BMW, Hyundai, dan Volkswagen membentuk Car Connectivity Consortium.

Konsorsium itu tengah mengembangkan standar "kunci digital" untuk kendaraan yang bisa digunakan pada produk mereka. Rencananya, dikabarkan Endgadget, pada kuartal pertama 2019 telah tersedia standar yang memungkinkan interoperabilitas kunci tersebut pada berbagai merek gawai dan kendaraan.

Apakah biometrik aman?

Autentikasi biometrik biasanya menggunakan karakteristik fisik atau perilaku manusia untuk mengidentifikasi secara digital saat memberikan akses ke sistem, perangkat, ataupun data. Contoh dari biometrik itu adalah sidik jari, pola wajah, suara atau irama pengetikan,

Menurut survei dari Ping Identity pada Januari 2019, sebanyak 92 persen perusahaan menilai autentikasi biometrik sangat efektif untuk mengamankan data identitas yang tersimpan di suatu tempat dan 86 persen mengatakan itu efektif untuk melindungi data yang disimpan dalam penyimpanan daring.

Sementara survei lain yang dirilis tahun lalu oleh Spiceworks melaporkan bahwa 62 persen perusahaan sudah menggunakan autentikasi biometrik sedangkan 24 persen lainnya bakal gunakan teknologi tersebut dalam dua tahun ke depan.

Namun, perusahaan perlu berhati-hati terhadap penggunaan sistem autentikasi biometrik tersebut untuk menghindari pelanggaran terhadap privasi karyawan atau pelanggan atau mengekspos informasi sensitif secara tidak tepat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR