Benarkah jalan tol beton bisa bikin ban meletus

Ilustrasi jalan tol.
Ilustrasi jalan tol. | Widi upoyo /Shutterstock

Jalan tol rigid pavement alias dibuat dari beton dan belum dilapisi aspal dianggap sejumlah kalangan dapat membahayakan keselamatan berkendara karena bisa membuat ban panas, aus, lalu meletus. Benarkah demikian?

Para ahli sepakat menjawab pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Meski ada kemungkinan ban menjadi aus dan panas karena terus bergesekan dengan jalur beton, bukan berarti itu akan menyebabkan ban seketika meletus.

Hendra Himawan, GM Sales Admin & Planning Departemen Training and Sales Sumi Rubber Indonesia Dunlop menjelaskan, permukaan jalan beton dan aspal memiliki karakter berbeda. Beton lebih keras, sedangkan aspal lunak dan halus.

“Efeknya kepada ban kalau jalan itu keras permukaan kasar, keausan lebih cepat," terangnya.

Ban yang aus atau botak memang memperbesar risiko pecah ban. Namun, "Korelasi beton menyebabkan ban pecah itu saya tak bisa mengatakan benar atau salah, jadi perlu diteliti. Karena penyebab ban pecah macam-macam," tegas Hendra.

Hal senada juga disampaikan Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) dan ahli konstruksi ITB, Drajad Hudayanto.

Menurut mereka, keselamatan yang terancam karena pecah ban tidak semata-mata disebabkan kontur jalan yang dilalui, tetapi lebih pada bagaimana pengemudi memperhatikan kondisi kendaraan dan cara berkendaranya.

Drajad menuturkan, penggunaan teknik pembangunan jalan beton masih lazim digunakan di seluruh dunia. "Bahkan jembatan California masih menggunakan rigid pavement dengan berbahan beton seluruhnya," ujarnya seraya menekankan jika membahayakan, tentu sudah dilarang.

"Jalan yang terbuat dari batu, aspal, rigid, block sama saja. Jadi enggak bisa bilang jalan mana yang tingkat kecelakaan tinggi, karena yang harus menyesuaikan itu kembali kepada pengemudi,” timpal Sony.

Hendra menambahkan, perilaku mengemudi "stop and go" menjadi salah satu faktor pemicu ban aus. "Mengerem kan perlu traksi, itu pasti mengikis. Jalan start awal pasti perlu daya dorong juga. Itu pasti [ban] akan habis juga," katanya.

Lantas, apakah ban panas berpotensi memicu ban meletus? Ban yang berubah panas akibat bergesekan dengan permukaan jalan sebetulnya hal normal.

Menurut Zulpata Zainal, praktisi di industri ban, ban panas nyaris tak mungkin bisa menyebabkan letusan karena panasnya tetap jauh di bawah ketahanan spesifikasi ban.

"Kalau panas, iya panas. Ban panas itu nggak ada masalah. Ban panas itu panasnya nggak tiba-tiba jadi panas lebih dari 100 (derajat Celsius). Enggak ada yang sampai meleleh, enggak ada yang sampai meledak,” imbuhnya.

Bahkan, lanjut dia, ban panas yang digeber dengan kecepatan tinggi pun belum tentu membuat ban meletus.

Zulpata menyebutkan, setiap ban produksi pabrikan memiliki spesifikasi load index pada dinding ban. Load Index menggambarkan kemampuan ban menahan beban dan kemampuan ban melaju hingga kecepatan maksimal.

"Misalnya kita pakai ban passenger car yang spesifikasi load index 95H. H itu artinya kan bisa digeber sampai 210 km/jam. Masalahnya, siapa yang mau geber 210 km/jam (di jalan raya), kecepatannya enggak akan sampai 210 km/jam.”

“Kalau kita ikutin aturan walaupun jalanan kosong terus, maksimal paling hanya 100 km/jam. Masih jauh ke panas meskipun digeber terus," paparnya.

Terlebih lagi, pada dasarnya semua produsen ban sudah memperhitungkan segala hal sebelum menjual produk secara massal. Termasuk pengujian daya tahan ban dengan menempuh berbagai jenis material jalan, pun endurance test lain.

"Ban itu dipasang di alat diputar terus-menerus 24 jam selama berhari-hari non-stop. Pecahnya itu baru berhari-harinya itu. Siapa yang mau nyetir selama berhari-hari non-stop sampai pecah bannya?” ujar Zulpata.

Meski begitu, Zulpata tetap menyarankan pengendara selalu mengecek seluruh kondisi kendaraan, termasuk ban sebelum berkendara. Pasalnya, kemungkinan meletus sangat kecil hanya jika kondisi ban dalam keadaan normal dan standar.

Ia menerangkan, selain ban tidak tertusuk paku dan batu, ban yang dianggap standar dan normal mencakup empat hal.

Pertama, ban tidak terlalu tipis atau di atas tread wear indicator (indikator keausan ban/TWI). Kedua, ban memang diperuntukkan bagi kendaraan. Ketiga, tidak kelebihan beban muatan, dan terakhir, tekanan angin sesuai yang disarankan pabrikan mobil.

"Kalau tekanan udara kurang itu ban akan semakin terbeban berat, gesekan semakin besar. Dan biasanya kalau kurang udara yang aus bagian tepinya. Kalau kekerasan [tekanan udara ketinggian] tengahnya yang cepat aus," jelas Hendra.

Agar lebih aman dan terhindar dari pecah ban, Hendra menganjurkan pemilik mobil melakukan spooring dan balancing setiap 10 ribu km atau enam bulan sekali. Sebab, selain perbedaan kondisi jalan tak bisa diprediksi, kesehatan kondisi kaki-kaki mobil juga sanggup mempengaruhi keausan ban.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR