KENDARAAN LISTRIK

DFSK siap rakit mobil berbasis elektrik di Indonesia

DFSK Glory 580, salah satu produk SUV yang baru diluncurkan di Indonesia.
DFSK Glory 580, salah satu produk SUV yang baru diluncurkan di Indonesia. | Mustafa Iman /Beritagar.id

Terkait aturan pemerintah soal mobil berbahan bakar rendah emisi (low carbon emission vehicle/LCEV), pabrikan asal Tiongkok, DongFeng Sokon (DFSK), mengaku sudah siap jika pemerintah Indonesia telah menetapkan aturan tersebut.

Pemerintah memang menargetkan bahwa pada tahun 2025 kendaraan ramah lingkungan (LCEV) yang diproduksi di dalam negeri jumlahnya mencapai 20 persen.

"Di Indonesia, pabrik DFSK sudah memiliki teknologi tinggi untuk membuat mobil, termasuk untuk membuat mobil berbasis elektrik," kata Managing Director Sales Center Sokonindo Automobile, Franz Wang, di Jakarta, Kamis (19/7/2018).

Namun begitu, pihak DFSK masih memantau keinginan masyarakat atas kendaraan-kendaraan masa depan tersebut.

Menurut Wang, pasarlah yang akan menentukan apakah kendaraan ramah lingkungan sudah benar-benar dibutuhkan atau tidak.

Di Indonesia, Jenama Tiongkok yang baru saja meluncurkan mobil penumpang berbasis sport utility vehicle (SUV) tersebut sudah memiliki pabrik di Cikande, Banten, yang merupakan perwujudan investasi 100 juta dolar AS (Rp1,4 triliun).

Pabrik mereka dikatakan mampu menjalankan kapasitas produksi sebanyak 50.000 unit per tahun. Hal ini bisa saja benar adanya mengingat DongFeng Motors (DFM) saat ini tengah beraliansi dengan beberapa produsen mobil di Eropa, Amerika Serikat (AS), dan Asia.

DFM bekerjasama dengan PSA Peugeot-Citroen, Renault di Eropa. Kemudian, dengan Cummins dan Dana di Amerika Serikat. Sementara di Asia, jenama ini berkolaborasi dengan Kia (Korea), Nissan, dan Honda (Jepang).

Bahkan Juni lalu, menurut pengakuan CO-CEO Sokonindo Automobile, Alexander Barus, pihaknya tengah bekerja sama terkait riset dan pengembangan kendaraan listrik dengan SF Motors, pabrikan asal AS yang awalnya memproduksi kendaraan taktis militer.

“Saya baru saja dari Silicon Valley (AS), kami lagi mengembangkan pabrik baterai sendiri. Di Jepang kami juga punya pabrik baterai,” kata Alexander, Selasa (5/6).

JustAuto (h/t Motoris.id) melaporkan bahwa pabrik itu akan dirombak hingga bisa memproduksi kendaraan elektrik.

Saat ini, SF Motors memiliki pabrik perakitan di AS dan Tiongkok, serta fasilitas riset dan pengembangan di Silicon Valley (AS), Jerman, Tiongkok, dan Jepang.

Dalam situs resminya tertulis bahwa SF Motors akan terus mengembangkan teknologi mobil elektrik untuk mengincar pasar terbesar di dunia, yakni Tiongkok dan AS.

Pada Maret, dalam ajang New York Auto Show 2018, seperti ditulis Engadget, SF Motors pun telah memperkenalkan dua sedan listrik kelas menengah, yakni SF5 dan SF7. Salah satunya merupakan pesaing Tesla Model S yang cukup populer di AS.

Kerja sama kedua negara tersebut, sempat membuat Elon Musk, pendiri Tesla Motors, berang.

Upaya DongFeng dengan para aliansi

Di Tiongkok, pertengahan tahun lalu DongFeng juga membuat kesepakatan dengan para aliansinya, Nissan-Renault, untuk mengembangkan dan membuat mobil berbasis elektrik.

Seperti dikabarkan Financial Post, ketiga jenama akan mulai memproduksi mobil elektrik pada 2019.

Upaya itu menanggapi meningkatnya permintaan dan tekanan pemerintah Tiongkok pada industri untuk mempercepat pengembangan teknologi pada kendaraan.

Pemerintah Tiongkok memang melihat kendaraan berbasis elektrik sebagai industri yang menjanjikan dan langkah efektif dalam membersihkan polusi kota.

Tercatat, penjualan kendaraan hibrida di negara Tirai Bambu tersebut naik 50 persen pada 2016 (336.000 unit) ketimbang tahun sebelumnya.

Nikkei Asian Review menulis, DongFeng akan mengambil 50 persen saham dalam usaha kongsi tersebut yang mereka beri nama eGT New Energy Automotive. Sementara Nissan dan Renault masing-masing berinvestasi sebesar 25 persen.

Perusahaan patungan yang berbasis di Shiyan, Provinsi Hubei, Tiongkok, itu dikabarkan akan mengembangkan sebuah mini-SUV elektrik untuk pasar Tiongkok, menggunakan platform yang dirancang bersama.

"Pembentukan perusahaan patungan baru dengan DongFeng menegaskan komitmen bersama kami untuk mengembangkan kendaraan listrik kompetitif untuk pasar Tiongkok," kata Carlos Ghosn, ketua dan CEO dari aliansi Renault-Nissan, dalam sebuah pernyataan.

Sebelumnya, Jenama AS lain, Ford, dikabarkan juga tengah mencari mitra asal Tiongkok untuk membuat mobil elektrik.

Sementara General Motors Co, Volkswagen AG, dan beberapa merek lain juga telah mengumumkan rencana untuk memproduksi kendaraan listrik di Tiongkok.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR