TIP OTOMOTIF

Dongkrak tenaga motor hanya dengan busi

Ilustrasi motor yang ditunggangi dalam kecepatan tinggi.
Ilustrasi motor yang ditunggangi dalam kecepatan tinggi. | Michal Vitek /Shutterstock

Selain mengganti beberapa komponen motor atau melakukan bore-up (up-grade mesin) untuk meningkatkan performa, elemen busi juga ternyata mampu mendongkrak tenaga motor dari ukuran standarnya.

Namun, selama ini banyak anggapan yang salah terkait hal itu. Para pemilik motor justru mendengar saran "oknum" montir bengkel untuk melakukan modifikasi busi, salah satunya dengan memotong elektroda busi.

Alasannya sederhana, yaitu untuk menghasilkan pengapian yang lebih besar.

Terkait hal itu, Technical Support NGK Busi Indonesia, Diko Oktaviano, menjelaskan bahwa sebenarnya ada cara yang lebih mudah dan lebih sederhana sehingga tak berisiko untuk meningkatkan performa motor, yakni hanya dengan mengganti busi.

“Tidak perlu ubah atau potong elektroda busi apalagi menyetel sendiri tingkat kerapatannya. Setiap busi sudah memiliki standarnya. Jadi, cara memodifikasi seperti itu tidak tepat dan salah,” kata Diko dalam Motoris.id.

Diko menyarankan, bila ingin memaksimalkan performa mesin motor dengan busi, cara paling mudah adalah dengan memilih jenis busi yang dibutuhkan.

Jadi, misalnya, ingin mendapatkan pembakaran yang sempurna dan mencari titik api yang lebih baik, maka cara paling mudah adalah memilih bentuk elektroda busi. Selain itu, pemilik motor juga disarankan memperhatikan pilihan material busi yang akan digunakan.

“Elektroda pada busi akan menentukan pembentukan titik api. Tentunya akan lebih baik bila didukung dengan material busi. Jadi, gak perlu ubah-ubah konstruksi standar busi,” jelas Diko.

Ia juga menyarankan, menggunakan elektroda busi dengan campuran logam mulia (emas). Tujuannya guna mendapatkan pembakaran sempurna.

Saat ini ada lima jenis busi yang dipasarkan di Indonesia, busi standar, busi resistor, busi platinum, busi iridium, dan busi racing.

Kelimanya, seperti dipaparkan Auto Expose, memiliki jenis dan peruntukkan berbeda. Artinya, pemilik motor harus mengetahui busi yang sesuai dengan fungsi kendaraan.

Busi standar dan busi resistor adalah jenis busi berbahan dasar tembaga berdiameter 2,5 milimeter yang umum ditemui pada kendaraan standar. Busi-busi ini juga sudah menjadi standar Original Equipment Manufacturing (OEM) saat motor keluar dari pabrik.

Namun, ada sedikit perbedaan di antara keduanya.

Busi resistor merupakan busi yang direkomendasikan digunakan hanya untuk mesin berbasis injeksi (FI) yang sudah dilengkapi electronic control unit (ECU) karena busi ini cocok untuk penggunaan standar, maka umur busi bisa bervariasi, tergantung mesin dan pemakaian. Disarankan busi ini diganti setiap 20.000 kilometer.

Kemudian, ada busi tipe platinum, yang umumnya disarankan jika ingin menggunakan motor untuk perjalanan jauh (touring).

Sementara jika pemilik kendaraan ingin mesinnya lebih bertenaga, bisa memilih busi tipe iridium. Namun, umumnya tipe busi ini digunakan pada motor dengan kapasitas mesin 150 cc ke atas.

Lalu, yang terakhir adalah busi tipe racing yang dirancang khusus untuk kebutuhan balap atau mereka yang senang memacu kendaraan pada kecepatan tinggi. Busi ini mampu memberikan mesin performa maksimal tanpa menimbulkan panas yang berlebih, tentunya ditunjang dengan spesifikasi mesin peruntukan balap.

Diko tak menyarankan menggunakan busi racing pada motor harian, terlebih mesin motor yang digunakan masih berspesifikasi standar.

“Enggak perlu busi racing untuk motor harian, beda karakternya. Busi racing dirancang untuk performa mesin yang sudah besar bukan mesin standar jadi pasti tidak ketemu,” pungkasnya.

Sementara untuk menjaga perfoma busi, tentunya Anda tak boleh abai untuk tetap melakukan pengawasan dan perawatan peranti itu.

Ada cara sederhana untuk melihat apakah busi masih layak pakai atau tidak. Jika sudah waktunya, jangan segan untuk menggantinya.

Terlebih usai menerabas banjir, busi menjadi salah satu komponen yang harus diperiksa dan dikeringkan.

BACA JUGA