Dua mobil formula karya ITS akan berlomba di Jepang

Sapuangin, mobil bergaya formula rancangan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) akan berlaga pada Student Formula Japan.
Sapuangin, mobil bergaya formula rancangan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) akan berlaga pada Student Formula Japan. | ITS Media Center

Tim Sapuangin tak punya banyak waktu istirahat. Usai menjuarai ajang Shell Eco-Marathon Driver's World Championship (DWC) 2018 di London, Inggris, pada Juli, mereka akan terbang ke Jepang untuk mengikuti kompetisi mobil purwarupa Student Formula Japan (SFJ) 2018, yang berlangsung pada 2-11 September di Shizuoka.

Untuk mengikuti SFJ di sirkuit Ogasayama Sports Park, Shizouka, tim yang terdiri dari mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, tersebut akan membawa kreasi terbaru mereka, Sapuangin Speed 6 (SAS 6).

Mobil tersebut akan mengikuti lomba kelas Internal Combustion Vehicle (ICV), alias kendaraan bermesin bensin. SAS 6, dipaparkan dalam situs resmi ITS, menggunakan mesin Kawasaki ZX600 berkapasitas 600 cc.

Dalam acara perkenalan SAS 6 di Surabaya, Minggu (26/8), General Manager Tim ITS Sapuangin, Rafi Rasyad, menjelaskan mobil tersebut dibuat berdasarkan evaluasi dan riset terhadap versi sebelumnya yang digunakan pada ajang SFJ sebelumnya. ITS telah mengikuti SFJ selama enam tahun terakhir.

"Yang paling penting di sisi maneuverability-nya dan kemarin vehicle dynamic-nya kurang. Untuk SAS 6 ini sudah lebih prima dengan beberapa tambahan," kata Rafi.

Ia menambahkan, SAS 6 telah diuji setiap dua pekan pada area yang dirancang mirip dengan desain sirkuit di Shizouka untuk memudahkan pengemudinya nanti.

Jama Chairman Award, piala dari penyelenggara SFJ untuk mobil dengan dinamika terbaik, menurut Rafi adalah incaran utama mereka.

Selain Sapuangin, untuk pertama kalinya ITS akan mengikuti lomba kelas EV (electric vehicle/kendaraan listrik) di SFJ. Mereka mengirimkan ITS Formula Electric Team yang menggunakan mobil listrik bernama Cartensz.

Sama seperti SAS 6, Cartensz juga menggunakan sasis monokok sesuai standar internasional mobil formula. Bodi mobil dibuat dari serat karbon dan berat totalnya mencapai 210 kg.

"Antara pipa dan tubuh mobil menyatu, sehingga mobil lebih ringan dan apabila terjadi kerusakan, maka risiko mencelakai pengemudi dapat diminimalisir," papar Pembina ITS Formula Electric Team, Alief Wikarta.

Alief, yang juga dosen Teknik Mesin ITS, menjelaskan bahwa Cartensz dapat menempuh jarak 98 km per jam dengan kapasitas penyimpanan energi 100V dan menggunakan baterai lithium ion prismatic cell.

Karena baru mengikuti kelas EV pada SFJ untuk pertama kalinya, Alief menyatakan target mereka hanya berupaya memberikan yang terbaik dengan tampil maksimal.

ITS bukan satu-satunya universitas di Indonesia yang mengikuti SFJ. Lima universitas lain, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Islam Indonesia (UII), turut berpartisipasi.

UGM, UNS, UNY, dan UI hanya mengirimkan tim untuk lomba kelas ICV, sementara UII hanya mengikuti kelas EV.

Tim Bimasakti Racing UGM, seperti ditulis Sindonews.com, menargetkan masuk 20 besar pada SFJ 2018. Tahun lalu secara total (klasemen gabungan kelas ICV dan EV) mereka hanya menempati peringkat ke-54 dari 94 peserta.

Kapten tim, Fajar Fitrahadi Danda, mengatakan bahwa untuk mencapai target tersebut upaya yang dilakukan meliputi perbaikan dan penyegaran mesin sehingga lebih dapat diandalkan (reliable) dan tangkas (swift).

SFJ merupakan perlombaan tahunan bagi para pelajar dan mahasiswa yang diprakarsai dan diselenggarakan oleh The Society of Automotive Engineers of Japan (JSAE) sejak 2003. Perlombaan ini merupakan upaya mereka untuk membuat anak muda Jepang lebih tertarik kepada dunia rancang bangun dan bisnis produk otomotif.

Oleh karena itu, bukan hanya kecepatan mobil yang dinilai, tetapi juga mulai dari rancangan awal, pemahaman mereka terhadap teknologi otomotif dan penggunaannya, hingga rencana pemasaran mobil tersebut jika sudah diproduksi.

Awalnya hanya universitas di Jepang yang mengikuti perlombaan, tetapi kemudian SFJ menarik perhatian mahasiswa dari berbagai negara lain untuk berkompetisi.

Pada SFJ 2018 ada 86 tim yang berkompetisi pada kelas ICV. Sementara lomba kelas EV diikuti oleh 23 tim. Selain Jepang dan Indonesia, ada juga tim dari universitas di Austria, Filipina, Korea Selatan, Malaysia, Taiwan, Thailand, dan Tiongkok, yang berpartisipasi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR