Dua tim Indonesia maju ke Grand Final DWC di London

Para pengisi podium Shell Eco-marathon Asia kategori UrbanConcept yang berlangsung di Singapura, Minggu (19/3/2017).
Para pengisi podium Shell Eco-marathon Asia kategori UrbanConcept yang berlangsung di Singapura, Minggu (19/3/2017).
© Shell

Dua tim dari Indonesia, Bengawan Team 2 dari Universitas Negeri 11 Maret (UNS) dan ITS Team 2 dari Institut Teknologi 10 Nopember (ITS), masing-masing berhasil finis pada urutan kedua dan ketiga dalam lomba Shell Eco-marathon (SEM) Asia 2017 kategori UrbanConcept di Singapura, Minggu (19/3/2017).

Shell Eco-marathon ini digelar 17-19 Maret 2017 di Singapura, diikuti 124 tim dari 20 negara Asia-Pasifik. Ada dua kategori yang dilombakan, yaitu

Dalam kategori UrbanConcept, semua kendaraan mesti membuktikan bahwa selain irit penggunaan bahan bakar, mereka juga bisa melintasi sirkuit dengan cepat.

Gelar juara direbut Team DSLU Eco Car - I.C.E dari De La Salle University, Filipina, yang menyelesaikan satu putaran pada sirkuit sepanjang 1,19 km di Changi Exhibition Center, Singapura, dalam waktu 1 menit 53,67 detik.

Mobil Samudera IV yang digunakan UNS finis kedua dengan catatan waktu 2:00,96, sementara mobil Sapuangin tim ITS melengkapi podium dengan waktu 2:08,21.

Meski gagal merebut gelar juara, kedua tim dari Indonesia itu akan menemani tim Filipina untuk mengikuti Grand Final Driver's World Championship (DWC) yang berlangsung di London, Inggris pada 28 Mei.

Dalam ajang tersebut mereka akan berhadapan dengan pemenang Driver's World Championship dari kawasan Amerika dan Eropa.

"Tidak menyangka, karena kami hanya sebagai underdog," kata dosen pendamping tim Samudera IV, Dr Budi Santoso, kepada detikOto, usai perlombaan.

Pebalap tim Sapuangin, Fajar Aditya, juga mengaku tidak percaya dengan hasil yang mereka capai dan akan berlaga pada grand final di London.

Kepada CNN Indonesia, Fajar menjelaskan strategi pengontrolan bahan bakar agar mobil tetap irit berhasil mereka lakukan dan itu menjadi strategi keberhasila mereka finis pada posisi ketiga.

"Saya percaya sejak awal, akan ada tim yang gagal. Dan tentunya kontrol bahan bakar, karena ini adalah lomba iri-iritan bahan bakar, tapi juga yang tercepat. Harus ada strategi khusus," kata Fajar.

Mobil Sapuangin XI Evo 1 ITS Surabaya saat diluncurkan di Frontage Road Jalan A. Yani, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (12/3/2017). Kini mobil tersebut bakal terbang ke London untuk mengikuti Grand Final Driver's World Championship Shell Eco-marathon 2017.
Mobil Sapuangin XI Evo 1 ITS Surabaya saat diluncurkan di Frontage Road Jalan A. Yani, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (12/3/2017). Kini mobil tersebut bakal terbang ke London untuk mengikuti Grand Final Driver's World Championship Shell Eco-marathon 2017.
© Didik Suhartono /Antara Foto

Ketiga tim tersebut kini memiliki waktu dua bulan untuk memperbaiki segala kekurangan yang ada pada kendaraan mereka untuk dapat bersaing di London.

"Dua bulan ini kami akan riset agar kendaraan ini bisa bersaing di London," tegas Fajar.

Tahun lalu, Bumi Siliwangi Team 4 dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), berhasil menjadi juara Grand Final dan mereka diberi hadiah istimewa berupa jalan-jalan sekaligus menimba ilmu selama sepekan di markas Ferrari di Maranello, Italia.

Mattia Binotto, Direktur Teknik Scuderia Ferrari, dalam siaran pers di laman Shell, mengatakan tak sabar untuk bertemu lagi dengan peserta Shell Eco-marathon di Maranello, Italia.

"Antusiasme yang dimiliki semua orang sangat menginspirasi dan tak ada keraguan bahwa para insinyur muda ini adalah masa depan. Jadi, semua yang bisa kami lakukan untuk lebih menginspirasi mereka adalah sebuah keistimewaan bagi kami," ujar Binotto.

Norman Koch, Shell Eco-marathon General Manager, optimistis kompetisi ini bakal melahirkan berbagai kemungkinan teknologi pada masa depan.

"Mengawinkan efisiensi dengan kecepatan tak pernah mudah tetapi saya yakin kompetisi ini akan menghasilkan teknologi otomotif yang mengesankan untuk masa depan," tutur Koch.

Sementara itu, Tim Virgin dari Sakonnakhon Technical College, Thailand, menjuarai kompetisi Prototipe (kategori mesin pembakaran internal) dengan hasil 2.288km/liter.

Pemenang lain pada kompetisi Prototipe termasuk Tim HuaQi-EV dari Guangzhou College of South China University of Technology, Tiongkok, dengan hasil 474.1km/kWh dalam kategori Baterai Elektrik dan Tim UiTM Eco-Sprint dari Universiti Teknologi Mara (UiTM) Shah Alam, Malaysia, dengan hasil 359.4km/m3 dalam kategori Hidrogen.

Selain itu, ada juga hadiah Off-Track (di luar trek), yang diberikan kepada tim untuk kemampuan teknis, kreativitas, serta pendekatan mereka kepada keamanan dan keberlangsungan.

Daftar lengkap pemenang Shell Eco-marathon Asia 2017 bisa dilihat di sini.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.